by Gita Savitri Devi

7/26/2017

Kesederhanaan Yang Dirindukan

Kalau kalian aktif di Twitter, mungkin kalian tau kalau beberapa hari ini Twitter gue lagi rame. Alasannya adalah karena di-mention sama salah satu selebtwit yang katanya emang suka komen tanpa tau konteks dan tanpa kenal orangnya. Memang yang gue rasakan semenjak ada mereka-mereka ini, Twitter kayaknya udah NSFW. Salah ngomong dikit, atau bahkan yang sebenernya nggak salah, cuma beda pendapat aja, disayurinnya ruarr biasa. 

Seringkali gue ingin S2 Neuroscience, biar gue bisa tau dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat dalam sel neuron manusia jaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau bicara sesuatu itu nggak ada lagi second thoughts-nya. Mungkin kalau gue lagi lowong, gue mau cari-cari journal/paper tentang itu. Siapa tau ada yang udah pernah ngerjain studinya.

Di sini gue nggak mau ngomentarin tentang selebtwit atau orang-orang yang ngebully gitu sih. Karena sejujurnya gue sampe sekarang belom bacain satu-satu isi tweetnya. Cuma selewat aja, itu pun karena nggak sengaja muncul di notification.

Soalnya, kalau mau gue ladenin, gue jadi keinget sama kalimat ini:

"Never explain yourself. Your friends don't need it. Your enemies won't believe it."

So I let him ngasih wejangan ke gue, dah. Suka-suka dia. Suka-suka followers dia juga. Daripada gue bales nanti nggak kelar-kelar urusannya.

***

Nah, di sini gue mau cerita aja apa yang mendasari perkataan gue tersebut. Lebih ke curhat, sih. Karena ada beberapa hal yang gue rasakan selama di Jakarta ini dan pergolakan yang gue alami sebagai so called social media influencer.

Salah satu value yang diajarkan di rumah gue dari dulu adalah hidup prihatin. Dari gue bocah dulu, bisa makan di McD aja adalah suatu kemewahan. Karena nyokap gue selalu bilang begini, "Mama setiap hari udah ngasih duit pasar ke pembantu. Kalo kita makan di luar, sayang duitnya.". Itu lah kenapa gue sangat segan untuk ngajak nyokap makan di luar. Karena ya itu, appreciate apa yang udah dimasak pembantu gue dan duit yang udah disisihin supaya pembantu gue itu bisa belanja makanan.

Begitu juga ketika gue mau beli-beli barang. Gue selalu sungkan untuk ngomong. Contohnya kayak waktu jaman gue SMP dulu, lagi nge-trend banget tas dan dompet Happy House. Warnanya lucu-lucu banget. Pink, oranye, kuning. Tapi sayang, harganya mahal. Kalau nggak salah satu tas sekolah itu harganya kisaran 200-300 ribu. Alhasil gue cuma bisa beli barang yang kira-kira desainnya mendekati si Happy House ini. Versi Mangga Duanya, lah.

Billaboong, Roxy, dan teman-temannya juga lagi booming. Tapi gue nggak pernah berani buat masuk ke tokonya karena gue tau pasti gue akan kaget liat price tagnya. Jadi, yaa tas gue paling cuma sebangsa Exsport aja. Itu aja menurut gue udah mewah banget.

Ngomong-ngomong, lo pernah nggak sih gue ceritain gimana first impression gue ketika masuk SMP? Gue rada syok. Karena SMP gue itu campuran antara anak dari SD swasta dan SD negeri. Dan kelihatan banget gimana timpangnya kita, anak-anak SD negeri, dengan anak swasta tersebut.

Sempet beberapa waktu gue kangen banget sama masa-masa gue SD dulu. SD gue itu di samping pasar inpres. Setiap mau ke sekolah, gue selalu ngelewatin pasar becek dan gundukan sampah. Temen-temen gue tinggalnya di gang yang comberannya bau kotoran ayam. Gue jadi main di sana terus, deh. Dan gue nggak merasa too rich to be there or to be friends with them karena gue pun 11:12 sama mereka.

Bahkan gue sampai sekarang sangat merindukan kesederhanaan tersebut. Pertemanan yang senyum dan tawanya muncul ketika kita main karet bareng, main galasin, dan jalan-jalan naik mikrolet 09 A. Pertemanan yang nggak lantas hancur hanya karena orang tua teman-teman gue itu sekedar tukang ojek, pedagang di pasar, atau penjahit di konveksi.

Sangking sangat berkesannya masa-masa SD gue itu, gue sampe bertekad untuk masukin anak gue ke SD negeri kalau gue tinggal di Indonesia nanti. Tapi sekarang gue lihat SD negeri juga udah mulai banyak yang borju. Intinya gue bingung, sih, mau nyekolahin anak gue di mana biar dia tau caranya sederhana.

Berlanjut sampai gue besar sekarang, gue selalu menanamkan value itu. Nggak hambur-hambur dan mencoba pakai uang untuk yang penting-penting aja. Fun fact, selama gue 18 tahun tinggal di Indonesia, nggak pernah sekalipun gue minum Starbucks. Because I know that drink is damn expensive dan gue terlalu terintimidasi oleh harganya hahaha. Barulah ketika di Jerman gue coba-coba beli Starbucks. Taunya nggak ada yang spesial selain gulanya yang kebanyakan. Ujung-ujungnya gue lebih memilih bawa botol dari rumah yang berisi air keran. Gratis dan menyehatkan.

Sekarang dengan gue yang nyemplung di dunia begini, entah gue sebut sebagai apa dunia Internet ini. Pastinya gue akan bertemu bermacam-macam orang. Seringkali gue mendengar cerita dan melihat sendiri orang-orang yang bertentangan dengan value yang gue punya.

Tapi gue selalu berusaha untuk stay di mana gue berada sebelumnya. Buat syuting The Comment dan Indonesia Morning Show gue nggak mau pusing harus pakai kostum apa hanya karena gue mau masuk TV. I could care less kalau busana gue not appropriate enough to be on camera. Kecuali pas The Comment, sih. Itu pun bukan baju. Cuma muka gue dimakeupin-nya sampe segitunya banget.

Pernah juga ketika gue diundang untuk nonton Spiderman sama salah satu agency bareng selebgram lain. Yang dateng ke sana nggak cuma selebgram, tapi artis juga. Tapi ya gue merasa terlalu neko-neko kalau gue harus dress up hanya karena mau nonton Spiderman. Toh nanti di bioskop juga gelap dan nggak ada yang ngeliat gue. Bener aja, sama salah satu selebgram gue dikira orang dari agency-nya hahaha.

Buat meeting-meeting sama client, gue selalu cuma pesan minum. Karena pertama, walaupun dibayarin dan bayarnya pake duit perusahaan a.k.a udah disediain budgetnya, gue nggak merasa berhak untuk ngebuang-buang duit (especially bukan duit gue) hanya buat ngenyangin perut gue yang sebenernya saat itu nggak laper-laper banget.

Dikelilingi orang-orang yang terlihatnya sangat berada dan bisa dengan segampang itu ngeluarin duit segepok ternyata cukup challenging. Bukan perkara cobaan untuk nahan-nahan biar nggak kayak mereka, tapi lebih ke sedih dan akhirnya jadi self-reflect sendiri. Alhamdulillah dibesarkan di keluarga yang sangat menghargai uang (karena emang susah dapetinnya) dan tinggal di Jerman yang orangnya nggak neko-neko, gue masih ada rasa malu untuk lalu ikut-ikutan hedon. 

Ada banyak orang yang jauh lebih berada tapi sederhananya luar biasa. Malah gue sangat salut dengan orang-orang seperti itu. Mereka yang mengatur dunianya, bukan dunia yang mengatur mereka. Nggak lantas jadi alergi sama yang murah-murah. Nggak lantas jadi males temenan sama yang berkantong kering. Tandanya prinsipnya luar biasa. Dan gue malu kalau gue sehambur-hambur itu tetapi untuk bersedekah malah nggak seberapa.

Ngeliat di depan mata gimana seseorang pesan makanan yang harganya nggak mahal, terus setelah makanannya dateng dan dicicip sedikit malah nggak dihabisin. Nggak enak katanya. Sementara gue jadi kepikiran gimana detik itu ada orang yang perutnya keroncongan karena belum makan berhari-hari. Melihat gimana manusia memang secara nyata benar-benar bisa tumbuh makin besar kecintaannya terhadap dunia karena mereka merasa semudah itu bisa dapet duit dan ngeluarin duit (dan lebih ngenesnya mereka nggak sadar). Melihat gimana manusia bisa sehedon itu, sematerialistis itu, bisa sedzalim itu ke manusia lain hanya karena duit. Itu semua ternyata sangat nggak bikin nyaman hati gue. Cuma gue nggak bisa ngomong apa-apa selain diam dan mengingat lagi niat gue di dunia ini untuk apa.

Mungkin gue terlalu polos melihat dunia. Mungkin gue terlalu polos menganggap hidup itu tempat cari pahala, bukan ngejar harta buat kemudian dihabisin buat hal-hal nggak berguna. Mungkin gue terlalu kepikiran sama orang-orang kurang mampu di luar sana, sementara kanan-kiri gue berlebih-lebihannya luar biasa. Mungkin gue yang terlalu gusar ngeliat gimana timpangnya keadaan ekonomi orang kita. Mungkin memang harus begitu, ya, jaman sekarang? Acuh, ora urus hidup orang lain.

Itu yang gue curhatin ke nyokap gue baru-baru ini, "Ma, Gita takut nanti standard hidup Gita jadi naik.". She knew what I was talking about. Dia ngingetin untuk selalu berdoa supaya penyakit hati itu nggak ada, supaya kecintaan ke pada dunia nggak melebihi kecintaan ke pada Tuhan, dan gue nggak boleh selalu ngeliat ke atas. Karena sesungguhnya kecintaan sama dunia itu membutakan. Buat orang-orang yang sadar, pasti ngeri sama tipu dayanya.

Perkataan teman gue, yang kata si selebtwit keliru itu, menurut gue adalah reminder yang sangat bagus. "Kalau lo merasa ngeluarin uang 150 ribu untuk satu kali makan itu biasa aja. Tandanya ada yang salah sama lo.". I don't know about you, guys. Tapi gue sadar nggak semua orang seberuntung itu. Nggak semua orang bisa beli makan tanpa mikirin harga lagi kayak orang-orang tajir.

Gue nggak setega itu untuk bilang "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue.". Ketika gue tau kalau banyak orang di luar sana yang sesusah itu hidupnya. Dan banyak orang yang nge-follow gue dan melihat lifestyle yang gue miliki. Bagaimana pertanggungjawaban gue nanti, kalau ternyata ada banyak orang yang iri melihat hidup gue karena secara tidak sadar gue pamer kekayaan. Lalu orang-orang itu lantas mikir hidupnya itu nggak menyenangkan dan nggak patut disyukuri.

Seperti yang Mbak Kate Welton bilang di Twitter, "It's not about what is standard for individuals. It's about recognising that others may not have the same privilege as you."

Sesimple itu. Sesimple sebaiknya kita sadar ketika standar kita di atas rata-rata dan sebaiknya mensyukuri itu. Bukan malah jadi berlebihan, hambur-hamburan, menjadikan itu suatu kebiasaan, atau bahkan merasa apa yang kita punya masih belum cukup. Karena ada orang yang beneran nggak cukup, tapi mereka malah merasa udah kaya, udah puas. Karena hatinya selalu diliputi oleh rasa syukur.

Itu salah satu alasan kenapa gue nggak pernah jawab kamera apa yang gue pakai untuk ngevlog dan foto. Karena orang bisa googling harganya. Mereka taunya gue punya kamera dengan harga segitu tanpa tau sebenernya sekeras apa gue bekerja dan lantas menabung untuk beli kamera itu setahun kemudian. The same goes to makeup. Orang taunya gue pake Laura Mercier, The Balm, blablabla. Mereka mana mau tau kalau semua produk itu gue beli setelah gue kerja ngebabu di pabrik percetakan yang mengharuskan gue untuk berdiri 9 jam setiap harinya. Dan mereka mana tau kalau barang-barang itu gue pakai seirit mungkin dan bahkan half of them udah kadaluwarsa. Tapi gue nggak tega ngebuangnya, berasa ngebuang duit yang udah gue kumpulin susah payah.

Orang-orang yang kemaren ngebully gue di Twitter hanya tau gue tinggal di Jerman tanpa tau kesulitan ekonomi apa yang gue punya. Tanpa tau seringkali gue bener-bener nggak ada uang hanya buat sekedar beli beras. Mereka pikir tinggal di Jerman itu sudah pasti menyenangkan, sudah pasti dari keluarga berada. Menurut lo, kenapa gue sama Paulus bisa kurus? Karena kita seirit itu. Kita seprihatin itu. Bukan karena kita diet. Tapi netizen nggak mau tau karena mereka memang nggak peduli.

Dan ada banyak orang-orang yang jauh lebih nelangsa dari gue. Di antara followers gue, ada banyak yang lebih tidak beruntung daripada gue. Yang nggak tau hidup gue yang sebenarnya seperti apa. Yang hanya melihat hidup gue berdasarkan foto-foto Instagram yang sudah gue curate sedemikian rupa supaya terlihat ciamik. Apakah rela gue bikin mereka berpikir hidup mereka itu tidak sebanding sama hidup gue? Apakah gue tega ngomong "Suka-suka gue, lah. Itu kan duit gue."? Apakah gue tega untuk hidup seegois itu?

Memang mungkin salah mereka karena langsung membuat kesimpulan akan hidup seseorang hanya berdasarkan sosial media. Tapi ketidaktahuan mereka juga disebabkan gue yang nggak pernah cerita behind the scene nya. Yang mereka lihat di internet tentang gue hanyalah hasil kerja keras, hasil beratus malam yang gue lalui tanpa tidur, dan beribu doa yang gue panjatkan di setiap sholat.
Kontradiktif sekali dengan kerjaan gue di Instagram sebagai social media influencer. Seorang gue yang sama sekali kontra terhadap hidup hura-hura, tapi malah promote berbagai macam barang setiap harinya. Iya, social media influencer itu sebenarnya tidak meng-influence apa-apa selain consumerism.

Di situ lah pergolakaan yang gue rasakan. Di satu sisi gue pingin bantuin online shop dan mereka juga membantu gue bayar segala macam tagihan karena gue memang sudah tidak dibiayai orang tua. Di satu sisi itu pekerjaan gue, di sisi lain itu sangat bertentangan dengan value yang gue pegang. Mau seidealis apapun juga, realistis itu juga perlu. Mungkin di situ lah challenge-nya.

Salah juga mungkin kalau gue berharap followers gue udah wise and mature enough to get my point, karena gue tidak bisa memaksa orang untuk mengerti intention yang gue muliki. For this one, I still don't have the solution.

***

Hhhhh... Hidup itu membingungkan, ya? 

Sejujurnya gue nggak tau point dari curhatan gue ini. Mungkin gue cuma ingin mencurahkan apa yang sudah terpendam berbulan-bulan ini karena gue capek dikira orang berada, capek dijudge gue kaya karena ada yang lihat gue punya product skincare Korea bejibun (padahal itu semua gratisan. Dapet dari Style Korean karena gue kerjasama bareng mereka hikss). 

Yaa, alhamdulillah, sih, mungkin gue sekalian didoain biar kaya beneran. Siapa tau bisa bantuin orang tua gue. Tapi, please jangan kira duit gue ngucurnya kayak air. Kita nggak tau hidup orang itu seperti apa :)


Share:

398 comments

  1. Replies
    1. I completely agree kak git dengan statement kaka kalau secara gak langsung orang-orang ngeliat orang berada jadi minder. Sebenernya minder disini aku paham, bukan berarti dia jadi ngejauh dari sosial, tp lebih ngerasa kalo apa yg dia punya itu gak proper enough buat di tampilin ke sosial. Alhasil dia kerja sekuat tenaga bukan tujuannya adalah berkerja sebagai ibadah dan senang hati juga membantu mensukseskan company tempat dia berkerja, tapi berubah niat jadi ingin segera sukses supa bisa beli ini dan itu untuk memenuhi life style, untuk memenuhi segala hal yg sedang happening dan yg dimiliki orang lain. Alih alih memberikan statement untuk menjadikan semua barang itu sebagai reward untuk hal yg kita kerjakan, hal tersebut lebih condong ke arah ingin membuat eksistensi kita dan semua hal yg menempel di badan kita diakui.Di zaman yg sekarang, sangat terasa ketika kita menggunakan suatu barang yg tidak branded ada pandangan yang beda dari orang. Seakan, keadaan dan kondisi keuangan seseorang diukur dari aeberapa mahal barang yang dia punya. Siapa yang buat mindset kaya gini? Kenapa dulu barang yg dibeli hanya dipasar tidak dibanding bandingkan dengan barang yg ada di mall? Banyak hal yg udah keliru, banyak orang yg jadi salah melihat dunia dan pandangan hidup yang menjadi gak rasional dengan seabreg wishlist yg sebenernya itu bukan bener bener bener keinginan hati dia, tapi ada intervensi dari apa yg dia lihat sekarang sekarang ini. Semangat kak gita untuk ngingetin kita bahwa walaupun kantong selangit tapi kaki kita harus tetap berpijak ke bumi.

