A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

3/26/2018

Setelah Menghilang Sekian Bulan

:::::::This post will contain just rant, pure rant. If you want something positive, just skip this one or check out my other posts!:::::::



Oke, pertama-tama gue mau bilang, WOW GILA UDAH LAMA BANGET NIH GUE NGGAK NGEBLOG?! Hampir dua bulan blog ini ditinggalin. Semoga nggak lantas ditungguin sama mahluk ghaib. Last time I checked sih belom ada sarang laba-laba ataupun sarang tikus, so it's all good.

Ada yang peduli kabar gue nggak? Gue lagi sakit karena ternyata ampe sekarang gue masih capek. I don't know guys, but I never stop working. Ini lah realita jadi freelancer, lo akan kerja terus dari Minggu ke Minggu. The only time you get to rest is when you sleep at night. Kerjaan online udah numpuk, ditambah kerjaan offline. Kemaren ini gue liputan mulu tiap hari. It was fun! Tapi tentu melelahkan. Because as you know I have no helper or assistant. All things are done by me. Dari kerjaan ke kantor pos ngambil paket, sampe ke maintaining semua social media platforms gue yang for some people just part of their lives, but for me it's my job LOL. Btw, bentar lagi gue bakal cabut lagi untuk liputan for another two weeks. Not that far, cuma ke Belanda sama Belgia alhamdulillah. Tapi lusanya gue harus langsung cabut ke Filipina dua minggu. Bye life.

Anyway, I told you this post should be a rant. Imma start now. So, if you are an influencer, especially a vocal one, lo akan dapet certain persona atau branding atau label dari followers lo, even if you do not have intention to have a certain label given to you. Kalo lo sering vocal tentang politik, lo akan dapet citra kalau lo kritis dan anaknya politik abis, enlighten, dan woke abis pokoknya (wth). Kalo lo sering nge-share kajian atau ayat-ayat, lo akan dicap sebagai muslim influencer yang alim dan syari. Kalo lo sering posting fashion related stuff dan barang-barangnya branded, lo akan dicap sebagai sosialita dan orang tajir. You get my point.

That's what I am struggling with right now. Gue merasa makin ke sini gue makin nggak ada kemerdekaan untuk menjadi diri gue sendiri. Then again, if you are a public figure, one thing that you will lose is that; lo nggak bisa menjadi diri lo sendiri. You have to be aware that you should be responsible, you have to be a good example especially if your followers are young people. TAPI, gue aware gue bukan orang yang reckless. Even when I wasn't a public figure, I was a pretty responsible human being. Selalu mencoba menjadi warga negara yang baik, teman yang baik, saudara yang baik, etc. No particular reason, I just don't find the reason kenapa gue harus jadi orang yang tidak baik. That's all.

But now, because I have lots of followers, a lot of them are being ridiculous dan menuntut gue untuk menjadi orang yang bukan gue banget atau lebih tepatnya menjadi orang yang mereka mau. They saw how I speak in my videos, how I pose in my photos, then they QUICKLY gave me these certain labels; girly, kalem, lemah lembut, alim. So, when I don't act like that, they will be somewhat pissed and I don't understand that. They expect too much from me. They expect me to be this holy figure yang nggak boleh sama sekali membuat--what they think is--kesalahan atau sesuatu yang negatif.

Karena beberapa hari yang lalu gue ngetwit sesuatu yang--in my point of view--twitnya gue banget. I know myself so well. Dari dulu gue orangnya tomboy. All that girly clothes that I wear on my Instagram, I wear them because they were sent to me. Dan somehow fashion industry memang tend to design clothes for women yang girly-girly gitu lah. There is not a lot of choice for boyish women. Makanya kalau lagi nggak diendorse, gue selalu pake sweatshirt and jeans because I could care less about how I dress. Dan salahkan juga komuk gue yang kayak orang baik-baik dan perempuan banget. Kayaknya banyak yang ketipu sama komuk ini.

Selain tomboy, gue juga kalo ngomong ya cukup nyablak. I mean, suara gue toh udah kayak abang-abang dan gue kalo ngomong juga nggak ada ekspresi atau nadanya. And I am high tempered. Gue orangnya relatively chill, but I get annoyed easily. I get annoyed whenever I get stupid questions, whenever I encountered stupid people. Dan sedihnya gue harus encounter those two things in my daily life. Jadi intinya gue annoyed terus. Siapakah baskom gue untuk mengeluarkan segala komplen? Paul. He's a very good listener. People who know me in real life know that. Malah mereka suka ngeceng-cengin gue kalo lagi ketemu, karena di Instagram gue keliatannya kalem dan cewek banget. Yha, foto memang bisa menipu.

