A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

5/04/2018

Tulisan Tentang Toilet

Hi folks, how have u guys been doing? I am currently in the Philippines, di suatu pulau bernama Palawan. Kemaren lusa dari El Nido, gue pindah ke Coron yang katanya lebih bagus. Tapi menurut gue pribadi, soal alam tropikal mah Indonesia yang paling mantep.

Beberapa hari ini gue merasakan rasa syukur yang particularly lebih besar karena gue dilahirin dan dibesarkan sama Emak gue. Seperti biasa, gue nggak bilang ke beliau karena nanti malah geer haha. But she did a great job raising me. She's an awesome mother.

Salah satu hal yang diajarin sama beliau dari dulu adalah gue harus mencoba ngertiin orang lain dan jangan melulu minta dingertiin. In short, gue dididik untuk aware sama sekitar. Entah itu orang maupun lingkungan. Apparently that lesson really got into my head. After encouraging myself to meet more people, gue melihat gue punya awareness yang cukup besar dari rata-rata orang yang gue temui.

Hal-hal kecil kayak misalnya nggak mengganggu kenyamanan orang atas keseleboran kita, kejorokan kita, ketidakrapihan kita. Sampai ke tidak mengganggu orang lewat sifat dan sikap kita. Dan yang bikin gue sadar adalah betapa pentingnya mendidik seorang anak untuk punya sifat-sifat tersebut. You know human can be selfish, right? Ternyata banyak manusia yang "egois" bukan karena mereka memilih untuk hidup egois, tapi mereka nggak sadar kalo mereka begitu.

Dari tadi gue ngomong nggak jelas sih. Gue kasih contoh simpel deh nih ya. Misalkan kita ke toilet yang kita tahu akan dipake orang lain a.k.a toilet umum. Sering kali gue ngelihat ada semacam pemberitahuan di dalem cubicle toiletnya untuk meninggalkan toilet dalam keadaan awal; bersih dan kering. Dengan adanya pemberitahuan kaya gitu aja menurut gue sebenernya nggak perlu. Obviously lo harus ngebersihin lagi dong? But in reality, banyak orang yang setelah keluar dari toilet, mereka meninggalkan jejak. Entah tetesan-tetesan air yang berasal dari pan*at atau bagian tubuh lain, tetesan darah kalo misalnya itu orang lagi dapet, atau bahkan bekas tokai karena doi abis boker. 

Nah, orang ini mungkin nggak memilih untuk meninggalkan serpihan tokai di toilet tersebut. Tapi dia hanya nggak sadar ada sisa-sisa kecoklatan yang nempel di sisi-sisi toilet dan nggak kepikiran untuk ngecek dua kali. Ketidaksadaran atau keignoranan ini lah yang menurut gue sangat menyedihkan dan tentunya bikin dumbfounded. Karena buat sebagian orang, itu hanyalah tugas yang mudah. Bukan susah kayak Matematika atau Kalkulus. Lo tinggal pake mata lo, lalu scanning sekitar lo apakah semuanya udah seperti sedia kala karena nanti akan ada orang lain yang pake fasilitas ini. Ya kan? Tapi ternyata buat sebagian orang lagi, hal tersebut nggak gampang. 

Menurut gue sifat atau mentalitas kayak gini lah yang bikin gue suka kesel sama manusia. Jarang ada manusia yang bisa ngerti kalo dia itu hidup berdampingan sama orang. Ini nggak sebatas cuma menjaga kebersihan fasilitas umum lho ya. Yang kayak gini bisa berentet ke urusan lain yang lebih kompleks.

Mulai dari sekarang semoga kita bisa lebih aware sama surrounding. It takes the least effort. Nggak akan bikin lo tiba-tiba miskin atau jadi pegel-pegel karena cape. But it would make the biggest difference.
Share:

3/26/2018

Setelah Menghilang Sekian Bulan

:::::::This post will contain just rant, pure rant. If you want something positive, just skip this one or check out my other posts!:::::::



Oke, pertama-tama gue mau bilang, WOW GILA UDAH LAMA BANGET NIH GUE NGGAK NGEBLOG?! Hampir dua bulan blog ini ditinggalin. Semoga nggak lantas ditungguin sama mahluk ghaib. Last time I checked sih belom ada sarang laba-laba ataupun sarang tikus, so it's all good.

Ada yang peduli kabar gue nggak? Gue lagi sakit karena ternyata ampe sekarang gue masih capek. I don't know guys, but I never stop working. Ini lah realita jadi freelancer, lo akan kerja terus dari Minggu ke Minggu. The only time you get to rest is when you sleep at night. Kerjaan online udah numpuk, ditambah kerjaan offline. Kemaren ini gue liputan mulu tiap hari. It was fun! Tapi tentu melelahkan. Because as you know I have no helper or assistant. All things are done by me. Dari kerjaan ke kantor pos ngambil paket, sampe ke maintaining semua social media platforms gue yang for some people just part of their lives, but for me it's my job LOL. Btw, bentar lagi gue bakal cabut lagi untuk liputan for another two weeks. Not that far, cuma ke Belanda sama Belgia alhamdulillah. Tapi lusanya gue harus langsung cabut ke Filipina dua minggu. Bye life.

Anyway, I told you this post should be a rant. Imma start now. So, if you are an influencer, especially a vocal one, lo akan dapet certain persona atau branding atau label dari followers lo, even if you do not have intention to have a certain label given to you. Kalo lo sering vocal tentang politik, lo akan dapet citra kalau lo kritis dan anaknya politik abis, enlighten, dan woke abis pokoknya (wth). Kalo lo sering nge-share kajian atau ayat-ayat, lo akan dicap sebagai muslim influencer yang alim dan syari. Kalo lo sering posting fashion related stuff dan barang-barangnya branded, lo akan dicap sebagai sosialita dan orang tajir. You get my point.

That's what I am struggling with right now. Gue merasa makin ke sini gue makin nggak ada kemerdekaan untuk menjadi diri gue sendiri. Then again, if you are a public figure, one thing that you will lose is that; lo nggak bisa menjadi diri lo sendiri. You have to be aware that you should be responsible, you have to be a good example especially if your followers are young people. TAPI, gue aware gue bukan orang yang reckless. Even when I wasn't a public figure, I was a pretty responsible human being. Selalu mencoba menjadi warga negara yang baik, teman yang baik, saudara yang baik, etc. No particular reason, I just don't find the reason kenapa gue harus jadi orang yang tidak baik. That's all.

But now, because I have lots of followers, a lot of them are being ridiculous dan menuntut gue untuk menjadi orang yang bukan gue banget atau lebih tepatnya menjadi orang yang mereka mau. They saw how I speak in my videos, how I pose in my photos, then they QUICKLY gave me these certain labels; girly, kalem, lemah lembut, alim. So, when I don't act like that, they will be somewhat pissed and I don't understand that. They expect too much from me. They expect me to be this holy figure yang nggak boleh sama sekali membuat--what they think is--kesalahan atau sesuatu yang negatif.

Karena beberapa hari yang lalu gue ngetwit sesuatu yang--in my point of view--twitnya gue banget. I know myself so well. Dari dulu gue orangnya tomboy. All that girly clothes that I wear on my Instagram, I wear them because they were sent to me. Dan somehow fashion industry memang tend to design clothes for women yang girly-girly gitu lah. There is not a lot of choice for boyish women. Makanya kalau lagi nggak diendorse, gue selalu pake sweatshirt and jeans because I could care less about how I dress. Dan salahkan juga komuk gue yang kayak orang baik-baik dan perempuan banget. Kayaknya banyak yang ketipu sama komuk ini.

Selain tomboy, gue juga kalo ngomong ya cukup nyablak. I mean, suara gue toh udah kayak abang-abang dan gue kalo ngomong juga nggak ada ekspresi atau nadanya. And I am high tempered. Gue orangnya relatively chill, but I get annoyed easily. I get annoyed whenever I get stupid questions, whenever I encountered stupid people. Dan sedihnya gue harus encounter those two things in my daily life. Jadi intinya gue annoyed terus. Siapakah baskom gue untuk mengeluarkan segala komplen? Paul. He's a very good listener. People who know me in real life know that. Malah mereka suka ngeceng-cengin gue kalo lagi ketemu, karena di Instagram gue keliatannya kalem dan cewek banget. Yha, foto memang bisa menipu.

Okay, back to the twitter story. Lalu, ada beberapa orang yang merespon, katanya twit gue itu kok tumben negatif dan nadanya seperti annoyed dan marah-marah. It wasn't even that bad. Tapi seakan-akan buruk banget karena itu tadi, some people expect too much from me. Gue nggak X (add any adjective here), mereka sendiri yang ngelabelin gue sebagai X. So when I show them I am not X, they will complain. Sooooo.... Why did you then give me that X label in the first place, people?

Then it got me thinking, followers gue yang segambreng itu clearly have nooooo idea who I really am. Because I've been like this my whole life. And I was really annoyed when some people who never met me, never talked to me in real life, complained about the way I am. Meanwhile, orang-orang yang kenal gue beneran santai aja because like I said, I've been like this my whole life. Ngerti kan gimana keselnya? Kesel aja karena kenapa beberapa orang act like they really know me. Like, what's with that sotoy thing you got there?

