by Gita Savitri Devi

7/24/2017

Ketika Realita Berasa Mimpi

Beberapa bulan lalu gue dikontak oleh partner manager gue di YouTube. Jadi begini, teman-teman. Seorang YouTuber dengan subscriber 100.000 ke atas akan dapet partner manager. Gunanya apa? Channelnya bakal ada yang manage. Maksudnya, channel kita akan dicheck terus statsnya. Bagus atau enggak, terus opportunity dan cara apa lagi yang bisa kita dapet atau lakukan untuk expand channel kita. Biar views dan subscribersnya makin banyak. Intinya kita jadi bisa bener-bener berurusan sama YouTube-nya langsung.

Nah, setelah itu si Kelvin, partner manager gue ini nanyain apakah gue up for a program called Creators for Change, yaitu program dari Google dan VICE Media untuk memerangi masalah sosial sekarang. Dia bilang, channel gue dipilih sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia. Dipilihnya langsung sama Google dan ambassador dari Indonesia (Cameo Project).

Jujur, waktu ditanya kayak gitu gue nggak merasa gimana-gimana. Karena yaa lo tau gue. Nggak mau kepikiran soal begituan. Takutnya gue jadi overly proud, jumawa, padahal jadi juga belom. So I was like, "Okay, that's cool.". Ditambah lagi, gue nggak ngerti sebesar apa program ini dan ada berapa orang yang berkecimpung and what not. Intinya gue nggak mau tau detailnya. Lagi, supaya gue tetap berpijak. Takutnya kalau nggak jadi, gue akan kecewa.

Selang beberapa minggu, ternyata programnya beneran jadi. Dari yang gue kira cuma wacana-wacana doang, ternyata gue beneran dipilih. Kata Kelvin, dari Indonesia cuma ada tiga channel: Film Maker Muslim, Jovi Hunter, dan gue. Kata Kelvin lagi, gue akan rapat dengan orang YouTube/Google yang pas gue liat e-mailnya ternyata nama bule dan dia bekerja di Google HQ di USA. Makin-makin lah gue nyadar kalau program ini beneran serius. Waktu kemudian dapet e-mail dari si bule YouTube, reaksi gue cuma, "Waaww....".

Pas akhirnya meeting sama Paul dari Google dan satu cewek dari VICE yang gue lupa namanya, gue deg-degan. Lebih ke starstruck, sih. Gue makin bingung kenapa hidup gue begini. Kenapa gue bisa dikasih sebegininya. Perasaan dulu gue nge-YouTube beneran karena ingin memperbaiki situasi dan kondisi YouTube Indonesia. Kenapa sekarang gue ampe meeting segala di Google Hangout sama bule-bule ini. Intinya gue lebay, tapi karena gue emang nggak expect, jadi wajar lah kalo gue lebay.



Setelah rapat, menyelesaikan segala macam yang administratif, barulah kemudian YouTube launched program ini. YouTube Creators for Change. Ada 28 channel terpilih dari seluruh dunia. Bayangin, coy. Seluruh dunia dan gue salah satunya. Dan gue satu-satunya cewek dari Indonesia. Ini gue bukan pamer, tapi sampai sekarang sering kali gue merenungi hidup gue. Sampe sekarang pula gue masih nggak percaya. Btw, buat pembaca baru, gue emang doyan merenung. Sering kali merenung itu jauh lebih asik ketimbang ngobrol sama orang.

Baru lah gue tau di antara 28 fellows ada Muslim Girl, Amani, yang sering banget gue liat di video-video yang gue tonton. Ada Evelyn from the Internets yang juga gue suka banget karena dia sangat kocak. Dan gue harus nyubit-nyubit pipi gue berkali-kali buat sadar. Ambassador dari program ini salah satunya adalah John Green, Dina Tokio, dan Natalie Tran (Community Channel), yang gue persönlich sangat-sangat adore.