Okay, back to the twitter story. Lalu, ada beberapa orang yang merespon, katanya twit gue itu kok tumben negatif dan nadanya seperti annoyed dan marah-marah. It wasn't even that bad. Tapi seakan-akan buruk banget karena itu tadi, some people expect too much from me. Gue nggak X (add any adjective here), mereka sendiri yang ngelabelin gue sebagai X. So when I show them I am not X, they will complain. Sooooo.... Why did you then give me that X label in the first place, people?

Then it got me thinking, followers gue yang segambreng itu clearly have nooooo idea who I really am. Because I've been like this my whole life. And I was really annoyed when some people who never met me, never talked to me in real life, complained about the way I am. Meanwhile, orang-orang yang kenal gue beneran santai aja because like I said, I've been like this my whole life. Ngerti kan gimana keselnya? Kesel aja karena kenapa beberapa orang act like they really know me. Like, what's with that sotoy thing you got there?

It's okay kalau gue emang ngebranding gue sebagai orang yang lovely, bubbly, cheerful, tapiii seinget gue, gue nggak pernah merasa melakukan pencitraan seperti itu. Dari awal main medsos sampe sekarang gue selalu jutek. Gue jarang senyum dan selalu awkward. But why do some people think I am lovely, bubbly and cheerful?? Please someone explain it to me right now T_T

The same goes to kealiman. Satu-satunya alasan kenapa gue paling ogah dakwah-dakwah di media sosial pake ayat adalah gue nggak suka dakwah pake ayat. If you wanna show the beauty of Islam, then do it through your action not your mouth. Dan gue juga paling males kalau dikasih branding atau label sebagai orang yang sudah berhijrah. Karena stage atau level Islam gue sekarang sangat jauh dari standar hijrah yang orang-orang tau. Hijrah itu erat kaitannya dengan pake kerudung syari. But me, sampe sekarang gue nggak ada kepikiran atau rencana untuk pake kerudung syari. Hijrah itu erat kaitannya dengan gerakan anti pacaran. Meanwhile gue merasa fine-fine aja kalo ada orang pacaran. I don't care. Hijrah itu erat kaitannya dengan nontonin kajian ustadz-ustadz seperti Khalid Bassalamah di YouTube. I have no interest at all. The only ustadz yang gue dengerin adalah Nouman Ali Khan dan kadang Omar Suleiman. Tapi gue pernah dibilangin sama follower gue di Instagram, katanya NAK pengikut Sufism dan Sufism adalah termasuk golongan sesat. Well, I am sesat then.

Even if you saw me talking about Islam on my blog, Instagram or Twitter, it was just for me. Blog gue fungsinya sebagai diary. Sebagai tempat gue numpahin segala macem uneg-uneg. Bukan sebagai alat buat ngajarin atau nasehatin orang. Begitu juga dengan Twitter gue. I've been using Twitter since it first came out and I've been using it as a platform to rant and to do monologue atau ngomong sendiri, but in a smaller scale. It's more simple to rant in 140 characters. Kadang-kadang gue males nulis di blog karena kepanjangan. Sebenernya semua media sosial gue pake sebagai diary gue sih. Kecuali postingan yang ada iklannya, ya. Kalo itu buat nyari duit.

Maka dari itu gue suka heran kalau orang-orang sangat mengasosiasikan gue dengan muslim alim atau Islam yang Islam banget, because I am clearly not alim. Look at me! Dan pada saat gue berlaku yang tidak sesuai dengan agama, for example gue memperlihatkan ankle gue karena gue sangat suka pake kaos kaki pendek, cepolan kerudung gue yang buat beberapa orang kayak punuk unta, gue pake kerudung nggak nutupin dada, gue minum nggak duduk, and so on, mulailah gue dapet protes dari orang-orang. Hhhhhh lelah.

Ada satu twit di @tubirfess yang bilang "Gita suka nyinyirin orang yang belom berhijab, tapi dirinya sendiri berdua-duaan sama cowoknya di kamar.". That one tweet really annoyed me. Gue paling nggak peduli orang mau pake jilbab atau enggak. Apalagi makin ke sini gue makin sering berdialog sama muslim lain, gue makin belajar buat ngehargain apapun keputusan orang. Yang penting gue tau apa responsibility gue ke Tuhan. 

