by Gita Savitri Devi

3/05/2014

Tulisan Random Tentang Indonesia

Kalau dipikir-pikir, kayaknya gue nggak cocok jadi pemimpin atau at least masuk di dunia politik dan pemerintahan. Gue sebenernya jarang ngikutin politik, sih. Kemaren aja baru gue tau orang-orang yang mau nyalonin diri jadi presiden, entah dari partai atau independen. Tapi gue nggak ignorance juga sama apa yang lagi terjadi di negara gue. Jujur ya, semakin banyak tau, semakin pusing gue dibuatnya. Karena gue jadi makin sadar banyak banget manusia di Indonesia dengan segala intrik, ego, dan kepentingan pribadi yang membuat mereka mau ngelakuin cara apapun, halal maupun harap, cuma supaya keinginannya tercapai.

Sering gue nonton Mata Najwa dan ngikutin dialognya. Baru-baru ini gue nonton episode Bu Risma si walikota Surabaya, terus gue juga nontonin Farhat Abbas dengan pride-nya dia bisa ngebebasin gembong narkoba dari hukuman, Angel Lelga yang pede banget nyalon jadi wakil rakyat, padahal dia cuma tau satu Bereich yaitu pertanian. Itu pun dia cuma tau sedikit-sedikit, buat jadi modal ngomong depan publik yang nggak tau apa-apa. Belum lagi gue suka mantengin Twitter yang ngomongin kalau Jokowi adalah bonekanya Amerika.
Ada satu hal yang ngeganggu pikiran gue kalau lagi nontonin politikus-politikus konyol di TV. Sesampah itu kah negara gue, sampai orang-orang yang nggak capable dan nggak punya bekal untuk memimpin pun dengan sangat percaya diri dan nggak tau malu berebut pingin nyaleg, berebut pingin jadi presiden. Jadi apapun asal punya kekuasaan. Emangnya kalau negara ini makin carut-marut dan terpuruk, mereka nggak ada rasa bersalah karena nggak bisa megang amanah? Gini deh, sebagai suatu individu harusnya kita tau lah kita itu seperti apa, kekuatan dan kelemahan kita apa, seberapa besar potensi kita, dan seberapa sulit tugas dan tantangan yang akan kita hadapin. Semestinya ya, kalau si orang-orang itu normal, untuk kepikiran jadi pemimpin Indonesia atau wakil rakyat aja harusnya mereka udah malu. Karena pada kenyataannya mereka nggak bisa apa-apa kan? Otak mereka isinya duit dan kedudukan doang kan? Kalau ada dialog-dialog di program TV, yang diomongin cuma masalah korupsi lah, kemacetan lah, mensejahterakan rakyat miskin lah, hal-hal sepele. Emangnya negara ini masalahnya itu doang? Cuma sebatas menghilangkan korupsi doang? Sebatas ngurusin rakyat miskin doang? Nggak pernah apa mereka mikir kalau sumber daya alam itu juga harus dipikirin, hubungan bilateral & multilateral, olahraga, pangan, dan maaasih banyak lagi urusan-urusan yang nggak kalah penting, yang bisa bikin Indonesia di recognized sama bangsa lain. Gue sebenernya udah lumayan muak sama cara bermain pemerintah dan orang-orang lain yang terlibat dalam urusan negara. Pikirannya tuh udah diracunin sama duit, kekayaan, dan kekuasaan. Jadi mereka bekerja itu tujuannya bukan untuk negara lagi, tapi untuk mensejahterakan keluarga masing-masing. Si istri ngerengek-rengek ke suami minta beli tas Hermes, si anak minta duit buat modifikasi mobil, si bapak bisanya cuma nurut doang. Karena tuntutan makanya dia korupsi. Kalau satu udah main kotor, semuaaa ikutan. Yang tadinya gampang jadi di persulit. Terlalu banyak hal yang di mainin dan di duitin. Belum lagi harus jilat pantat atasan, senyam-senyum biar dapet jabatan. Ini nih salah satu alasan gue malesss jadi PNS, males berurusan sama orang indonesia. Kalo lo nggak pinter cari muka, lo nggak bisa survive. Sementara gue paling nggak bisa cari muka, paling nggak bisa sweet talk muji-muji orang lain. Kalo lo bego ya bego aja, lo nggak mampu ya lo ngga mampu.

