by Gita Savitri Devi

4/14/2017

Ketika Pilkada Lebih Seru Daripada Drama Korea

Tulisan ini gue buat bukan bermaksud untuk menambah hiruk-pikuk pilkada ataupun dijadikan alat untuk menjunjung paslon A dan menyudutkan yang satu lagi. Ini hanyalah pikiran-pikiran yang belakangan ini berenang-renang di otak gue, yang seandainya gue punya pensieve kayak Albus Dumbledore, udah pasti akan gue buang ke situ. But this blog is my pensieve. Jadi, gue akan membuang pikiran ini lewat tulisan.

***

Belajar dari pemilu presiden yang lalu, pada pemilu DKI Jakarta kali ini gue udah melakukan persiapan dari jauh-jauh hari. Spesial satu hari gue dedikasikan untuk nge-hide orang-orang atau akun yang berpotensi bikin news feed Facebook gue jadi dikotori oleh artikel-artikel super nasty, kacangan, dan nggak kredibel.

Gue merasa artikel dan orang-orang tersebut, entah ke pada kubu mana dia memihak, nggak sehat buat otak dan hati gue. Dan mereka juga nggak akan bikin gue lantas akan mengubah pilihan. Basically, yang begini cuma bikin situasi makin panas dan eventually membuat negara gue makin terpisah.

Ini yang gue rasakan semenjak pemilu presiden tahun 2014 lalu. Entah siapa yang memulai dan bagaimana, perihal ras dan agama tiba-tiba jadi naik ke permukaan dan selalu jadi buah bibir. Semenjak saat itu sampai sekarang gue selalu membaca dan mendengar kata "kafir" dan "cina", kata-kata yang sebelumnya terlalu tabu untuk dijadiin bahan perbincangan.

Gue akan menjelaskan di mana posisi gue berdiri sekarang. Kalau gue bisa memilih, gue akan mencoblos pasangan calon no.3, Anies dan Sandi. Terlepas dari boleh atau tidaknya umat muslim memilih pemimpin non-muslim, gue nggak akan memilih Ahok. Tutur kata dan perilaku yang baik speak a lot dalam mencari pemimpin buat gue. Gue lebih prefer pemimpin yang berkepala dingin dan santun. Bukan yang suka marah-marah atau berbicara seenaknya.

"Mendingan pemimpin yang suka marah-marah tapi bener kerjanya, daripada yang baik tapi taunya kerjanya nggak becus.

Buat gue pribadi akhlak seseorang sama pentingnya dengan kinerja. Gue melihat Anies-Sandi berpotensi sebagai pemimpin dengan paket komplit. Bagus akhlaknya, bagus juga kerjanya. Dan gue melihat kalimat di atas hanyalah sebatas pembenaran untuk bisa begajulan, ngomong sembarangan, nggak mikirin lagi gimana kesopanannya, asalkan kita bisa kerja dengan benar. Sangat bertentangan dengan pemimpin paling berpengaruh dan terhebat yang pernah ada, Rasulullah SAW, yang bagus kepemimpinannya, kerjanya, dan akhlaknya pun luar biasa.

"Anies-Sandi bisanya ngomong doang. Ahok udah kerja dan bicara data."

Jelas Ahok bisa berbicara dari kenyataan, bisa berbicara tentang apa yang sudah dan sedang dia kerjakan. Karena sampai detik ini dia masih menjabat jadi gubernur DKI Jakarta. Dan gue yakin kalau Anies-Sandi dikasih kesempatan, mereka juga akan bekerja sama baiknya, bahkan lebih.

Dari poin di atas, tersirat sedikit kekecewaan gue terhadap beberapa orang dari kubu kanan/orang-orang muslim yang gue lihat terlalu giat memainkan ayat. Surat kesukaan kita semua, Al-Maidah ayat 51, padahal sebenernya nggak perlu sebut-sebut agama juga bisa.

Gue mencoba memposisikan diri sebagai orang non-muslim di Indonesia yang di depan mukanya diteriakin ayat kalau orang muslim dilarang memilih pemimpin kafir. Wajar kalau si non-muslim akan tersinggung. Walaupun arti kata "kafir" adalah non-believer, cara penyampaian kata tersebut membuat kesan seolah-olah mereka berdosa dan hina, dan mau gimana pun juga akan masuk neraka. 

Apapun pemahaman kita terhadap orang non-muslim, urusan surga dan neraka itu terlalu sensitif buat diomongin secara gamblang. Kita perlu ingat, setiap individu berhak untuk memeluk agama apapun, bahkan nggak beragama sekalipun. Agama itu privasi, guys. Urusan kita sama Tuhan. Mendiskriminasi ataupun memojokkan seseorang hanya karena pilihan dia itu nggak benar.

Gue juga sangat menyayangkan beberapa orang dari kubu kanan yang sangat senang untuk bermain race card. Kayak yang gue bilang, padahal ikutan berpolitik tanpa nyebut-nyebut ras juga bisa.

"Dasar cina lo!"
"Balik sana ke negara lo"
"Bukan pribumi aja belagu lo!"

Kalau seseorang di-bully karena dia gendut, dia bisa diet dan olahraga biar jadi kurus. Kalau seseorang di-bully karena mukanya jerawatan, dia bisa ke Erha Clinic buat facial biar jadi mulus. Kalau seseorang di-bully karena ras? Apakah dia bisa segampang itu buat langsung ganti muka dan warna kulitnya? Gue nggak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai orang hitam/putih. Begitu juga Indonesian chinese yang dipojokkan hanya karena dia adalah chinese. Dia nggak bisa lantas mengubah dirinya menjadi pribumi supaya bebas dari bully-an orang. It does not work that way. It's stupid.

Memainkan ayat di dalam suatu negara yang sebenernya nggak homogen-homogen amat itu menurut gue bahaya. Islam dan pribumi memang mayoritas, tapi nggak semata-mata menjadi pembenaran untuk bertindak hal-hal yang kiranya bisa menyinggung kaum lain. Karena nyatanya kita nggak hidup dengan muslim lain aja, di sebelah sana ada grup lain yang harus kita hargai.

Karena begini, gue mengambil analogi ketika gue masih belom memakai kerudung. Seringkali ada gambar-gambar dakwah di Instagram yang menurut gue kurang mencerminkan Islam itu sendiri. Islam selalu mengajak kita kepada kebaikan dengan cara yang baik pula. Sementara banyak dari pendakwah yang sudah bagus niatnya, tapi selalu mengiming-imingi orang yang nggak mematuhi perintah agama dengan neraka.

"Kok sampe sekarang nggak ditutup auratnya? Emang udah siap nanti dibakar sama api neraka?"

Melihat yang begitu, apa gue langsung jadi takut dan memutuskan buat pake kerudung? Nggak. Gue malah ilfeel dan membuat stereotip kalau orang religius itu cuma bisa nakut-nakutin gue pakai neraka.

"Jangan lupa sholat. Nanti masuk neraka."
"Jangan pacaran. Nanti masuk neraka."
"Jangan makan yang haram. Nanti masuk neraka."

Padahal muslim disuruh melakukan ini-itu dan menjauhi ini-itu karena semata-mata diperintahkan oleh Allah. Karena iman. Bukan karena takut masuk neraka.

Beberapa minggu lalu gue ikut webinar-nya Ust. Nouman Ali Khan, ustadz favorit gue yang cara dakwahnya sangat gue kagumi. Di sana dia menceritakan gimana Quran bisa men-transform manusia dan bagaimana cara Rasulullah SAW menyampaikan isi kitab ini kepada orang-orang, dengan cara yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT.

Ada 4 langkah berdakwah yang dilakukan oleh beliau. Langkah pertama adalah memperkenalkan Al-Quran untuk menunjukkan kebesaran Allah SWT. Dibacakanlah ayat-ayat Quran supaya orang tersebut bisa mendapat sense kalau kitab ini nggak mungkin ditulis oleh manusia, saking luar biasanya.

Langkah kedua adalah, setelah diperlihatkan/ditunjukkan kehebatan Quran, maka hati manusia akan jadi bersih. Hati manusia akan kuat karena sudah dipenuhi dengan iman.

Setelah terbentuk imannya, terbentuk pondasinya, barulah Rasulullah SAW berlanjut ke langkah selanjutnya, yaitu mengajarkan law atau aturan-aturan yang dibuat oleh Allah SWT dan dituliskan di kitab ini. Mengajarkan apa yang diperintahkan Allah SWT dan apa yang dilarang. Iman yang sudah terpatri di hati manusia memudahkan mereka untuk lantas menerima itu semua.

Setelah itu barulah Rasulullah SAW menyampaikan wisdom yang ada di Quran. Mengajarkan ternyata sebatas law aja nggak cukup. Karena Islam bukan sekadar aturan, tapi juga tentang kearifan. Kerendahan hati bukan aturan, tapi kearifan. Kemurahan hati bukan aturan, tapi kearifan.

Dan wisdom itu yang menjadi pengingat kita semua, sebanyak apa ilmu yang sudah kita kuasai, sebanyak apa surat yang sudah kita hafal, kita tetap fakir ilmu. Kita tetap nggak memiliki alasan untuk lantas merasa lebih islami dibanding teman kita. Kita tetap nggak memiliki alasan untuk lantas menjadi sombong. Wisdom inilah yang akhirnya merangkum what Quran is actually about. It's not just a holy book. But it's something that can transform us.

Konklusinya adalah, hanya bersenjatakan ayat, kata "neraka", dan bahkan menyudutkan kelompok lain yang berbeda dengan kita menurut gue bukan cara efektif untuk mengajak orang kepada--yang kita pikir--kebaikan. Mencoba menyampaikan/mengajarkan isi Quran dengan cara yang kurang baik bahkan bisa mengikis kebesaran dan nilai dari Quran itu sendiri.

Manusia punya otak, punya sel-sel neuron yang bekerjanya luar biasa. Sajikan lah argumen-argumen intelek dan pengertian yang esensial, mengapa harus melakukan ini, daripada yang itu dan mengapa harus memilih yang ini, daripada yang itu. Biar otak dan nalar kita puas, biar pondasi kita kuat, dan yang lebih penting biar kita nggak terlihat seperti memecah umat. Dan gue percaya, once masyarakat sudah paham, mereka akan mengimani surat Al-Maidah ayat 51 ini dengan sendirinya. Bukan karena diiming-imingi neraka, tapi karena iman mereka.

Kalau kita lihat, efek dari surat ini jadi merambat kemana-mana. Efek dari niat yang bagus, tapi cara menyampaikannya yang masih banyak cela. 