Diberi tahu juga kalau kita akan diberi semacam training yang dilakukan di YouTube Space dan diberi budget $10.000 untuk merealisasikan video kita. Makin lah gue megap-megap. Pertama, karena gue baru sadar Google duitnya banyak banget. Kedua, gue nggak merasa pantes untuk dapetin ini semua.

Sampe akhirnya 3 minggu lalu gue diundang ke YouTube Space London untuk mengikuti Social Impact Camp selama 2 hari. Gue kira camp-nya bakal diadain di India, taunya di sana. London, bok. Walaupun karena kebodohan gue, gue hanya menghadiri hari terakhir.

Tau nggak kenapa gue selama tinggal tetanggaan sama UK, gue belom pernah mau ke sana? Karena harus apply visa dan bayarnya mahal. Belom lagi di sananya. London terutama, kota mahal. Nggak akan mungkin mahasiswa kayak gue mau foya-foya liburan di sana. Mungkin bisa kalo dipaksain (balik-balik cuma makan nasi tok), tapi hati ini nggak rela. Mending duitnya buat bayar apartemen dan asuransi.

Buat tiket pesawatnya, gue dikasih yang World Traveler Plus. Bukan ekonomi biasa, tapi ekonomi++. Makanannya disajikan pake piring, bukan pake wadah plastik. Pisau garpunya dari stainless steel, bukan dari plastik. Kaki gue bisa selonjoran gara-gara tempatnya lowong banget. Di pesawat, gue noraknya luar biasa. Luar biasa, saudara-saudara. Padahal bukan naik first class. Tapi ya gitu. Tetep aja bikin bersyukur setengah mati.

Jika tempat dudukmu nyaman, pemandangan dari jendela pesawat pun jadi terlihat lebih indah (sugesti).


Di London gue ditaro di hotel super mahal. Di tengah kota. Ratenya 450 pounds per malam. Kayaknya sampe gue kaya raya pun, nggak bakal mau gue tinggal di hotel itu kalau nggai dibayarin. Makannya? Bintang 7 bok. Makan-minum di YouTube Space nggak pernah kurang. Setiap malem sehabis sesi selalu fine dining.

***

Okeh, gue bakal jelasin di London itu gue ngapain aja. Mungkin buat kalian yang udah nonton vlog gue, kurang lebih udah tau. Kegiatan dimulai sekitar jam 9 pagi. Kita jalan kaki dari hotel ke YouTube Space London yang ternyata deket banget sama Kings Cross. Di sana hari-hari kita dipenuhi oleh segala macam workshop. Hari itu workshopnya tentang Producing 101. Kita dikasih tau gimana caranya memproduksi video yang bagus secara teknis sampe ke perkara gimana cara nyari crew buat shooting. Sungguh berfaedah.

Tapi ada dua hal yang bikin gue lived the dream hari itu. Ada satu sesi di mana kita QnA session via Google Hangout bareng John Green. That John Green yang buku-bukunya gue baca, yang video-videonya bareng Hank Green gue tonton. Waktu liat dia ada di layar gede depan gue, gue cuma bisa cengar-cengir doang kayak orang lagi high. Lagi-lagi gue merenungi hidup gue dan nggak percaya hari ini bakalan dateng. 

Kedua, gue ketemu Dina Tokio dan suaminya. Dua orang kocak yang suka gue tontonin videonya juga. Setelah sesi ngeliat para ambassador ngomong di depan, ada lagi sesi round table. Fellows dibagi beberapa group yang dikepalai oleh satu ambassador. Terus lu tau nggak gue kebagian di grup siapa? Sid and Dina. Yep, them. Out of many ambassadors who came that day, gue segrup sama Sid and Dina. Siapa lagi fellow yang segrup sama gue? Subhi Taha. Mau mati gak?

Setelah camp, kita diajak buat dinner di tempat super fancy yang makanannya pake course-coursean dan menunya yang biasa gue liat di Masterchef atau Top Chef. Pokoknya makanan-makanan keren gitu, lah. Gue inget banget, di malam itu untuk pertama kalinya gue mencicipi seared salmon. Ternyata rasanya wenak banget karena ada coriandernya.