Waktu lagi di jalan, gue sempet nyeplos ke temen gue, "Eh, kasian deh si Bu Risma. Masa dia nggak dikasih tau apa-apa pas lagi pemilihan wakilnya doi.". Terus setelah ngobrol agak lama gue bilang, "Gue suka banget tapi sama dia. Nggak terbesit di otak dia tentang kekuasaan, duit, apapun. Jadi dia kerja ya beneran karena dia megang amanah. Kalau dia nggak bener, dia takut sama yang di atas.". Terus temen gue jawab, "Itu malah yang bahaya. Dia terlalu baik dan dia nggak tau politik. Dia nanti bisa dibego-begoin orang.".
Emang bener sih kalau nggak tau medan sementara kita lagi nyebur disana bisa bahaya. Tapi sekalinya lo tau, cobaannya bakal lebih besar lagi. Belum lagi manusia itu paling susah untuk berpaling dari hal yang tempting di dunia. Kan kita punya nafsu. Sebaik-baiknya si ibu wali kota, dia juga manusia. Dan gue sangat salut gimana dia memimpin Surabaya itu bukan buat dirinya, tapi buat Tuhan.
Setelah ngobrol sama temen gue itu, gue jadi makin sadar kalau menjadi seorang idealis di Indonesia itu susah. Bayangin aja kita yang pingin bener, pingin lurus, harus di tarik-tarik sama kanan-kiri kita supaya belok. Cobaan banget kan? Kalau nggak kuat-kuat iman pasti gampang banget keikut.

Keluarga dari nyokap gue itu hampir semuanya pegawai negri di palembang. Dulu kakek gue wakil gubernur sumatera-selatan, jadi yaa kebawah-bawahnya kerjanya disitu-situ aja. Saudaranya nenek gue juga sekarang masih jadi gubernur sumsel. Makin-makin lah kan. Kalau lagi pulang kampung, seriiing banget obrolannya tentang kayak gituan dan gue sama sekali nggak tertarik. Seperti yang kakek gue bilang dulu ke nyokap gue. Doi ngelarang nyokap gue untuk jadi PNS, karena nyokap orang yang paling nggak bisa di Bereich kayak gitu. Dia emang nggak tahan juga sama suap-suapan, maen-maen kotor, haha-hihi, senyam-senyum, yang mungkin normal terjadi disitu. Sedari gue kecil pun gue sering diceritain tentang hal-hal beginian dan makin gede gue makin bersikap "Pokoknya gue nggak mau ke bidang itu. Gue nggak mau jadi lawyer, gue nggak mau maenan partai, nggak mau kerja di kantor pemerintahan.". Sebisa mungkin gue harus independen, kerja di area dimana yang satu-satunya menentukan itu adalah skill, dimana gue nggak harus muji-muji bos gue segala atau ngasih dia oleh-oleh kalau gue abis pulang liburan. Kalo perlu (bukan kalo perlu sih, ini hukumnya fardhu) gue mau jadi bos biar gue nggak usah nyuap orang lain. Sebenernya jadi bos itu rentan dijilat, tapi inshaa Allah gue nggak suka dibaik-baikin sama anak buah yang ada maksud.
Share:

