A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

2/24/2017

Diam itu Tidak Selalu Emas

Gue kayaknya pernah nulis tentang gimana keresahan gue terhadap keadaan politik di Indonesia sekarang. Resah gue belom hilang sih. Malahan nambah. Walaupun gue nggak di Indonesia, tapi gue tetep bisa sedikit-banyak dapet update-an mengenai apa yang lagi hot. Facebook gue so far aman dan tentram. Tapi buat mencapai ketentraman tersebut nggak tau udah berapa orang yang gue unfollow karena postingan yang mereka share ataupun yang sekedar mereka like (toh ujung-ujungnya muncul juga di newsfeed gue) cukup mengganggu. Keadaan politik alhamdulillah belom merambah ke Instagram, jadi gue masih asik-asik aja scrolling liat foto-foto orang. Kalo di Path sesekali ada lah temen-temen gue yang posting nganeh-nganeh, tapi belom sampe titik di mana gue harus menghapus akun gue.

Yang tersisa tinggal Twitter. Nyatanya di Twitter ini ternyata sarangnya cancer. Tempat orang nyinyir, tempat orang bisa cuap-cuap, yang jujur terkadang bikin gue jadi pengen tobat. Oke, oke. Gue akan coba jelaskan biar omongan gue ini nggak terlalu absurd. Jadi beberapa minggu ini entah kenapa gue sering menemukan orang-orang aneh di Twitter. Terlebih sekarang nih. Di kala semua orang merasa berhak untuk berpendapat. Orang aneh jadi makin banyak. Keyboard warriors makin bermunculan. Padahal kagak kenal sama ini orang, tapi mereka willing untuk berantem-beranteman atau sekedar nyinyir di sosial media. Intinya sekarang makin banyak orang yang nggak sungkan-sungkan buat cari ribut sama orang lain.

Seaneh-anehnya orang yang suka cari keributan, menurut gue lebih aneh orang yang suka nyinyirin agamanya sendiri. Apa lagi di masa-masa pemilu kayak begini. Makin lama makin sering aja gue ngelihat orang muslim, tapi kerjaannya jelek-jelekin saudara seimannya yang dia lihat nggak memiliki pemikiran seprogresif mereka dalam beragama. Akhirnya muncul lah sekarang istilah "onta" atau "kearab-araban" buat muslim yang kiranya islam banget. Muslim yang pake celana cungkring dan berjenggot aja bisa lho dinyinyirin. Apalagi kalo orang-orang ini vokal di sosial media. Udah pasti jadi bahan ceng-cengan. Intinya jaman sekarang kayaknya lo itu dosa banget kalo terlalu deket sama Tuhan lo. Bisa dicap sebagai muslim ekstrim. Sementara sekarang orang-orang ini pinginnya muslim itu yaa biasa-biasa aja. Moderat aja.

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba gue dimention sama orang yang gue nggak kenal. Sepertinya dia nggak setuju dengan pernyataan gue tentang banyaknya negara Islam yang mencampur adukkan kultur dengan agama. Terus tiba-tiba doi langsung ngomongin ayat ini dan ayat itu yang tertulis kalau Islam mengiyakan membunuh murtadin maupun kaum gay. Jadi maksud dia, konstitusi yang berlaku di negara Islam tersebut bukan berasal dari kultur, tapi dari agama Islam sendiri. Dan ujung-ujungnya doi nge-cap gue sebagai Muslim apologist. Banyak hal yang gue bingungin di sini. Pertama, kok mau ya tiba-tiba doi tanpa segan memperdebatkan hal ini ke gue, yang dia nggak kenal dan gue juga nggak pernah bersedia untuk berdebat sama dia. Tapi di sini gue udah tau jawabannya. Namanya juga era digital. Semua orang berhak bersuara. Mau suaranya itu sebenernya perlu atau nggak, yang penting ngomong. Kedua, gue amazed ngelihat gimana dia merasa udah paham betul tentang agamanya hanya karena--katanya--dia sudah "mempelajari" Quran dan Hadith dan berdiskusi dengan beberapa ulama di Indonesia. I mean, setau gue orang-orang yang mempelajari agama--karena ingin makin bertaqwa--akan semakin merasa fakir ilmu dan nggak tau apa-apa di saat dia banyak dapet ilmu. Ketiga, lucu aja ngeliat sumber-sumber ilmu dia ya orangnya sama. Sama-sama pengkritik Islam, agama yang udah sempurna.