      Delete
  2. Git, tulisannya bagusss bangettt!

    Gue sangat bisa paham dengan curhatan lo ini. Lahir dan besar di Jogja yang rata-rata orangnya seneng hidup sederhana, dan bahagia, walau dia kaya atau berpengaruh di masyarakat. Prinsipnya "Ojo Dumeh" (jangan mentang2), "Ojo Gumunan" (jangan mudah kagum dan gampang terbawa arus). Kalau nggak ikut minggle sama temen sepermainan nanti nggak sosial, kalau ikut bertentangan sama value, haha πŸ˜€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya di daerah emang lebih adem ya :(. Nggak sekeras kehidupan di ibu kota 😭

      Delete
  3. Git ini banget, tulisan curhat yang kayak begini aja bisa menginspirasi gue entah kenapa, utk keluarga gue which is ada yang tidak menghargai uang, setiap ada lebihan selalu dipakai untuk kedok membahagiakan diri ya they says kalau kita royal bikin orang bahagia rezeki itu bakalan ngalir terus, thats right tapi royal itu bukan berarti harus terus ngeluarin uang utk hal hal yang ga manfaat meskipun rezeki nomplok, nanti pertanggungjawaban di akhiratnya gimana. Makasih bnyk loh Git

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal kebahagiaan itu berasal dari hati, ya. Kalau tau caranya ikhlas dan bersyukur, di dompet cuma 15 ribu aja udah bahagia πŸ™ƒ

      Delete
  4. korban opinion leader netijen ya Git

    ReplyDelete
    Replies
    1. pengalaman menarik sebelum jadi mahasiswa lagi di Jerman

      Delete
  5. Setelah baca ini, sumpah ka git aku merasa selama ini terlalu congkak dengan jarang mensyukuri nikmat. Makasih kak Git. Keep inspiring yaaa ! ��

    ReplyDelete
  6. Kamu panutan sekali mbak git, semoga kami bisa meneladani kepositifanmu ya mbak, semoga Allah memberkahimu selalu, aamiin

    ReplyDelete
  7. I stand by you Git.
    Makasi uda selalu menginspirasi anak muda Indonesia :)
    Dan soal yg heboh di Twitter kemaren, gw #TimGitasav dan sangat setuju sm poin twit lo itu.
    Semangat terus ya ;)

    ReplyDelete
  8. kalo gitu sama aja git analogi barang makeup yang kamu pakai, mereka yang pakai barang berjuta-juta juga kan kita gak tau mereka kerja keras juga buat barang itu. sedekah orang pun gak ada yang tau.
    everyone's muse is different and you can't paint everyone's standard with the same brush.

    i agree with your thought, but please don't set the same standard for everyone.
    apa yang kita pikir mewah mungkin itu sederhana bagi orang lain, dan begitu juga sebaliknya.

    i hope you got my point too.

    - none of your hatersπŸ™

    ReplyDelete
  9. Sejauh ini, selama gue hidup 23thn gue gak pernah ngefans/fanatik sama artis or anything. Tapi sama perempuan yg 1 ini, selalu ada aja pembelajarannya ada, ada aja reminder nya, ada aja reflect yourself nya. Semangat kak, tetap pada prinsip yg kakak pegang.��

    ReplyDelete
  10. Git, luuvvv banget tulisannya❤️
    Sama kyk yg gue rasain, sampe skrg udah punya penghasilan tetap pun masih suka eman2 kalo mau beli barang atau makan mahal
    Mungkin karena dulu jaman kuliah pernah ngekos, jauh dari orang tua, jd udah dibiasain hidup prihatin��

    ReplyDelete
  11. Tipikal orang jaman sekarang. Rasanya first judgement itu nggak bisa benar-benar dikeep dulu sampai tau kebenarannya kayak gimana. Pelajaran juga sih buat kita, buat nggak asal ngejeplak gimana hidup orang, karena kita belum tentu tau dan bisa rasain apa yang mereka udah lewatin. Semangat kak gits, aku sepakat nih sama post yang ini. Main main dong kak ke blog aku :3

    ReplyDelete
  12. Setuju sih, gue pernah memasuki fase dimana menjadi sangat-sangat konsumtif sama apa yg di promosikan oleh influencer yg mana sebenernya kita ga pernah tau juga gimana susah payahnya mereka dapetin itu. Mau ngeshare yg susah juga ga mungkin ngeshare yang enak-enak mikirnya pasti enak ya hidupnya enak terus. Btw semangat ya git, karena hidup itu emg memusingkan kadang

    ReplyDelete
  13. Masalah di twitter kemarin,mereka hanya penasaran dan butuh penjelasan aja kok git,pas lu ngetwit itu..jadi penasaran sih gw,makanya gw bilang salahnya di mana, tapi setelah lo bikin tulisan di blog lu ini,everything seems to be clear..thanks git

    ReplyDelete
  14. git aku setuju banget sama kamu. baru liat di twitter, emang banyak yg pada nyinyir yah... tapi kamu harus tetap semangat :)

    ReplyDelete
  15. hi i'm from malaysia. i love reading your writing. but there are certain words that i dont understand like SD, SMP, hedon. mind to share? thank you :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. I just wanna help you translate those words. SD means elementary school (Sekolah Dasar, that's how we call it in Indonesia), SMP means Junior High School (Sekolah Menengah Pertama, that's how we call it) and hedon means a super expensive lifestyle, like you buy the branded things. Hope you understand it.

      Delete
  16. Persis bgt kaya yang diajarin sama mama ku, Hidup harus prihatin, agar menghargai rezeki yang kita terima. Semangat kak git:)

    ReplyDelete
  17. Aaah keep inspiring, Git. Suka sama tulisannya karena aku dari keluarga sederhana dan untuk beli apa2/untuk pergi travelling, aku harus susah payah nabung dari uang gaji yang nggak banyak. Hehe sorry jadi curhat.

    ReplyDelete
  18. Nurwandasari Rizki RamdhaniJuly 26, 2017 at 1:16 PM

    Thx git, setiap curhatan dan opini lu selalu membuat gue terinspirasi akan suatu hal yang baik. Dan itu membuat gue mikir dua kali buat ngelakuin suatu hal.. Btw,semangat ya.. masih banyak kok orang yang selalu berpikiran positif sama lu ���� hehe

    ReplyDelete
  19. Kak Gita terbaek!
    Zaman sekarang emang banyak yang nge judge tanpa tau apa-apa kak. Tau nya seneng orang doang. Susahnya orang dia ya gamau tau. Jadi kangen hidup tanpa berkecimpung di sosial media kadang. Gaperlu mikirin orang bilang "pencitraan" atau apalah itu yang cuma sok tau doang :(
    Tapi ya mau gimana. Skrg semuanya tergantung prinsip dan attitude yang udah tertanam di diri masing masing aja ya kak.
    Makasih tulisannya kaak.
    Semangat terus untuk kita semua!

    ReplyDelete
  20. Keep inspiring kak gita! People judging you because they don't know the truth about you!!
    You're such a cool person that i ever know!

    ReplyDelete
  21. Sumpah, aku selalu baca dan nonton post kak Gita di blog maupun youtube, tapi baru ini aku mau komen. Bener banget Git, kalo kata orang jawa: hidup itu cuma sawang-sinawang (re: lihat-lihatan), makanya dr kecil aku juga berusaha buat ga pamer ketika lagi dikasih nikmat, dan juga ga bersikap susah ketika lagi dicoba. Dan jamannya sosmed gini, orang makin mudah ngejudge kita gini lah gitu lah... I feel you, jadi inget aku juga srg dibilang kaya krn punya banyak skincare (They had no idea I was working all night long buat ngajar sampe akhirnya bs beli skincare dan bikin kulit w mulus :') wkwkwk) #ikutancurhat. Tetep semangat posting hal2 positif kak Git, semoga senantiasa jadi ladang pahala. Aamiin

    ReplyDelete
  22. The truth has been spoken ya, Git. Haha. Aku pun mikirnya sama. Apalagi bagian akhir-akhir ituuu, hidup itu paradoks banget ternyata. Kalau kita punya value A dan ngga ada intention untuk mengabaikan value B tapi tetap aja berimbas gitu. Gimana sih bahasainnya haha. Pokoknya aku sering mikir dan ujung-ujunganya suka paradoks. Sama halnya ekologi vs ekonomi, membela ekologi akan berimbas ke ekonomi, and vice versa.

    ReplyDelete
  23. Terbukti banget sih ini, emang ada sisi baiknya kalo kita tuh merasakan namanya merantau jauh dari orang tua. Gimana caranya mengatur keuangan sebaik dan kalo bisa harus irit, engga bisa tuh makan selalu yg enak dan mahal. Mau makan harus mikir dan ngitung dulu. Belum lagi semisal kita telat dikasih uang bulanan. Harus dipikirin baik baik tapi ada juga sih yang dikasih uang bulanan lebih terus dipakenya buat seneng seneng. Engga mikir gimana nyari 100 rb nya, taunya tinggal pake dan hidup harus seneng seneng. Kadang juga ada mainset sebagian orang tua yang gamau anaknya itu kesusahan, kalo menurut saya sih itu kurang melatih anak buat survive dengan keadaan. Pokoknya kerasa deh, jangankan 150 rb buat ngeluarin 50 ribu aja berat banget. Alhamdulillah saya udah merantau 5 tahun yah cukup banyaklah pelajaran nya dan dari kak gita juga tau cara hidup jadi anak rantau yang baik dan bener. Makasih kak gita :))

    ReplyDelete
  24. Ini kalau kata yucuber jaman sekarang namanya balas pakai karya ye haha

    ReplyDelete
  25. Semangat kak git!!! I know how you feel, sebagai pernah menjadi anak rantau walaupun cuman di daerah juga tau gimana rasanya berjuang dengan uang pas"an tapi kebanyakan orang taunya kita hidup berlebihan, dan tau bgt rasanya sedih ngeliat orang yg makannya gak habis, padahal gue buat makan aja dulu pas kuliah susah bgt. Bener banget tuh, hidup didaerah lebih adem ayem dibanding jakarta, mereka kebanyakan gak orientasi materi, mereka cukup bahagia dengan apa yang mereka punya.

    ReplyDelete
  26. sempet penasaran apa tanggapan lo soal kehebohan di twitter soal 150k itu dan mengira-ngira maknanya sendiri dan sampe bikin postingan sendiri di blog soal ini. dan perkiraan gue nggak salah. tetep sederhana ya git~ ��

    ReplyDelete
  27. Semangat Giit! Cobaan itu Git, lo skrg jd public figure ga bisa bikin seneng semua orang. Pasti ada haters-nya, jd sabar ajaah. Buat bahan muhasabah sendiri aja. Tp gw sependapat sama lo Git, Nabi Muhammad aja mengajarkan kita untuk hidup sederhana, jd emang pasti ada impact sosialnya ke orang lain.
    Semangat terus Git, selama niat lo untuk kebaikkan, gw dukung terus!

    ReplyDelete
  28. Gue kok sambil netes ya bacanya...... Inspiratif bgt ya Allah

    ReplyDelete
  29. Hai kak Git, sejujurnya aku baru tau kamu beberapa bulan terakhir karena gak sengaja nemu di youtube. And guess what? Start from then aku berfikir bahwa masih ada orang waras yang sejalan sama apa yang aku pikirkan. Kita sama sama punya keinginan untuk bermanfaat buat orang lain tapi lingkungan selalu menjadi tantangan buat kita. Satu aja sih yang pengen aku sampein, tetep semangat karna Indonesia butuh anak muda yang begini. Enggak egois sama logika dan kepintarannya sendiri yang mikirin hidup bukan cuman buat kenyang sendiri. Stay strong semoga Allah selalu melindungimu dan orang2 di sekitarmu ❤

    ReplyDelete
  30. Ka gita itu kalo nulis atau ngevlog biasa aja gitu gk dbuat" dan gk resmi. Ngalir aja gitu. Tp entah kenapa aku jd lebih banyak belajar sih dr semua tulisan dan video"nya ka gita. Terus semangat ka. Be yourself

    ReplyDelete
  31. Keren.. Salut saya setiap baca blog gita.. Tetep selalu dijalurmu.. Ganbatte..

    ReplyDelete
  32. Git, karna di paragraf kedua tulisan lo pengen ngukik mengenai ilmu neuroscience nih gue sering juga nyari ilmu tentang itu semoga link kajian islami ini bisa bermanfaat. Gue sih sukak sama kajian dari dokter aisyah ini (https://youtu.be/cJgoGmRL5vs)

    ReplyDelete
  33. Harusnya yg ngebully kak gita, yg ngejudge kak gita baca tulisan ini.
    Yang penting selalu bersyukur dengan apa pun yg di punya

    ReplyDelete
  34. Kak gita ini bagus. Gue pikir orang-orang salah mengartikan, kaya kalau kita nyobain starbucks di indo, atau beli skincare bagus, nyobain makan mewah digeneralisir as luxury lifestyle. Menurut gue nyobain yang mahal-mahal gaada salahnya. Yang salah sebenernya ketika lo kasih standar buat hidup lo kalo lo gabisa pake yang murah-murah lagi, atau ketika lo beli yang mahal it's for the sake of pleasing people, lo jadi despise orang-orang yang gak mampu kaya, iya lo jadi branded-oriented. Padahal kayanya dulu-dulu kalo ada yang jajan mahal biasa aja, tapi emang adanya social media itu jadi bikin certain narrative di society. Bukan saat lo beli yang mahal yang salah. Tapi mentalnya sebenernya yang salah.

    ReplyDelete
  35. Sangat amat menginspirasi.
    Kak Gita itu satu2nya orang yang ngingetin Aku kalau jadi mahasiswa itu memang harus koret. Aku sadar ternyata selama 2tahun Aku kuliah aku blm pernah mikirin diri Aku sendiri. Aku masih kebawa2 temen2 yang makannya harus di tempat bagus or something like that padahal tujuan makan kan untuk kenyang ya. Ah sudahlah. Pokoknya makasih kak git. Makasih banyak sudah dibantu menyadarkan bahwa hidup itu memang harus sederhana.

    ReplyDelete
  36. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  37. keren banget kak tulisannya, setuju banget masalah keprihatinan uang itu.
    btw kayanya yang membikin orang sifatnya sederhana itu dari gaya hidup keluarganya deh kak, soalnya aku sd di swasta tapi aku juga masih ada rasa prihatin gitu sama uang, walaupun temen2 ku itu sebagian besar mempunyai barang2 yang tidak dibilang murah. sekolah di sd negri juga pasti akan beda sih sama sekolah di sd swasta, tapi kayanya cara mendidik orangtuanya lebih penting kak.
    Jadi gausah bingung kak mau nyekolahin anaknya dimana soalnya tergantung orang mendidik anaknya kak :)

    ReplyDelete
  38. Ka Gitt😘😘 yg sederhana lebih nikmat❤

    ReplyDelete
  39. Semoga tulisanmu bisa Jd pembelajaran utk kita semua ,Semangat ya dik gita, saya doakan semoga Gita bisa kuat & makin salehah ditengah2 pusaran permainan dunia, Allah bersamamu, Barokallah.