Kalo kasus ini gue rasa adalah sifat naturalnya manusia, yang mana kita paling males menjaga keaslian suatu kalimat yang kita dengar dari mulut orang untuk menghindari fitnah. This is not the first time kata-kata gue dipelintir seenaknya. Ini nggak pertama kalinya gue mendengar sesuatu yang salah tentang gue, dari hasil seseorang yang membuat conclusion tentang yang berhubungan dengan gue seenak jidat. Karena gue sangat aware gue nggak pernah seumur-umur nyinyirin orang karena belom pake jilbab. Gue selalu bilang, jilbab itu kewajiban tapi suka-suka lo mau ngejalanin kewajiban tersebut atau tidak. See? It's clearly different than "nyinyirin orang yang belom berhijab".

Okay. That's all I wanna say. Gue nggak tau ini postingan apaan, tapi ya gue cuma mau ngomel doang. Ah, satu lagi. Jangan banyak expect apa-apa dari orang. Apalagi sama seorang figur di media sosial. Disantaiin aja semuanya, jangan dibikin kaku. Takutnya nanti kita semua lupa bahagia. Bye!


Share:

1/18/2018

Manusia Dan Beribu Alasannya

Saat itu gue sedang dalam perjalanan ingin mengambil laptop gue yang hari itu udah selesai direparasi. Karena seminggu ini gue udah terlalu banyak berkutat dengan smartphone dan layar kecilnya itu, gue memilih untuk baca buku untuk menemani gue di kereta. Hitung-hitung sebagai refreshment untuk mata. Ketika lagi asik membaca, kereta gue berhenti di salah satu stasiun. Kemudian masuk lah seorang Penner. Dalam bahasa Jerman, Penner berarti pengemis atau tuna wisma yang tinggal di jalanan.

Gue adalah orang pertama yang dimintai uang sama dia. Out of all the passengers, kenapa gue? Apakah karena muka gue yang terlihat baik atau karena gue terlihat seperti orang berada? Either way, gue menolak dengan halus pengemis ini. Bukan karena sedang nggak ada koinan, tapi karena gue nggak mau memberi.

Kemudian dia memohon lagi sama gue apakah gue punya makanan instead uang. Lagi, gue menolak secara halus. Kali ini karena gue memang nggak sedang ada makanan.

Pengemisi ini pun berlalu, memberi pertanyaan di kepala gue dan sedikit penyesalan.

"Kenapa gue nggak mau ngasih uang?"

Kebanyakan pengemis yang gue lihat menggunakan uangnya untuk obat-obatan dan alkohol. Mengetahui uang yang baru saja kita berikan akan digunakan untuk kesenangan temporer membuat gue selalu berpikir empat kali untuk lantas memberi. Menyisihkan sebagian uang kecil terasa berat jika melihat orang yang meminta hanya menadah tangan, melihat mereka tidak berusaha cukup keras untuk keluar dari kesengsaraan.

Yang selalu hati gue pertanyakan, "Git, apa lo yakin mereka nggak berusaha?"

Nggak, gue nggak yakin. Mungkin baru kemarin mereka coba-coba cari pekerjaan. Mungkin juga si pengemis sudah 5 tahun keluar masuk kereta hanya meminta-minta.

Biasanya setelah itu otak gue akan mencoba berargumen lagi, mengingat kembali cerita tentang orang dari kampung yang datang ke Jakarta untuk bekerja, sebagai pengemis tentunya. Dia sengaja meminta-minta di lampu merah, seakan-akan nggak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan dan benar-benar kepepet hidupnya. Tapi ternyata di kampung hidupnya cukup berada. Punya harta yang dibeli dari hasil mengemis di ibu kota.

Perdebatan ini biasanya berlangsung sepersekian detik. Tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan perdebatan antara dua manusia. You know, our brain thinks way faster than our mouth and brain combined trying to construct a sentence. Tapi tetap terlalu lama untuk membuat pengemis ini menunggu di depan kita dengan muka memelas sembari kita menyelesaikan perdebatan antara si otak dan si hati. That's why I ended up telling him or her no. I don't wanna make this person wait.

...

Direct message seorang kawan pagi ini mengingatkan gue akan kejadian di atas. Dia bercerita tentang percakapan antara Nabi Musa as. dengan Allah SWT. Dalam percakapan ini Nabi Musa bertanya tentang ibadah yang membuat Allah senang. 

Bukan sholat, karena sholat sesungguhnya melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar. Bukan dzikir, karena dzikir membuat hati kita tenang. Bukan pula puasa, karena puasa membuat kita belajar untuk menahan hawa hafsu.

Kemudian Nabi Musa lantas bertanya ibadah apa yang dapat membuat Allah SWT senang.

Allah SWT menjawab, "Sedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku sedang berada di sampingnya."

Look at you, Gita. Si manusia yang punya seribu alasan untuk tidak membahagiakan si pengemis, padahal sebenarnya lo tidak membutuhkan satu alasan pun untuk menolong orang lain.

Share:
Blog Design Created by pipdig