Intinya di acara itu gue banyak ketemu orang-orang yang selama ini jadi inspirasi gue dan orang-orang yang menjadi inspirasi baru gue. I met people who have the same mission as mine, yang peduli dengan dunia, yang ingin berbuat baik di dunia, dan yang ingin bermanfaat. Asli, pengalaman macam gini nggak akan lagi gue dapet. Cuma sekali seumur hidup.

Finally here

Kapan lagi video gue diputer berkali-kali di YouTube Space?

Maha dari Dubai dan Nadir dari UK. Si Nadir ini neneknya orang Solo ternyata

Finally able to see this woman in real life!

One of my favorite YouTubers, Evelyn

Subhi, yang punya banyak fans dari Indonesia LOL

Younes. You might have seen his videos on Facebook. Videonya viral mulu di situ

Coming at you with some social changes!!!!


***

Pelajaran yang bisa gue dapat adalah, lagi-lagi, hidup itu sangat nggak bisa diprediksi. Siapa yang sangka gue yang mupeng tiap kali liat temen-temen yang jalan ke London dan foto di Platform 9 3/4 bisa ke sana dan dibayarin? Siapa sangka gue yang nge-vlog cuma pakai hape karena nggak ada duit buat beli kamera, sekarang bisa beli apa aja karena dikasi budget udah kaya mau beli tanah? Siapa sangka gue yang sampe sekarang nggak ngerti gimana cara nge-YouTube yang baik dan benar, yang nggak peduli ada yang nonton video gue apa enggak, bisa dipilih langsung sama Google buat bikin video untuk program mereka?

Allah Maha Besar. Pesan gue cuma satu ke diri gue, tetep humble, tetep koret, dan tetep menjalani hidup dengan penuh keprihatinan.

And I hope there are even more surprises waiting for me. Hidup tanpa GPS itu memang seru.
Share:

5/18/2017

Seandainya

Mungkin udah banyak dari kalian yang tau kalau baru-baru ini single terbaru Paul & Gita udah release. Asli, sih. Gue pribadi nggak nyangka kalau gue bisa punya lagu. Paul juga gitu. Dia nggak nyangka lagu yang dia ciptain bisa diseriusin dan akhirnya bisa ditaro di iTunes dan lain-lain.

Ditambah lagi gimana orang-orang baik banget, supportive banget, dan antusiasmenya gede banget sama lagu ini. Tiap hari gue dapet mention-an di mana-mana kalau mereka udah download lagunya dan bahkan ngedengerin setiap hari. I cannot be more thankful for the amount of love I got from you guys.

Gara-gara kalian, lagu Seandainya bisa masuk ke Top 100 iTunes Indonesia. Pertamanya di peringkat 99, terus naik ke 58, terus naik lagi ke 38. Di Spotify Indonesia, lagu ini bahkan berada di peringkat pertama Viral 50 Indonesia.

Kalian sungguh hebat. Gua sama Paul sampe nggak bisa berkata apa-apa lagi :')





Nah, biar pas kalian bisa nyanyi bareng sewaktu dengerin lagu ini, gue kasih liriknya, ya!


------------------------------------------------------------------------


SEANDAINYA

Baru saja ku sadari dirimu mengisi setiap sudut hatiku
Dan ku harap engkau tau diriku kagumi pesonamu
Indahnya dirimu, indah pesonamu
Engkau permata bagiku

Seandainya engkau ada di sisiku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu
Seandainya engkau kan jadi milikku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu

Hadirmu di sisiku mewarnai indahnya hariku
Aroma tubuhmu merasuk di jiwaku
Indahnya dirimu, indah pesonamu
Engkau permata bagiku

Seandainya engkau ada di sisiku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu
Seandainya engkau kan jadi milikku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu

Takkan pernah ku sakiti hatimu

Seandainya engkau kan jadi milikku
Kan ku jaga kau slamanya
Takkan pernah ku sakiti hatimu