    ReplyDelete
  40. kak gita suka banget tulisannya. semoga ka gita tetep istiqomah sm prinsipnya. memotivasi n menggugah bgt. anti mainstream n low profile. sukses trus kak.. violen danke :)

    ReplyDelete
  41. Aku suka banget Git tulisannya. Menemani Aku banget ya makin ke sini. Gatau itu yutub atau tulisan...duaduanya made my day bgt πŸ’œ Semoga sehat selalu. Dan ttp jadi Gita yg kayak gini.😊
    Salam, dari Fans yg merinding liat Kmu makin famous tapi ga bisa ketemu ketemu. hehe

    ReplyDelete
  42. Pas banget curhatan kak gita kali ini sama yang lagi aku alamin sekarang 😒 beberapa bulan ini aku gampang banget ngalamin yang namanya mental-breakdown karna social media, terlebih instagram yang sering banget nunjukin bahwa hidup orang lain itu lebih nikmat dari pada hidup kita sekarang ini 😣 secara ga langsung dengan nge-baca curhatan kak gita kali ini, bener2 ngebuka jalan pikiran aku buat coba lebih bersyukur setiap saatnya sama apa yang aku punya sekarang ���� Makasih kak gita buat curhatan yang berakhir jadi wejangan buat hidupkuu!!❤ God bless you always kak gitπŸ™

    xx

    ReplyDelete
  43. Kak git.. makasih tulisannya. Berasa diingetin, bahwa selama 2 tahun belakangan ini, standar hidup saya menjadi naik karena saya ga bisa ngontrol lingkungan saya.. terlalu banyak nge-hedon. Semoga saya bisa belajar kembali apa itu "prihatin" dan kembali ke kehidupan saya sebelumnya. Keep inpiring ka git. Semangat ��

    ReplyDelete
  44. Self remminder :') thank's Ka gita
    klo mau makan d luar mikir-mikir lagi. inget keluarga d rumah makan apa?

    ReplyDelete
  45. Bener2 jawaban yg cerdas, inspiring bgt ka

    ReplyDelete
  46. i always adore the way you spill your thoughts, kak git. reading this has somehow brought me to a realization that i've been taking things for granted while enduring jealousy, looking at other people's lives (orang2 di socmed gitu, kayaknya hidupnya enak2 bgt, padahal socmed doesn't exactly reflect our actual lives). that there are so much more to be grateful for. we do make our own standard of happiness despite all the glamour in the world, sedikit apapun yang kita punya huhu *bersyukur* *bersyukur*

    ReplyDelete
  47. Kakak menginspirasi aku banget kalau buat sekolah ke luar negeri tu gk mesti dari keluarga yang berada...karena itu yang sedang aku pikirn banget sih..aku pengen banget sekolah ke luar negeri..tpi duitnya belum ada...jadi beberapa waktu aku sempat nyerah buat ngerealisasiin mimpi aku itu..tpi karena tulisan kakak ini..aku jadi kembali bangkit dan berusaha buat ngerealisasiin mimpi aku itu...thank you bnget kak...

    ReplyDelete
  48. Semangat kak gita! Allah tau niat baik kaka. Makasih karena kaka selalu menginspirasi. Dari kaka aku mulai belajar buat selalu melihat sisi baik dari seuatu hal😊😊

    ReplyDelete
  49. Sekarang aku tahu apa yang ngebuat aku suka sama kak Gita; Kesederhanaan.

    ReplyDelete
  50. klo kata ayah, "hidupmu tergantung standard hidup yg km tanam sejak dini, misal km biasa makan tempe dan itu udah enak bgt bagi km, lantas ketika km kaya tiba-tiba km merubah menu makanmu jadi ayam, yg mana bagi km tempe itu makanan ga enak karena terbiasa makan ayam, dan km mampu makan ayam knpa harus tempe? Maka dari itu mau ga punya ataupun punya duit jgn rubah standard hidup km, karena itu berpengaruh kedepan. Ga perlu lah gembor-gembor keorang kesusahan bahkan keenakan yg km rasakan sekarang, belajar hidup prihatin"

    Intinya saya setuju denganmu kak Git!! :33

    ReplyDelete
  51. konsekuensi ya namanya, gita. semakin tinggi pohon, semaking kenceng anginnya. udah ta, enak dapet transferan pahala dari orang-orang yang negatif ke kamu.

    gw udah ibu2 lho. tapi suka sama anak muda macem gini. keren!

    btw ta, sorry cant help, tapi ada yg salah ga sih di atas "... supaya kecintaan ke Tuhan ga melebihi kecintaan kepada dunia..."? ga tau cara dm gimana kalo di blog :)

    ReplyDelete
  52. Bener banget Git! gue sempet bingung lihat beberapa orang yang kontra dengan tweet lo tanpa tau lo sebenernya gimana, tanpa tau dibalik itu semua gimana. Gue yakin, setiap orang punya hal yang diperjuangkan yang gak perlu juga diumbar.
    Daaaaan, bener banget tentang tantangan ketika kita hidup diantara orang yang berada yang byar byur ngeluarin uang dan berusaha untuk gak ngikutin spt mereka.
    Btw, tulisan nya mantap Git! Semoga kita selalu jadi orang yang rendah hati dan bermanfaat untuk orang lain.

    ReplyDelete
  53. Terus jadi yang mengisnpirasi, ka GitπŸ’—

    ReplyDelete
  54. Pelajaran banget. Untuk ga selalu melihat ke atas,masih suka lupa bersyukur dg apa yg kita punya
    Makasih sudah diingatkan lewat tulisan ini ka git����

    ReplyDelete
  55. Gitaaa! Saya salah satu org yg baca mentionan kamu satu per satu di tweet itu. Gila pengen ngebales satu2 pas mreka ngebully (bs dibilang ngebully sih mreka nyablak aja gak henti2nya). Hmmm, d situ sy brdoa 'sabar yaa git, ini ujian dan pasti kamu laluin'.

    Pas baca tweet kamu ttg teman kamu yg nasehatin itu, sy juga ngerasa wah bener tuh kata temennya. Kalo kita merasa biasa2 aja ngeluarin duit segitu, apa kabar temen2 yg lain buat makan 10rb aja susah.
    Prnah sekali sy patungan sm teman buat makan d sushi dan 150rb per orang, d situ sy mikir mulu yaa Allah smoga temen2 yg lain jg ngerasain ap yg sy makan suatu hr nanti. Smpe negur temen2 patungan aduh jangan disisa dong makanannya. Buat komentar "suka2 saya dong, itu kan uang saya" semoga kita dijauhkan dr sifat2 sprti ini. Aamiin

    Tulisan yg bagus git. Semoga yg baca tulisan ini lebih kebuka hatinya. Gak menilai seseorang tanpa tau usaha yg dilakukan org tsb gmana susahnya gmana beratnya. Dan lebih banyak brpikir positif tanpa nyabar dan nyablak seenak jidatnya.

    Salam dr Makassar

    ReplyDelete
  56. Selama ini gue jadi reader misteriusnya kakak ni. Gue pengen komentar di youtube lo, gue pengen bilang im so proud of you dan gue pengen bilang,
    'akhirnya gue nemuin chanel yg bener-bener ngasih value yg positif ke gue, akhirnya gue nemuin orang yg sepemikiran sama gue.' Gue pertama liat video lo itu, waktu lo beropini tentang muslim ban sampe akhirnya gue liat semua video lo satu per satu, gue liat video lama lo bareng anak-anak coolyah juga. Gue follow semua medsos lo, gue baca blog lo dari paling awal sampe yg ini. Dan i feel it. Gue ngerasain apa yg lo rasain, tentang cara lo memandang hidup, tentang lo belajar dari hidup, tentang keinginan yg kadang ingin bisa ngebaca isi hati orang. Yg kadang ingin jadi life observer, kenapa dia gini? Kenapa dia gitu? Kenapa dia sehebat itu? Atau kenapa dia sejahat itu? Dan lain-lain. Gue menahan semua keinginan gue untuk mengumumkan kekaguman gue terhadap lo,
    kak. Kenapa gue tahan? Karena waktu gue nemu chanel lo, di Indo lagi rame banget sama orang-orang yg tiba-tiba famous karena sensasi dan kontroversi. Dan gue ngerasa udah capek ngeliat orang-orang indo yg nge-blow up sensational people famous. Dan ternyata, gue ga ngeliat itu dari lo. Lo bener-bener tulus pengen ngerubah mindset anak muda Indo. Tapi btw dulu gue pernah dm lo sih, cuma ga di bls aja. Mungkin ga di read juga πŸ˜‚ Semangat ya, kak.. Inget aja kata Taylor Swift, 'hatters gonna hate.' jadi percuma di ladenin. Karena mereka akan selalu mencari celah kesalahan kita. Contohnya lo berpendapat menurut perspektif lo, tapi hatters akan menganggap bahwa lo itu nyinyir dan lain sebagainya. Semangat kak, Git. Gue gatau ngomong apa. Yang jelas, gue udah gabisa menahan kekaguman gue lagi sama lo. πŸ˜‚ Semoga kita bisa ketemu, kalo gue ketemu lo.. Hal yg pertama yg mau gue minta bukan foto bareng lo, tapi gue pengen minta waktu lo 5 menit buat ngobrol. Semoga kita ketemu.. πŸ™‚

    ReplyDelete
  57. Tulisan begini yg kadang nampar biar sadar kalo kita lg sesat antara ksenangan dunia �� semoga Allah slalu ngejaga ka gita tetep istiqomah dg prinsip yg baik dan jgn pernah capek ngasih pengaruh baik ya kak gitaaa ��

    ReplyDelete
  58. Jujur loh, Git kemarin sangking kurang kerjaannya gue, gue ngeliatin reply2 orang2 dari tweet lo yg ngomongin hal ini. Jahat-jahat juga ya netijen. Katanya sih memegang teguh perbedaan tapi giliran ada pendapat yang berbeda dibully abis-abisan :") jadi bingung sama prinsipnya mereka lagi. Sabar aja ya, Git. Gue termasuk orang yang mendukung tweet2 lo kemarin karena jujur hidup di kota metropolitan bikin gue semakin stress. Semua orang makin kaya tapi lupa sama sodaranya sendiri. standar hidup makin tinggi tapi rasa prihatin semakin merendah. Terus bersuara ya, Git. May Allah SWT bless you. ��

    ReplyDelete
  59. Inspiring banget gitaaa. Good Job!
    Allah nyiptain kita dengan dua telinga dan satu mulut emang karena kita harus lebih banyak denger dibanding ngomong. Ga perlu kok kita jelasin ke orang behind the scene nya gimana. At the end cuma Allah yang tahu persis niat kita, segala macam prosesnya, bahkan jauh lebih tau dari kita sendiri. Dan itu pula yang akan jadi bekal di hari akhir nanti. Bukankah itu tujuan kita hidup sebenarnya? :)

    ReplyDelete
  60. Dari kecil gw hidup sangat sederhana. Waktu SD kelas 6 gw kepengen bgt masuk les b.inggris tp ortu gw gk mampu utk biayain selain utk sekola dan makan sehari². Karena terlalu pengennya gw les akhirnya gw memutuskan utk jd kuli setrika pakaian orang lain. Berat bgt rasanya tapi gw harus tetep bertahan sama hidup gue, akhirnya gw lulus SMP dan nyokap nyaranin gw masuk SMA biar bs jadi guru, but gw gk ikutin mau nyokap. Gw tetep pilih masuk SMK supaya setelah lulus gw bisa langsung kerja. alhamdulillah setelah UN gw lgsung kerja jd staff kantoran, 1 thn kemudian nyokap meninggal, dilanjut beberapa bulan bokap gw meninggal dan gw ngerasa kalo gw blm bs bahagiain mereka. akhirnya gw memaksa diri utk daftar kuliah jurusan keguruan demi jalanin amanah almh nyokap walau rasanya sangat berat jalaninnya dan alhamdulillah sampe skrg gw msh bertahan kerja sbagi staff kantoran dgn beberapa kali pindah perusahaan dan kuliah gw juga yg insya Allah hampir selesai. Gw berusaha sekuat mungkin, biaya, waktu dan tenaga demi masa depan gue. Tetangga² pd ngiranya gw banyak duit karena hampir tiap hari gw gk ada dirumah. Tp yaudahlah anggap aja itu doa dr mereka walau aslinya gaji gw kerja pun yg hnya UMR masih kurang utk biaya hidup sehari² dan buat bayar kuliah. Disini gw harus byk² bersyukur, masih untung gw pny penghasilan dan bs kuliah dibanding mereka² yg penggangguran dan putus sekolah.

    Kak git, segala cerita lu disini bener² bikin gw harus lbh byk bersyukur karena trkadang gw msh suka khilaf. Blm bs secara baik ngatur hidup gue

    Semoga lu sehat terus ya kak, bs banyak kasih hal positif ke followers lu.

    Semangat git!!

    ReplyDelete
  61. Baca ini aku jadi sadar kak betapa congkaknya aku yang kurang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Makasih yaa kak, kakak menginspirasi banget. Semangat terus yaa kak git��❤

    ReplyDelete
  62. Menginspirasi banget mbak gitaaaa��
    Alhamdulillahnya orang tua gue juga ngajarin hidup sederhana karena mereka memang dulunya sangat jauh dari kata mampu. Guenya kadang suka sebel mau ini itu ngga boleh dan kadang sering ngga sadar. Sempet mikir "cuma mau ini doang masa ngga boleh", "cuma sekali aja ngga boleh" tanpa mikir duit dari pada buat yang ngga terlalu penting mending disedekahin, ditabung buat hal yang lebih membutuhkan nantinya.
    Alhamdulillah tulisannya bikin hati gue nyesek dan ga sadar udah mewek ��
    Semoga gue bisa berubah jadi lebih sederhana dan banyak-banyak bersyukur
    Terus berkarya biar bisa terus menginspirasi. Semangat mba gitaa. Suksess ��

    ReplyDelete
  63. Baca curhatan kakak ini jadi bikin aku sadar kak, betapa congkaknya aku yang kurang bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Makasih yaa kak, kakak menginspirasi aku banget. Semangat terus kak gita😊❤

    ReplyDelete
  64. Git.. Itu salah tulis kali ya.. Maksudnya 'Kecintaan ke dunia ngga melebihi kecintaan kepada Tuhan' soalnya konteksnya gitu kan? Hehehe

    Btw Setuju git. Beli manfaat produk, bukan namanya.. Toh kalo kita mati itu barang barang mahal ga dibawa. :)

    ReplyDelete
  65. Ah kak gita makasih kak gue smpe nangis bacanya soalnya ceritany kak gita agak mirip dgn yg trjdi skrg sm aku kak,kamu adalah social media influencer the best menurut aku semua yg kaka tulis di atas menyebar meresap dihatiku *maafalay tapi serius kak u're so amazing:).kak gita doain ya kita bakal ketemu soalnya mau ketemu kak gita bangettt dan im so grateful allah telah membuat aku bisa kenal kak gita mskipun gak prnah ketemu:(

    ReplyDelete
  66. ka git, bener bener deh gue gak ngerti lagi sama pikiran lu, bener bener sama apa yang gue pikirin,gue kuliah dimaroko,semua orang bilang "lu enak ringgal choose mau kuliah di negri mana pun ortu lu punya banyak uang" kadang kesel juga sih dibilang kaya gitu.rasanya pengen banget bilang "gak segampang itu " atau "gak semuanya bisa pake uang,tapi juga perlu otak".mereka bilang begitu kaya seakan2 gue gaperlu ngegunain otak gue cuma karna mereka pikir orangtua punya banyak uang.hufft~
    hehe maaf curhat ya git :)

    ReplyDelete
  67. Enter your comment...sekolah SD deket pasar inpres dan ada angkot 09A? rumah kaka di Kp.Baru Kebon Jeruk kah?

    ReplyDelete
  68. Gitaaaa. MasyaAllah. Doa dan hormat buat orang tua Gita yg udah mendidik Gita sampe pemikirannya seoke ini. Semoga Allah lindungi Gita dan keluarga yaaa, dijauhkan dr fitnah-fitnah dunia. Semangat terus Git, karena di jaman sekarang semakin jarang orang berpikiran seperti itu.

    *btw, Gita adalah satu satunya selebgram yg saya follow.

    ReplyDelete
  69. Thanks git, reminder juga buat kita yg baca.