Jujur, makin ke sini gue makin banyak nemu orang-orang kayak dia. Makin banyak gue liat orang Muslim, tapi hari-harinya dihabiskan untuk menkritik dan mencari-cari kesalahan agama dia sendiri. Satu sih pertanyaan gue. Orang-orang kayak gini nanti pas meninggal tetep mau dikafanin dan disholatin nggak sih? Ada banyak sebenernya pikiran-pikiran dan hal yang gue rasakan tiap gue nemu orang-orang macam begini, entah di dunia maya ataupun dunia nyata: gue harus terus berdoa sama Allah supaya selalu ditunjukin jalan yang lurus, jalan orang-orang yang beriman. Bayangin aja cuy. Seserem-seremnya nggak punya duit, lebih serem lagi kalo kita nggak dapet hidayah dari Allah. Gimana coba hidup jadi orang yang selalu melihat agamanya sendiri sebagai musuh? Apa coba rasanya jadi orang yang selalu suudzon sama perintah Tuhannya sendiri, benci ngeliat orang alim, nge-cap saudara seimannya dengan panggilan ekstrim? Asli dah. Mending gue kaga ada nasi buat makan dah daripada hati nurani sama iman gue ketutup.

Apalagi sekarang kayaknya lagi ngetrend kan tuh ngeceng-ngecengin ulama. Ulama jadi bahan ejekan, bahan tertawaan. Kalo gue udah liat yang begini-begini, hati rasanya langsung "nyeesss..". Nggak kebayang gimana reaksi Rasulullah kalau dia masih hidup sekarang ngeliat umatnya pada kayak begini. Ulama, coy. Orang yang harusnya kita dengerin, kita hormatin, kita junjung. Malah diolok-olok biar terlihat modern, biar terlihat moderat, dan biar keliatannya nggak islam-islam amat.

Suatu hari Paul dan gue berdiskusi mengenai hal ini. Terus dia bilang, "Kamu tuh panas orangnya, yang.". Gue bingung. Panas apaan coba maksudnya? "Kamu merasa kamu harus nyebarin ajaran agama. Kamu bukan tipe orang yang diem aja." jawab dia. Hal ini mengingatkan gue akan gimana gue dulu yang kesel liat temen-temen gue si anak-anak mesjid yang pada "bawel" banget soal agama. Dikit-dikit dakwah, nggak di mana-mana dakwah. "Nggak bisa apa lu pada kalem aja gitu?" pikir gue pada saat itu. Setelah gue makin belajar agama dan berusaha memahami cara pikir mereka, akhirnya gue ngerti. Mereka, sebagai orang yang peduli dengan agamanya, merasa memiliki tanggung jawab buat saudara muslim yang lain. Gue jadi inget sama satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Ali bin Abi Thalib ra:

"Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik."

Hal ini lah yang bikin gue nggak pernah takut untuk terus nyebarin value agama gue dan untuk speak up tiap kali ada yang salah. Sering ada orang yang bertanya kenapa gue nggak takut akan ada "haters" yang datang karena tulisan-tulisan gue yang cukup nyablak. Karena itu tadi, sebagai orang yang tulus pingin nyebarin kebaikan, gue nggak mau kalah vokal dari orang-orang yang menyebarkan kezaliman. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bakal nyelamatin dunia?

Akhir kata, gue harap kalian-kalian yang masih "sehat" radar baik-buruknya nggak takut untuk menegakkan apa yang benar. Semoga kita juga dijauhin dari sifat-sifat munafik dan dijauhin dari musuh-musuh Allah. Dan yang paling penting semoga kita selalu ditunjukin jalan yang lurus dan selalu menjadi hambaNya yang bertaqwa.
Share:

2/05/2017

Menjadi Seorang Diaspora

Ketika gue menulis postingan gue yang berjudul Generasi Tutorial, gue nggak pernah nyangka kalau tulisan itu bakal viral. Yang biasanya gue cuma dapet sekitar 20an komentar, kali ini gue dapet sampe 200an. Entah apa yang nge-trigger orang-orang buat ikutan komen. Tulisan gue yang lain juga biasanya nyablak dan nggak gue filter. Karena toh gue nulisnya di personal blog yang fungsinya sama seperti buku diary, based on personal opinion. Tapi buat yang satu ini nggak sedikit orang yang gegen sama pendapat gue, which is normal. Yang nggak normal adalah orang-orang yang ngomong begini nih:

"Emang lo udah berbuat apa buat Indonesia? Bisanya cuma komentar doang."
"Alah, tinggal di luar negeri aja pake sok-sokan komentar. Pulang dulu sini baru boleh ngomong!"

Kenapa gue bilang ini nggak normal? Karena dari kalimat di atas terkesannya yang boleh berkomentar tentang negaranya sendiri adalah hanya yang tinggal di negara tersebut. Orang-orang yang tinggal di luar negeri nggak boleh ikutan berkoar-koar, walaupun kewarganegaraannya masih Indonesia.  Gue jadi bingung, orang-orang ada sentimen apa sih terhadap diaspora?

Banyak orang ngomong ke gue, selama masih tinggal jauh dari Indonesia, gue masih belom memberi kontribusi nyata. Sementara gue nggak terlalu mengerti sebenernya yang dimaksud "kontribusi nyata" oleh mereka itu apa? Apa gue harus jadi presiden kah? Jadi menteri? Jadi pemimpin partai? Jadi politikus? Jadi aktivis HAM? Karena sebetulnya, yang mungkin nggak dimengerti oleh orang-orang yang tinggal di Indonesia, para diaspora di luar negeri nggak membawa namanya sendiri. Yang dia bawa adalah negara dan bahkan agamanya. Dengan berlaku sebagai citizen yang baik di negara yang ditinggali sekarang menurut gue sudah menjadi bentuk kontribusi. Karena lagi, toh kami adalah representasi dari negara asal kami.

Karena keseringan mendengar kata "kontribusi nyata" lama-lama gue jadi merasa orang-orang yang sentimen dengan diaspora sebenernya nggak ngerti apa yang mereka omongin. Mungkin dipikiran mereka tinggal di luar negeri itu selalu enak kali, ya. Nggak ada susahnya, hidup serba nyaman, jalan-jalan pake coat sambil minum coklat panas menerpa udara dingin. So, to clarify, gue akan sedikit menceritakan gimana pengalaman gue tinggal di luar negeri supaya kalian ada bayangan.

Gue nyampe ke Jerman tahun 2010. Saat itu gue masih umur 18 tahun. Masih remaja, masih labil, baru lahir kemaren. I don't know about you guys, tapi "dipaksa" untuk beradaptasi dengan lingkungan yang completely different di umur yang masih muda itu cukup challenging. Terutama ketika semuanya harus dihadapi sendiri tanpa orang tua. Gue harus menyerap segala sistem yang ada di Jerman dan mengubah cara gue berpikir, bertingkah, dan ber-ber-ber lainnya supaya gue bisa berintegrasi dengan baik. Mungkin banyak orang berpikir kalau galau tinggal di luar negeri itu cuma sebatas galau karena jauh dari rumah. But for me, jauh dari rumah adalah hal terakhir untuk digalauin. Galau akademik adalah salah satu yang bikin semua ini begitu sulit. Karena bukan gimana-gimana, coy. Kalau taunya kita gagal ujian, kita bisa dikeluarin dari universitas dan ujung-ujungnya balik ke Indonesia. Bayangin berapa banyak waktu, energi, dan materi yang udah keluar tapi ujung-ujungnya malah nggak dapet gelar. Dan kuliah pake bahasa Jerman, di universitas Jerman itu nggak gampang. Boro-boro mau dapet nilai bagus, lulus aja udah sukur. Bukan itu aja. Nggak semua orang yang tinggal di luar negeri itu orang kaya, gue contohnya. Kalau gue kasih liat berapa duit di rekening gue sekarang mungkin lo semua pada kaget. Maka dari itu mahasiswa di sini rata-rata harus kerja cari duit sendiri. Bukan buat liburan, bukan buat nambah uang jajan. Tapi buat makan dan bayar uang sewa apartemen. Gue harus selalu muter otak gimana caranya gue bisa dapet duit. Entah itu kerja di pabrik, di cafe, atau kayak sekarang nih, gue menjadikan YouTube sebagai source income. I can tell you keadaan ekonomi gue nggak seberapa nelangsa. Ada banyak mahasiswa yang lebih susah dari gue dan alhasil kuliahnya nggak lulus-lulus karena harus kerja terus. Belom lagi kalau ada masalah personal yang muncul seperti masalah keluarga, masalah sama temen, dan masalah-masalah lainnya. Dan yang paling penting adalah harus menjalani proses pencarian jati diri dan adulting tanpa bimbingan siapa-siapa, nggak ditemenin keluarga dan orang-orang yang wajahnya familiar, ternyata susahnya minta ampun. The bottom line is: ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram. Dan ini semua bukan cuma terjadi sama gue. Semua student Indonesia yang gue kenal di Jerman mengalami hal yang sama.

Menghadapi realita, kesulitan, dan keribetan tinggal di luar negeri, tapi masih menjadikan si negara tercinta sebagai topik pembicaraan setiap kali kita ngumpul, menurut gue adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Tandanya WNI di sini masih peduli sama kampungnya. Nggak lantas langsung "Bhay!!! Gue udah enak tinggal di Jerman. Gue ogah ngurusin Indo lagi.". Bukan cuma sekedar berdiskusi, in fact kita selalu mencari cara gimana supaya kita bisa bantu sedikit-sedikit sesuai porsi yang kita bisa. Dan yang harus dipahami, setiap orang punya hak dan preferensi masing-masing gimana cara dia berkontribusi untuk negaranya. Ada orang yang lebih prefer untuk mengaplikasikan ilmu yang dia dapet waktu kuliah di Jerman dulu untuk terjun langsung ke sektor-sektor yang masih harus dibenerin. Ada yang lebih prefer untuk jadi orang sukses di Jerman karena toh kayak yang gue bilang berkali-kali, dia adalah representasi negara asalnya. Ada juga orang-orang yang kayak gue, yang memanfaatkan sosial media buat menggerakan anak muda Indonesia supaya bisa proaktif untuk bangun negara. Nggak ada yang salah dengan semua itu. Toh semuanya positif, semuanya bermanfaat, dan semuanya adalah buat Indonesia. Maka dari itu menurut gue sangat childish kalau masih ada orang-orang yang seakan-akan membungkam mulut diaspora dengan embel-embel "belom memberi kontribusi nyata".

Sebenernya ada banyak hal yang orang-orang tersebut nggak pahamin. Wajar, seseorang harus ngerasain dulu gimana tinggal di luar negeri yang sebenernya baru bisa ngerasa relate (tapi kalau gue ngomong kayak gini biasanya sih gue langsung dicap sombong. Yasudahlah, toh gue hidup bukan buat menyenangkan semua orang). Salah satunya adalah kenapa banyak diaspora yang terlihat agak sungkan untuk pulang (for good). Ada satu temen gue yang dulu S2 di Belanda. Sekarang studinya udah kelar dan dia udah balik lagi ke Indonesia. Suatu hari gue chatting sama dia. Ternyata dia lagi galau. Dia kangen sama Belanda katanya. Wajar lah ya, gue ngebayangin kalau gue udah lama tinggal di Jerman terus gue balik ke Indonesia, pasti gue akan kangen. Salah satunya kangen sama Kubideh dan Döner Kebab. Tapi ternyata dia bukan cuma kangen negaranya, tapi juga sama kehidupannya. Ada rasa ketakutan dalam dirinya dia. Karena setelah semua pengalaman, cerita, suka, dan duka yang bener-bener jadi pelajaran berharga buat dia, yang dialami hanya sekitar 2 tahun tinggal di tanah Eropa, dia harus balik lagi ke lingkungan yang itu. Lingkungan yang pada kenyataannya kurang kondusif untuk bikin manusianya tumbuh jadi lebih baik. 

Gue sangat paham dengan ketakutan temen gue ini, karena jujur gue juga merasakan hal yang sama. Sesulit-sulitnya tinggal di negeri orang, tempat ini lah yang bikin gue jadi orang yang kayak sekarang. Di tempat ini lah gue bisa belajar banyak hal yang berguna, bukan cuma ngurusin drama politik dan agama yang suka nganeh ataupun gosip artis masa kini. Sebelum gue diserang oleh orang yang sensitif, let me tell you this: gue tau dan gue udah liat sendiri, ada lingkungan-lingkungan sehat dan positif di Indonesia yang pastinya akan sangat suportif terhadap pertumbuhan kualitas gue sebagai individu. Tapi mereka nggak mainstream. Pertanyaannya adalah apakah nanti gue akan cukup kuat untuk nggak keikut arus utama? Apa nanti gue bisa tetap menjaga kualitas percakapan dan cara berpikir walaupun gue dikelilingin sama society yang mayoritas masih superficial? Gue nggak tau apakah gue akan tahan dikelilingi orang-orang yang lebih seneng ngomentarin alis orang lain ketimbang ngomongin sesuatu yang bikin pinter. Gue juga nggak tau apa nanti gue bisa sabar sama orang-orang yang ngomongnya janjian jam 1 tapi baru dateng jam 3. Dan gue juga nggak tau apakah gue bisa tetep di zen-mode ketika mobilitas gue super terganggu dan gue nggak bisa ngelakuin semua yang udah di-plan untuk hari itu karena jalanan di Jakarta nggak bisa diprediksi? Belom lagi gue harus menghadapi situasi yang sebenernya bisa diselesain secara cepat dan efisien, tapi sayangnya Indonesia masih menganut prinsip "Kalo bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?".

Terlebih karena sekarang gue udah memasuki umur 25, gue udah mulai kepikiran tentang keluarga. Gue emang belom nikah, tapi gue udah mulai berpikir di mana gue harus membesarkan anak gue supaya dia bisa tumbuh jadi orang yang kritis dan punya prinsip kuat. Gue aktif di sosmed. Gue suka mengobservasi apa aja yang lagi in di antara remaja dan gimana kelakuan anak muda sekarang. Dari yang gue liat, anak-anak muda yang cemerlang masih jauh lebih sedikit ketimbang yang begitu-begitu. Sekarang aja pergaulan udah makin aneh, apalagi nanti di jamannya anak gue? "Tapi kan itu tergantung orang tuanya, Git.". Ya, memang. Tapi gue pernah ngerasain gimana jadi anak yang tumbuh besar di Indonesia dan gue pun ngelihat sendiri gimana anak-anak yang besar di Jerman. Gue melihat orang tua di Jerman seperti punya kontrol lebih besar terhadap anaknya. Pergaulannya, agamanya, akademisnya, semuanya lebih mudah untuk dijaga dan pengaruh buruk dari luar lebih bisa difilter. Gue nggak tau kenapa, sih.

Selain itu gue juga harus mempertimbangkan kenyataan kalau untuk menjadi fully independent mother (or mother-to-be) di Indonesia itu sulit. Ketika nyokap mengandung gue dulu, dia nggak perlu minta anterin siapa-siapa atau tergantung dengan orang lain hanya karena dia lagi berbadan dua. Belanja bisa dikerjain sendiri, ke mana-mana bisa jalan sendiri karena toh transportasi di Berlin juga sangat mementingkan kenyamanan penggunanya. Juga untuk ibu-ibu yang punya anak bayi. Nggak perlu pake mobil, tinggal bawa stroller mereka bisa jalan sama anaknya. Nggak perlu takut kenapa-kenapa ataupun cemas dengan polusi udara. Taman-taman buat berjemur juga banyak. Bersih pula. Makanan buat si anak juga bisa lebih terjaga karena di sini penjualnya masih punya rasa tanggung jawab. Kita nggak perlu takut sama produk-produk yang ditambahin bahan kimia.

Intinya adalah kalau ada WNI yang nggak mau balik lagi ke Indonesia, gue rasa doi bukannya udah lupa sama negara. Ada banyak pertimbangan yang dia punya, yang kita nggak tau. Menurut gue setiap orang berhak untuk memilih apa pun yang menurut mereka terbaik buat dirinya. And who are we to judge?

Yha, gue jadi ngelantur. Ya intinya gitu, lah. Nyinyirin diaspora yang mencoba untuk memberikan opini dan pemikiran terhadap negaranya itu nggak akan menyelesaikan masalah. Nggak bikin Indonesia jadi maju dan yang pasti nggak bikin orang-orang di Indonesia lebih berhak untuk berkomentar. Berprasangka baik dan mensupport apapun yang udah dilakukan oleh setiap warga negaranya mungkin adalah the best thing to do. Karena kita-kita, diaspora, nggak akan lupa kok sama negara. Mau di mana pun kami tinggal, hati kami tetap Indonesia.
Share:
Blog Design Created by pipdig