Gue masih dengan pendapat gue di awal. Perkataan Ahok pada saat rapat di Kepulauan Seribu mengenai surat Al-Maidah emang sangat berperan dalam membuat suasana jadi makin kacau. Terbukti, beribu orang turun ke jalan memprotes perkataan Ahok yang katanya udah mencela Quran. 

Apapun itu maksud dari Ahok, sebagai orang yang berusaha nggak se-biased mungkin, gue akui Ahok emang blunder. Sebagai pejabat publik udah seharusnya dia bisa lebih jaga omongan. Apalagi dia seharusnya tau situasi lagi parah banget. Bukan cuma Jakarta, Indonesia sekarang lagi terbelah. Instead nambah-nambahin retaknya nation kita, kayaknya lebih bijak kalau dia lebih bisa jadi lem buat merekatkan lagi kepingan-kepingannya.

Ditambah, dia bukan seseorang yang berhak untuk berkomentar apapun tentang Quran. That's why menurut gue terlalu omong kosong jika beberapa orang bersilat lidah mencoba untuk meng-defend Ahok, apalagi sampai nggak terima kalau ada yang marah sampai akhirnya demo ke jalan. Nyatanya Ahok memang salah dan setelah kejadian tersebut dia blunder lagi dan bikin umat Islam marah lagi. Akhirnya demo lagi. Begitu terus ampe kiamat.

Tapi balik lagi, gue ngerti kenapa Ahok dan non-muslim lainnya resah karena terlalu sering mendengar kata "kafir". Apa kita bisa memaksa mereka untuk bisa memahami dan mengerti maksud dari surat tersebut? Nggak bisa. 

Mereka, yang notabene nggak mengerti tentang basis ajaran Islam, nggak akan bisa mengerti kenapa agama kita menyuruh umatnya untuk memilih pemimpin yang muslim. Sama seperti gue yang nggak mengerti dengan sistem missionary gereja, yang sampai rela pergi ke daerah-daerah terpencil berdakwah ke umat agama lain, dengan niatan ingin menyebarkan ajaran Tuhannya ke seluruh negeri. Karena di agama gue, keyakinan adalah hak setiap individu dan nggak boleh dipaksa. Lakum dinukum waliyadin.

Lalu muncullah video kampanye Ahok-Djarot yang menurut gue hanya menambah bensin ke api yang sedang berkobar. Tepat di detik ke 00:09, segerombolan orang berpeci dan bersorban terlihat sedang berdemo dengan membawa spanduk bertuliskan "Ganyang cina". Ditambah lagi dengan video yang lebih pendek, lebih simple, tapi efeknya sama. Sama-sama bikin api makin besar.

Di situ Djarot bilang, "Pilkada DKI kali ini bukan lagi cuma soal memilih gubernur yang akan melayani rakyat Jakarta. Ini juga soal keberpihakan. Apakah anda memilih berpihak kepada penyeragaman, radikal serta intoleran, atau memilih berpihak kepada keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika?"

Tentu gue sangat kecewa dengan kedua video ini. Gue pribadi pendukung Anies-Sandi, tapi gue sangat anti dengan orang yang tidak bisa bertoleransi. Maka dari itu gue nggak pernah mau menjadikan ras dan agama seseorang untuk gue jadikan sebagai bahan olok-olokan. Apalagi yang menyangkut politik. Karena seperti yang gue bilang di atas, it's stupid, it's unnecessary.

Walaupun gue bisa mengerti bagaimana resahnya kubu sebelah dengan segala macam demo menentang paslon mereka, perasaan didiskriminasi dan merasa disudutkan karena menjadi minoritas nggak bisa menjustifikasi kubu Ahok-Djarot untuk lantas membuat video yang malah balik menyudutkan kubu seberang. Kapan kita bisa balik bersatu lagi, kalau ada beberapa orang dari kedua belah pihak yang saling lempar-lemparan petasan?

Terlebih, salah besar memberi label orang yang tidak mendukung sebagai radikal dan intoleran, karena memilih dan tidak memilih adalah hak masing-masing orang. Dan gue sangat percaya masih banyak orang Islam di Jakarta yang sangat jauh dari kesan tersebut, yang masih menjunjung tinggi kebersamaan, yang masih menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

Walaupun gue mengimani Al-Maidah ayat 51, gue nggak merasa perlu untuk selalu mengotori news feed Facebook teman-teman gue dengan artikel-artikel yang menyudutkan atau membuat resah followers Twitter gue dengan kata-kata yang nggak enak. Karena gue tau nggak semua dari mereka adalah muslim. Dan kalaupun dia muslim dan memilih Ahok, gue nggak merasa punya hak untuk mengkafirkan dia. Untuk apa, hanya karena pilkada, gue harus menyakiti hati orang dan membuat hubungan gue dengan dia jadi rusak. Untuk apa gue ikut-ikutan memperburuk suasana?

Menurut gue, mengimani sesuatu itu bukan berarti kita harus terus-terusan mempublikasikannya di khalayak umum. Terlebih dalam kasus ini. Gue nggak mau image umat muslim rusak hanya karena keegoisan dan ketidakhati-hatian gue dalam berbicara yang akhirnya membuat gue diberi label "intoleran".

Karena udah banyak sekarang artikel luar negeri mengenai kasus blasphemy Ahok yang sering kali menyudutkan kubu gue, kubu yang berseberangan dengan Ahok. Mereka mem-portray seakan-akan kami adalah radical islamist, yang nggak mau ada non-muslim yang bisa tinggal nyaman di negeri kami.

It's wrong. It's totally wrong. Karena gue sebagai muslim meyakini setiap ajaran dari agama gue. Islam melarang gue untuk menjadi orang yang membenci. Islam melarang gue untuk mengusik keyakinan orang lain. Islam menyuruh gue untuk menjadi orang yang bijak, yang menyikapi segala hal dengan kepala dingin. Islam menyuruh gue untuk menjaga lisan, supaya gue nggak menyinggung orang lain. Islam nggak pernah mengajarkan gue untuk intoleran ataupun untuk anti dengan kaum lain. Gue tidak pernah mem-promote kebencian. Islam tidak pernah mem-promote kebencian.

Inti dari tulisan ini adalah, gue menyayangkan kedua kubu yang sering kali sama-sama kekanak-kanakan dan suka saling serang. Menyayangkan kedua kubu yang terlalu sering memainkan kartu ras, kartu agama, dan kartu-kartu lainnya yang sudah pasti akan susah buat disatukan pemahamannya, yang sudah pasti nggak akan berujung baik malah membuat kita terpecah-belah.

Entah apakah tulisan ini akan mengubah sedikit situasi sekarang ataupun hanya akan jadi another post yang membicarakan tentang pilkada, gue hanya berharap semoga kita semua bisa lebih cerdas dan lebih bijak tentunya. 

Segala bentuk kekacauan yang terjadi di Jakarta/Indonesia sekarang sebenernya bisa dihindari seandainya kita bisa berpikir dulu sebelum berbicara dan bisa menghargai orang lain yang punya pemahaman berbeda dengan kita.
Share:

3/15/2017

Sindiran Berbulu Dakwah

Selama di FHI kerjaan gue seharian cuma bikin analyte dan nontonin master defense salah satu temen satu institut. Abis bubaran gue baru inget semua bahan makanan di rumah udah habis, bahkan beras pun nggak ada. Terpaksa lah gue belanja dan ngerjain beberapa urusan dulu. Sama aja bohong sih hari ini gue balik lebih awal dari biasanya, ujung-ujungnya nyampe rumah malem juga.

Ngomong-ngomong kali ini gue bukan mau ngobrolin soal keseharian gue. Karena seperti yang lo ketahui, gue nggak terlalu menganggap keseharian gue menarik buat ditulis. Gue, seperti biasa, mau ngeluarin uneg-uneg yang udah agak mengganggu pikiran beberapa hari ini. Beberapa waktu lalu gue sempet posting "Diam itu Tidak Selalu Emas". Di sana gue ngomongin tentang orang yang mengolok-ngolok apapun yang berhubungan dengan Islam. Entah itu ajarannya, orang-orangnya, dan ulamanya. Sekarang biar adil, gue mau ngomongin the other side of the spectrum: orang Islam yang suka nyinyirin orang lain yang mereka pikir nggak lebih alim dari pada dia.

****

Beberapa minggu terakhir ini gue sering banget menemukan orang-orang yang--dengan gampangnya--nyuruh/menyinggung gue untuk cepet nikah. Nope, bukan karena gue udah di umur di mana gue--seharusnya--udah menikah. Melainkan karena gue yang berhijab, tapi malah pacaran. What a contradiction. (btw, sebenernya apa sih definisi "umur yang sebenernya udah harus nikah". Seakan-akan yang mengatur datangnya jodoh dan terjadinya pernikahan itu manusia. Gimana kalau udah umur 40 tapi jodohnya belom dateng? Salah manusianya gitu?)

So basically orang-orang ini pingin memberi tau hal yang obviously obvious; dating is forbidden in Islam. Funny enough, mereka selalu bilang kalau mereka sebegitu pedulinya sama gue, maka terbentuklah urge yang sebesar itu untuk langsung nyampein ke gue. Di sini gue dibikin bingung sebetulnya. Di satu sisi gue berterima kasih karena mereka peduli sama gue. Di lain sisi--dan yang nyatanya lebih mendominasi--adalah perasaan annoyed yang muncul tiap kali gue dinyinyirin soal ini. Apa yang biasanya gue lakuin? It depends. Sering kali gue hapus komennya. Tapi kalau udah nggak tahan, gue langsung balik bertanya. Bro, you wanna make me feel worse about myself or what?

Gue percaya kalau cara menyampaikan nasehat atau berdakwah itu sama pentingnya dengan niat. Seseorang yang berniat baik mengingatkan seorang muslim lain, yang dia lihat sedang melakukan hal yang jauh dari ajaran agama, seharusnya juga memiliki cara penyampaian yang sama baiknya dengan tujuannya tersebut. So, basically kalau ada yang bilang "Git, lo nggak boleh jadi defensive gitu dong kalau ada yang ngingetin lo." is pretty much rubbish. Karena gue yakin 100% kalau Rasulullah se-judgmental orang-orang tersebut, nggak bakal ada yang mau masuk Islam. Agama ini nggak akan pernah ada. 