    ReplyDelete
  70. Ka gita, jangan sampai mereka membuatmu terluka berkelanjutan dan membuatmu terpuruk. Semangat kak

    ReplyDelete
  71. ka git, bener bener deh gue gak ngerti lagi sama pikiran lu, bener bener sama apa yang gue pikirin,gue kuliah dimaroko,semua orang bilang "lu enak ringgal choose mau kuliah di negri mana pun ortu lu punya banyak uang" kadang kesel juga sih dibilang kaya gitu.rasanya pengen banget bilang "gak segampang itu " atau "gak semuanya bisa pake uang,tapi juga perlu otak".mereka bilang begitu kaya seakan2 gue gaperlu ngegunain otak gue cuma karna mereka pikir orangtua punya banyak uang.hufft~
    hehe maaf curhat ya git :)

    ReplyDelete
  72. Nggak tau ini nyambung apa enggak, tapi pas baca Gita bilang ke mamanya kalo takut standar hidupnya naik, aku langsung kepikiran satu quote dari instagram tp lupa akunnya :

    "When Allah blessess you financially, don't raise your standard of living, raise your standard of giving."

    Jujur pas baca itu terketuk banget. Mulai dari situ, sejak aku kerja, aku selalu tanamin itu. Aku pun juga diajarin prihatin dan sederhana dari kecil, persis banget dengan cerita makan diluar, beli barang dan sebagainya. Jadi dengan udah kerja dan bisa cari duit sendiri, pelajaran yang dulu udah ditanamin keluarga, nggak bisa ditinggal gitu aja. Kembali lagi, gimana kita menggunakan rezeki di jalan Allah, menjadi prihatin ku rasa memang pilihan yang tepat untuk lebih banyak berbagi.

    :)

    ReplyDelete
  73. Emang untuk beberapa orang, jungkir balik cari duit itu jadi kunci untuk lebih bisa ngehargain apapun sih, barang maupun orang lain. Soalnya jaman sekarang rejeki yg sifatnya materi tuh 70% ujian (ngetes kita apakah kita inget sebagian di dalamnya ada rejeki org lain) 30% sisanya emang rejeki. At least itu yg gue liat dari lingkungan gue. Jadi influencer yg influenceenya mostly ABG emang punya tantangan tersendiri pasti krn sedikit banyak lo membentuk opini dan pola pikir mereka. Sebagian ada yg paham, tapi belum tentu yg lainnya. Semangat, Gita. Kalau niatnya baik pasti dimudahkan.

    ReplyDelete
  74. Skrgg habis baca blognya kak gita gue semakin sukaaaaa sm kak gita.first impression gue liat vlognya kak gita gue udah suka.tau gak kak gue baca tulisan kaka tuh smpe nangis soalnya gak beda jauh sama yg di alami kak gita bedanya kak gita udah sekolah di luar negeri aku belum:( mngkin nnti dah dihadiahkn sm allah yg lebih indah ya gak kak? And im so grateful bisa kenal kak guta mskipun gak pernah ketemu dan gue minta doa kak smoga gue bisa ketemu sama kak gita segera mngkin gue mau bgt ketemu kak gitaa.gimana mngkin kak gue kangen sm org yg saat ini gue blum pernah ketemu sm dia:( wkwk biardahh i miss u kak git my the best social media influencer:))

    ReplyDelete
  75. Aaaa kak git, suka banget sama curhatan kak git yang ini & menginspirasi banget, karena aku sendiri orang kalimantan yg apa2 juga biaya hidup di sini itu ga murah2 amat, suka berpikir juga kalo ada apa yg ga kebeli gitu merasa belum puas belum lagi liat temen2 udah pada punya suatu barang dan aku sendiri blm punya kayak ada rasa apa gitu hihi dan apalagi aku masih Sma jdi kayak labil banget nentuin apakah barang yg aku beli itu bener2 ada manfaatnya atau bagus di aku gitu. dan aku baru sadar selama ini prinsip hemat yg aku pegang itu masih goyah banget. Abis baca tulisan kak git jadi sadar kalo ga selamanya apa yang kita pikirin ttg org lain itu bener tanpa berpikir juga kalau kita ikut-ikut beli segala macam bakalan baik atau ga buat diri sendiri tanpa pikir panjang ternyata cuman menimbulkan sifaf komsumtif. Semangat terus nulisnya kak ��

    ReplyDelete
  76. Kak gita, aku ampe nangis bacanya. Udah ga bisa berkata2 lagi :'(
    semangat kak gitaa !

    ReplyDelete
  77. Penasaran sama apa yang terjadi di twitter, karena gw gak punya twitter account. Jujur gw pas masih tinggal di Indo termasuk orang yang suka menghambur2kan uang dan baru merasakan yang namanya hidup sederhana itu semenjak tinggal di Jerman. Bener kata loe bahwa orang Jerman itu hidup gak neko-neko, mereka hidup berdasarkan kebutuhan. Dan seringkali sekarang jadi suka kaget kalo ngeliat gaya hidup mayoritas orang jakarta yang hedon (padahal dulu gw mungkin kayak gitu, dan sekarang jadi malu kalo inget, astaghfirullah��). Alhamdulillah sudah disadarkan sama Allah semenjak tinggal di Jerman.

    Keep inspiring ya Git, tetep semangat! Gw tau gimana rasanya hidup di Jerman, semuanya serba prihatin. Apa apa serba dihitung, kadang mau makan diluar aja ngitung2 duit dulu, hahaha.. Paling seneng deh sama yang namanya belanja di Aldi atau Lidl, wakakakakk..

    ReplyDelete
  78. Kak gita suka bgt sama curhatannya! aku jg ngerasain hal yg hampir serupa sm kakak, bersyukur hidup di keluarga yg dari kecil udah ditanemin "hidup sederhana jgn hura2 walaupun lagi ada. pengeluaran jgn lebih dari pendapatan a.k.a besar pasak drpd tiang" & challenge nya adalah hidup, kuliah, di ibu kota banyak temen yg hedonisme dikit2 ngajak jalan "kesini yuk..lg bm ini deh..eh ini lg happening tau kuy" dari ujung kepala sampe kaki ber-merk, yaa gak muna kadang aku mau itu juga & punya itu. tapi same with u, aku jg bisa memiliki barang tsb karna hasil nabung bawa bekel tiap hari, jualan makeup, dll. tetap semangat kak! i know u can do it & keep being you❤

    ur my inspiration, hope we'll meet up someday��

    ReplyDelete
  79. Setelah baca ini, gue yg tadinya selalu iri sama hidup orang lain jadi lebih bisa mikir buat bersyukur dan ikhlas, terimakasih kak git :)

    ReplyDelete
  80. Aku belajar hidup minimalist dari gita, dan sekarang aku benar-benar respect bagaimana gita ngasih tau cara menghargai uang. Orang disekitar kita kadang ga peduli proses git, taunya dihasil doang. Makanya orang fokus ke hasil akhir bukan bagaimana cara dia mendapatkannya. Gue yakin lo bijak dalam nyelesaiin masalah. Chayoo

    ReplyDelete
  81. Assalamualaikum kagit, Alhamdulillah ya sudah ada curhatan (inspirasi) lagi�� semangat buat jadi lebih baik ya kagit,o iya kagit itu starbak mehel banget ya mending beli pop ice��

    ReplyDelete
  82. Sabar kak gitaa..
    Semakin tinggi pohon, angin yg menerpa semakin kencang.
    Semangat terus berkarya kak, yg kayak mereka ga usah diladenin.
    Doa ku menyertaimu kak.
    Fighting!!!!
    Sarangheo������

    ReplyDelete
  83. Hai Git,

    Aku jadi followers twittermu masih belum lama. Aku juga nggak kenal kamu banget sebetulnya. Tapi masalah kicauanmu yang kemarin sampai dibash banyak orang itu buat aku bersimpati sekaligus triggered akan kelakuan netizen zaman sekarang.

    Pertama baca cuitanmu, I didn't see anything wrong with that. Malah rasanya aku berterima kasih karena udah diingetin secara nggak langsung. Thank you!

    Namun setelah baca mensyen seorang selebtwit, aku merasa bahwa they were overreacting. Sedih rasanya ketika seseorang bermaksud mengingatkan malah dibilang double standard apalah apalah. Perhaps they just don't know who you are (I remember you were mentioning INTJ and judgement is one of the traits). Jadi aku mewajarkan kicauanmu yang bernada sedikit pedas itu.

    Aku seneng akhirnya kamu speak up soal ini. Sebelumnya aku nggak tahu kalau ternyata kamu tuh dibesarkan dengan sederhana. I thought you're not. Dengan tahu ceritamu sebenarnya ini, jujur aku merasa banyak terpukul sih. Karena untuk jadi orang yang bisa value things, sekecil apapun seperti kamu itu susah dan aku belum sampai taraf itu.

    Anyway thanks for inspiring and I don't regret my decision to take you as my role model. Seperti yang kamu bilang juga, netizen nggak akan mau paham atau mengerti kamu even kamu udah jelasin sepanjang ini. Yang penting tetap berkarya Git. Keep inspiring.

    Anyway, may I discussed about netizen's behaviour with you someday? (it's related to my job tho)

    ReplyDelete
  84. Semangat terus ka, you're still my inspiration :)

    ReplyDelete
  85. Nggak tau lagi ekspresi wajahku sendiri waktu baca tulisan ini kak git :"))
    Btw semangat terus ya kak git buat ngehadepin ini semua:) Kalo bisa peluk kak gita sekarang mah udah kupeluk dari tadi, tapi apa daya cuma bisa doain dari jauh aja semoga Allah selalu melapangkan dada buat kita semua di kerasnya dunia ini:")
    Semoga kak gita menjadi kak gita seperti apa adanya sekarang, prihatinnya bisa dijaga itu keren banget kak!
    Makasih banyak udah berbagi cerita, berbagi kebaikan, dan berbagi dalam mengingatkan!:)

    ReplyDelete
  86. Tulisan ini relate banget dng pengalaman gue. Awal tahun lalu gw liburan ke Inggris sekitar 2 bulan. Di sana gw ikut kursus2 super murah untuk cari pengalaman juga. Ketika mau berangkat gue juga was2. Was2 aja pas gw upload foto ada yang ngomen bilang enak yaa, seru ya, hadiah wisuda yaa bisa jalan2 keluar negri, gue iri dll. Pada akhirnya gw gatel pengen upload foto pemandangan indah yg gw lihat. Benar aja git, orang2 pada chat gw nge ciee in. Padahal mereka gatau kalau gw harus nabung 4 tahun dimana gw masih mahasiswa & merantau, harus serabutan jualan jilbab, jadi editor, merelakan setiap liburan semester gw pulang ke rumah, ga kemana-mana karena gw punya mimpi mengunjungi abang, kakak ipar& keponakan pertama gw yg jg sedang berjuang di inggris. Pada akhirnya gw upload foto dengan caption panjang cuma ngejelasin gimana gw akhirnya bs berhasil menabung. Sedih ya medsos. Lo harus super repot mikirin apa kata orang. Tp gpp. Krn ada hal ini kita jd banyak belajar. Ya ga? Tulisan yg bagus. Selalu menginspirasi ya git!

    ReplyDelete
  87. Masyaallah.. Beneran ya kak git, asli ini mah ga pernah nyangka bakal se admire ini ke kakak. Ur thoughts are so inspired me a lot. Dari kecil wktu pph blm kena PHK, makan mewah tuh mentok2 ke KFC itu pun minta pgn makan ke KFC itu malu bgt, krn ya emg ga pernah ditawarin makan gituan. Dari kecil dibiasain sangat sederhana dan memang lingkungan sekitar pun mendukung itu.
    Tapi semenjak udh tau sosmed, liat barang2 branded rasanya ga mau kalah, pgn paling brandy, tapi tetep aja malu sma mmah pph yg memang skrg pph udah ga berpenghasilan sprti waktu aku kecil dan memang waktu berpenghasilan tetap pun ga dibiasain brandy. Tapi yg namanya godaan syaiton, liat jam daniel wellington, skincare korea yg bikin wajah glowing, makeup makeup high end, rasanya pengeeeeen aja beli. Cek olshop ini olshop itu, pgn cepet2 beli. Tapi tetep aja perasaan malu sma mmh pph itu ada terus. Dan untungnya skrg kakak menginspirasi semua org termasuk aku, buat ttp jaga kesederhanaan, jikalau sudah 'punya' ttp harus sederhana. Thank you!

    Keep inspiring me kak git ��
    Ada salam dari Tasikmalaya kak ����

    ReplyDelete
  88. Semangat kak gitt! Gue paham apa yg lo rasainn:( sometime pas gue liat2 ig lo sering kepikiran "bukan gita bgt" tapi gue yakin kook lu tetep bisa pertahanin prinsip idup lo. Gue belajar banyak dr lo kak. Tetap jadi kak gita yg menginspirasi❤️

    ReplyDelete
  89. aku sangat bersyukur ka, bisa tau kagit di youtube, di instagram, dan blog, banyak hal positif yg kagit bagiin, jadi bisa buat berkaca diri juga. sehat selalu ya kaaa,,, saya percaya ko orang baik itu masih banyak, jadi tetap rendah hati ka git, allah selalu bersama orang yg bersabar.

    ReplyDelete
  90. I really can relate to you.. Kebetulan kita lahir ditaun yang sama plus krg lebih arah pikirannya sama (gw intj juga btw,hello my 0,1percent sister!).
    Semangat terus lah Git, udah biasa jadi 'lone wolf' yang penting teguh sama prinsip dan tujuan hidup mau ngapain. Insya Allah ada byk org kok yang terus dukung lo. Keep positive keep down to earth keep surviving :)

    ReplyDelete
  91. Usiaku dah 32th gita dr keluarga yg berprinsip makan kenyang biar gak jajan. Dan sama soal starbucks...belum pernah cobain. Dan sama pula liat saudara jauh bisa hampir tiap minggu beli minuman itu dan di post di sosmed. Pdhl masih sekolah. Bingung...gak ngerti...jaman sekarang

    ReplyDelete
  92. Masyaallah.. Emg bener yah ga salah aku admire kakak. Ur thoughts are so inspired me a lot. Thank you!
    Aku pun sama kak, hidup jauh dari kata mewah tapi alhamdulillah masih bisa makan dan sekolah. Dan memang ortu aku pun dulu hidup nya seperti itu jadi skrg aku udh terbiasa diajarin buat ttp sederhana.
    Tapi krn adanya sosmed, aku udh mulai rada2 pgn beli ini itu yg brandy. Tapi aku malu sma mmh pph yg ga berubah standar hidup nya. But alhamdulillah krn suka ada aja yg nahan aku ga merubah diri aku jd lebih boros, apalagi aku yg masih sekolah, pgn aja kaya org lain nongkrong sana sini, tapi lama kelamaan aku perhatiin kakak di twitter, ig, blog, yutub, pemikiran kakak tuh ngena bgt. Salah satu nya cuitan kakak di twitter itu emg bener2 right into the point.
    Selalu aja pemikiran2 kakak tuh kebayang gitu. Makasih ya kak udah bantu menginspirasi aku 😊 Dan mudah2an kakak diberi kekuatan dan kesehatan untuk tetap menginspirasi kita. Aamiin πŸ™
    Ada salam dari Tasikmalaya kak, klo ada waktu boleh lah mampir ke sini 😊😊

    ReplyDelete
  93. jujur aku bukan fans yg bener2 fanatik bgt. kadang aku bingung arti dari fans itu apa. yg jelas, aku melihat kak gita sebagai kak gita yg apa adanya, yang apabila liat postingan di IG, video YOUTUBE, dan tulisan di Blog aku jadi seneng dan ngerasa bangga sendiri.

    tadi pagi aku kaget liat postingan temen di status bbm soal kak gita. katanya kak gita skr udah jadi social influence jadi gausah nyinyir. spontan kagetlah, secara meski kita ga pernah sama sekalipun ketemu dan kenal, aku yakin seorang kak gita ga pernah yg namanya nyinyir (secara ngurus diri sendiri aja susah ya kak? makan aja mesti ngirit2 boro2 deh nyinyir haha :D ye kan). dari situ sebenernya aku pengen bgt langsung bls statusnya dia, tapi secara aku juga gatau masalahnya apa (karena aku gapunya akun twitter, dan dia punya). jujur seharian ini aku kepikiran dan cari2 masalah apa yg bikin salah paham ini? ternyata ketemu setelah aku baca blog kak gita ini. aku tau kalo ada masalah kak gita ga bakal lari kemana mana selain nulis di blog :).

    mungkin temenku kurang tau kak gita, dan aku juga ga bisa liat situasi di twitter kaya apa. yg jelas, aku lega karena seenggaknya aku tau apa masalahnya. temenku punya pandangan lain soal kak gita ga masalah. semua orang punya pandangan sendiri2 soal idola mereka.

    tetep semangat, dan stay positif aja. tau kan kak, semakin tinggi pohon semakin besar angin yang menerpanya. ini anggep aja salah satu ujian dari Allah buat bikin kak gita semakin kuat, dan dinaikkan derajatnya. yg jelas tetep dekat sama Allah, jangan lalaikan ibadah, dan yg paling penting jika ada masalah nasihat ibu itu yg penting kak. InsyaAllah kalo kita dengerin nasihat orang tua kita ga bakalan kehilangan jati diri kita kak. sabar ya kak gita.πŸ˜‡❤

    ReplyDelete
  94. Aku suka dengan cara fikir kak gita, sayang banget ga semua orang bisa berfikir seperti itu, biasanya hal hal yang negatif itu karna didikan dari awal yg emg tdk mendukung dia utk seperti itu atau pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Mending kaya zaman dulu ya kak, zaman yg belum mengenal sosial media. Sekarang mah lewat sosial media semua gaya hidup ada kak, dan org yg kebanyakn mantengin sosmed tanpa dia sadari ada efek buruknya yg dia sendiri ga sadar ngerasainya. Seolah2 dia pingin bisa kaya dia, alhamdulillah sih kalau pingin bisa kaya dia jadi termotivasi gtu tapi ada juga yg pgn kaya dia malah maksa pgn gtu sampe belanja sana sini, ga mikir org tua kerja keras untuk kehidupan anaknya gmna. Ya syukur2 klau org tuanya berada, klau engga? Ga tau diri aja itu. Aku pun kalau ada jurusan s2 neuroscience gtu minat juga kak wkw. Intinya sih sabar aja kak, ini cobaan, ambil hikmahnya masih banyak ko yg peduli sama kaka ambil positifnya aja kak tetep jadi diri kaka yang sbenarnya dan seutuhnya wkw semangat terus ya kak, keep inspiring :) aku harap aku bisa ketemu kak gita dan bisa sharing sharing gtu semangat kak ;D

    ReplyDelete
  95. Proses lebih penting daripada hasil, itu merupakan pemahaman bagi orang yang luar biasa kaya' kak gita, memotivasi banget dah.