It's okay kalau gue emang ngebranding gue sebagai orang yang lovely, bubbly, cheerful, tapiii seinget gue, gue nggak pernah merasa melakukan pencitraan seperti itu. Dari awal main medsos sampe sekarang gue selalu jutek. Gue jarang senyum dan selalu awkward. But why do some people think I am lovely, bubbly and cheerful?? Please someone explain it to me right now T_T

The same goes to kealiman. Satu-satunya alasan kenapa gue paling ogah dakwah-dakwah di media sosial pake ayat adalah gue nggak suka dakwah pake ayat. If you wanna show the beauty of Islam, then do it through your action not your mouth. Dan gue juga paling males kalau dikasih branding atau label sebagai orang yang sudah berhijrah. Karena stage atau level Islam gue sekarang sangat jauh dari standar hijrah yang orang-orang tau. Hijrah itu erat kaitannya dengan pake kerudung syari. But me, sampe sekarang gue nggak ada kepikiran atau rencana untuk pake kerudung syari. Hijrah itu erat kaitannya dengan gerakan anti pacaran. Meanwhile gue merasa fine-fine aja kalo ada orang pacaran. I don't care. Hijrah itu erat kaitannya dengan nontonin kajian ustadz-ustadz seperti Khalid Bassalamah di YouTube. I have no interest at all. The only ustadz yang gue dengerin adalah Nouman Ali Khan dan kadang Omar Suleiman. Tapi gue pernah dibilangin sama follower gue di Instagram, katanya NAK pengikut Sufism dan Sufism adalah termasuk golongan sesat. Well, I am sesat then.

Even if you saw me talking about Islam on my blog, Instagram or Twitter, it was just for me. Blog gue fungsinya sebagai diary. Sebagai tempat gue numpahin segala macem uneg-uneg. Bukan sebagai alat buat ngajarin atau nasehatin orang. Begitu juga dengan Twitter gue. I've been using Twitter since it first came out and I've been using it as a platform to rant and to do monologue atau ngomong sendiri, but in a smaller scale. It's more simple to rant in 140 characters. Kadang-kadang gue males nulis di blog karena kepanjangan. Sebenernya semua media sosial gue pake sebagai diary gue sih. Kecuali postingan yang ada iklannya, ya. Kalo itu buat nyari duit.

Maka dari itu gue suka heran kalau orang-orang sangat mengasosiasikan gue dengan muslim alim atau Islam yang Islam banget, because I am clearly not alim. Look at me! Dan pada saat gue berlaku yang tidak sesuai dengan agama, for example gue memperlihatkan ankle gue karena gue sangat suka pake kaos kaki pendek, cepolan kerudung gue yang buat beberapa orang kayak punuk unta, gue pake kerudung nggak nutupin dada, gue minum nggak duduk, and so on, mulailah gue dapet protes dari orang-orang. Hhhhhh lelah.

Ada satu twit di @tubirfess yang bilang "Gita suka nyinyirin orang yang belom berhijab, tapi dirinya sendiri berdua-duaan sama cowoknya di kamar.". That one tweet really annoyed me. Gue paling nggak peduli orang mau pake jilbab atau enggak. Apalagi makin ke sini gue makin sering berdialog sama muslim lain, gue makin belajar buat ngehargain apapun keputusan orang. Yang penting gue tau apa responsibility gue ke Tuhan. 

Kalo kasus ini gue rasa adalah sifat naturalnya manusia, yang mana kita paling males menjaga keaslian suatu kalimat yang kita dengar dari mulut orang untuk menghindari fitnah. This is not the first time kata-kata gue dipelintir seenaknya. Ini nggak pertama kalinya gue mendengar sesuatu yang salah tentang gue, dari hasil seseorang yang membuat conclusion tentang yang berhubungan dengan gue seenak jidat. Karena gue sangat aware gue nggak pernah seumur-umur nyinyirin orang karena belom pake jilbab. Gue selalu bilang, jilbab itu kewajiban tapi suka-suka lo mau ngejalanin kewajiban tersebut atau tidak. See? It's clearly different than "nyinyirin orang yang belom berhijab".

Okay. That's all I wanna say. Gue nggak tau ini postingan apaan, tapi ya gue cuma mau ngomel doang. Ah, satu lagi. Jangan banyak expect apa-apa dari orang. Apalagi sama seorang figur di media sosial. Disantaiin aja semuanya, jangan dibikin kaku. Takutnya nanti kita semua lupa bahagia. Bye!


Share:
Blog Design Created by pipdig