Setiap kali ada hal aneh yang terjadi, gue selalu mencoba untuk put myself in their shoes. Berusaha untuk memposisikan diri sebagai pendakwah judgemental ini. Hasilnya? Gue sampe sekarang nggak bisa relate. Bertahun-tahun gue pakai internet, nggak pernah sekalipun gue pointing out dosa orang random di sosial media manapun. Nyinyir yang disimpen buat diri sendiri itu lain cerita. Setiap orang berhak punya opini masing-masing. Everyone is judgemental anyway. Tapi sampai men-transform nyinyiran/judgement tersebut menjadi kata-kata dan actually put that much effort untuk ngepost kalimat tersebut di kolom komentar itulah yang ajaib. Buat gue hal tersebut terlalu makan waktu dan energi untuk dilakukan. Apparently banyak orang yang nggak masalah membuang waktu dan energinya untuk ngedakwahin orang di forum terbuka, di dunia maya, dan bisa dilihat sama ratusan orang lainnya.

Terutama ketika hubungan antara si penasehat dan yang dinasehatin ini hanya sebatas follower dan yang difollow (seperti dalam kasus gue). Bukannya gimana-gimana, tapi gue merasa dengan adanya sosial media, yang memang tujuannya adalah sebagai platform untuk membagikan snippet kehidupan kita, banyak orang jadi merasa udah paham dari A sampai Z semua realita yang ada. Penggunanya semacam nggak tau lagi di mana batas yang nggak boleh dilewatin dan nggak tau lagi gimana caranya menghargai privasi orang lain. As a result, pengguna sosmed sangat gampang untuk mencibir orang terang-terangan di foto/akun orang. Tanpa pikir panjang kalau si orang yang diselepetin ini bisa sedih dan tersinggung. 

Dan masih nggak terbayangkan juga oleh gue, betapa susahnya mindset "orang di internet hanyalah orang di internet" untuk bisa terbentuk di otak pengguna sosmed. Those people are just strangers, yang kehidupannya nggak kita ketahui. Kita nggak tau sama sekali masalah apa yang lagi mereka hadapi, kita nggak tau situasi dan kondisi yang sedang mereka alami. Kita hanya tau 0,000001% dari semua kenyataan yang ada, walaupun tiap saat kita ngelihat foto atau vlog mereka di dunia maya. Kita sama sekali nggak berhak untuk menyinggung hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka, karena setiap manusia berhak untuk dihargai privasinya. And yes, telling someone to get married because dating is haram means you don't respect her private life. It's her life, bro. It's her life.

Gue tanya laki-laki ini, yang "wkwk-in" gue karena gue pacaran, apa tujuan dia menyampaikan hal tersebut. Dia bilang, dia nggak bermaksud apa-apa dan cuma ingin mengingatkan. Balik lagi ke pernyataan di atas, he should've found another way to approach me, kalau dia emang beneran peduli. Setau gue memojokan orang dengan dosa yang dilakukannya itu bukan bentuk kepedulian. Mungkin ada sensasi tersendiri yang dirasakan orang-orang yang suka berdakwah-padahal nyinyir ini. Mungkin ada kepuasan dalam diri mereka, bisa bikin orang lain jadi merasa buruk. Seandainya temen-temen gue yang alim-alim itu, yang gue kenal secara personal itu, nyindir-nyindir dosa gue, nggak bakalan gue kayak sekarang. Nggak bakalan. Tapi hati gue malah terbuka karena despite gue yang penuh dosa ini, mereka nggak pernah sekalipun nyinyirin gue. Nggak pernah sekalipun menyinggung gue yang saat itu pacaran sama Paulus yang masih kristen.

Itu alasan kenapa gue sangat anti dengan dakwah nyinyir di sosial media, especially from strangers. That's not how da'wah works. Islam nggak pernah promote cara berdakwah yang begini, yang malah bikin orang "begajulan" jadi makin menjauh dari kebenaran. Gue bisa ngomong begini karena gue tau betul. Gue hijrah karena saudara seiman di kanan dan kiri gue nggak pernah mencari-cari kesalahan gue, mencari-cari dosa gue, tapi mereka selalu mencari hal positif dari diri gue. Dan malah itu yang ngebikin gue termotivasi untuk jadi muslim yang lebih baik lagi.
Share:

3/04/2017

Owning Only What We Need

Kalian pernah denger tentang konsep „minimalism“ ? Selama ini mungkin kita cuma mendengar konsep tersebut dalam seni, arsitektur, dan juga musik. Tapi ternyata minimalisme lebih dari itu. Beberapa tahun ini gaya hidup minimalis sedang naik pamor. Terinspirasi dari negara Jepang, di mana tidak hanyak rumah, fashion, dan furniturnya yang simpel, ternyata kebanyakan orangnya pun menganut gaya hidup simpel ini pula. What I find interesting about this lifestyle is that we live with only things that are necessary in order to really focus on the life itself. Menurutku konsep ini semacam breath of fresh air di tengah-tengah hiruk-pikuk konsumerisme dunia modern sekarang.

Ketika aku mencari tahu tentang konsep ini aku sangat bisa relate karena mempunyai banyak barang itu bisa sangat mendistraksi fokus kita. Sering kali juga kita terlalu merasa terikat dengan suatu barang hanya karena barang tersebut memiliki memori tertentu. Tidak jarang juga kita merasa terikat dengan sesuatu hanya karena, tidak ada alasan tertentu. Rasa keterikatan inilah yang harus dibuang dan mengaplikasikan konsep minimalisme mungkin bisa menjadi cara yang jitu. Selain itu dengan minimalisme kita juga bisa membuang sifat konsumtif dalam diri kita dan akan berujung kepada hidup yang akan lebih terstruktur dan teratur nantinya. I am sure you’ve heard of this quote somewhere;


We buy things we don’t need to impress people we don’t like. 
Believe it or not, we do it sometimes. In order to fit in modern day’s society we „need“ to own certain things because sadly people do judge a book by its cover. Because if you only wear the same clothes everyday people will think you’re broke. Banyak orang berpikir hidup yang enak adalah hidup dengan memiliki banyak materi. Punya rumah, punya mobil, punya tas berbagai model dan warna, punya makeup segala merek, dan sebagainya. Aku yakin kamu nggak setuju dengan itu karena obviously it’s about how we see our lives. Karena mensyukuri hidup itu sifatnya absolut dan tidak tergantung dengan berapa banyak barang yang kita punya. But still, banyak dari kita yang membeli tas bermerek dan mereknya harus terpampang supaya bisa dilihat orang-orang. Banyak juga dari kita tanpa sadar membeli barang karena banyak orang yang punya barang tersebut. We keep buying things even though we know we will never use them. What we don’t realize is this behavior can distract us. Those things that we bought are distracting us from what is essential, from life.

Saat ini aku sedang dalam proses ke arah minimalisme. Bermula dari melihat lemari pakaian yang terlihat sumpek. Lalu aku coba menyortir pakaian yang kiranya nggak aku pakai dan aku kaget pada saat itu aku berhasil membuang pakaian, sepatu, dan tas sebanyak dua kantong besar IKEA. Setelah beberapa bulan menganut konsep ini aku jadi makin aware atas apa aja yang benar-benar aku butuh dan makin mengapresiasi apa yang aku punya sekarang. Aku pun senang karena barang tersebut akan dipakai oleh orang yang beneran membutuhkan. Aku juga jadi jarang belanja dan uang ku bisa dipakai untuk hal lain yang jauh lebih penting. Makin ke sini aku jadi makin senang buang-buang barang yang nggak perlu untuk benar-benar memerdekakan diriku dari perasaan terikat dengan materi.

Belum lama ini tahun baru. If you don’t have any new year’s resolution yet, mungkin menjadi seorang minimalist bisa jadi resolusi tahun baru kamu.

Artikel ini dimuat di majalah Gogirl! Edisi Februari 2017.
Share:

2/24/2017

Diam itu Tidak Selalu Emas

Gue kayaknya pernah nulis tentang gimana keresahan gue terhadap keadaan politik di Indonesia sekarang. Resah gue belom hilang sih. Malahan nambah. Walaupun gue nggak di Indonesia, tapi gue tetep bisa sedikit-banyak dapet update-an mengenai apa yang lagi hot. Facebook gue so far aman dan tentram. Tapi buat mencapai ketentraman tersebut nggak tau udah berapa orang yang gue unfollow karena postingan yang mereka share ataupun yang sekedar mereka like (toh ujung-ujungnya muncul juga di newsfeed gue) cukup mengganggu. Keadaan politik alhamdulillah belom merambah ke Instagram, jadi gue masih asik-asik aja scrolling liat foto-foto orang. Kalo di Path sesekali ada lah temen-temen gue yang posting nganeh-nganeh, tapi belom sampe titik di mana gue harus menghapus akun gue.

Yang tersisa tinggal Twitter. Nyatanya di Twitter ini ternyata sarangnya cancer. Tempat orang nyinyir, tempat orang bisa cuap-cuap, yang jujur terkadang bikin gue jadi pengen tobat. Oke, oke. Gue akan coba jelaskan biar omongan gue ini nggak terlalu absurd. Jadi beberapa minggu ini entah kenapa gue sering menemukan orang-orang aneh di Twitter. Terlebih sekarang nih. Di kala semua orang merasa berhak untuk berpendapat. Orang aneh jadi makin banyak. Keyboard warriors makin bermunculan. Padahal kagak kenal sama ini orang, tapi mereka willing untuk berantem-beranteman atau sekedar nyinyir di sosial media. Intinya sekarang makin banyak orang yang nggak sungkan-sungkan buat cari ribut sama orang lain.