    ReplyDelete
  96. Kak gita, aku setuju banget sama kakak. Orang tuaku juga selalu ngajarin prihatin.
    'kamu kalau mau sukses prihatin.'
    Aku juga ga pernah beli barang branded, kecuali nyokap nawarin dan itu pun aku masih nanya 'aku gapapa beli ini?'. Dan kalau buat makan pun aku belom pernah ke resto mahal yang sekali makan bisa jutaan rupiah kalo ga kumpul keluarga. Kayaknya sayang aja gitu. Dengan harga segitu aku kalau beli makan di kaki lima bisa banyak banget.
    Rasanya tuh kalau liat temenku yg bergaya borju sementara liat ekonomi keluarganya yg ga sepadan,aku miris banget. Mereka rela ngikutin tren yg ga akan da haabisnya demi terlihat trendy.

    ReplyDelete
  97. karena hidup dengan ke-koretan dan penuh keprihatinan buat kita bisa ngehargain susah nya nyari duit, dan bisa belajar kalau mau ngedapetin sesuatu yang di pengen itu ga instan, perlu ada pengorbanan, biar pas dapet yang dipengenin setidaknya ada sejarahnya, jadi bisa lebih menghargai.
    Iya ga kak?
    Hidup gue ga jauh beda malah sama kaya hidup lu kak.
    gue ga peduli sama orang yang nyebut gue koret. ha ha

    ReplyDelete
  98. Kaa Gita, curhatannya nyentuh bgtπŸ˜‚
    Emang yaa orang itu cuma bisa liat dari covernya, ga pernah tau behind the scene nya kaya gimanaa. Jadi inget sama kalimat "you know my name, not mt story"πŸ‘ŒπŸ»
    Semangat dan sukses terus yaa ka Git😘

    ReplyDelete
  99. yaampun kak, aku gak tau kalo kakak punya kisah hebat dibalik hidup kakak yang jauh lebih hebat sekarang.. awalnya aku kira juga enak banget jadi kakak bisa kuliah di luar, aku suka banget sih sama prinsip kakak. aku juga sayang banget rasanya kalo kita harus ngeluarin uang jutaan bahkan puluhan juta cuma buat beli barang branded yang sebenarnya dari segi kegunaan biasa aja, tapi beramal susah banget. semoga aku bisa hidup sederhana kayak kakak.. makasih banyak loh kak pencerahannya ������

    ReplyDelete
  100. Sabar ya kak, emang orang-orang di luar sana biasanya memandang seseorang dari "hasil" nya aja tanpa peduli "proses" untuk mencapai hasil itu kayak gimana.
    Mau jungkir balik kek mau gulung gulung kek, yang penting jadinya kayak yang mereka lihat πŸ˜₯ sedih banget ya kak, aku juga sering mengalami hal seperti itu... yaudah, yg berlalu biarlah berlalu kak, ambil pelajarannya aja dah, pokoknya tetep inspiring deh kak pokoknya, keep humble juga.. love you kak! ❤ Btw aku berada di jurusan kuliah yg sama lho sama kak Gita 😁 kasih tops dong kak, masih semester 1 nih

    ReplyDelete
  101. Gitaaaa! haters gonna be the hate!
    Semakin tinggi pohon maka akan semakin kenceng pula angin yang menerpa!
    Keep spirit and keep inspiring ya kamu! ♡

    ReplyDelete
  102. I'm your secret admirer...

    ReplyDelete
  103. Aaaahhh.. Gue udah gak bisa ngomong apa-apa,Git. Penasaran gue sama isi otak lu, kok bisa berpikiran seperti itu disaat gue sudah mulai "memaksa untuk menaikkan standar hidup" gue. Makasih, Git udah diingetin dari tulisan lu. Semangat terus, Git. Baru kali ini gue bener-bener ngefans sama social media influencer karena yang lu tampilin bukan hanya soal barang apa yg lu pake, tapi lebih ke otak. Glad to know you, Git.

    ReplyDelete
  104. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  105. Ngebaca tulisan ka gita ini aja udah inspiratif banget ka buat aku.sudah jarang anak muda yg berpikiran begini. Kadang malah sering memaksakan gengsi.im proud of you ka.. Teruslah menginspirasi

    ReplyDelete
  106. Sedih ya kak. Di indo mulai banyak bocah yg kecanduan barang branded. Ngafe. Jd gamers atau autis sama gadget dan semacamnya.
    Kadang sia-sia nasihatin mereka biar hidupnya berguna gak sia-sia gt aja but useless

    ReplyDelete
  107. Kak, gue juga pernah ngalamin apa yang lo alamin. Kalo emang dasarnya udah kontra sama nilai yang selama ini kita pegang jadinya emang dilema banget. Sabar aja kak, people have no idea about you've been through.

    ReplyDelete
  108. Oh jadi gitu ya ceritanya kak Git. Jujur ya aku sempat tertarik sm skincare Korea yg dipake kak Git. Dan aku search di Google n harganya hmmm. Hampir aja aku mau beli pke uang tabungan/simpenan. Tapi kok rasanya sayangg buat beli bgtuan doang yg hrgnya rata" 200an. Dipikir" lg mungkin nanti kali ya kalo aku udh kerja pnya penghasilan sndr. Dan ternyata crta aslinya kak Gita sendiri juga dpt dr websitenya itu karena ada kerjasamanya, yg selama ini aku gak tau aku kira kak Git beli pke uang jajan/nabung krna kak git brsl dr org mampu.
    Dan aku juga gtu kak Git. Ibuku stp hari masak, jd sayang aja kalo harus kenyang diluar trus masakan rumah jd terabaikan. Pdhl masakan rmh gak kalah enaknya aplg bisa nambah :D . Pokoknya tulisan ini sbg 'tamparan' khususnya buat aku :) thanks kak Git :)))

    ReplyDelete
  109. Semangatt kak gitaa suka bangett sama tulisannya kak gitaa yang ini :) aku bisa belajar banyak hal dari kak gitaa :) i know what do you feel kak :')

    Aku jg pernah ngalamin kak apalagi sampai dijauhin sama temen karena mereka menurut mereka aku lbh berada daripada mereka sampai mereka klo ketemu aku ga mau nyapa nunduk malu, minder sampai pura2 ga kenal menghindar itu bener2 buat aku sedih kak sampai bingung mau ngomong gmn sama mereka :( padahal ortu udh dari kecil ngajarin kalau tmenan itu ga milih2 (dari segi ekonomi) jgn mudah memandang rendah org lain krn hidup org tidak ada yang tau bisa aja dia skrg dibawah tapi di masa depannya dia jadi org yg berada. Dan sampai sekarang aku terapkan hal itu dalam kehidupan aku kak walaupun masih aja ada teman yang menilai aku seperti itu :(

    ReplyDelete
  110. Gitaaaa, haters gonna be the hate!
    Semakin tinggi pohon maka akan semakin kenceng pula angin yang menerpa πŸƒ
    Keep spirit and keep inspiring ya kamu! ❤️

    ReplyDelete
  111. Self reminder buat gue ini,untuk selalu hidup sederhana. Netizen masa kini emang gitu,heran gue Semangat git

    ReplyDelete
  112. Setelah bacanya, gw jadi mikir, klo gw boros banget make duit. Beli sesuka gw tanpa tau ada yg lebih membutuhkan diluar sana.. Ya ampun, terima kasih kak gita telah membuka pikiranku, klo beli sesuatu itu yg dibutuhkan ajah. Bukan karena kepuasan hati

    ReplyDelete
  113. Wuih, Alhamdulillah Gita. Sometime kita mungkin terlalu perduli terhadap orang lain, tapi ya mau gimana toh? kita memang harus perduli, demi kebaikan. Orang lain yang sudah baca ini pun bisa aja tetep ngeyel dengan godaan setan yang berbisik.

    Sip. Gue setuju untuk sederhana, gue sendiri pernah merasa dimana gue sudah merasa sederhana dengan rasa syukur, Eh malah dibilang pelit banget sama diri sendiri sama orang lain, bahasa jawa-nya "Gak eman karo awake dewe!"

    Hmmm,,, Keep Emority aja ya Gita ^^

    ReplyDelete
  114. Bener, kak. Aku selalu dikira orang berada hanya karena sekolah di luar negeri. Mereka ga tau aja gimana susahnya orang tuaku cari uang buat biaya kuliah per semester :"( gimana susahnya nahan godaan buat ga belanja yg aneh-aneh selain kebutuhan kuliah, transportasi dan makanan. Kalau boleh jujur, bahkan keluarga pun ada yang nyinyir soal kuliahku ini. Instead of being nyinyir, kenapa ga support aja selama itu positif? :(

    ReplyDelete
  115. Semangaaaatt kak Gita! Aku bisa ngerasain apa yg kk rasain. Orang2 hanya bisa ngejudge kita berdasarkan apa yang mereka liat di social media kita. Tapi mereka nggak tau behind the scene nya, ya kan? Misalkan liat foto2 di ig kita, upload makeup (the balm, too faced, makeover, dll). Mereka nggak tau perjuangan buat dapetin semua itu. Mesti nabung dulu berapa lama. Jadi di pikiran orang2, wah mevvah bgt ya kehidupannya. Ngomong2 masalah 150 ribu untuk makan sekali itu biasa aja, aku pernah gini kak. Karena hampir setiap hari aku makan diluar. Udah cari harga yang paling murah, sekali makan 30 ribu abis2 nya. Dalam sehari buat makan aja udah 90 ribu dong buat 3x makan klo harga 1 porsinya 30 rb. Belum lagi nanti beli cemilan, ngopi, hangout sama temen2, keperluan lain lagi kayak beli body care dll. Jadi biasanya sehari itu lebih dari 150 ribu. Gitu terus hampir setiap harinya. Klo nggak makan diluar ya GO-FOOD aja. Lama2 aku nyadar juga, nggak bisa kayak gini terus, there's something wrong with me! Bad habits bgt nggak sih 😭 Apalagi zaman sekarang apa2 di story in kan (I know jatuhnya riya). Nah temen2 ku sering sekali bilang ke aku, "indah enak bgt ya, makan diluar terus, indah setiap hari jalan terus, ngemall terus, shopping, dll". Dari situ aku mikir, emang bener sih apa yang mereka bilang. Trus awalnya aku kayak, "suka2 aku lah, toh juga aku nggak minta uang sama kalian?". Nah klo udah kayak gitu, aku selalu ingat kata2 mamaku, "beruntung kamu masih bisa makan diluar kak, kayak kfc dll. Orang lain belum tentu bisa ngerasainnya. Masih ada yang dibawah kita, jadi bersyukurlah. Klo bisa masak aja biar hemat". Nah, mikir lagi, kan klo di rumah juga makannya nggak yang mewah2 bgt, ya tau lah ya makanan kampung, ikan asin, sayur mayur, sambal dkk. Jadi aku kayak sombong nggak sih, di kota makan yg enak2, diluar terus. Sementara orang tua di rumah, makannya ya ala kadarnya. Trus kasian orang tua cari duit. Lah aku foya2? Jadi sekarang aku udah mulai ngurangin makan diluar (tapi masih belum berhasil karena aku malas bgt masak). Jadi udah terbiasa dg lifestyle kayak gitu. Trus aku kurang2in bikin story, walaupun lagi makan diluar, jalan atau dimana πŸ˜‚
    Semoga kita menjadi orang yang pandai bersyukur dan rezeki terus mengalir dilancarkan dan dimudahkan πŸ™

    ReplyDelete
  116. setuju bgt sm ka gita,,,justru alasan knapa aq ngfans bgt sm sosok artis/selebgram sampe ngfans bgt tuh krn kesederhanaan kk,,jujur aq ga prnh punya sosok artis/selebgram yg aq suka bgtt selain kk ni...aq liat selebgram lain berlomba2 makeup tebal2 dan mirip2,gaya baju yg sama mainstream gt lah pokonya,,tp kk msh ttp dg gaya yg sederhana dan seringkali pakai baju yg sama lagi...(padahal klopun beli baju baru psti sanggup dg jadwal terbang yg skrg ini hehe)sumpah suka bgt sm kk dg segala ksederhanaannya...semoga apa yg aq liat baik dr luar kk jg baik dr dlm.a,, ttp selalu menginsfirasi,rendah hati dan ttp hdp dlm kesederhanaan..aminn

    ReplyDelete
  117. Gua cuma mau bilang elu keren git. Tetap semangat tetap berkarya.

    ReplyDelete
  118. Gua cuma mau bilang lu keren git. Tetap semangat tetap berkarya

    ReplyDelete
  119. Semangat terus kak, Gitaaaa. Allah gaakan salah naruh rejeki di pundak umatnya:) stau humble kak, semoga selalu istiqomah

    ReplyDelete
  120. Kok gue bingung ya kak dengan dengan kalimat "supaya kecintaan ke Tuhan nggak melebihi kecintaan ke pada dunia". Apakah gue salah memahami kalimat tersebut? Hehe

    ReplyDelete
  121. Hhhhh ini juga yg sempet muncul pertanyaan di otak gue.

    Selama ini kok gue liat hp lo masih 5s aja yah. Padahal kalo diliat dr endorse-an atau youtube, lo bisa upgrade ke 6s,7+ or 8,9,10 maybe :))

    Trjawab sudah rasa penasaran gue, stay humble and sederhana kaya rumah makan (yg harganya tdk sederhana) ya git!

    Gue juga sama kok. Perhitungan bgt soal duit. Krn tau keadaan ekonomi dan gamau maksain. Sekarang walaupun udh punya oenghasilan sendiri jg tetep sensitive soal duit. Krn tau ga gampang cari duit. Ga mau sia" untuk hedon. Krn tau banyak yg menjadi prioritas. "Hanya beli yang dibutuhin bukan diiginin" dan "tong maksakeun ari teu boga duit ma" (jangan maksain kalo ga punya uang).
    Dan gue jg ga syedih dibilang anak ga gawl atau anak hits yang kekinian.

    Tenang git, koncomu yg sederhana ternyata masih banyak. Keep inspiring, git!

    Xoxo,
    Rifdah

    ReplyDelete
  122. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  123. Assalamu'alaikum #gitasav
    yang selalu menginspirasi :)

    Yang tahu tolong bantu jawab kedodolan saya ini.. Bingung, Asli

    Kalimatnya :"supaya kecintaan ke Tuhan nggak melebihi kecintaan ke pada dunia," #paragrafCurhatKeNyokap

    Menurut kalian ini kebalik gk sih guys.. Serius beneran nanya

    ReplyDelete
  124. Ka gitaaa. Tulisan ini nyadarin aku bgt sih. Dan ga gampang ngadepin nyinyiran ratusan org. aku ngadepin sebiji dua biji aja bikin gabisa tidur. Tp yg gasuka kayaknya emg bakal selalu ada. Semangat trs ya kak git. Keep going, dibanding ratusan org yg nyinyir msh ada ribuan org yg terinspirasi..

    ReplyDelete
  125. Kak gitaa.. you are so inspiring. Tetep semangat dan teguh pada prinsip ya kaaak, jgn pernah goyah dengan apa yg dimiliki saat ini karena yg sederhana itu indah :)

    ReplyDelete
  126. Sebelum baca artikel ini aku habis dari indomaret. Padahal gak ada yg mau di beli atau lagi di butuhun. Tapi sampainya indonaret malah beli ini itu dengan pikiran "alah nanti juga butuh" giliran sampe kost baru sadar kalo duit tunggal dikit di dompet. Sedangkan hidup di kost an masih 4 hari ke depan. Dan setelah baca ini jadi nyesel sendiri dan mikir lagi "kenapa tadi beli ini beli itu, kan uangnya bisa buat makan besok"
    Jadi, mau bilang terimakasih banyak buat kak gita. Dari tulisan kak git, jadi terbuka gitu pikiranku tentang gimana susahnya cari duit. Keep inspiring, so lucky to know person like you ✨✨ hidup hemat pangkal kaya ✊

    ReplyDelete
  127. Setuju banget kak gitaa, kadang orang tuh cuma liat sukanya aja tanpa tahu dukanya:") tetep semangaaat kak, dan tetap menginspirasi! ku selalu menunggu karya karya kak gita!😊

    ReplyDelete
  128. Hai gita! Gue salah satu pembaca tulisan lo sejak jaman dahulu sblm lo rajin2 bikin vlog dan masih hobi nyanyi di soundcloud.

    Anyways, gue smpt liat postingan orng di twitter soal twit lo yg cukup menarik banyak netizen. Sbnr nya agak sedikit bingung krn ketika gue membaca tulisan lo, gue tidak merasakan kesensian sama sekali. Krn gue tau kyknya cukup sulit menilai sesuatu hnya dengan 140 karakter dan orng cmn ngeliat dari sisi ngeluarin duitnya. Pdhl pesannya beyond that

    Gue percaya netizen yg ngomenin lo jg pernah yg namanya nyari duit dan pingin afford sesuatu dr duitnya entah itu dr makanan dari baju dari apapun itu. Gue rasa hal itu cmn objek saja. Dan mnrt gue kesederhanaan itu hrs ada disetiap orng. Bs jd kl kita jd terbiasa dengan gaya hidup yg ekstrem kita jd memaklumi semuanya. Krn namanya jg kebiasaan pasti kita jd gk sadar kl hal itu lama2 yg merusak kita.

    Mnrt gue tulisan lo di blog ini maupun di twitter jd bagian self reminder buat stiap orng bahwa hidup ini luar biasa enaknya dan nyamamnya dan rasanya terlalu kanak2 kalo kita cmn menilai kenyamanan itu cmn dari sisi materi. Dan gue bisa sangat merelate tulisan lo dgn kehidupan gue. Krn percayalah gue jg di didik sederhana sm nykp bkp gue. Mereka adalah orng yg ngajarin gue untuk tdk menghambur2kan duit plus mandiri untuk meraih sesuatu. Jadi gue bener2 merasa twit lo yg kmrn bukan bagian dr nyinyirin orng2 murni lo pengen nyebarin nilai2 itu ke masyarakat luas.

    Intisari tulisan lo ini sangat mirip dengan salah satu tulisannya adhitya mulya (penulisnya Jomblo dan sabtu bersama bapak) di blognya! Cb dibaca aja ya git

    http://suamigila.com/2015/10/syarat-hidup.html

    Btw gue mau pesen aja. Siapapun bs menilai lo a b c d e. Mungkin ngeselin atau hobi nyinyir. Tp ttp yg tau niat dan hati lo ya cmm Tuhan semata. Jd biarkanlah hal itu berlalu dan lo ttp percaya dengan apa yg lo niatin selagi itu baik, ya tidak ada salahnya :)

    ReplyDelete
  129. everybody in twitter yg nyinyirin kamu is too focusing to the "number" and explicit you said. they didn't get the point. intinya dari semuanya gita cuma ngigetin aja kok. dan menurut gue merubah "gaya hidup" itu (sangat) susah. untuk itu biasakan hidup sederhana, mau kamu sekaya apapun di dunia ini, tapi inget juga untuk hilangnya "kekayaan" kamu pun bisa dalam sekejap. kalo selalu menganggap "suka2 gue" "duit2 gue" nanti kalo kamu gapunya duit dengan lifestyle yang masih mevvah, yang bakalan kempot2an buat memenuhi hasrat mevvah siapa? kamu sendiri jg. menurutku itu sih yg mau disampaikan gita.

    ReplyDelete
  130. Setuju bangettttt. Aku juga sering mikir kalo mau beli sesuatu terlebih makanan, kadang sering pikir2 kalo mau keseringan makan yg mahal2 cuma demi bisa mengikuti yg lain. Bukannya pelit, tapi mgkin karena dr dulu ibuk sering blg "jangan gumunan". Dan kdg sering keinget kalo di rantau kan disuruh kuliah, duit msh dr orgtua masa makan enakenakan terus, pdhl di rumah orgtua makan sederhana. Malu sendiri jadinya
    Sampe kadang karena ga mau ngeiyain ajakan temen kalo keseringan makan yg mahal2 dianya bilang "emang kenapa sih, selama kita bisa apa salahnya. Biar kita tu juga memantaskan diri dong dgn taraf yg kyk gitu". Asli dah, ga paham maksudnya. Padahal itu juga duit masih samasama minta org tua :(

    ReplyDelete
  131. Sedih banget dulu gegayaan beli starbuck biar di bilang ga norak ga katrok, tapi faedah nya ga ada sama sekali, yg ada ngabisin uang jajan dan rasanya pun ga begitu spesial astagfirullah :(. Makasih ka git, aku jadi lebih mikir sekarang buat lebih ngehargain uang, btw tas kita samaan pake tas export, yg dulu beli itu aja udah mahal versi ku hhe

    ReplyDelete
  132. Gitaa, masyaa Allah :")
    Seperti junjungan kita Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassalam yg membuat Islam berkembang pesat saat itu bukan dengan kegantengan dan kekayaan Beliau beserta sahabat2nya.. namun dengan akhlak yg baik dan mulia.. keep istiqomah yah, tlg doakan kami juga saudara2mu dalam Islam ����

    ReplyDelete
  133. Gua juga bingunf dengan tingkah manusia yang mudah melihat seseorang hanya dari satu sudut pandang. Misalnya kita upload foto lagi ditempat makan mahal dengan caption "happy" kita dibilang hedon. Kalau kita upload foto sejadah, mukena, dan Al-Quraan dengan caption "Alhamdulillah" kita dibilang pamer dan mau dilihat soleh, kalau kita upload foto rumah sakit, dengan caption "kepala pusing" kita dibilang tukang ngeluh. Enggak ngerti kenapa manusia mudah banget nilai seseorang hanya karena media sosial dan captionnya. Padahal manusia dan moment selalu lebih berharga dari pada caption dan fotonya.

    ReplyDelete
  134. That's why kenapa gue ga follow IG lo git, soalnya honestly gue jadi cenderung compare hidup gue sama hidup lo gitu πŸ˜” mungkin kedengerannya kaya gue kurang bijak dlm bersocmed krn masih ada pikiran semacam itu, tapi ya manusiawi, IG itu sebenernya socmed paling ga sehat, krn ya emang ga cuma gue yg begitu. IG lo itu kaya beda gitu dari vlog dan blog. Kalo di blog atau vlog lo cenderung lebih jujur, lebih "real gita". Tadinya gue sempet mikir kaya orang-orang, ih si gita mah tajir, kayanya enak bgt hidupnya, soalnya gue liatnya luarnya aja, sebatas apa yg ada di page IG lo. Gue suka blog dan vlog beropini lo krn menurut gue lo tuh beda dari socmed influencer lainnya, yg ga hedon doang, tapi tiap kali liat IG lo, gue jd mikir, ini si gita realnya itu yg di blog sama vlog, atau yg di IG sih πŸ€” Tapi alhamdulillah git lo jelasin kalo sebenernya ada konflik batin di dalem diri lo antara mau nurutin idealisme lo atau mau realistis. Setidaknya gue jadi tau kalo lo ternyata aslinya ga hedon kaya socmed influencer lain :") tetep gitu ya git, soalnya itu bedanya lo dari socmed influencer lain :") πŸ’™ semoga suatu saat nanti nemuin solusi atas konflik batin lo itu, dan jadi bisa ngikutin idealisme lo seutuhnya. πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru sadar typo, udah "that's why" pake nulis "kenapa" lagi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ intinya tetep jadi the real Gita yang inspiring, yang udah nyadarin gue kalo hidup bukanlah sekadar haha hihi kongkow cantik update kekinian :") πŸ’™ pengen ketemu lo Git, beneran deh huhu.

      Delete
  135. Kak gitt bnr bgt! Gak ngerti lg deh sm pemikiran org2 zaman skrg:( berasa gua org dulu amat wkwkw tp emg si gua pun jg ngerasain perbedaan di jkt dan tmp kuliah gua di malang, entah tinggal di malang tu bnr2 ngerasain yg namanya lebih sederhana dan di bantu dgn lingkungan pertemanan gua yg org2 jatim jg, dan gua sneng pny byk tmn org2 sana yg pemikirannya sederhana gt dan dr sana gua pun belajar. Kalo balik ke jkt malah males bgt ngikutin fashion2 yg kekinian de haha gak fashion2 aja si tp intinya gua lebih tenang di malang la pokoknya. Beruntung bgt si bs ngerasain ngerantau yg gak deket dr ibu kota. Loh kok gua jd malah curhat ahha.
    Gua dukung lu bgt lah kak git! Haha dukung...udh kyk apaan aja ya...sukses trs kakgit! Doain gua jg biar cepet lulus ahha tetepnarsis*

    ReplyDelete
  136. Najihah Silmi LbsJuly 26, 2017 at 4:11 PM

    kak gitt, ini pertama kalinya aku komen di blog kamu. Makasi uda mengingatkan kita untuk hidup lebih sederhana. Setuju banget sama yg kak gita bilang. Ini juga nih yang selalu dicerewetin sama emakku kak kalau hidup itu jangan konsumtif yang apa-apa harus dibeli padahal engga penting2 amat. Akupun ngerasa makin bertambah umur makin malu (banget) untuk minta jajan ke orangtua walaupun memang masih dibiayain orangtua dan kalaupun dikasi uda netapin dalam hati gitu kalok mau pake uangnya harus "tahu diri" karena ingat kalok nyari uang itu enggak mudah. tapi memang kadang2 masih suka lose control tau2 didompet uda nipis aja uang dan jadi ngerasa bersalah. nah karena tulisan ini aku berasa dapet teguran. Makasi atas pengingatnya kak git��

    ReplyDelete
  137. Kakgit parah setuju bgt sii...bingung deh sm pemikiran org2 zaman skrg wkkw berasa gua org dulu kali. Ohya gua pun jg ngerasain bgt perbedaan di jkt sm tmp kuliah gua di malang, entah yg gua rasain selama 4tahun ini tu beda aja, gua ngerasa di malang tu jauh lebih sederhana, di tambah lg dgn gua pny tmn2 sekitaran jatim yg gua seneng bgt sm pemikiran mereka (ya tmn2 gua) entah mereka lbh sederhana aja. Pas balik ke jkt malah jd males bgt ngikutin fashion2 yg br eh gak fashion aja si apapun deh yg br kan biasa gercep bgt la beredarnya. Pokoknya gua pun ngerasa beruntung la bs tinggal lumayan jauh dr ibu kota dan jd belajar memahami org2 sini dan apalg jurusan gua selalu penelitian2 ke desa2 tiap smt ah itu sih yg makin tambah tjinta dgn kesederhanaa org2 sana. Kok gua jd curhat disini ahaaha
    Pokoknya sukses trs kakgit buat kedepannya! Allah with us! Doakan gua biar cepet lulus *teteupnarsis

    ReplyDelete
  138. Kak gitt so inspiringgg bgtt! Smg aku bisaa yaa kuliah di jermann dan bisa sepinter ini bikin blognyaa smpe bikinn org terinspirasiii
    Suksess kak gitt!

    ReplyDelete
  139. Halo kak gita, setelah aku baca sampe habis tulisan kak gita tentang kesederhanaan ini. Aku mulai sadar kalau kita punya pola pikir yang sama kak. Aku juga berasal dari keluarga yang dididik untuk hidup prihatin, dan aku bener - bener bahkan yang jarang banget ngerasain kemewahan. Tapi, hal tersebut bisa dikerjakan ketika aku bukan berada dikota kak, sekarang aku kuliah kedokteran dan berada dikota sehingga, begitu berat dan banyaknya godaan untuk tetap menjalani kesederhaan. Awal kuliah aku masih amat sangat prihatin, tapi makin kesini aku mulai gabisa mengatur mana kebutuhan dan keinginan. Apalagi lingkungan aku notabene orang - orang dengan setir putar kalo ke kampus. Meskipun ga parah - parah banget, tapi menurut aku kalo selalu dibiarkan makin lama bakalan jadi penyakit kronis. Gimana ya kak agar tetap istiqomah menjalani hidup dalam kesederhanaan ?

    Btw, tulisan kakak ini adalah hal sepele yang ada dalam keseharian, tapi moral didalamnya sebegitu berdampaknya pada kesehatan jiwa. Terima kasih, sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
  140. Thanks, git, ka gita. Aku bener-bener ngeliat sisi lain dri koin itu skrg. Stay positive ya.

    ReplyDelete
  141. Sangat amat memahami denga tulisan ini dan sangan salut dengan prinsip dan nilai" yg di pengan teguh,, udah jarang banget orang" pda da tulus kaya gini,,, kenbanyakan yg ikut arus dan kalo punya prinsip dan nilai"" kadang suka galau dan ujung"nya ikut arus

    ReplyDelete
  142. I got your point git, selama ini ak termasuk silent reader dan silent viewer video youtube atau instagram gita. cuma yang kali ini gatel pengen ngasih komentar. iya bangeet, itu yang aku rasain yaa git. udah 4 tahun ngerantau di jakarta, aku juga ngerasa standar hidup naik karena sekarang sudah ada gaji, beda banget jaman dulu masih tingg di jogja yang apa2 harus ngirit karena masih bergantung sama orang tua. Tapi bisa beli barang2 yang kayaknya dulu ga mungkin kebeli, bisa makan enak yang kayanya dulu jatah makan sebulan emanv bikin seneng, cuma tetep ada yang "kosong". Iya, aku lupa kalau sebenernya yang paling penting itu cukup dan yaudah ga usah berlebihan. dan tulisan gita ini ngingetin lagi kalau kesederhanaan itu memang dirindukan. thanks yaa gita, for remaining me.

    ReplyDelete
  143. Man shabira zafira git, siapa yg bersabar dia beruntung πŸ‘πŸ˜‡ biar dunia yg kita atur, bukan kita yg diatur dunia cuakeep deh.. Lo mah mas mark facebook versi cewe dah biar Harta berlimpah tapi kagak hedon duniawi, semangat om Gita, biarlah guguk menggonggong, kafilah berlalu, #thuglyfe 😁😎

    ReplyDelete
  144. So true. Especially the "starbucks cuman kebanyakan gula" part. People these days spend so much money only for the sake of jumping into the bandwagon. It's like being 'kekinian' is the sole goal in their life

    ReplyDelete
  145. Gue juga lebih suka sederhana ka git. Malah temen gue ada yang bilang gue irit bahkan perhitungan banget. Dan hampir sama juga sama lo ka git, dulu beli es krim di mcd aja udah wah banget. Tapi entah kenapa akhir2 ini gue kayak lebih suka barang2 yang agak mahal menurut gue,tp juga karna mikirin kualitasnya sih. Keliatannya sih bagus yaa. Tapi jadinya kok malah jadi kebiasaan suka barang2 yang harganya mahal menurut gue itu yah
    Sekarang juga jadi konsumtif banget soal makan. Sering beli atau kalo mager yaa nge go food aja gitu.
    Trus gue kan juga hobby gambar nih. Dan gue liat orang2 yang pro kebanyakan pake tools yang harganya selangit. Jadinya kan pengen. Tp kalo itu sekedar pengen doang sih. Soalnya kalo urusan drawing tools ini gue rasa baru mampus beli yang standar2 aja
    Ini masih kategori sederhana ga sih. Gue takutnya yaa gitu. Standar hidup gue naik gegara kebiasaan2 itu

    ReplyDelete
  146. Tulisan2 kamu masi selalu jadi self reminder kak. Keep low profile ya kak. Salut banget😊😊

    ReplyDelete
  147. kalo kata temen gue nih git, mending kita tutup 2 lubang telinga kita dari pada harus tutupin mulut orang satu2, it's mean ngga isah hiraukan apakata orang2 yg ngga ngerti hidup kita gimana, dibawa santai aja, ngga usah dipikirin, terkadang kita perlu kok masa bodoh sama lingkungan kita, semangat terus dan tetap menginspirasi :)

    ReplyDelete
  148. Terima kasih, ya, temen-temen. Supportnya sungguh bikin terharu. Seringkali gue nggak ngeh kalau orang waras itu sebenernya masih banyak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyakin sabar sama istighfar aja kak gita. aku gatau sih gimana isi komentar di twitter, soalnya aku ga pake twitter.tapi aku tau apa yg kak gita tweet, dan menurutku itu biasa aja. ya mungkin karena skr kak gita udah punya "nama" di dunia persosmed-an ini, terus ada aja orang yg iri sehingga pas kak gita posting sesuatu yang sebenernya biasa aja jadi luar biasa di mata mereka (haters). buat pelajaran aja kak, biar lebih bisa berhati-hati dalam segala hal. mulut netijen lebih parah kak skr ahahaha :D SEMANGAAT

      Delete
  149. Duhh ka gita kok aku terharu yaaa.. mungkin aku ngerasain semua itu dan Alhamdulillah bersyukur banget dikasih nikmat sampai sekarang ini ����
    Banyak bangett ngett pemikiran aku yang sama kaya ka gita.
    TETAP SEMANGAT KA GITA
    PROUD !!!

    ReplyDelete
  150. Gue rasa tweet lo kemarin udh jadi stressor buat orang-orang yang ngebully lo. Dalam psikiatri, mereka bakalan mengalami lima tahap kayak denial, anger, bargaining, depression sampe akhirnya acceptance. Gue liat mereka emg denied banget sama tweet lo, padahal kalo gue pikir ya emang bener. Kalo Ibu lo masak di rumah, buat apa makan ngehedon di luar? Kalo lo bisa pake baju harga murah tapi nyaman kenapa harus beli baju mahal (yg bahkan ga nyaman dipake)?
    Tapi ya gimana, nowadays, faktor sosio-budaya emang keras dalam memicu stress, semua orang butuh pengakuan, ga di dunia nyata, ga di dunia maya.
    Uang uang mereka, mereka hedon juga mereka yg ngejalanin, tapi perlu ditanyakan ke diri sendiri "buat apa sih gue bermewah-mewahan?", kalo jawabannya karena gue pengen kayak dia, karena gue pengen pengakuan. Yailah, pengen banget hidup dalam pengakuan orang lain? Sementara hidup dalam pengakuan Tuhan dipinggirin dulu? Gue ga bilang orang hedon ga banyak sedekahnya. Tapi kalo orang udah mencintai sedekah, dia pasti mikir-mikir lagi utk menggunakan uangnya nge-hedon.

    ReplyDelete
  151. Aw kagitaaaa. Bener sekali semua yang kaka tuangkan di blog ini. Ini asli. Terkadang orang2 saat ini merasa paling dekat dan paling tau terhadap org lain hanya dengan memfollow tiap sosmednya. Padahal ga menjamin itu semua. Mereka gatau semua kerja keras kaka di belakang layar. Mereka gatau sebanyak apa sedekah dan shalat yang kaka lakuin.

    But, thanks karena selalu memotivasi. Thanks karena selalu menjadikan kita terutama aku selalu untuk berpikir menelaah semua kejadian di kehidupan .

    ReplyDelete
  152. Aaaah gitaaaa,,, love u so much,, lagi2 terinspirasi dg tulisan lo,,, semangat gitaa

    ReplyDelete
  153. Sebelumnya terimakasih banyak ya ka udh diingetin lewat tulisan ini. Yang aku liat emang jaman sekarang hidup anak2 muda emang hedon banget. Sekarang umum banget kayaknya liat orang makan makanan mahal atau minuman mahal yg dulu ada di fikiran aku cuma orang kaya yg mampu beli itu. Tapi sekarang kayaknya siapa aja kelihatannya mampu. Aku sendiri juga ngerasa perlahan2 kayaknya standar hidup aku naik padahal aku bukan dr keluarga yg hartanya berlebih,bahkan orangtuaku selalu hidup hemat. pas baca curhatan ka gita ke mamahnya soal standar hidup, aku jadi kayak istighfar sendiri :". Tamparan buat aku banget. Terimakasih kak udah menginspirasi. Sukses terus yaa!

    ReplyDelete
  154. Kakkk. I know what it feels. Intinya hidup kita bahagia kalo kita selalu lihat kebawah dan bersyukur. Semoga kita dijauhkan sama yg namanya penyakit hati ya kak. Semangat terus kak, selalu jadi orang sederhana dan menginspirasi banyak orang ya kak. Bcs thats why I being one of your fans. Makasih selalu ingetin hal2 yang baik, sometimes tulisan dan cara pemikiran lo salah satu yg selalu bikin gue sadar :))))

    ReplyDelete
  155. Halo git,
    saya fansnya gita :D
    suka dengan opini opini dan pemikirannya,
    kalau boleh jujur saya mau ngasi pendapat aja, dan saya bukan haters kok.

    Tapi mungkin soal masalah kemaren di twitter, menurut aku cara kamu buat mengingatkan itu salah.
    maksudnya sebagai influencer, cara kamu mengingatkan dengan mengusik gaya hidup seseorang dan membandingkannya dengan seorang Bill gates yg kita gak bener2 tau gaya hidupnya itu kurang tepat aja.

    Soal Bill gates :

    Kita kan gak tau mungkin karena BG itu pria, jadi pakai baju yg simple2 aja, aksesoris yg biasa2 aja. atau kita gak tau mungkin isi rumah BG ternyata lebih mahal.
    Bisa jadi BG itu orangnya workaholic, jadi dia lebih mentingin perusahaannya.
    Kemungkinan lain, dia udah kenyang dengan hal2 yg "Wah" sampai akhirnya dia balik menjadi sederhana.

    Soal Head to Toe berjuta2 :

    Sama halnya dengan penilaian kamu terhadap orang yang pakai baju berjuta2. Kita gak tau tujuannya apa, ada yg emang buat pamer dan gengsi, tapi ada juga yang pakai karena ditunggangi keperluan bisnis.
    Bisa jadi baju berjuta2 yg dia pakai itu untuk keperluan endorse dari berbagai macam perusahaan. Sama seperti kamu git.

    Soal makan 150 rb :

    Atau orang yang selalu makan di restoran mewah, kita gak selalu bisa menilai bahwa tuh orang ngehambur-hamburin duit. Mereka yang makan di sana ada yg emang punya urusan bisnis, jadi harus mengajak rekan kerjanya ke tempat yg "wah", ada yg mungkin merasa pengen menghibur diri, jadi sesekali dia pengen tahu lho gimana sih rasanya makan di tempat mahal yang pakai bahan2 mahal.
    Ada juga yang sebenernya gak sanggup beli, tapi di beliin dari kantor tempat ia kerja karena tugas dari kantor.
    Ada yang makan di sana karena ia rekan dari yang punya restauran, jadi dia harus ikut meramaikan dengan teman2 yg lain.
    Ada yg untuk promosi.
    Ada yg makan di sana ngajakin temannya yg kurang berada buat bikin temennya itu hepi dengan makanan yg enak dan tempat yg bagus.
    Tapi emang ada juga yg sekedar gengsi dan hura-hura,
    malah ada yg sebenernya ga punya apa-apa tapi dia paksain ke sana.

    Bahkan dari postingan kamu ini aja, kita juga akhirnya bisa tahu kan rahasia2 di balik kehidupan kamu yg kita anggap "wah" itu.

    Jadi mungkin biar tidak jadi masalah, ada baiknya saat memberikan opini atau mengingatkan orang, kita mempertimbangkan alasan2 penilaian kita kepada object yang ingin kita ingin ingatkan.

    Saya cuma ingin mengingatkan, biar kita bisa melihat dari berbagai perspektif dan latar belakang. Karena saya tahu ada orang2 yg seperti saya sebutkan di atas tadi.

    Manusia gak 100% sempurna, karena gak sempurna itulah kita gak boleh punya ekspektasi terhadap manusia. Tapi sebagai manusia kita harus banyak belajar, sebagaimana saya sering belajar dari Gita, Gita juga mungkin bisa belajar dari fenomena dan reaksi2 yg diberikan pengikut gita. :D

    ReplyDelete
  156. Gue setuju sih kagit sama pendapat lo, karna gasemua orang bisa kaya yang kita alamin sekarang, ya even kadang gue msh suka hilap kalo liat yg padahal gue gabutuh2 amat, tapi alhamdulillahnya akhir2 ini gue lebih sering mempertimbangkan mana yang gue butuh dan mana yang gue pengen. Karna gue punya pribadi menanamkan statement kaya "lo akan menghargai selembar uang yang lo punya ketika lo udah merasakan susahnya mencari selembar uang itu (re: kerja)" semangat terus kagitt!!!��

    ReplyDelete
  157. Btw, Jakarta itu emang gitu git, "mewah" karena adanya pebisnis yang bikin mindset life style yg "wah".

    Intinya kita semua ini korban dari mindset baru yang diciptakan pebisnis. Biar mereka hidup, kita harus dibuat berpikir kalau pakai baju mereka "wah", kalau makan di tempat mereka "wah". Kita gak bisa ngendaliin, yg ada cuma istighfar biar gak terobsesi dengan "wah" yg mereka tawarkan.

    Seperti kata orang2, hidup ini seperti 2 sisi koin, ada baik dan buruknya.

    Sebagai manusia, jika diberi kelebihan dalam harta ada baiknya kita mengendalikan diri dari hawa nafsu atau obsesi yg bisa bikin kita gelap mata dan bikin kita ingin lagi dan lagi.

    Tapi jika di bawah juga ada baiknya kita menutup mata dari hal-hal yang menyilaukan mata dan hati, biar kita terus mensyukuri hidup.

    Ahh dunia... dunia, begitulah cara kerjanya, di balik hiruk pikuknya, semoga kita bisa terus menemukan titik terang untuk kembali kepada-Nya.

    Mohon maaf ya kalau saya malah bikin komen yg justru lebih cocok jadi konten blog dari pada komen :))

    ReplyDelete
  158. Jaman memang sudah berubah kak git. Aku juga pernah ngalamin kaya gitu huhuu.. semangat kak git ..

    ReplyDelete
  159. Halo ka gita selama ini aku cuma jadi sider tapi gatau kenapa aku rasanya pengen ikut komentar di tulisan ini. Pas selesai baca tulisan ini, aku langsung baca comment section nya, dan ternyata aku baru ngeh kalo latar belakang tulisan ini dari "situ". Pas aku cek balesan tweet nya, aku langsung istighfarπŸ˜₯gatau kenapa soalnya sampai sebegitunya reaksi dari mereka, dan yang paling buat aku miris mereka selalu ngehubungin dengan make-up, skincare, bahkan ada yang nge ss makanan di sg ka git. Aku langsung mikir "bukannya skincare yang "mereka" sarkas-in ke ka git itu endorse yahπŸ˜‚, kok pada banding-in nya ke situ? Apa mereka selama ini itu gak ngeh ya kalau itu endorse-an?,loh kayaknya mereka belom khatam deh nonton vlog ka gitπŸ˜‚ soalnya setelah aku nonton vlog dan baca tulisan ka gita dari situ aku udah bisa liat darimana ka git dapetin itu semua karena secara gak langsung sadar atau ga sadar ka git udah menjelaskan itu di vlog maupun di tulisan nya"Jujur dari awal aku ngikutin ka git karena aku tertarik sama kesederhanaan nya ka git Yang seorang mahasiswi di jerman yang kita semua tau biaya disana ga mahal, orang awam kayak aku pasti first impression nya "pasti ni orang anak orang kaya,pantes aja kuliah di jerman,biaya hidupnya mahal banget pasti enak di fasilitasi orang tua" dan pendapat itu dipatahin telak selama aku ngikutin vlog ka gita dari yang pertama sampe aku baca blog nya juga, karena kayak yg aku bilang tadi kakak di sana ternyata part-time juga sampe yg cerita di pabrik itu kerja nya bener-bener capek, ternyata kakak awal nge vlog cuma pake hp doang sampe sekarang bisa beli kamera sendiri pake dari hasil jeri payah sendiri dan sampe di kasi budget sama youtube buat bikin video, aku sampe terharu biasanya kalo re-watch vlog ka git yang dulu, dimana keliatan banget usaha ka git dari dulu sampe bisa se keren sekarangπŸ‘.

    Agak habis pikir sama mereka yang nge bash ka git sampe kaya gitu, aku sedih baca reply-an mereka ke ka git. Akhirnya aku mikir mungkin mereka gak sepenuhnya bisa nangkep point yang ka git berusaha sampaikan dan pas awal baca reply-an nya aku coba scroll ke atas lagi buat liat tweet ka git dan aku sama sekali ga merasakan suatu kesensianπŸ€”. Semangat terus sebarin hal positif kaπŸ€—

    ReplyDelete
  160. Kak git, terharu :)dan makasih banget tulisannya udah ngingetin buat bilang ke diri sendiri, kapan gue mulai bisa bersyukur? Krna jawabnya adalah: sekarang dan jangan berhenti, jangan tunda lagi! :)

    ReplyDelete
  161. Halo ka gita selama ini aku cuma jadi sider tapi gatau kenapa aku rasanya pengen ikut komentar di tulisan ini. Pas selesai baca tulisan ini, aku langsung baca comment section nya, dan ternyata aku baru ngeh kalo latar belakang tulisan ini dari "situ". Pas aku cek balesan tweet nya, aku langsung istighfar��gatau kenapa soalnya sampai sebegitunya reaksi dari mereka, dan yang paling buat aku miris mereka selalu ngehubungin dengan make-up, skincare, bahkan ada yang nge ss makanan di sg ka git. Aku langsung mikir "bukannya skincare yang "mereka" sarkas-in ke ka git itu endorse yah��, kok pada banding-in nya ke situ? Apa mereka selama ini itu gak ngeh ya kalau itu endorse-an?,loh kayaknya mereka belom khatam deh nonton vlog ka git�� soalnya setelah aku nonton vlog dan baca tulisan ka gita dari situ aku udah bisa liat darimana ka git dapetin itu semua karena secara gak langsung sadar atau ga sadar ka git udah menjelaskan itu di vlog maupun di tulisan nya"Jujur dari awal aku ngikutin ka git karena aku tertarik sama kesederhanaan nya ka git Yang seorang mahasiswi di jerman yang kita semua tau biaya disana ga mahal, orang awam kayak aku pasti first impression nya "pasti ni orang anak orang kaya,pantes aja kuliah di jerman,biaya hidupnya mahal banget pasti enak di fasilitasi orang tua" dan pendapat itu dipatahin telak selama aku ngikutin vlog ka gita dari yang pertama sampe aku baca blog nya juga, karena kayak yg aku bilang tadi kakak di sana ternyata part-time juga sampe yg cerita di pabrik itu kerja nya bener-bener capek, ternyata kakak awal nge vlog cuma pake hp doang sampe sekarang bisa beli kamera sendiri pake dari hasil jeri payah sendiri dan sampe di kasi budget sama youtube buat bikin video, aku sampe terharu biasanya kalo re-watch vlog ka git yang dulu, dimana keliatan banget usaha ka git dari dulu sampe bisa se keren sekarang��.