18 comments

  1. Wah....gw setuju banget sama pemikiran lo... Dan gw rasa itu sebabnya indonesia susah maju.

    ReplyDelete
  2. gua setuju sih secara umum tentang kemuakan lo soal terpuruknya berita di indo dan pemerintahannya, cuma gimana kalo ternyata hal-hal sepele itulah masalah paling fundamental disini dan hal itu adalah masalah paling awal yang harus diperhatikan negara? tujuan negara paling utama kan mensejahterahkan rakyatnya karena rakyat adalah salah satu syarat adanya negara, barulah abis itu syaratnya punya kemampuan berinteraksi dengan negara lain. gimana kalo eksistensi indonesia di dunia internasional ternyata udah dipandang ketika arah perpolitikan global mengarah ke asia? dan gimana lihainya kita didalam politik internasional? gimana kalo kebiasaan carmuk di pemerintahan dan korupsi kotor2an udah mulai terkikis dengan pemerintah yang mulai bekerja efisien dan mementingkan spesialisasi individu juga komisi independen yang udah berhasil mengusik dinasti keluarga yang udah bertahan selama bertahun2 bahkan di mk yang merupakan salahsatu lembaga tertinggi negara? gimana kalo ternyata setiap orang punya pendapat sendiri tentang apa yang menurut dia benar meskipun kadang itu keliatan ga baik? gimana kalo ternyata kita ga tau betapa berharganya kekuasaan kalo kita belum pernah ada dalam keadaan powerless? ataupun berharganya kekuasaan untuk mewujudkan apa yang menurut kita benar? sebenernya gua pernah baca blog lo sih satu dua kali, dan ada tulisan tentang gimana pendidikan teknik kimia di jerman dengan segala kerumitannya itu, tapi disini akan agak berbeda ketika lo bahas tentang dunia sosial, karena engga ada sama sekali yang namanya kepastian disini. semua orang punya pandangan tersendiri tentang apa yang menurutnya bener dan salah, apa yang baik dan apa yang buruk, benar belum tentu baik dan sebaliknya, bahkan kita sulit mendefinisikan baik ataupun adil dalam arti sebenernya biarpun kata itu sering diucapin. ini juga berarti bener aja lo mau share pendapat lo kalo menurut lo itu bener..

    ReplyDelete
  3. halo Anon,
    tapi yang gue lihat adalah si orang-orang yang kepedean buat jadi pejabat itu cuma taunya masalah itu doang (yang gue sebut diatas sebagai masalah sepele) dan mereka nggak tau cara nyelesainnya. karena apa? karena yang gue lihat juga, sistem di indonesia itu nggak fokus dan bertele-tele. terlalu banyak melakukan dan ngomongin hal-hal nggak perlu, sehingga they never get into business. terlebih lagi budaya orang kita yang bisanya cuma komentar dan berdebat tapi nggak solutif. cuma bisa nunjuk-nunjuk orang, tapi dirinya sendiri nggak mau bangun, berdiri, dan bergerak. kalau untuk hal yang dasar tapi krusial aja nggak beres sampe sekarang, apalagi hal-hal lainnya yang mungkin nggak pernah terbesit di otak orang-orang itu kalau hal itu eksis dan harus diurus?
    jujur selama ini gue suka rada males kalau ada orang india yang bau kari, dan kadang-kadang dalem hati suka gue cetusin. tapi terus gue mikir lagi, sebau-bau karinya orang india, negara dia udah bisa bikin roket dan tahun ini mau di luncurin. meanwhile in Indonesia, orang macam Farhat Abbas dan Roma Irama berani-beraninya bilang pingin mimpin negara semacam Indonesia.

    gue juga baru tau kalau kemarin akhirnya di Indonesia jalur kereta api dibikin dua arah, gue nggak sadar kalo selama ini di indo indeed rel nya cuma satu. hal-hal yang semacam ini, yang menurut lo nggak lebih penting dari mensejahterahkan rakyat, ternyata selalu luput dari perhatian pemerintah. karena apa? mereka kenyataannya nggak peduli sama any problem our country got.

    gue setuju sama lo, kalau hal yang baik memang nggak selamanya baik. ada baik dan buruk yang juga relatif. tapi gue rasa dalam konteks ini udah clear disini mana baik dan buruk yang absolut.

    ReplyDelete
  4. nice post, tapi jangan selalu liat hal negatif yang ada di indonesia, ada juga hal yang positif dan membanggakan di indonesia. bangga lah jadi pemuda indonesia *yoooi hahaha

    ReplyDelete
  5. addy : danke danke hehe
    rafdi : adaa.. anak muda indo skrg bagus bagus pada berprestasi. smoga pada mau bangun indo ya

    ReplyDelete
  6. halo vitri,
    kalo yang gua liat disini sih ga ada salahnya kok ketika misalnya mereka baru terpikirkan dengan hal2 yang menurut lo sepele ini. kemacetan dan banjir jakarta misalnya, berangkat dari masalah kemacetan yang menurut lo sepele dan selalu diulang2 ini sekarang muncul kok proyek terowongan multifungsi 5 in 1 pertama didunia. sesuatu yang besar dulunya sepele kok hahaha, kausalitas aja, mungkin lo lebih paham dengan ini. oh iya, gua hampir lupa, ternyata indonesia juga negara yang berhasil keluar dari pemerintahan otoriter dengan jalur reformasi dan setelah itu tetap bertahan sampai sekarang ga seperti banyak negara yang ikut gelombang arab spring dan justru cenderung jadi agak failed states setelahnya menurut gua, berarti apa ya? oh iya hebat, orang2 kayak roma irama dan farhat abbas akan kepilih jadi presiden ga ya di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini? kalo menurut gua sih engga, dan menurut gua biarin aja dia ngomong apa sesuka hati dia, malah enak jadi bahan lawakan, kita juga bisa bilang kan mau jadi presiden? ini juga berarti bener aja sih kalo lo mau kesel sama dia. gua rasa tingkat kepedulian itu juga relatif deh, dari peduli perkembangan teknologi di indonesia sampe peduli temen indo lo yang kebeset silet yang juga bagian dari indonesia dan bisa aja dia yang tadinya akan jadi kayak habibie gara2 kebeset jadi ga jadi. kita semua peduli cuma beda aja tingkat kepeduliannya.

    tapi hebat sih tingkat kritis lo

    oh iya yang udah absolut yang mana ya?

    ReplyDelete
  7. Ich wurde mit Politikern .... reich Ratte gef√ľttert Hahaha.....

    ReplyDelete
  8. Hai Gita,
    Ternyata yang nyanyi cukup lumayan di soundcloud itu punya blog, jadilah aku berkunjung. Dan ternyata ada satu tulisan yang cukup mengusik pikirku. Beginilah kataku.

    Aku sering bertanya-tanya dalam hati berapa sih peringkat negara Indonesia di antara negara-negara lain, bidang apapun itu? Oke dari kabar yang kudengar tidak terlalu buruk namun ada beberapa hal yang sangat mengecewakan. Suka lama aku memikirkannya dan kesimpulanku selalu sama, orang-orang pintar yang benar-benar intelek, orang-orang yang merasa diri pintar tak tergerak untuk membantu yang lain, membantu negara. Yang kumaksud orang-orang di sini bukanlah , pejabat pemeerinta, PNS, dsb. Sudah pekerjaan mereka membangun dan mengurus negara. Itu pilihan mereka.

    Orang-orang yang kumaksud adaah orang-orang sepertimu, seperti aku yang telah menuntut ilmu begitu tingginya hingga punya kesadaran, pilihan, dan kekuatan. Apakah memilih diam menggerutu atau bergerak bersama-sama untuk membangun sesuatu?

    Umur 20-an tahun Hatta sekolah ke Belanda. Sepulang ke Indonesia di memerdekakan Indonesia. Seperti apa kondisi orang Indonesia di luar negeri sekarang? Seperti kebanyakan TKI yang tak punya pilihan atau seperti Hatta yang sadar hendak berbuat sesuatu? Hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

    Sebenarnya aku mau menulis sesuatu yang agak panjangan dan lebih elaboratif. Tapi memandang jalanan jakarta yang masih macet dan nasi uduk yang mulai dingin, aku harus makan.

    Grow strong. Jadi boss. Bener itu biar ga ngemis sama orang lain. Tapi ketika waktunya tiba. Saat ibu pertiwi menangis minta tolong, jangan kau tutup telingamu.

    Salam,
    Budiaji

    NB: Aku selalu tertegun begitu ingat perkataan Anies Baswedan, Korupsi terjadi bukan karena jumlah koruptornya yang banyak, melainkan karena orang-orang baiknya mendiamkan.

    NB lagi: Sekali-kali bacalah sajak WS Rendra terutama yang Sajak Sebatang Lisong dan Sajak Seonggok Jagung

    ReplyDelete
  9. pemerintah indonesia? geleng-geleng !

    ReplyDelete
  10. Kita adalah orang indonesia. dengan latar belakang sejarah ribuan tahun, kita semua punya pola pikir dan pola tindak yang hampir seragam. Jadi kalau kita bertanya kenapa Indonesia bisa begini? Bayangkan saja saat ini kita berada di posisi para pejabat Pemerintah yg ada sekarang. Apa yang pemerintah lakukan sekarang adalah kurang lebih sama dengan apa yang akan kita lakukan jika kita ada di posisi mereka. Masuk akal?

    Catatan : jadi PNS ga harus selalu struktural atasan bawahan gita. Ada yang namanya jabatan fungsional. Bekerja profesional sesuai keahlian. Jadi pns yuk?

    ReplyDelete
  11. ich liebe noch Indonesien mit seinen verschiedenen Problemen. Ich muss nicht von ihm weg denn in der Trauer wartet es auf mich , um seine Traene zu wischen


    ReplyDelete
  12. ich liebe noch Indonesien mit seinen verschiedenen Problemen. Ich muss nicht von ihm weg denn in der Trauer wartet es auf mich , um seine Traene zu wischen

    ReplyDelete
  13. gw suka suara lo kmaren2 tiba2 nyasar di soundcloud dgrin semua lagu2 yg di cover sama lo,dan liat you tube juga, dan skrg liat blog lo... Keren,seru... salam kenal!

    ReplyDelete
  14. Hi Gita...
    Gw suka banget smua tulisan lo, sepemikiran sama gw, terus ternyata lo concern juga ya mikirin politik di Indonesia walopun sebenernya belum bisa berbuat apa2 tapi senggaknya peduli dan tau salah benarnya. Nice to know you :) oh iya,gw suka banget suara lo... mdan kayanya banyak banget yang udah ngefans sm lo nih, sukses ya gita!

    ReplyDelete
  15. Niceee opinion !!! Tpi gw ga setuju juga kalau lawyer dicap hmmm main atau apalah
    Titik poinnya adalah seorang lawyer ktika dia ngebela kliennya dia udah mikirin
    Apakah si klien di posisi yg bener dlam arti dia yg "berhak" dan perlu dilindungin
    Oleh hukum krna hak nya dirampas dsb... gw seyakin2nya hanya skian dri sepersekian
    Lawyer itu jeleek absolutely git...bayangin aja kita negara hukum aja udah amburadul
    Kyk gni apalgi negara totaliter, ototiter...keep writing ��

    ReplyDelete
  16. Niceee opinion !!! Tpi gw ga setuju juga kalau lawyer dicap hmmm main atau apalah
    Titik poinnya adalah seorang lawyer ktika dia ngebela kliennya dia udah mikirin
    Apakah si klien di posisi yg bener dlam arti dia yg "berhak" dan perlu dilindungin
    Oleh hukum krna hak nya dirampas dsb... gw seyakin2nya hanya skian dri sepersekian
    Lawyer itu jeleek absolutely git...bayangin aja kita negara hukum aja udah amburadul
    Kyk gni apalgi negara totaliter, ototiter...keep writing ��

    ReplyDelete
  17. Niceee opinion !!! Tpi gw ga setuju juga kalau lawyer dicap hmmm main atau apalah
    Titik poinnya adalah seorang lawyer ktika dia ngebela kliennya dia udah mikirin
    Apakah si klien di posisi yg bener dlam arti dia yg "berhak" dan perlu dilindungin
    Oleh hukum krna hak nya dirampas dsb... gw seyakin2nya hanya skian dri sepersekian
    Lawyer itu jeleek absolutely git...bayangin aja kita negara hukum aja udah amburadul
    Kyk gni apalgi negara totaliter, ototiter...keep writing ��

    ReplyDelete
  18. Setuju banget.

    Jadi inget papaku. Btw aku stalk dan bacanya udah jauh ya? Kkk. Udah puluhan tahun jadi pns sampai sekarang jabatannya naik dikit-dikit. Pernah dicalonin jadi lurah, telat dikit namanya dah diganti sama yang lain. Sebagai anaknya aku gak pernah malu. Justru aku malah bangga karena dia gak pernah ngelakuin hal-hal yang ditulis di atas.

    Seketika pengen hapus tulisan pns di kolom cita-cita kertas biodata -_-

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig