A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

7/24/2017

Ketika Realita Berasa Mimpi

Beberapa bulan lalu gue dikontak oleh partner manager gue di YouTube. Jadi begini, teman-teman. Seorang YouTuber dengan subscriber 100.000 ke atas akan dapet partner manager. Gunanya apa? Channelnya bakal ada yang manage. Maksudnya, channel kita akan dicheck terus statsnya. Bagus atau enggak, terus opportunity dan cara apa lagi yang bisa kita dapet atau lakukan untuk expand channel kita. Biar views dan subscribersnya makin banyak. Intinya kita jadi bisa bener-bener berurusan sama YouTube-nya langsung.

Nah, setelah itu si Kelvin, partner manager gue ini nanyain apakah gue up for a program called Creators for Change, yaitu program dari Google dan VICE Media untuk memerangi masalah sosial sekarang. Dia bilang, channel gue dipilih sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia. Dipilihnya langsung sama Google dan ambassador dari Indonesia (Cameo Project).

Jujur, waktu ditanya kayak gitu gue nggak merasa gimana-gimana. Karena yaa lo tau gue. Nggak mau kepikiran soal begituan. Takutnya gue jadi overly proud, jumawa, padahal jadi juga belom. So I was like, "Okay, that's cool.". Ditambah lagi, gue nggak ngerti sebesar apa program ini dan ada berapa orang yang berkecimpung and what not. Intinya gue nggak mau tau detailnya. Lagi, supaya gue tetap berpijak. Takutnya kalau nggak jadi, gue akan kecewa.

Selang beberapa minggu, ternyata programnya beneran jadi. Dari yang gue kira cuma wacana-wacana doang, ternyata gue beneran dipilih. Kata Kelvin, dari Indonesia cuma ada tiga channel: Film Maker Muslim, Jovi Hunter, dan gue. Kata Kelvin lagi, gue akan rapat dengan orang YouTube/Google yang pas gue liat e-mailnya ternyata nama bule dan dia bekerja di Google HQ di USA. Makin-makin lah gue nyadar kalau program ini beneran serius. Waktu kemudian dapet e-mail dari si bule YouTube, reaksi gue cuma, "Waaww....".

Pas akhirnya meeting sama Paul dari Google dan satu cewek dari VICE yang gue lupa namanya, gue deg-degan. Lebih ke starstruck, sih. Gue makin bingung kenapa hidup gue begini. Kenapa gue bisa dikasih sebegininya. Perasaan dulu gue nge-YouTube beneran karena ingin memperbaiki situasi dan kondisi YouTube Indonesia. Kenapa sekarang gue ampe meeting segala di Google Hangout sama bule-bule ini. Intinya gue lebay, tapi karena gue emang nggak expect, jadi wajar lah kalo gue lebay.



Setelah rapat, menyelesaikan segala macam yang administratif, barulah kemudian YouTube launched program ini. YouTube Creators for Change. Ada 28 channel terpilih dari seluruh dunia. Bayangin, coy. Seluruh dunia dan gue salah satunya. Dan gue satu-satunya cewek dari Indonesia. Ini gue bukan pamer, tapi sampai sekarang sering kali gue merenungi hidup gue. Sampe sekarang pula gue masih nggak percaya. Btw, buat pembaca baru, gue emang doyan merenung. Sering kali merenung itu jauh lebih asik ketimbang ngobrol sama orang.

Baru lah gue tau di antara 28 fellows ada Muslim Girl, Amani, yang sering banget gue liat di video-video yang gue tonton. Ada Evelyn from the Internets yang juga gue suka banget karena dia sangat kocak. Dan gue harus nyubit-nyubit pipi gue berkali-kali buat sadar. Ambassador dari program ini salah satunya adalah John Green, Dina Tokio, dan Natalie Tran (Community Channel), yang gue persönlich sangat-sangat adore.

Diberi tahu juga kalau kita akan diberi semacam training yang dilakukan di YouTube Space dan diberi budget $10.000 untuk merealisasikan video kita. Makin lah gue megap-megap. Pertama, karena gue baru sadar Google duitnya banyak banget. Kedua, gue nggak merasa pantes untuk dapetin ini semua.

Sampe akhirnya 3 minggu lalu gue diundang ke YouTube Space London untuk mengikuti Social Impact Camp selama 2 hari. Gue kira camp-nya bakal diadain di India, taunya di sana. London, bok. Walaupun karena kebodohan gue, gue hanya menghadiri hari terakhir.

Tau nggak kenapa gue selama tinggal tetanggaan sama UK, gue belom pernah mau ke sana? Karena harus apply visa dan bayarnya mahal. Belom lagi di sananya. London terutama, kota mahal. Nggak akan mungkin mahasiswa kayak gue mau foya-foya liburan di sana. Mungkin bisa kalo dipaksain (balik-balik cuma makan nasi tok), tapi hati ini nggak rela. Mending duitnya buat bayar apartemen dan asuransi.