Seaneh-anehnya orang yang suka cari keributan, menurut gue lebih aneh orang yang suka nyinyirin agamanya sendiri. Apa lagi di masa-masa pemilu kayak begini. Makin lama makin sering aja gue ngelihat orang muslim, tapi kerjaannya jelek-jelekin saudara seimannya yang dia lihat nggak memiliki pemikiran seprogresif mereka dalam beragama. Akhirnya muncul lah sekarang istilah "onta" atau "kearab-araban" buat muslim yang kiranya islam banget. Muslim yang pake celana cungkring dan berjenggot aja bisa lho dinyinyirin. Apalagi kalo orang-orang ini vokal di sosial media. Udah pasti jadi bahan ceng-cengan. Intinya jaman sekarang kayaknya lo itu dosa banget kalo terlalu deket sama Tuhan lo. Bisa dicap sebagai muslim ekstrim. Sementara sekarang orang-orang ini pinginnya muslim itu yaa biasa-biasa aja. Moderat aja.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba gue dimention sama orang yang gue nggak kenal. Sepertinya dia nggak setuju dengan pernyataan gue tentang banyaknya negara Islam yang mencampur adukkan kultur dengan agama. Terus tiba-tiba doi langsung ngomongin ayat ini dan ayat itu yang tertulis kalau Islam mengiyakan membunuh murtadin maupun kaum gay. Jadi maksud dia, konstitusi yang berlaku di negara Islam tersebut bukan berasal dari kultur, tapi dari agama Islam sendiri. Dan ujung-ujungnya doi nge-cap gue sebagai Muslim apologist. Banyak hal yang gue bingungin di sini. Pertama, kok mau ya tiba-tiba doi tanpa segan memperdebatkan hal ini ke gue, yang dia nggak kenal dan gue juga nggak pernah bersedia untuk berdebat sama dia. Tapi di sini gue udah tau jawabannya. Namanya juga era digital. Semua orang berhak bersuara. Mau suaranya itu sebenernya perlu atau nggak, yang penting ngomong. Kedua, gue amazed ngelihat gimana dia merasa udah paham betul tentang agamanya hanya karena--katanya--dia sudah "mempelajari" Quran dan Hadith dan berdiskusi dengan beberapa ulama di Indonesia. I mean, setau gue orang-orang yang mempelajari agama--karena ingin makin bertaqwa--akan semakin merasa fakir ilmu dan nggak tau apa-apa di saat dia banyak dapet ilmu. Ketiga, lucu aja ngeliat sumber-sumber ilmu dia ya orangnya sama. Sama-sama pengkritik Islam, agama yang udah sempurna.

Jujur, makin ke sini gue makin banyak nemu orang-orang kayak dia. Makin banyak gue liat orang Muslim, tapi hari-harinya dihabiskan untuk menkritik dan mencari-cari kesalahan agama dia sendiri. Satu sih pertanyaan gue. Orang-orang kayak gini nanti pas meninggal tetep mau dikafanin dan disholatin nggak sih? Ada banyak sebenernya pikiran-pikiran dan hal yang gue rasakan tiap gue nemu orang-orang macam begini, entah di dunia maya ataupun dunia nyata: gue harus terus berdoa sama Allah supaya selalu ditunjukin jalan yang lurus, jalan orang-orang yang beriman. Bayangin aja cuy. Seserem-seremnya nggak punya duit, lebih serem lagi kalo kita nggak dapet hidayah dari Allah. Gimana coba hidup jadi orang yang selalu melihat agamanya sendiri sebagai musuh? Apa coba rasanya jadi orang yang selalu suudzon sama perintah Tuhannya sendiri, benci ngeliat orang alim, nge-cap saudara seimannya dengan panggilan ekstrim? Asli dah. Mending gue kaga ada nasi buat makan dah daripada hati nurani sama iman gue ketutup.

Apalagi sekarang kayaknya lagi ngetrend kan tuh ngeceng-ngecengin ulama. Ulama jadi bahan ejekan, bahan tertawaan. Kalo gue udah liat yang begini-begini, hati rasanya langsung "nyeesss..". Nggak kebayang gimana reaksi Rasulullah kalau dia masih hidup sekarang ngeliat umatnya pada kayak begini. Ulama, coy. Orang yang harusnya kita dengerin, kita hormatin, kita junjung. Malah diolok-olok biar terlihat modern, biar terlihat moderat, dan biar keliatannya nggak islam-islam amat.

Suatu hari Paul dan gue berdiskusi mengenai hal ini. Terus dia bilang, "Kamu tuh panas orangnya, yang.". Gue bingung. Panas apaan coba maksudnya? "Kamu merasa kamu harus nyebarin ajaran agama. Kamu bukan tipe orang yang diem aja." jawab dia. Hal ini mengingatkan gue akan gimana gue dulu yang kesel liat temen-temen gue si anak-anak mesjid yang pada "bawel" banget soal agama. Dikit-dikit dakwah, nggak di mana-mana dakwah. "Nggak bisa apa lu pada kalem aja gitu?" pikir gue pada saat itu. Setelah gue makin belajar agama dan berusaha memahami cara pikir mereka, akhirnya gue ngerti. Mereka, sebagai orang yang peduli dengan agamanya, merasa memiliki tanggung jawab buat saudara muslim yang lain. Gue jadi inget sama satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib ra:

"Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik."

Hal ini lah yang bikin gue nggak pernah takut untuk terus nyebarin value agama gue dan untuk speak up tiap kali ada yang salah. Sering ada orang yang bertanya kenapa gue nggak takut akan ada "haters" yang datang karena tulisan-tulisan gue yang cukup nyablak. Karena itu tadi, sebagai orang yang tulus pingin nyebarin kebaikan, gue nggak mau kalah vokal dari orang-orang yang menyebarkan kezaliman. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal nyelamatin dunia?

Akhir kata, gue harap kalian-kalian yang masih "sehat" radar baik-buruknya nggak takut untuk menegakkan apa yang benar. Semoga kita juga dijauhin dari sifat-sifat munafik dan dijauhin dari musuh-musuh Allah. Dan yang paling penting semoga kita selalu ditunjukin jalan yang lurus dan selalu menjadi hambaNya yang bertaqwa.
Share:

2/05/2017

Menjadi Seorang Diaspora

Ketika gue menulis postingan gue yang berjudul Generasi Tutorial, gue nggak pernah nyangka kalau tulisan itu bakal viral. Yang biasanya gue cuma dapet sekitar 20an komentar, kali ini gue dapet sampe 200an. Entah apa yang nge-trigger orang-orang buat ikutan komen. Tulisan gue yang lain juga biasanya nyablak dan nggak gue filter. Karena toh gue nulisnya di personal blog yang fungsinya sama seperti buku diary, based on personal opinion. Tapi buat yang satu ini nggak sedikit orang yang gegen sama pendapat gue, which is normal. Yang nggak normal adalah orang-orang yang ngomong begini nih:

"Emang lo udah berbuat apa buat Indonesia? Bisanya cuma komentar doang."
"Alah, tinggal di luar negeri aja pake sok-sokan komentar. Pulang dulu sini baru boleh ngomong!"

Kenapa gue bilang ini nggak normal? Karena dari kalimat di atas terkesannya yang boleh berkomentar tentang negaranya sendiri adalah hanya yang tinggal di negara tersebut. Orang-orang yang tinggal di luar negeri nggak boleh ikutan berkoar-koar, walaupun kewarganegaraannya masih Indonesia.  Gue jadi bingung, orang-orang ada sentimen apa sih terhadap diaspora?

Banyak orang ngomong ke gue, selama masih tinggal jauh dari Indonesia, gue masih belom memberi kontribusi nyata. Sementara gue nggak terlalu mengerti sebenernya yang dimaksud "kontribusi nyata" oleh mereka itu apa? Apa gue harus jadi presiden kah? Jadi menteri? Jadi pemimpin partai? Jadi politikus? Jadi aktivis HAM? Karena sebetulnya, yang mungkin nggak dimengerti oleh orang-orang yang tinggal di Indonesia, para diaspora di luar negeri nggak membawa namanya sendiri. Yang dia bawa adalah negara dan bahkan agamanya. Dengan berlaku sebagai citizen yang baik di negara yang ditinggali sekarang menurut gue sudah menjadi bentuk kontribusi. Karena lagi, toh kami adalah representasi dari negara asal kami.

Karena keseringan mendengar kata "kontribusi nyata" lama-lama gue jadi merasa orang-orang yang sentimen dengan diaspora sebenernya nggak ngerti apa yang mereka omongin. Mungkin dipikiran mereka tinggal di luar negeri itu selalu enak kali, ya. Nggak ada susahnya, hidup serba nyaman, jalan-jalan pake coat sambil minum coklat panas menerpa udara dingin. So, to clarify, gue akan sedikit menceritakan gimana pengalaman gue tinggal di luar negeri supaya kalian ada bayangan.

Gue nyampe ke Jerman tahun 2010. Saat itu gue masih umur 18 tahun. Masih remaja, masih labil, baru lahir kemaren. I don't know about you guys, tapi "dipaksa" untuk beradaptasi dengan lingkungan yang completely different di umur yang masih muda itu cukup challenging. Terutama ketika semuanya harus dihadapi sendiri tanpa orang tua. Gue harus menyerap segala sistem yang ada di Jerman dan mengubah cara gue berpikir, bertingkah, dan ber-ber-ber lainnya supaya gue bisa berintegrasi dengan baik. Mungkin banyak orang berpikir kalau galau tinggal di luar negeri itu cuma sebatas galau karena jauh dari rumah. But for me, jauh dari rumah adalah hal terakhir untuk digalauin. Galau akademik adalah salah satu yang bikin semua ini begitu sulit. Karena bukan gimana-gimana, coy. Kalau taunya kita gagal ujian, kita bisa dikeluarin dari universitas dan ujung-ujungnya balik ke Indonesia. Bayangin berapa banyak waktu, energi, dan materi yang udah keluar tapi ujung-ujungnya malah nggak dapet gelar. Dan kuliah pake bahasa Jerman, di universitas Jerman itu nggak gampang. Boro-boro mau dapet nilai bagus, lulus aja udah sukur. Bukan itu aja. Nggak semua orang yang tinggal di luar negeri itu orang kaya, gue contohnya. Kalau gue kasih liat berapa duit di rekening gue sekarang mungkin lo semua pada kaget. Maka dari itu mahasiswa di sini rata-rata harus kerja cari duit sendiri. Bukan buat liburan, bukan buat nambah uang jajan. Tapi buat makan dan bayar uang sewa apartemen. Gue harus selalu muter otak gimana caranya gue bisa dapet duit. Entah itu kerja di pabrik, di cafe, atau kayak sekarang nih, gue menjadikan YouTube sebagai source income. I can tell you keadaan ekonomi gue nggak seberapa nelangsa. Ada banyak mahasiswa yang lebih susah dari gue dan alhasil kuliahnya nggak lulus-lulus karena harus kerja terus. Belom lagi kalau ada masalah personal yang muncul seperti masalah keluarga, masalah sama temen, dan masalah-masalah lainnya. Dan yang paling penting adalah harus menjalani proses pencarian jati diri dan adulting tanpa bimbingan siapa-siapa, nggak ditemenin keluarga dan orang-orang yang wajahnya familiar, ternyata susahnya minta ampun. The bottom line is: ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram. Dan ini semua bukan cuma terjadi sama gue. Semua student Indonesia yang gue kenal di Jerman mengalami hal yang sama.

Menghadapi realita, kesulitan, dan keribetan tinggal di luar negeri, tapi masih menjadikan si negara tercinta sebagai topik pembicaraan setiap kali kita ngumpul, menurut gue adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Tandanya WNI di sini masih peduli sama kampungnya. Nggak lantas langsung "Bhay!!! Gue udah enak tinggal di Jerman. Gue ogah ngurusin Indo lagi.". Bukan cuma sekedar berdiskusi, in fact kita selalu mencari cara gimana supaya kita bisa bantu sedikit-sedikit sesuai porsi yang kita bisa. Dan yang harus dipahami, setiap orang punya hak dan preferensi masing-masing gimana cara dia berkontribusi untuk negaranya. Ada orang yang lebih prefer untuk mengaplikasikan ilmu yang dia dapet waktu kuliah di Jerman dulu untuk terjun langsung ke sektor-sektor yang masih harus dibenerin. Ada yang lebih prefer untuk jadi orang sukses di Jerman karena toh kayak yang gue bilang berkali-kali, dia adalah representasi negara asalnya. Ada juga orang-orang yang kayak gue, yang memanfaatkan sosial media buat menggerakan anak muda Indonesia supaya bisa proaktif untuk bangun negara. Nggak ada yang salah dengan semua itu. Toh semuanya positif, semuanya bermanfaat, dan semuanya adalah buat Indonesia. Maka dari itu menurut gue sangat childish kalau masih ada orang-orang yang seakan-akan membungkam mulut diaspora dengan embel-embel "belom memberi kontribusi nyata".

Sebenernya ada banyak hal yang orang-orang tersebut nggak pahamin. Wajar, seseorang harus ngerasain dulu gimana tinggal di luar negeri yang sebenernya baru bisa ngerasa relate (tapi kalau gue ngomong kayak gini biasanya sih gue langsung dicap sombong. Yasudahlah, toh gue hidup bukan buat menyenangkan semua orang). Salah satunya adalah kenapa banyak diaspora yang terlihat agak sungkan untuk pulang (for good). Ada satu temen gue yang dulu S2 di Belanda. Sekarang studinya udah kelar dan dia udah balik lagi ke Indonesia. Suatu hari gue chatting sama dia. Ternyata dia lagi galau. Dia kangen sama Belanda katanya. Wajar lah ya, gue ngebayangin kalau gue udah lama tinggal di Jerman terus gue balik ke Indonesia, pasti gue akan kangen. Salah satunya kangen sama Kubideh dan Döner Kebab. Tapi ternyata dia bukan cuma kangen negaranya, tapi juga sama kehidupannya. Ada rasa ketakutan dalam dirinya dia. Karena setelah semua pengalaman, cerita, suka, dan duka yang bener-bener jadi pelajaran berharga buat dia, yang dialami hanya sekitar 2 tahun tinggal di tanah Eropa, dia harus balik lagi ke lingkungan yang itu. Lingkungan yang pada kenyataannya kurang kondusif untuk bikin manusianya tumbuh jadi lebih baik. 

Gue sangat paham dengan ketakutan temen gue ini, karena jujur gue juga merasakan hal yang sama. Sesulit-sulitnya tinggal di negeri orang, tempat ini lah yang bikin gue jadi orang yang kayak sekarang. Di tempat ini lah gue bisa belajar banyak hal yang berguna, bukan cuma ngurusin drama politik dan agama yang suka nganeh ataupun gosip artis masa kini. Sebelum gue diserang oleh orang yang sensitif, let me tell you this: gue tau dan gue udah liat sendiri, ada lingkungan-lingkungan sehat dan positif di Indonesia yang pastinya akan sangat suportif terhadap pertumbuhan kualitas gue sebagai individu. Tapi mereka nggak mainstream. Pertanyaannya adalah apakah nanti gue akan cukup kuat untuk nggak keikut arus utama? Apa nanti gue bisa tetap menjaga kualitas percakapan dan cara berpikir walaupun gue dikelilingin sama society yang mayoritas masih superficial? Gue nggak tau apakah gue akan tahan dikelilingi orang-orang yang lebih seneng ngomentarin alis orang lain ketimbang ngomongin sesuatu yang bikin pinter. Gue juga nggak tau apa nanti gue bisa sabar sama orang-orang yang ngomongnya janjian jam 1 tapi baru dateng jam 3. Dan gue juga nggak tau apakah gue bisa tetep di zen-mode ketika mobilitas gue super terganggu dan gue nggak bisa ngelakuin semua yang udah di-plan untuk hari itu karena jalanan di Jakarta nggak bisa diprediksi? Belom lagi gue harus menghadapi situasi yang sebenernya bisa diselesain secara cepat dan efisien, tapi sayangnya Indonesia masih menganut prinsip "Kalo bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?".

Terlebih karena sekarang gue udah memasuki umur 25, gue udah mulai kepikiran tentang keluarga. Gue emang belom nikah, tapi gue udah mulai berpikir di mana gue harus membesarkan anak gue supaya dia bisa tumbuh jadi orang yang kritis dan punya prinsip kuat. Gue aktif di sosmed. Gue suka mengobservasi apa aja yang lagi in di antara remaja dan gimana kelakuan anak muda sekarang. Dari yang gue liat, anak-anak muda yang cemerlang masih jauh lebih sedikit ketimbang yang begitu-begitu. Sekarang aja pergaulan udah makin aneh, apalagi nanti di jamannya anak gue? "Tapi kan itu tergantung orang tuanya, Git.". Ya, memang. Tapi gue pernah ngerasain gimana jadi anak yang tumbuh besar di Indonesia dan gue pun ngelihat sendiri gimana anak-anak yang besar di Jerman. Gue melihat orang tua di Jerman seperti punya kontrol lebih besar terhadap anaknya. Pergaulannya, agamanya, akademisnya, semuanya lebih mudah untuk dijaga dan pengaruh buruk dari luar lebih bisa difilter. Gue nggak tau kenapa, sih.

Selain itu gue juga harus mempertimbangkan kenyataan kalau untuk menjadi fully independent mother (or mother-to-be) di Indonesia itu sulit. Ketika nyokap mengandung gue dulu, dia nggak perlu minta anterin siapa-siapa atau tergantung dengan orang lain hanya karena dia lagi berbadan dua. Belanja bisa dikerjain sendiri, ke mana-mana bisa jalan sendiri karena toh transportasi di Berlin juga sangat mementingkan kenyamanan penggunanya. Juga untuk ibu-ibu yang punya anak bayi. Nggak perlu pake mobil, tinggal bawa stroller mereka bisa jalan sama anaknya. Nggak perlu takut kenapa-kenapa ataupun cemas dengan polusi udara. Taman-taman buat berjemur juga banyak. Bersih pula. Makanan buat si anak juga bisa lebih terjaga karena di sini penjualnya masih punya rasa tanggung jawab. Kita nggak perlu takut sama produk-produk yang ditambahin bahan kimia.

Intinya adalah kalau ada WNI yang nggak mau balik lagi ke Indonesia, gue rasa doi bukannya udah lupa sama negara. Ada banyak pertimbangan yang dia punya, yang kita nggak tau. Menurut gue setiap orang berhak untuk memilih apa pun yang menurut mereka terbaik buat dirinya. And who are we to judge?

Yha, gue jadi ngelantur. Ya intinya gitu, lah. Nyinyirin diaspora yang mencoba untuk memberikan opini dan pemikiran terhadap negaranya itu nggak akan menyelesaikan masalah. Nggak bikin Indonesia jadi maju dan yang pasti nggak bikin orang-orang di Indonesia lebih berhak untuk berkomentar. Berprasangka baik dan mensupport apapun yang udah dilakukan oleh setiap warga negaranya mungkin adalah the best thing to do. Karena kita-kita, diaspora, nggak akan lupa kok sama negara. Mau di mana pun kami tinggal, hati kami tetap Indonesia.
Share:

1/25/2017

New York Calling - Day Two

I'm back with my New York story! Setelah postingan kemaren yang bikin banyak orang gonjang-ganjing, sekarang gue mau nulis tentang yang santai-santai aja LOL. So, what did I do on day two? Karena di hari pertama jadwalnya padat banget, malam harinya gue butuh waktu cukup banyak buat istirahat. Alhasil di hari kedua gue keluar rumahnya agak siangan. First thing I did was having lunch. Di Berlin gue sangat jarang menemukan kesempatan untuk makan di restoran Korea. Eyke student, bok. Kalau makan di luar mulu bisa-bisa hari selanjutnya gue cuma makan nasi sama garam doang. Tapi karena kali ini gue lagi liburan gue jadi punya alasan untuk justifying keinginan gue makan makanan Korea. Bokap dan gue pun ketemuan di Grand Central Terminal dan googling kira-kira di mana ada restoran Korea yang enak. Di Queens ada daerah namanya Flushing. Di situ ada China Town yang juga banyak restoran dan bahkan toko kosmetik Korea. Queens letaknya di sebelah kanan atas kalau di peta. Cukup jauh, sih, dari tempat kami biasa main. Jadi kami harus naik subway cukup lama untuk sampe ke sana.

Table full of Banchan

The food was really delicious. Kita dapet banyak banchan atau side dishes yang belom pernah gue dapet sebelumnya di restoran Korea di Berlin. I was surprised that I got the fish as side dish as well dan super excited karena dari dulu gue pingin banget nyobain ikannya. Ternyata doi agak annoying buat dimakan karena durinya buanyak banget! Gue pun agak surprised karena biasanya kalau pesen Bulgogi di Berlin nggak dapet lettuce wrap, tapi di sini dikasih dan banyak pula.

Setelah makan gue pun nggak menyianyiakan kesempatan untuk belanja fask mask di toko Skin Food. Kebetulan saat itu mereka lagi ada sale $1 untuk satu mask pack. Karena lagi-lagi di Berlin nggak ada begituan dan harus banget pesen lewat online, gue borong cukup banyak. Kalo nggak salah gue beli sampe 15 biji plus sekalian beli black sugar mask.

Tujuan selanjutnya adalah World Trade Center site, another touristy spot. Area yang dulu sempet disebut sebagai "Ground Zero" ini terletak di Lower Manhattan. Lower Manhattan ini kawasan perkantoran. Isinya dipenuhin sama gedung-gedung tinggi yang cantik kalo dilihat dari jauh, tapi rada bikin sesek kalo kita lagi ada di tengah-tengahnya. Gue inget banget pertama kali gue sampe di WTC site satu hal yang gue ucapin adalah, "Pas WTC masih ada ini tempat sesak juga, ya? Nggak bakal dapet sinar matahari.". Di spot gedung WTC sekarang udah dibangun memorial semacam kolam gede yang sisi-sisinya diukir nama-nama korban yang meninggal pada kejadian 9/11 namanya National September 11 Memorial. Di sebelahnya ada National September 11 Museum yang berisi serpihan-serpihan reruntuhan gedung WTC, foto-foto korban, barang-barang korban yang ditemuin di tempat kejadian, dan besi-besi gedung WTC yang meleleh karena ditabrak sama pesawat.

One World Trade Center





Bokap dan gue memutuskan untuk masuk ke museumnya. Bayarnya cukup mahal, $24 untuk satu orang. Berhubung gue turis dan gue pikir kapan lagi gue bisa ke sini, akhirnya ya gue masuk aja. Yang menarik perhatian adalah desain museumnya bagus. Museumnya dibuat gelap, luas, dan kosong. Kayaknya biar suasana mencekamnya dapet. Selain serpihan gedung, di sana kita juga bisa liat video, slide show, dan dengerin audio orang-orang yang berada di TKP ketika 9/11 terjadi. Satu yang mengherankan, di sana nggak dipajang serpihan pesawat yang nabrak. So far oke, sih, museumnya. Bokap dan gue selama di sana berdiskusi panjang lebar tentang konspirasi yang selama ini beredar dan dia cerita juga gimana reaksi dia ketika 9/11. Saat itu dia tinggal di California. Doi lagi di kamar mandi katanya. Terus temennya langsung manggil-manggil dia dan nyuruh bokap gue liat TV. Mereka syok nggak percaya kalo ada pesawat nabrakin gedung. Bokap gue langsung nelfon temennya yang ada di New York dan nyuruh dia liat TV. Temennya langsung teriak kaget setengah mati. Seru, sih, pas denger cerita bokap. Waktu di rumah pun gue sempet cerita ke host Airbnb gue, Juan, hari itu gue ke 9/11 Memorial dan nanya ke dia hari itu dia lagi di mana. Doi lagi di sekolah. Dia bilang dia lebih kaget ketika ada pesawat yang ke dua yang nabrak WTC. Sekolah doi pun langsung dibubarin.







Thanks to winter, hari udah mulai gelap. Kami berdua pun lanjut ke tujuan selanjutnya sebelum malam dateng. Touristy spot yang berada dekat dari Lower Manhattan adalah Brooklyn Bridge. Coming here was such a pain in the butt karena dari 9/11 Memorial somehow jalur subwaynya nggak efektif buat langsung ke tempat ini. Gue pun jadi harus jalan cukup jauh. Brooklyn Bridge adalah salah satu tempat favorit gue. Kalo lo liat ini sebenernya cuma jembatan biasa, nothing special. Tapi entah kenapa gue seneng aja berdiri di atas sana, ngeliat gedung-gedung tinggi, ngeliat mobil lalu-lalang. There is something charming about this bridge and I don't know exactly what. Anyway, waktu lagi memandang (caelah memandaaangg) jembatan ini gue sembari pegang-pegang betonnya, besinya, talinya. Semuanya sturdy banget dan wondering siapa yang ngebangun. Eh, taunya jembatan ini dibangun sama imigran dari Jerman. Nggak heran konstruksinya bagus (dasar gue aja kali, ya, yang biased sama Jerman lol).




Nggak kerasa hari udah gelap. Perasaan gue baru beberapa menit foto-foto di atas jembatan. Karena udah capek juga, bokap dan gue memutuskan untuk pulang dan lanjut jalan-jalan esok hari.
Share:

1/16/2017

Generasi Tutorial

Disclaimer: Before accussing me of generalizing you might want to read this part before moving on.  Selbsverständlich nggak semua orang Indonesia begini. Banyak anak muda yang proaktif, yang cerdas, yang jauh dari apa yang gue tulis di bawah ini. Tulisan ini murni dari pengalaman gue, opini gue, dan hasil observasi gue terhadap orang-orang yang gue temukan di internet. Kalau sedikit banyak ada perbedaan pendapat atau cara pandang terhadap masalah ini ya wajar aja. Pengalaman lo dengan gue di dunia maya udah jelas beda, orang-orang yang lo dan gue temuin juga pasti beda. Kolam kita beda, sudah pasti opini yang terbentuk akan berbeda pula. Last time I checked everybody has the right to express their thoughts and is entitled to their opinion. I'm entitled to mine and this blog is where I mostly turn my thoughts into words. I never asked anyone to agree with everything I said here because that's not the purpose of me writing in the first place. I'm open to any feedback, discussion, or your thoughts as long as it's healthy, constructive and doesn't feel lowkey offensive. So if you happen to have different opinion on this, there's no need to be overly salty. It's possible to read something we don't agree with on the internet and simply move on with our lives.

Einen wunderbaren Tag wünsche ich euch.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Kak, gimana sih caranya biar bisa kritis kayak Kak Gita?"
"Kak, gimana caranya Kak Gita bisa banyak tau tentang macem-macem?"
"Kak, biasanya Kak Gita baca berita di mana?"
"Kak, gimana sih cara Kak Gita baca berita gitu? Liat di mana? Kak Gita kan sibuk kuliah."

Pertanyaan di atas adalah beberapa dari pertanyaan lucu yang sering gue dapatkan dari orang-orang di internet. Not just funny, but until now these questions remain unanswered since I am still not able to respond to any of them.

Sejak beberapa tahun belakangan ini kayaknya pengguna internet di Indonesia makin meningkat. Mungkin karena makin lama harga smartphone dan harga kuota internet makin terjangkau, aksesnya pun jadi makin mudah. Nggak cuma di Indonesia doang kayaknya. Di belahan dunia lain orang-orang juga makin melek internet. Tua, muda, tinggal di kota, di desa, semua udah familiar dengan internet. Konklusi yang gue dapet? Kemajuan teknologi nggak lantas membuat masyarakat Indonesia mengubah tabiatnya. Nggak nyambung. Okay, let me explain it to you. Mungkin buat beberapa orang internet semacam savior kali, ya. Dari yang biasanya cuma punya TV atau buku sebagai sumber informasi, sekarang tinggal buka laptop/pc/hape dan cari informasi yang kita mau. Dulu orang-orang rantau macam gue mungkin sebelum ke luar negeri harus diajarin dulu cara masak sama nyokapnya. Sekarang tinggal cari resep dan ikutin langkah-langkahnya. Dulu mahasiswa harus banget pinjem buku di perpustakaan. Sekarang dengan bantuan Wikipedia kita bisa dapetin gelar sarjana. Lo pernah denger nama "Julius Yego"? He's an athlete from Kenya, javelin thrower, a great one to be exact. Dia kemaren berpartisipasi di olimpiade Rio. Gimana cara dia belajar jadi atlit javelin? Lewat YouTube. Mengetahui begitu banyak hal yang bisa kita pelajari di internet, pertanyaan-pertanyaan di atas jadi terlihat invalid. But you see my point? Kemajuan teknologi nggak lantas membuat masyarakat Indonesia mengubah tabiatnya.

Kalo lo tanya ke gue kenapa Indonesia, walaupun udah berkali-kali upacara 17 agustusan, sampe sekarang tetep nggak maju-maju, jawabannya adalah karena orang Indonesia itu pemalas dan nggak ada inisiatif. Semua-muanya harus dikasih tau, harus dicekokin, harus disuapin. Mungkin untuk negara maju dengan adanya internet segala urusan mereka bisa sangat terbantu, tapi nyatanya nggak buat negara kita. Terlebih anak mudanya, ya. Karena sekarang banyak konten-konten tutorial bermunculan, dari tutorial makeup sampe tutorial ngangetin makanan di mikrowave, mereka pikir semua aspek di dalam hidup juga harus ada tutorialnya. What does it lead to? Daripada buka browser, mengetik apapun pertanyaan mereka di search engine, dan pilih-pilih sendiri artikel yang mau dibaca, mereka lebih seneng nanya orang random di sosial media--disuapin langsung jawaban atas pertanyaan mereka. Oh, I know what I'm talking about. Pernah ditanya orang gimana cara ngilangin rasa malas? Pernah ditanya orang 1 euro berapa rupiah? Pernah ditanya orang harga tiket pesawat dari Jakarta ke Berlin? Gue sering. Internet adalah jendela dunia. Sorry, but it doesn't apply to my country. Internet membuat masyarakat Indonesia makin lumpuh, makin nggak ada rasa ingin tau (tapi anehnya rasa ingin tau terhadap kehidupan orang lain malah makin tinggi. Di situ lah kata "kepo" muncul), makin nggak bisa menjadi diri yang indepedent, dan makin jauh dari ekspektasi. Internet nggak membuat orang Indonesia jadi pintar. Thanks to the internet barusan gue jadi tau kapan sebenernya internet masuk ke Indonesia. Despite keberadaan internet yang ternyata sudah dari awal tahun 1990an banyak dari kita yang masih nggak tau kalau dunia maya itu (bisa jadi) lebih luas dari dunia nyata. Banyak dari kita yang masih nggak sadar kalau internet bukan sekedar sosial media. Internet bukan cuma berisi tentang info orang yang lagi lo kepoin. Internet bukan cuma diisi sama online shop. Tapi mengingat tabiat jelek orang Indonesia yang gue sebut di atas, gue pun nggak heran dengan kenyataan yang ada. Se-triggered-nya gue dengan pertanyaan 1 euro berapa rupiah, nyatanya bagian kecil dari otak gue tau kalau semua ini harus dimaklumi.

Beberapa waktu yang lalu (terima kasih kepada kehidupan politik Indonesia yang nggak berkontribusi positif terhadap kecerdasan bangsa dan kepada bangsanya juga yang memang nggak mampu untuk dikasih politik "cerdas") kita jadi sering banget denger kata "hoax". Nyatanya masih banyak orang Indonesia yang nggak bisa bedain mana berita bener dan berita boong. Nyatanya masih banyak orang Indonesia yang kemakan berita hoax dan akhirnya ribut-ribut sama strangers di internet. Lagi, se-denial gue dengan kenyataan kalau orang Indonesia gampang banget dibikin berantem sama berita provokatif, otak gue tau kalau semua ini harus dimaklumi. Jangankan memilah berita, nyari berita aja orang Indonesia males. Akibatnya banyak orang-orang yang memanfaatkan keignoranan netizen Indonesia dengan cara bikin "portal berita" nggak jelas dan nyebarin beritanya di Facebook atau di sosial media lainnya. Efektif, nggak? Banget. Buktinya berita-berita tersebut selalu viral dan comment sectionnya selalu seru dengan orang berantem. Yang lebih menyedihkan lagi adalah netizen Indonesia nggak sadar kalau mereka lagi dibodohin, tapi malah merasa fully informed dan dengan agresifnya mencoba untuk "enlighten" orang-orang yang memiliki opini bersebrangan dengan mereka karena mereka ngerasa paling bener. Indonesia, negara yang nggak tau kapan majunya.

Kemaren gue dan beberapa temen membicarakan hal yang serupa, kebutaan masyarakat terhadap dunia maya dan ketidakmampuan mereka untuk keep up dengan kemajuan teknologi. Obrolan dimulai dengan gue yang mengeluhkan pertanyaan bodoh yang sering gue dapet di sosial media, dilanjutkan dengan banyak orang Indonesia yang masih nggak tau fungsinya e-mail (padahal kalau mau main sosmed harus pake e-mail ehm.), berlanjut ke fenomena Pokemon Go yang bikin abang-abang counter hape kebanjiran rezeki karena banyak orang yang minta mereka untuk download-in game nya di hape, berakhir dengan gimana netizen Indonesia menghadapi fake news yang sekarang beredar di mana-mana. A friend then came up with the idea of an app that can help users to sort out the news. Jadi, berita di app tersebut adalah berita yang udah terkonfirmasi kebenarannya dan berita yang bersumber dari portal berita legit semata. Gue cuma bisa ketawa. "Coy, gue ngerti keinginan lo nyuguhin mereka dengan berita legit. Tapi orang-orang itu nggak ada yang download app lo in the first place.". Dikasih berita di depan muka aja yang dilihat cuma headlinenya. Boro-boro mau download app portal berita, boro-boro berinisiatif ngebandingin sama sumber berita yang lain, boro-boro berinisiatif cari sendiri berita benernya. It is sad but that, my friend, is the reality. Sekarang solusinya apa? Kalau lo bertanya ke gue apa solusinya, pertanyaannya sama membingungkannya dengan "gimana cara Kak Gita bisa berpikir kayak gini?". Gue hanya bisa mengerutkan dahi dan bertanya dengan diri gue sendiri, "Bukannya semua orang punya otak, ya? Bukannya fungsi otak buat mikir, ya?". Lalu apa solusinya? Bukannya udah ada di nature manusia untuk mencari solusinya sendiri, ya? 

Setiap kali gue berdiskusi tentang masalah ini ke Paul kami berdua selalu bertanya-tanya dan pertanyaan kami masih belum didapetin jawabannya. "Kenapa orang Indonesia nggak ada inisiatif bergerak sendiri seperti layaknya manusia normal dan nggak ada rasa ingin tau ketika mereka memiliki lubang-lubang informasi di otak mereka yang harus diisi? Kenapa mereka nggak tergerak untuk mencari tau ketika mereka sadar kalau ada banyak hal yang mereka nggak tau? Instead, hence the title of my post, masyarakat Indonesia ternyata harus selalu dituntun dan disuguhkan. Generasi kita adalah generasi tutorial. Masyarakat Indonesia ternyata harus dikasih ikan, karena mereka nggak tau caranya memancing. Wait, apa sebenernya orang Indonesia nggak sadar kalau mereka sebenernya banyak nggak tau?

Kemaren malem sembari gue beres-beres dapur gue coba pikir-pikir lagi. Terus gue iseng nelfon Paul ngobrolin tentang macem-macem, dari debat calon gubernur DKI sampe celotehan gue dan temen-temen gue di sore harinya. Bukan mau mencari jawaban atas pertanyaan gue di atas, tapi sekedar pengen mengeluarkan uneg-uneg di kepala. Entah gimana thought processnya, tiba-tiba gue dilanda rasa sedih dan pesimis. Terlalu jauh sih gue loncat dari tema netizen Indo yang males cari berita ke permasalah ini. But I tend to overthink. That's why. Sebenernya pikiran ini udah terlalu sering tiba-tiba muncul di kepala. Harusnya gue nggak menjadikan sedih dan pesimis ini sebagai reaksi lagi. Buat gue, nggak masuk akal negara yang begitu besar, yang level kesejahteraan dan pendidikannya terlalu timpang, yang kehidupan ekonominya masih terlalu terpusat di ibu kota, yang masih struggling sama urusan public transportation, harus mengadaptasi sistem yang ada sekarang. Sebenernya rakyat Indonesia belom siap buat memilih pemimpin buat mereka. Mereka belom siap buat jadi penonton permainan politik Indonesia. Gimana kita mau punya pemimpin yang beneran capable dan beneran pinter, kalau yang memilih aja gampang dibodohin sama berita palsu, gampang ditipu sama pencitraan klise, dan gampang diadu domba pake isu SARA. Rakyat Indonesia, disebabkan oleh kemalasannya sendiri, ketidakpeduliannya sendiri, dan keignorannya sendiri, cuma akan dijadiin korban. Media-media busuk yang nggak tau lagi caranya netral, politisi-politisi culas yang gampang aja pura-pura jadi domba padahal serigala, dan pejabat lain yang bilangnya pingin ngebenerin Indonesia padahal cuma pingin tahta, akan terus jadiin rakyat sebagai korban. Kita itu nggak sadar kalau kebodohan kita adalah boomerang yang berbalik. Generasi muda yang tau cara main sosial media dan bahkan bisa ngepoin orang kayak agen CIA, tapi nggak tau caranya meng-inform diri mereka sendiri, itu fatal banget. Kita lho yang nanti harus take over negara ini. Kalau kita aja segitu butanya dengan sekitar, cuma tau apa yang lagi nge-trend doang, cuma tau apa yang menghibur doang, cuma tau cara pake Instagram doang, tau cara nanya orang di Ask FM tapi nggak tau caranya googling, tau caranya posting foto lagi makan di restoran kece ke Instagram tapi nggak tau caranya baca berita--nggak tau caranya nyari berita, nonton YouTube cuma nonton vlog doang,  cuma nonton makeup tutorial doang, mau pake jilbab aja harus lagi-lagi liat tutorial, cara belajar mesti liat tutorial, mencari motivasi kuliah aja harus minta cariin sama orang di Ask FM,

Indonesia mau dibawa kemana?
Share:

1/10/2017

New York Calling - Day One

Hari pertama di New York dimulai dengan ketemuan dengan bokap di Grand Central Terminal. Gue yang tinggal di The Bronx butuh waktu sekitar 40 menit untuk ke Downtown. Karena gue juga udah terbiasa dengan sistem subway, gue nggak ada masalah untuk beli tiket dan ke sana sendirian. Pagi itu gue pake tiket single ride karena gue masih belum tau apakah worth it beli tiket subway yang 7 hari. Gue belum tau apakah tempat-tempat yang akan gue kunjungi itu jauh-jauh atau bisa dijangkau jalan kaki. But I ended up buying the 7 day metro card karena yang single ride cuma valid 2 jam dan nggak bisa buat bolak-balik.

Single ride metro card costs $3

I recommend you to buy this one if you're planning to stay in the city for a week or so. It costs $31.


Sesampainya di Grand Central Terminal kita berdua langsung cari sarapan. Karena gue nggak sempet makan banyak kemarennya pas bangun gue laper abis dan gue nggak sempet beli makan buat ngemil-ngemil. Gue langsung tau mau makan di mana: Shake Shack. Awalnya gue nggak ada intention buat makan burger pagi-pagi. Because, hello! Siapa coba yang makan daging buat sarapan? Tapi pas ketemu Shake Shack gue langsung meyakinkan bokap gue kalo ini adalah pilihan yang tepat lol. Restoran cepat saji ini emang udah masuk what-to-eat list gue karena dari yang gue denger burgernya enak untuk ukuran restoran fast food. Untung banget kita sampe di sana ketika dia baru buka. Kami jadi nggak perlu ngantri panjang-panjang. 

Okay, sebelum kita membahas burger dewa ini, I want to take sometime to appreciate the beauty of Grand Central Terminal. Gue tau gue tinggal Eropa dan mestinya gue udah terbiasa dengan bangunan-bangunan lama. Tapi yang satu ini menurut gue tetep unik. It felt so classic. Bukan European classic, tapi American classic. Ketika gue turun dari subway dan pergi menuju main hall terminalnya, gue berasa kayak di film. I was so mesmerized by all the details that complete the whole american classic atmosphere. Bayangin, seragam petugas di terminal ini aja layaknya petugas kereta jaman dulu. It fits the whole theme! This place is also huge. Saking gedenya gue ampe nggak tau gue mesti kemana. Di setiap section terminal ini selalu aja ada tempat-tempat aneh. Di lantai bawah ada food hall, di sisi sebelah mana lagi ada semacam food market, di sisi yang lain lagi ada toko-toko. Intinya ini tempat cocok buat main petak umpet.

Stasiun ini selalu dipenuhi oleh orang-orang

Of course, the American flag

Cool hat! Don't you agree?

Arsitektur luar Grand Central Terminal


Now let's talk about the burger. Burgernya enak. Level enaknya makin nambah karena perut gue juga lagi kosong. Pattynya jauh lebih juicy ketimbang burger di McDonald's yang super kering kayak berasa lagi makan dendeng (jangan disamain sama burger €1-nya McD kali, Git). Yang lebih enak adalah bun nya. Rotinya nggak terlalu kaya roti burger fast food karena it looked and tasted like "real bun" (if you know what I mean). I remember shoving it into my mouth in just like 10 minutes sampe bokap gue nanya "Gita masih laper?". Nggak, pa. Laper dan burgernya emang enak.

Look at this beauty!


Setelah sarapan bokap dan gue beranjak dari Grand Central dan menyusuri sekitaran kota. Tujuan pertama kita adalah Empire State Building. Setelah gue perhatiin ternyata hampir semua tourist attractions di New York bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jadi ketika lo udah berada di Downtown Manhattan, lo nggak terlalu butuh naik subway terus sebenernya. Kecuali kalo lo nggak suka atau nggak terbiasa jalan banyak. Tapi karena gue emang sangat suka jalan, jadi gue seneng-seneng aja. Sampe terkadang gue lupa kalo bokap gue udah tua dan nggak bisa lama jalan kaki. My first glance of the city was the buildings and pretty crowded street. Gue langsung dapet feel kalau New York memang pantes disebut sebagai kota tersibuk di dunia. Karena emang ini kota metropolitan banget. Everyone was moving fast, hustling, looked busy and always in hurry. Di satu sisi gue yang turis ini butuh pace lebih lambat untuk menikmati kota ini. That's one thing I found a bit hard to do there, trying to slow down when everyone was moving rapidly. Karena para New Yorker ini selalu tergesa-gesa, gue harus selalu aware untuk nggak tiba-tiba berhenti ketika lagi di jalan untuk liat peta atau ngambil foto suatu gedung. Gue harus melipir ke sisi kiri dulu. Kalau nggak gue bisa kena marah dan mengganggu kelancaran lalu lintas di trotoar. Yep, New York adalah satu-satunya tempat di mana gue berasa kayak lagi nyetir di jalan raya, padahal gue lagi jalan kaki di trotoar. Mungkin lain kali gue bahkan harus nyalain lampu sen biar orang belakang gue tau kalo gue mau belok. But what I like about this city is the fact that the pavement is huge. Trotoarnya bisa muat ampe dua mobil kali ya, jadinya emang nyaman banget buat pejalan kaki walaupun harus macet-macetan atau harus jalan tapi lari kayak orang jogging.





Okay, where are we now? Ah iya, Empire State Building. Di sini lo bisa ngeliat kota New York dari atas, dari lantai 86 atau lantai 112. Harga naik ke lantai 86 lebih murah ketimbang kalau lo naik sampe ke lantai 112. Sebagai student dan bukan anak konglomerat sudah tentu gue memilih yang harganya lebih murah. Was it worth the money? Absolutely. Melihat pemandangan New York skyline adalah salah satu kegiatan yang HARUS lo lakukan at least once in your life time. It's that beautiful and you won't get any view like this other than in this city.





Selama di atas gue selalu terpana ngeliat setiap bagian New York. Manhattan literally penuh dengan gedung-gedung tinggi sampe di point di mana menurut gue kota ini terlalu banyak gedung. As a person living in Germany gue ngeliat NY kurang lahan hijau dan sebenernya kalau lama-lama tinggal di Manhattan mungkin sesek juga kali ya. Bangun tidur yang dilihat gedung, pergi ke kantor lihat gedung, pulang ke rumah lihat gedung. Tapi di satu sisi itulah yang bikin NY itu charming.


Setelah menghabiskan waktu di Empire State Building bokap dan gue lanjut ke tujuan selanjutnya, Times Square. Dalam perjalanan menuju sana, kita ngelewatin Bryant Park dan New York Library. There's nothing that special about Bryant Park tho. Hanya terdapat kios-kios kecil yang kayaknya ada di sana dikarenakan lagi suasana menjelang natal dan arena ice skating yang cukup penuh.




After a lot of walking and (maybe) riding a subway we finally made it to Times Square. First impression? It wasn't like how I had in mind. Gue kira Times Square akan vavavoom dan over the top, but in the reality it was just a place full of billboard and light. Area Times Square dan Broadway lebih berantakan dan kotor dibanding area lain di New York. Mungkin karena isinya juga turis dan orang-orang yang pake kostum aneh-aneh buat foto bareng turis. Intinya gue nggak impressed. But to be honest Times Square lebih menarik ketika di malam hari. It reminded me a bit of Las Vegas yang terlihat berantakan di siang hari, tapi ketika malam kota nya jauh lebih indah dan lebih hidup. But it was pretty amazing seeing something you normally saw on the internet. Now it was in front of you. It felt surreal.

Billboard, billboard everywhere


Times Square selalu penuh dengan orang (duh)


Tujuan selanjutnya adalah Rockefeller Center. Sampe sekarang gue sebenernya nggak ngerti Rockefeller Center itu apa. Di sana ada studio NBC dan pohon natal terbesar di New York yang biasa kita lihat di film Home Alone 2 dan yang jelas ini adalah salah satu tourist attraction juga. Ah, satu lagi. Di deket Rockefeller Center ada salah satu tempat yang wajib gue datengin, Magnolia Bakery. Gue lebih excited sama itu sih karena finally gue bisa nyobain banana pudding yang terkenal itu!

That famous christmas tree
Huge picture of Jimmy Fallon in the NBC merchandise store

Not the one in Sex and The City, but I came here just for the banana pudding

Sebelum gue jalan-jalan ke New York gue banyak research di internet tentang apa aja yang harus gue cobain. Then this bakery came up on the list. I've heard about this place before but not really in details. Lalu gue pun baca-baca blog orang, forum, dan nonton video NY travel di YouTube kalau tempat ini is a must to visit. Of course I bought the banana pudding and that thing only (because I'm not into cupcake and other stuffs). They came in three different sizes; small, medium and large. The small one would be enough if you just wanna try how it tastes. It's enough for you to enjoy without getting sick or anything. Rasanya gimana? Enak banget. I'm a fan of banana anything and this one is not an exception. It tastes really creamy and they put the real banana inside. Gue bawain Paul yang size medium dan dia juga suka banget.

Make sure to get your hands on this little fella if you come to New York


That's it. That's what I did on the first day. I hope you guys enjoy my story. Bear with me because there are still a lot to come.
Share:

1/08/2017

New York Calling - Arrival

Hari itu adalah hari yang gue tunggu-tunggu. Tanggal 20 Desember 2016 gue berangkat dari Berlin Tegel ke New York JFK. Sehari sebelumnya di Weihnachtsmarkt am Breitscheidplatz terjadi terrorist attack. Seorang cowok nabrakin truk gede yang dia rebut dari supir perusahaan besi asal Polandia ke pasar natal ketika orang-orang lagi rame. Pada hari itu doi belom ketangkep dan lagi melarikan diri. Seperti yang pernah gue sebut di salah satu video gue di YouTube gue takut banget. Takut tiba-tiba depan gue ada orang bom bunuh diri karena bandara sangat memungkinkan jadi sasaran selanjutnya. Tapi alhamdulillah imajinasi gue yang terinspirasi dari film itu nggak terjadi.

Tadinya gue ke New York pingin naik Air Berlin, tapi pas gue check lagi ternyata ada lagi maskapai yang lebih murah saat itu. Jadilah gue naik American Airlines. Perjalanannya nggak terlalu lama ternyata. Dari Berlin gue harus terbang dulu ke London Heathrow yang cuma memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit. Dari sana gue cuma transit selama 2 jam dan lanjut lagi ke New York yang juga cuma 7 jam. Kali itu adalah kali pertama gue naik American Airlines. Kesan dan pesan gue sih standar aja. Makanannya lebih sedikit daripada yang biasanya gue dapet kalau gue naik Emirates. Seinget gue, gue selalu dikasih makan sampe gue nggak pernah laper di pesawat kalau gue balik ke Jakarta dari Berlin. Film di pesawat juga standar aja seperti maskapai pada umumnya. Ada satu yang menarik perhatian gue. Ketika di London sebelum gue naik pesawat gue harus melalui security check di depan gate flightnya. I'm not talking about security check bandara pada umumnya, ya. Tapi security check dari pihak American Airlinesnya. Penumpang selain american citizen ditanya-tanyain seperti pada saat ngambil U.S. visa. Selain ditanyain alasan gue ke sana dan berapa lama gue akan stay, gue sampai harus ngasih alamat tempat gue tinggal selama gue di Amerika. Nggak cuma sekali lho, tapi dua kali. Pertama sama mas-mas yang berdiri di depan awal antrian (dia cuma nanya gue asal dari mana dan apa kerjaan gue di Jerman). Kedua sama mas-mas yang biasa ngescan tiket di gate (dia yang minta alamat lengkap gue, dsb). Aneh karena belom pernah gue liat ada security check depan gate kayak gitu sebelumnya. But whatever, it's United States after all.

Jam 11an malem pesawat gue mendarat di bandara John F. Kennedy. Beda banget dengan terakhir kali gue ke Amerika, sekarang kita nggak mengisi declaration form secara manual. Semuanya udah bisa dikerjain secara automatis dengan Automated Passport Control. Dengan program punya U.S Customs and Border Protection ini kita cukup ngescan paspor, ambil foto muka kita, dan ngejawab beberapa pertanyaan standar di satu mesin ini. Setelah selesai akan keluar semacam receipt yang harus kita kasih ke petugas imigrasinya. Entah akan diapain itu kertas. Petugasnya juga biasa aja sih, nggak serem.

Automated Passport Control kiosk

Setelah selesai semuanya gue cepet-cepet ambil bagasi dan keluar untuk ketemuan dengan bokap gue yang ternyata udah sampe duluan. Dari sana kita berdua naik Uber buat ke AirBnb gue. Dari JFK ke Downtown naik Uber ternyata cukup mahal walaupun harganya flatrate. Lo akan kena biaya $69 tanpa harus bayar biaya tol. Selama di New York gue memilih untuk tinggal di Airbnb. Entah kenapa gue seneng aja tinggal di sana. I've had some experiences with Airbnb and all of them were great. Selain harganya lebih murah ketimbang kalau stay di hotel, gue juga bisa ngobrol-ngobrol sama yang punya rumah. Airbnb gue letaknya di The Bronx, tepatnya di daerah University Heights. The Bronx ini bukan daerah fancy kayak Manhattan, tapi cukup nyaman. Kebanyakan yang tinggal di sana adalah orang hitam dan orang latin. Jadi setiap gue keluar rumah atau pulang, gue selalu satu kereta sama orang-orang itu. Asik sih, walaupun kalau diliat-liat kocak aja karena gue selalu menjadi satu-satunya cewek Asia pake kerudung di dalam gerbong. Kamar gue cukup nyaman dan tempat tidurnya gede. Yang stand out dari Airbnb kali ini adalah hostsnya asik-asik banget. Rossy adalah backpacker. In fact dia pernah ke Indonesia tapi bukan ke Jakarta. Gue bilang ke dia nggak usah ke sana karena nggak ada yang menarik selain liat mobil lagi macet-macetan di jalan. Adeknya, Juan, adalah bagian dari NYPD. Orangnya kocak banget, chill, outgoing, dan friendly abis. Saking friendly-nya gue sama dia sampe pernah maen PS bareng. Padahal gue udah bilang gue nggak bisa maen game console gara-gara pas kecil nggak diizinin main game sama nyokap. But he insisted to teach me karena dia bilang game sekarang itu nggak cuma sekedar game, tapi ada ceritanya juga. So bad that I didn't have a chance to take photo together with them. I didn't even get to take a picture of my room!

Map of New York City

Malem itu gue capek banget tapi excitement gue jauh lebih gede dari pada rasa capek gue. I couldn't wait to explore the city karena dari dulu gue sangat amat pingin banget ke kota ini. Entah karena banyak film yang gue tonton berlatarkan New York atau memang U.S memiliki tempat spesial di hati gue since it was the first country I visited. Gue ngecheck lagi travel itinerary yang udah gue bikin jauh hari sebelumnya untuk mastiin tempat aja yang akan gue kunjungin besok. Yang nggak kalah penting adalah makanan apa yang harus gue cobain.


Stay tuned because I got bunch of stories to tell you about!
Share:
Blog Design Created by pipdig