    Agak habis pikir sama mereka yang nge bash ka git sampe kaya gitu, aku sedih baca reply-an mereka ke ka git. Akhirnya aku mikir mungkin mereka gak sepenuhnya bisa nangkep point yang ka git berusaha sampaikan dan pas awal baca reply-an nya aku coba scroll ke atas lagi buat liat tweet ka git dan aku sama sekali ga merasakan suatu kesensian��. Semangat terus sebarin hal positif ka��

    ReplyDelete
  162. Bener banget kak Git, hidup di ibukota memang keras banget. Tapi kita akan lebih sadar betapa kerasnya hidup saat merantau. Sekarang orang bilang duit 50rb itu gak seberarti dulu. Padahal, jangankan 50rb, kalau kita tahu gimana susahnya cari duit seribu mungkin kita gak akan bilang duit 50rb itu gak berarti. Kadang kita hidup jauh dari kata bersyukur. Uang 2rb aja berat banget untuk disedekahin, padahal kadang banyak juga yang rela ngeluarin uang 50rb cuma buat minum kopi ternama padahal rasanya kurang lebih sama aja yang bisa kita dapetin jauh berkali lipat di bawah harga itu. Kadang kita juga gampang bilang ke orang lain "semangat yaa" padahal terkadang kata "semangat yaa" buat diri kita sendiri aja susah. Well, kita memang harus bersyukur dan bercermin ke belakang, karena yang kita lihat di belakang terkadang gak kita lihat di depan. :''')

    ReplyDelete
  163. Syedihh emang git liat orang2 yang mau makan aja susah. Apalagi aku tinggalnya di desa, sering liat orang2 pada kesawah dari pagi sampe sore cuma buat dapet uang 20ribu. Pakaian combang cambing dan hidupnya jauh dari kata sederhana. Kadang rasa syukur tak terkira kalo liat orang2 kaya gitu. Jadi lebih bijak memahami lingkungan. Btw tas ku juga exsport git, itu aja nabung setaun dari uang receh sisa uang jajan. Semangat gittt

    ReplyDelete
  164. totally agree! kehidupan dalam mengirit dan memilah apa yg dibutuhin itu penting bgt! yang penting bisa tercukupi buat sehari2 dan bisa nabung buat yang lainnya. gak ada yg tau kan kalo besok ternyata kita butuh sesuatu yang penting tp ternyata uangnya udh dipake buat hurahura ketawa ketiwi. padahal ketawa murah gk harus nongkrong di tempat mahal

    ReplyDelete
  165. The world needs more people like you, git :)
    Semoga hidupmu selalu diberkahi Allah SWT.

    ReplyDelete
  166. Ada 2 tipe untuk haters :
    1. Mereka nge fans
    2. Mereka iri
    Hehehe

    Penghasilan boleh bertambah tp standart hidup tetap sederhana..
    Mudah untuk di ucapkan tp susah untuk di lakukan..

    Tetep jd gita yaaa mbak..

    ReplyDelete
  167. Ada 2 tipe haters :
    1. Mereka ngefans sama kita
    2. Mereka iri sama kita

    Heheheheee

    Penghasilan boleh bertambah tp standar hidup tetep sederhana..
    Gampang di ucapkan tp susah untuk di lakukan..

    Sering kali lupa sama niat dan tujuan awal kita..

    Tetep jadi gita yaa mbakk...

    ReplyDelete
  168. So inspiring kak git❤ go on with yourself, dont even care about the people who talk without knowing your background❤ semangat terus kak git❤

    ReplyDelete
  169. Tetep semangat yang gita, gue ngerti banget sih dan emang susah banget apalagi kalo lo kerja kantoran di jakarta yang di mana kantor-kantor di pusat jakarta banyak yang samping mall dan temen-temen lo tipikal yang cepat membuat keputusan dalam mengeluarkan uang dan sangat tidak mau ketinggalan dengan tren yang ada. gue sampe sekarang juga masih banget berusaha menjauhi hal tersebut.

    Gue sendiri terlahir dari keluarga yang biasa aja dan sangat sederhana, dan walaupun sekarang keluarga gue lebih baik dari segi income Alhamdulillah budaya itu masih banget di pegang erat sama ibu bapak gue.. hehe. sampai sekarang pun menurut gue makan yang paling nikmat adalah makanan nyokap karena dibuatnya pake cinta (wqwqwq) dan gaenak juga kalo misal gue harus jajan diluar sementara nyokap gue sudah bersusah payah masak dari pagi.. hehe

    keep inspiring and sharing ya git, tulisan-tulisan kek gini nih yang lebih baik dibaca ketimbang berita-berita/tulisan update gosip yang super ga penting dan super ga berfaedah. semoga hidupnya selalu barokah gitt!!!

    ReplyDelete
  170. Sabar kak, inget dan resapi aja perkataan inj
    "Hiduplah seberapapun lamanya, namun kau pasti akan mati...
    Cintailah apapun yg kau sukai, namun kau pasti akan berpisah dengannya...
    Berbuatlah sekehendakmu, namun kau pasti akan menerima balasannya..."

    Jadi gausah mikirin omongan orang selama kita hidup ga merugikan orang lain, karena bagaimanapun kita berbuat dialam dunia, mustahil semua orang menyukai kita...

    Semua kembali lagi ke hati/qolbu
    Ibarat teko, kalo teko isinya kopi, keluarnya pun kopi
    Kalo isinya air got, ga mungkin keluar kopi

    Karena ada dua hal yg teramat buruk
    1. Suudzon kpd Allah Ta'ala sebagai pencipta
    2. Suudzon kpd Makhluk ciptaan Allah Ta'ala

    Plus omongan ini
    "Jangan menasehati orang bodoh, karena ia akan membencimu
    Nasehatilah orang yang berakal, karena ia akan mencintaimu"

    (Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra)

    Btw kenapa jadi kyk ceramah yak ahaha
    Cheers kak git! ;)

    ReplyDelete
  171. suka. sama prinsip pula. tapi yang harus digaris bawahi adalah cara penyampaian nih ka gita, sebenernya udah bener, dan saya langsung ngerti, karena saya sejalan, tapi kalau tulisan ini diposting untuk general apalagi ka gita untuk jadi public figure juga, ka gitu harus bisa menyampaikan supaya orang yang standar hidupnya-pun setuju dengan tulisan ka gita. saya ngasih saran seperti ini karena kemarin saya habis discuss sama yang kontra postingan ka gita di twitter, saya tanya dan alesannya menurut saya wajar dan pantes. haduh pusyang nyampeinnya bahasanya susah:(( tapi intunya begitulah ka gita, yang bacakan banyak, agak usahain untuk diterima sama semua kalangan ya, mungkin kita sama pemikiran jadi saya langsung oke, yang engga, meskipun ka gita bilanh gamau ngejelasin, tapi ini bukan masalah ngejelasin nya, hanya penjabaran ka gita aja, udeh deh gitu. suseh bat :((

    ReplyDelete
  172. Semangatt git,!! Terkadang "pahit" itu ngejaga hati agar tetap "sehat" dan bikin otak tetap "waras" * merindukan sederhana? sederhana adanya di rumah makan padang ^^V

    ReplyDelete
  173. kak gita selalu semangat yah. mungkin memang sudah tugas kita sbg manusia untuk terus bersyukur dan mengingat kembali untuk apa kita hidup di dunia ini. Terima kasih kak Gita sudah mengajarkan banyak hal

    ReplyDelete
  174. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  175. Kaaaa gitaa, ngerti ko semangatt yaaa. Aku selalu mendukung dan sepemikiran dengan mu ko kaak :) mainnya di bogor aja kl gtu ka biar adem heheh

    ReplyDelete
  176. Hai, ka Gita. I couldn't more agree. Aku dan keluargaku juga punya value "hidup prihatin" simply karena emang we consider ourselves as a lower middle-class family. Tapi, hidup bertahun-tahun di tengah teman-teman yang mostly tergolong upper class membuat aku susah berpegangan sama value aku sendiri. Aku selalu merasa diri aku munafik. Kalau lagi sama temen-temen, aku sok mampu makan di Union atau Paul, padahal kenyataannya orang tua aku sendiri aja nggak berani masuk restoran fancy. Kalau ke mall pasti keluargaku ujung-ujungnya makan di food court yang ada Bakmi GM atau Hokben, atau sejenisnya hahaha.
    Kadang kalau lagi sama temen-temen yang hedon, aku suka lupa sama jati diri aku. Aku terlalu malu untuk bilang, "Maaf, buat gue Union kemahalan". Kalau dompet lagi bener-bener kering, aku lebih milih ngga ikut jalan dengan alasan diada-adain. The pressure is real.
    Tulisan ka Gita ini bener-bener menampar aku supaya jangan sampai value aku kegeser sama gaya hidup. Sebenernya hal seperti ini udah jadi pikiran aku selama ini. Tapi ujung-ujungnya gengsi selalu menang. Semoga tamparan ini nggak nempel saat ini aja, tapi seterusnya --apalagi pas lupa diri.

    Makasih banget ka Gita. You are so inspiring <3

    ReplyDelete
  177. Waaaah aku selesai ngepoin blog kaka pas liat tanggal lah 27 juli. Selamat ulang tahun ka gittttt!! selalu menginspirasi dan tetap jadi diri sendiri:))

    ReplyDelete
  178. Gitulah kerjaan selebtwit git, nyari kesalahan orang yg lumayan diperhatiin byk orang supaya terlihat pinter di mata followers nya dan ada unsur ajakan bullying juga, tapi kalo dia yg salah paling ngeles dgn kata-kata "ah elah gitu aja baper"

    ReplyDelete
  179. Sabar ya ka git, hidup di indonesia mungkin sangatlah keras.....kehidupan bersosialnya sih yg keras. Beropini malah di judge, sedangkan sosial media itu ya tempat kita beropini dgn bebas kan. Klo pengen yg private mah ya nulis diary aja. Sosial media dijadikan ajang kecekecean, pamer harta, hedonisasi yg malah jd hits, orang ga berfaedah malah jd panutan, dll klo menurut gua sendiri sih emg udh karakter orang indonesia yg super kepo dan serba ingin tau, ingin tahunya disini bernilai negatif unfortunetly nya:(

    Kadang gua sebagai wni suka malu kenapasi negara gua bgini amat dan blablabla dan sempet juga cita2 pengen pindah kewarganegaraan huhu

    Btw gua selalu suka opini opini kagit, kadang menginspirasi bgt rasanya pen ketemu dan ngobrol2 gtu sm kagit kayanya seru bertukar pikiran sm kagit hehe apalagi kagit kuliah gtu di jerman salah satu negara favoritku sejak kecil haha salahsatunya yg bikin gua ngefans sm kagit sih ini lah malah curhat gua

    Pokoknya selama beropini gratis beropinilah sebanyakbanyaknya kagit, setiap orang ga selalu semua menyukai kita pasti ada yg ga suka, sampai seorang rasul pun demikian apalagi kita yg hanya manusia tempatnya berbuat salah. Andai generasi muda punya pemikiran kaya kagit, it must be awesome!��

    ReplyDelete
  180. Aku selalu punya pemikiran yang hampir sama kak.. gilak ya.. aku bukan orang yang suka ngeshare hal-hal yang menyedihkan bahkan terkesan miris.. aku lebih suka share hal-hal yang membahagiakan.. dan aku selalu mencoba sebijaksana mungkin membagikan hal-hal baik pribadi maupun sekedar pemikiran dan opini-opini sesaat ke sosial media.. karena semua orang ga akan melihat pada sudut pandang yang kita coba bangun, mungkin mereka melihat di sudut yang lain.. dan itu memang hak mereka.. jadi, kita tidak bisa mengatur mereka semau kita.. kita hanya perlu mengatur diri kita sendiri.. thanks and keep inspiring kak <3

    ReplyDelete
  181. Git, please baca DM gue di instagram lu, atau ya minimal lu liat email dari gua. Gua mau cerita perihal menjadi orang beriman yang berguna bagi orang lain :( btw yang kirim lu DM gua @fahmi.habibi_

    ReplyDelete
  182. Halo kak, gue udah ngikutin vlog lo cukup lama, sebelum lo muncul di the comment dkk, sebelum lo bisa ikut berbagai event yg banyak selebgram ikutin abis lo balik ke indo itu. Awalnya waktu lo sebooming itu tiba2 gue mikir, yahh gitasav skr terkenal banget famous maksud gue adalah lo jadi sama aja kayak selebgram lain yg mana feeds ig lo pasti banyak endorse nya, tapi trus gue mikir, itu adalah achievement dari lo dan lo emang pantes berkesempatan buat dapet itu semua, dan lo tetep lo gitu kak, dari macem2 vlog yang gue liat vlog lo adalah vlog yang menurut gue membumi. Bahasa yg lo pake, cara pandang lo, cara berbusana lo, even lo tutorial menurut gue lo sangat2 apa adanya dan ditambah lo pinter bermusik gaya pacaran lo yang anti baper2 club wkwkw (itu yg gue amatin yah) dan lo korean chingu! Gue nge fans sama lo.
    Buat soal kesederhanaan, gue juga pernah ngalamin kayak lo kak, dulu waktu sd, gue sempet merasa tertindas dimana temen2 gue berada semua dan gue berasal dari keluarga biasa2 aja, bahkan sempet gak settle finansial keluarga gue, trus gue smp negri disana makin beragam orang2nya, walopun temen2 sekitar gue juga masih tetep tajir2 tp cara gaul mereka beda, mereka lebih sederhana, kayak ga mikir gitu merk tas, sepatu, dll. Mereka ga pernah ngobrolin hal2 yg ujung2nya pamer gitu dan gue nyaman banget, lama pencarian jati diri gue makin bisa memutuskan buat temenan sama siapa yg menurut gue bisa gue imbangi gitu pergaulannya. Dan itu berlangsung sampe SMA. Selepas sma gue yang hidup dengan segala kenyamanan di ibu kota jateng, merasa pingin challenge diri sendiri buat hidup mandiri, gue pingin prihatin, aneh ya kak? Kenapa dari semua fasilitas yang udah ada di kota kelahiran, gue malah pilih hidup di kota lain yg fasilitasnya lebih minim dari kota gue. Allah mengabulkan doa gue kak, gue keterima di univ negri di kota solo, dan di fakultas keguruan, kalo lo mau tau first impression gue? Ndeso ya. Karena di fakultas gue adalah kebanyakan anak daerah, cara berpakaian mereka dan segalanya bener2 sederhana, dapet dua tahun kuliah, gue makin nyaman dengan semua kesederhanaan orang2 disekitar gue, dan gue makin menyadari bahwa gue mungkin masih beruntung dibanding temen2 gue dan mereka juga pinter2, gue juga mikir sebenernya mungkin harta benda yang lo banggain itu ga ada apa2nya kalo lo gak bijak, pinter, kalo lo sombong. Dan dengan semua kesederhanaan ini ditambah dengan kepindahan keluarga gue di kabupaten, gue sempet hidup di desa, walopun setahun kemudian ortu balik lagi ke kota karena ibu sakit. Tapi gue sempet merasakan kenyamanan, udaranya masih bersih, dingin, gak bising, tenang, damai, bersahaja. Orang desa tu sederhana aja gitu, mereka berjuang cari nafkah, pagi ke sawah sore baru pulang, atau jualan ke pasar, yang penting anaknya bisa sekolah. Makan seadanya, makan dari hasil bumi keringat mereka sendiri, dan menurut gue itu luar biasa banget nikmatnya. Semakin gue liat medsos dulu path sih, gue merasa temen2 gue di kota tu hedon, pindah dari cafe satu ke cafe lainnya, sampe pernah gue merasa gak pd gitu update instagram, path, karena gue malu kalo mungkin gue seolah2 sok hedon, maksa hedon. Tapi intinya sih sekarang gue sangat2 bersyukur dengan semua kesederhanaan yang ada di sekitar gue. Karena apa yahhh itu pelajaran hidup yang bener2 bentuk mental kita kedepannya. Semangat ya kak, apa yang buat lo di bully dengan semua yang nampak aja di diri lo oleh netijen itu mungkin juga salah satu resiko jadi sosmed influencer. Semoga tetep membuat lo jadi diri sendiri. Cheers!

    ReplyDelete
  183. Btw kak tos dulu gue juga ga pernah beli sbucks karena MAHAL yaelah minum kopi aja mahal banget, kopi angkringan aja udah enak banget kak asli! Main main solo kak gue ajak jalan2 hehehehe

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig