Apa yang sedang terjadi di Indonesia gue tercinta cukup membuat hati gue sedih. Sedih karena ternyata banyak banget orang islam yang nggak bangga dengan keislamannya, yang malu dan bahkan ngerasa kesal melihat saudara seimannya membela kitab sucinya. Orang yang berjuang untuk Allah dan Rasulnya itu terlalu radikal dan narrow-minded katanya. Gue sedih karena ketika Rasulullah ditarik nyawanya oleh malaikat maut, yang beliau pikirkan hanya umatnya. "Yaa ummati... Yaa ummati... Yaa ummati." Begitu cintanya dia dengan kita, tapi kita terlalu malu untuk menjungjung tinggi agama kita. Kita terlalu malu untuk menjadikan Quran dan sunnah sebagai pedoman kita. Quran itu bebas tafsir katanya. Islam itu harus mengikuti zaman, bukan zaman yang mengikuti Islam katanya. Terlalu religius itu kolot katanya. Hidup dan mati Rasulullah hanya untuk tuhannya, untuk umatnya, untuk menegakan agama ini hingga akhirnya kita bisa berislam sebegini nyamannya. Tapi lihat kita sekarang? Tidak setitik debu pun kita melanjutkan perjuangan beliau. Malah kita berusaha menutupi kehidupan islam kita rapat-rapat. Urusan agama hanya untuk disimpan oleh diri-sendiri. Privasi katanya.
Yaa Allah, tolong bukakan selalu pintu maaf kepada kami dan tolong bukakanlah pintu hidayah kepada orang-orang yang merendahkan agamaMu yang mulia ini.
Yaa Allah, tolong lembutkan lah selalu hati kami agar kami selalu bernafas untukMu dan selalu ikhlas berjuang di jalanMu.
Yaa Rasulullah, maaf jika kami belum bisa membela agamamu sebagaimana engkau membela islam dahulu.
Maaf jika setelah kepergianmu kami bukannya bersatu, tapi malah bercerai-berai tidak peduli dengan nasib sesama.
Maaf jika setelah kepergianmu kami malah malu meneriakkan takbir, malu menjunjungmu, malu memuji namamu, dan malu hidup melangkah dengan nafas dan prinsip agamamu.
Yaa Rasulullah, sungguh beruntungnya sahabat-sahabatmu, pengingkut-pengikutmu, dan orang-orang terdahulu yang dapat melihatmu, yang dapat sholat bersamamu, yang dapat mendengarkan khutbahmu.
Walaupun kami tidak pernah bertemu,
kami rindu dirimu, yaa Rasulullah.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dear beloved prophet
Today at school, the teacher asked us to draw you
I like to draw, but I never saw you
So I closed my eyes
And I saw a tear in the eye of my mother while reading your story
I saw my father praying all night
I saw my elder sister smiling, even though she just got insulted in the street
I saw my best friend asking me for forgiveness, even though I was to blame
I want to draw all these images
Here, people want to see everything, to watch everything
But I closed my eyes
And I saw you coming towards me
I saw you coming towards us
With the most perfect smile
How could I ever draw a perfect smile?
The teacher did not let me speak when I wanted to explain to her
I can't blame her
She probably never learnt to love someone she doesn't see
But me, I love you without seeing you
I am not good at drawing but I like to write
I like to write to you, yaa Rasulullah
If you could only come back amongst us for a few hours
a few seconds...
a few moments...
She could understand eventually