------------------------------------------------------------------------
Share:

11/16/2016

What Happened in The Netherlands Stays Forever

Seperti yang gue kasih tau di Instagram beberapa waktu lalu, tanggal 3 November-11 November gue ngikut pertukaran pelajar Erasmus+ lagi. Kali ini topiknya adalah project management dan diselenggarakan di Reijmerstok, sebuah kota kecil yang terletak di deket Maastricht, Belanda. Buat yang penasaran youth exchange-nya gratis dan dari akomodasi sampe transportasi semua ditanggung oleh pihak Youth for Mobility. Sebenernya alasan gue dua bulan berturut-turut ikut exchange adalah satu, gue ngerasa selain dapet pelajaran hidup dan ijazah kuliah, setelah gue selesai bachelor nanti masih banyak yang nggak gue dapet. Karena gue kuliah kimia murni mahasiswanya dituntut untuk bener-bener jadi nerd karena harus belajar melulu. Buat gue itu bukan lah kondisi yang ideal, di mana gue akan menjadi orang yang selalu berkutat sama sains dan nggak punya social skills. Mungkin buat orang lain sebenernya fine-fine aja, tapi gue merasa gue butuh dapet inspirasi dari orang lain untuk gue jadikan bahan berpikir karena gue orangnya sangat observatif. Gue butuh ketemu orang yang bisa gue ajak untuk bertukar pikiran dan untuk nambah-nambah referensi. Hal-hal tersebut sayangnya nggak gue dapatkan di kampus.







Orang-orang yang kali ini gue temui keren-keren. Mereka dateng dari UK, Polandia, Belanda, dan Jerman. Tapi nyatanya grup nya lebih multikulti lagi. Ada dua orang dari Syria yang adalah refugees, satu dari Yaman, satu dari Jordania, satu dari Bulgaria, Prancis, Romania, Pakistan, Zimbabwe, dan terakhir gue, dari Indonesia. Selama pertukaran pelajar gue banyak ngobrol sama temen gue Ali, dia adalah salah satu refugees dari Syria. Ali ini dari Aleppo, kota yang paling sering dibombardir sama Russia. Karena gue penasaran dengan apa yang sebenernya terjadi gue banyak nanya-nanya ke dia. Kadang dia ngerasa bosen mendengar pertanyaan gue. Dia bilang udah beratus-ratus orang yang nanya hal yang sama ke dia. Ternyata bener yang kita liat di media. Ali dateng ke tanah Eropa bersama dua adik laki-lakinya naik perahu karet, bawa duit 7000 Euro yang dia simpen di dalem celananya, di perbatasan dia bersama beratus ribu pengungsi lain harus jalan berkilo-kilo untuk sampai ke negara selanjutnya, dan sama seperti pengungsi lainnya sebelum revolusi terjadi dia punya hidup yang sangat normal. Apartemennya di Aleppo bagus, ayahnya adalah seorang pebisnis yang berdomisili di Guangzhou dan punya bisnis lain di Filipina. Ketika kami sedang ngobrol tentang masalah ini, dia berkata sesuatu yang nggak akan pernah gue lupain.

"I've never once imagined in my whole life that I'd be a refugee."

Selain itu dia bercerita gimana hancurnya kotanya sekarang. Setelah dibom, di pagi harinya dia biasa ngelihat mayat-mayat atau body parts yang nyangkut di lampu jalan. Sekarang orang-orang yang tinggal di sana udah nggak bisa menjalani hidup mereka secara normal lagi. Yang mereka lakukan hanyalah berusaha untuk bertahan hidup. Tapi kata Ali yang paling menyedihkan adalah setiap kali jet-jet perang terbang di atas Aleppo dan anak-anak kecil ketakutan. Ali nggak tega ngeliatnya.

Ada satu refugee lagi dari Syria, Achmad namanya. Kami berdua sempet berbincang mengenai gimana sulitnya jadi muslim di Eropa. Dia yang baru 10 bulan menetap di Belanda kayaknya masih belum terbiasa dengan bebasnya kehidupan di sini. Selain itu dia juga ngeliat masalah beragama bukan cuma ada di luar islam aja, tapi di dalem juga. Kata dia, dia nggak suka ngeliat banyak komunitas islam atau masjid di deket tempat dia tinggal yang terlalu tertutup dan nggak bisa berintegrasi dengan masyarakat luar. Dia juga nggak suka ngeliat banyak muslim Arab yang merasa lebih alim hanya karena mereka orang Arab. Dan yang paling dia nggak suka adalah khotbah di masjid yang lagi-lagi adalah tentang politik. Rupanya di Syria khotbah di masjid itu udah dipesan sama pemerintah dan harus membicarakan tentang politik. Learnt something new everyday.






Karena yang ikut pertukaran pelajar biasanya orang-orang yang punya awareness besar terhadap isu-isu yang mereka peduliin, berada di lingkungan positif kayak gini bikin gue lagi-lagi makin banyak mikir. And I don't mind that at all. Lagi-lagi gue merasa gue juga harus punya sense untuk berkontribusi dan giving back ke komunitas gue. Lagi-lagi gue merasa gue juga harus peduli dengan apapun di sekitar gue. Entah itu politik, sains, sosial. Karena kalau gue tutup mata, siapa lagi yang akan peduli? Siapa lagi yang akan turun tangan?

Seperti yang kita tahu, mengelilingi diri dengan orang-orang yang open-minded, yang positif, dan yang bisa ngasih kita boost of confidence and motivation itu perlu. Karena lingkungan kayak gini bisa selalu nyadarin kita kalau bumi itu luas dan masih banyak hal yang harus kita explore. Nggak cuma sesekali, tapi setiap kali kita ada kesempatan.




Share:

9/22/2016

Why Not?

Tanggal 19 September kemaren gue baru aja balik dari Stradonice, Czech Republic. Selama 8 hari gue ikut pertukaran pelajar dari Erasmus+. One gorgeous friend of mine, Caro, who comes from Spain wrote about this amazing experience that we had:


WHY NOT?

It was a sunny day in Prague. Charles bridge was crowded and Czech people were drinking beers as always. Then, in the middle of the happiness, the phone rang. It was Vladimir and his driving style.

After a long way to Klamovka, the battle to choose the best bed started. It was warmer than everyone thought before arriving to Czech Republic, and everybody tried their best to make the other feel at home. When most of the people were having dinner, a guy that was shouting ‘I am an astronaut’ came as a representation of Germany. Actually, he is Spanish and he came by bike, Penelope. But it was not the only strange thing in the German group, if you can call it German... Two Indonesians, two Turkish, a Spanish and a German were in the group. That’s Europe!

After two hours, the Portuguese and the Spanish made necessary the big rule: BORA-BORA. But you know, latin people don’t care too much about rules. ‘Joder’. During the first game of the project, when everyone just had met each other for one hour, love arrived. The latin lips of Cisco fell in love with Mike’s ass, but the Cypriot was already kissing Marcelo. People wanted to know Stradonice, so some of them went to explore and met the whole population of the village: two people. Maybe not too many, but well enough to know how Czech people are. No expression, no smile, no emotions, no nothing. They can say ‘I love you’ with the same face than ‘My cat is dead’. Soon, they also knew the special kindness of the Czechs. “10% for Tips because of the good service and all the chips”. And remember “If you want to go, you can go, there are so many cheap hostels in Prague”. (Vladimir accent) But not all of Czech people were like these, the amazing Andy came to break stereotypes.

An unforgettable experience was starting. It doesn’t matter if there was no water for two days, because everyone smelled as pigs, so there was no problem with social relations... Even if none could put their hands up. And please do not forget about the food: the chicken that everybody was searching but nobody found.

Some parties later, there was already a ranking of party animals: 1. Portuguese, 2. Spanish, 3. Cypriot, plus Arthur and Kuba. Anyway, the hangover was never a problem to do the activities, even when nobody could speak because Mike was late for half an hour. Of course, alcohol was one of the ingredients: palinka, sangria, rakie, zivania, wine... Can you guess which one was the strongest? PALINKA.

But party is not only alcohol, it was also time to share different music, dancing and life styles. Mixing cultures, even when the Polish songs were played and only Polish people were dancing.
As in every international project, languages were something funny. A Spanish trying to speak Polish, or a Indonesian trying to say something in Portuguese, or a word with different meanings in different languages. Like ‘servilleta’, that means napkin in Spanish, and compress in Cypriot.

Do not forget ‘love’. Not only the couples made from the beginning, kissing each other when nobody saw them. That connections built just two days after meeting. But love is also something more than couples. It is the smile of Gita, the respect of Selam, the humour of Elias, the cheerfulness of Arthur, the passion of Marvin... Love is the paradise created in Stradonice during these days. Even if someone could not speak English, even if a conversations needed to be slower. It is tolerance, respect and generosity. Love is the way the concert was done yesterday.
We learnt how to make bracelets as well with Juanma as an amazing teacher, the free-soul supreme leather. “From the back to the back, from the front to the front, from the back to the front, to the back to the front, and do not forget the middle”. A new life style was created these days, a way of living when it does not matter where you are, the time, the country you are coming from or your religion., when you live the moment. Let’s be free souls.

Breaking stereotypes or confirming others during the whole week, knowing each other deeper and deeper, making friends forever, the project was coming to his end. After this, everyone takes an incredible experience to home. How many times in life will you have in your own room a concert of two Polish and a Spanish guy? How many times will you have dinner together with a girl from Indonesia, a rapper from Germany, and a half Romanian half Cypriot like the unforgettable Diana? How many times will you have a deep conversation with the different views of countries from Asia, South, North and Central Europe?


Imagine there is no heaven
It is easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today.


The sense of community built during the week was represented in the final performance: a final picture of different cultures, different life styles, tolerance, respect, curiosity and a big aim of sharing. Everything, finishing with a exciting song as ‘Imagine’. Love is creating. We have created connections, moments, feelings and values. We did magic. We have created music.

Close your eyes and try to remember every moment here. Just a few minutes to think on what we created.


MUSIC

Can we go back to Sundays 11st? Why not? 

Share:

4/11/2014

What The

I got no free time this semester even to study. What to do?? I'm crying inside.
For those who still want to study here, think twice or even four times :')

Share:

2/02/2014

What?

I know, I know.. I owe you guys an apology for neglecting my blog. You know, I thought it'd be boring to write stuffs that ain't interesting enough for you to read. But, screw that, right?! I'll write about it anyway.

So, yeah. We're in 2014 now. I'm still the same person I was in the other years before. Like you guys know, I always failed at making any new year's resolution, so I decided not to make one ever again. Nah, I'll be doing that if I see some possibilities to change my life a little bit.
I've been busy preparing for final exams. Apparently they gave us more to study and it sucks! For some uninteresting chapters I used my short-term memory and I read with full of passion AND patient for stuffs I like (zB. Kohlenhydrate, Aromaten, Aminosäuren usw.). Because it always feels good when you can explain things scientifically. It makes me feel a little bit smarter haha!. After finals we're gonna get one whole month of holidays. Maybe I'm gonna spend my time working or traveling with Paul. Although I like to travel, I didn't write it on my bio on any social media (Ouch).
Okay, I'm now gonna tell some things about my social life as well. I'm a "Ketua Departemen Seni & Budaya PPI Berlin 2013/2014" (no, no I'm not that proud. I just like the way it's written. What a very long sentence right?!". So anyways, We're planning to hold a film screening on March and I'm responsible for it. Long story short, we wanted to have a different concept, so our event is different than any others. Because so far IMHO they were always cheesy, as if the people who organized it only got one day to prepare. So, because it's my department, and because it's me, I wanna make this small event perfect. You know, you always have to maximize what you have. It doesn't mean that you can't "make over" small room you got there, right? I'm that perfectionist, FYI.

Okay, now what else?
Ah.. You might wanna skip this part, because it's gonna be only me complaining about how stupid people on the internet can be. So, I follow an online shop on Instagram. They got some cute stuffs there I have to say, but not that thing I'm gonna tell you. Everytime they uploaded something, they always had complete information about that product, how to buy it, the brand, price, everything. And you know what I always saw? Some moron freaking lazy girls who maybe can't read or don't wanna waste their 10 seconds to read the freaking caption, asking about questions that I still can't believe they were asking that. Simple questions like "Gimana cara belinya?", "Ini brand nya apa?", "Ukurannya apa?". Like seriously people? Seriously? I need to move to other planet.

I think I'm gonna stop right here. Have a lovely weekend.
Share:

10/06/2013

Let's Escape! : Nach Füssen

Ada yang tau Bayern? Yaaa... Bayern München, itu sih klub bolanya. Bayern atau Bavaria itu salah satu Bundesland di Jerman. Karena dia ada di selatan dan deket sama pegunungan Alpen, makanya pemandangan disana itu tsakep banget. Sooo... I came up with the idea to go seeing the Alps with Paulus. Ternyata ada satu kota yang emang buat turis kalau mau ngeliat Alpen dan Schloss Neuschwanstein.
Buat lo-lo yang suka Disney Princess pasti tau castle apa ini. Castle ini yang menginspirasi istana di film Beauty and The Beast. I wondered why, pas sampe sana gue nggak heran. Dalemnya bagus banget! Dan letaknya ada di atas bukit. Di sana kita cuma nyewa sepeda dan jalan ke Schwangau. Di kota itu terletak istana-istana raja Jerman jaman dulu. Keren lah pokoknya!





















Yang menarik dari Füssen adalah kotanya keciiil banget. Jadi lo kalo 3 hari aja disana udah bosen sih. Tapi kotanya itu indah gitu. Jalanan aspalnya cuma untuk jalan utama. Selebihnya pake batu-batuan (demenan gue banget kan tuh). Terus kita bisa jalan kaki aja atau naek sepeda juga sabi banget sampe ke kota lain yang deket sana. Terus banyak penginapan murah, jadinya nggak perlu ngeluarin uang banyak untuk liburan kesini. Yang mahal itu cuma kalau mau masuk ke istananya. Masuk Louvre aja dapet korting loh kalo kita student. Seinget gue waktu itu bayarnya cuma 6-8 EUR. Tapi masuk Hohenschwangau dan Neuschwanstein itu 21 EUR totalnya. Terus nanti ada Einführung nya. Mahal kan!

Selain this two beau castles ada juga danau-danau yang parah banget oke nya. Sayang aja kemarin gue kesana masih musim gugur. Coba kalau winter, pasti gue udah kaya anak kecil yang lagi ada di negeri dongeng. Ngeliat pegunungan bersalju, pohon-pohon semuaya putih, dan ada danau warna biru kehijauan. Alamakjang.





































Keren ya? Ich denke auch. Finally after this long holidays bin ich wieder zu Hause!! Kerjaan gue paling cuma ke tempat kerja dan rapat buat Artchipelago tahun ini. Gue sekarang kerja di percetakan gitu. Sehari bisa kerja sampe 9 jam dan gaji nya 8 EUR-an per-jam. Lumayan lah ya kalo di rupiahin gaji gue sehari udah 1 juta-an buat nambah-nambahin uang jajan. Sebelum masuk kuliah hendaknya kita mencari nafkah dulu biar bisa makan (sedih banget kayaknya, lah tapi emang menyedihkan kok T__T)

Yaudin lah kalok gitu. Wir sehen uns wieder.

Gruß,
Gita
Share:
Blog Design Created by pipdig