Buat tiket pesawatnya, gue dikasih yang World Traveler Plus. Bukan ekonomi biasa, tapi ekonomi++. Makanannya disajikan pake piring, bukan pake wadah plastik. Pisau garpunya dari stainless steel, bukan dari plastik. Kaki gue bisa selonjoran gara-gara tempatnya lowong banget. Di pesawat, gue noraknya luar biasa. Luar biasa, saudara-saudara. Padahal bukan naik first class. Tapi ya gitu. Tetep aja bikin bersyukur setengah mati.

Jika tempat dudukmu nyaman, pemandangan dari jendela pesawat pun jadi terlihat lebih indah (sugesti).


Di London gue ditaro di hotel super mahal. Di tengah kota. Ratenya 450 pounds per malam. Kayaknya sampe gue kaya raya pun, nggak bakal mau gue tinggal di hotel itu kalau nggai dibayarin. Makannya? Bintang 7 bok. Makan-minum di YouTube Space nggak pernah kurang. Setiap malem sehabis sesi selalu fine dining.

***

Okeh, gue bakal jelasin di London itu gue ngapain aja. Mungkin buat kalian yang udah nonton vlog gue, kurang lebih udah tau. Kegiatan dimulai sekitar jam 9 pagi. Kita jalan kaki dari hotel ke YouTube Space London yang ternyata deket banget sama Kings Cross. Di sana hari-hari kita dipenuhi oleh segala macam workshop. Hari itu workshopnya tentang Producing 101. Kita dikasih tau gimana caranya memproduksi video yang bagus secara teknis sampe ke perkara gimana cara nyari crew buat shooting. Sungguh berfaedah.

Tapi ada dua hal yang bikin gue lived the dream hari itu. Ada satu sesi di mana kita QnA session via Google Hangout bareng John Green. That John Green yang buku-bukunya gue baca, yang video-videonya bareng Hank Green gue tonton. Waktu liat dia ada di layar gede depan gue, gue cuma bisa cengar-cengir doang kayak orang lagi high. Lagi-lagi gue merenungi hidup gue dan nggak percaya hari ini bakalan dateng. 

Kedua, gue ketemu Dina Tokio dan suaminya. Dua orang kocak yang suka gue tontonin videonya juga. Setelah sesi ngeliat para ambassador ngomong di depan, ada lagi sesi round table. Fellows dibagi beberapa group yang dikepalai oleh satu ambassador. Terus lu tau nggak gue kebagian di grup siapa? Sid and Dina. Yep, them. Out of many ambassadors who came that day, gue segrup sama Sid and Dina. Siapa lagi fellow yang segrup sama gue? Subhi Taha. Mau mati gak?

Setelah camp, kita diajak buat dinner di tempat super fancy yang makanannya pake course-coursean dan menunya yang biasa gue liat di Masterchef atau Top Chef. Pokoknya makanan-makanan keren gitu, lah. Gue inget banget, di malam itu untuk pertama kalinya gue mencicipi seared salmon. Ternyata rasanya wenak banget karena ada coriandernya.

Intinya di acara itu gue banyak ketemu orang-orang yang selama ini jadi inspirasi gue dan orang-orang yang menjadi inspirasi baru gue. I met people who have the same mission as mine, yang peduli dengan dunia, yang ingin berbuat baik di dunia, dan yang ingin bermanfaat. Asli, pengalaman macam gini nggak akan lagi gue dapet. Cuma sekali seumur hidup.

Finally here

Kapan lagi video gue diputer berkali-kali di YouTube Space?

Maha dari Dubai dan Nadir dari UK. Si Nadir ini neneknya orang Solo ternyata

Finally able to see this woman in real life!

One of my favorite YouTubers, Evelyn

Subhi, yang punya banyak fans dari Indonesia LOL

Younes. You might have seen his videos on Facebook. Videonya viral mulu di situ

Coming at you with some social changes!!!!


***

Pelajaran yang bisa gue dapat adalah, lagi-lagi, hidup itu sangat nggak bisa diprediksi. Siapa yang sangka gue yang mupeng tiap kali liat temen-temen yang jalan ke London dan foto di Platform 9 3/4 bisa ke sana dan dibayarin? Siapa sangka gue yang nge-vlog cuma pakai hape karena nggak ada duit buat beli kamera, sekarang bisa beli apa aja karena dikasi budget udah kaya mau beli tanah? Siapa sangka gue yang sampe sekarang nggak ngerti gimana cara nge-YouTube yang baik dan benar, yang nggak peduli ada yang nonton video gue apa enggak, bisa dipilih langsung sama Google buat bikin video untuk program mereka?

Allah Maha Besar. Pesan gue cuma satu ke diri gue, tetep humble, tetep koret, dan tetep menjalani hidup dengan penuh keprihatinan.

And I hope there are even more surprises waiting for me. Hidup tanpa GPS itu memang seru.
Share:

7/04/2017

Penilaian

Manusia ada mahluk yang nggak pernah berhenti membuat gue terpana dengan segala macam tingkahnya, segala macam sifatnya, dan segala macam keribetannya.

Kali ini gue mau cerita sedikit tentang pandangan gue terhadap manusia. Entah itu manusia lain, maupun gue yang terakhir kali gue check masih berupa manusia. Beberapa hari yang lalu gue nge-tweet. Manusia itu membuat terlalu banyak judgement, kata gue. Kita menilai diri kita nggak mampu untuk melakukan sesuatu atau banyak hal. Kita menilai diri kita tidak lebih dari sampah, sementara orang-orang lain banyak yang lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya.

Dulu pun gue begitu. Gue manusia yang penuh dengan pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Apapun yang gue lakukan, gue tidak mencari baiknya, tapi malah mencari kurangnya. Gue mencari-cari perbedaan antara bayangan yang gue punya dengan realita yang ada dan mencoba mencari letak kesalahannya. Acap kali gue melihat diri gue di kaca, yang gue liat adalah betapa besarnya jidat gue yang menyebabkan gue harus menutupinya dengan poni dan menyesali kenapa gue nggak bisa punya tulang pipi seperti layaknya wanita-wanita dewasa pada umumnya.

Alhasil gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri.

Ternyata orang yang tidak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain. Karena perlakuan gue ke orang lain juga nggak jauh beda. Setiap kali ketemu orang, yang gue cari selalu kurangnya. Mengukur-ngukur proporsi wajahnya. Kalau jidatnya lebih lebar dari "ideal"nya, jidatnya lah yang menjadi fokus pertama gue. Begitu juga kalau lengannya lebih gemuk dari pergelangan tangannya, kalimat "Gendut juga ni cewe." sudah terucap di dalam hati.

Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Pasti gue cari kurangnya. Pasti gue cari di mana salahnya.

Karena begitulah manusia. Suka mencari kekurangan. Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Padahal kita ini adalah mahluk yang paling nggak bisa melakukan hal tersebut.

Tapi lama-kelamaan gue bosan dengan kekeruhan gue dalam memandang manusia. Gue berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun. 

Melihat diri di kaca sekarang hanya sekadar melihat diri di kaca tanpa mengukur-ukur proporsi pipi gue dengan bagian wajah lainnya. Melakukan sesuatu hanya sekadar berbuat baik tanpa mengintip apa yang orang lain sudah atau sedang lakukan. Melakukan sesuatu hanya sekadar ingin menikmati hidup dengan menyebarkan kebaikan tanpa membentuk pengharapan yang berpotensi untuk bikin gue jadi manusia paling sialan sedunia, yaitu manusia yang sudah diberi banyak berkah tapi masih bisa mencari apa yang bisa dikeluhkan.

Terlebih ketika gue melihat orang lain, melihat apa yang dikerjakannya. Ada usaha yang teramat keras di sana, yang nggak dia tunjukkan kepada gue, yang nggak dia tunjukkan di dunia maya. Ada berpuluh-puluh malam dilewatinya tanpa tidur, yang nggak dia share di lini masa Instagram-nya.

Orang-orang lain termasuk gue, hanya melihat hasilnya. Hanya melihat hasil dari usaha kerasnya, tanpa mengetahui seberapa berat beban yang harus dipikulnya. Hanya melihat hasil dari jerih payahnya, yang bahkan masih kami cari-cari kekurangannya.

I don't want to be that person who thinks she knows better, who thinks everything has to be the way she wants.

I don't want to be that person who cannot see the good side in others. Who will always complain about what other people did, but doesn't realize that she has not done anything yet.

Banyak yang mencurahkan hatinya ke gue karena mereka kecewa dengan keadaannya kini. Tidak sesuai dengan usaha yang sudah diberikan, katanya. Lalu apa sebenarnya tujuannya kamu berusaha? Hanya supaya bisa dapetin apa yang kamu mau?
Banyak juga yang sekadar mengeluhkan penampilannya. Ingin diberitahu bagaimana cara gue memakai kerudung, sampai-sampai ke bagaimana cara gue bersolek. Karena mereka melihat gue sebagai wanita berpipi bulat, berjidat lebar, dan beralis tipis, tapi hal tersebut tidak terlihat salah. Seolah-olah mereka bukan suatu kekurangan.

That's the key, my friend. Gue tau caranya menghargai diri gue sendiri. Gue tau caranya menyayangi diri gue sendiri. Gue tau caranya mengapresiasi diri gue sendiri. 

Kekurangan tidak gue lihat sebagai kekurangan, tapi sebagai bagian dari diri gue. I don't hide it. I embrace it.  

Kegagalan tidak gue lihat sebagai kegagalan, tapi sebagai kesempatan gue untuk belajar lebih baik lagi.

Hidup gue lihat sebagai tempat gue mencari pengalaman, tempat gue belajar dari orang-orang, tempat gue mendapatkan inspirasi dari sekitar. Bukan tempat gue meraih ini dan itu, menyuapi ego yang selalu haus akan pengakuan.

Hargailah dirimu. Hargailah orang-orang di sekitarmu.

Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu. Dan lihatlah selalu kebaikan dari kanan-kirimu.


Share:
Blog Design Created by pipdig