A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

10/09/2017

Bertutur Kata di Era Digital

Satu dari keresahan yang gue miliki adalah bagimana sosial media sekarang sudah bergeser permainannya. Perlahan-lahan penggunanya sadar akan kemungkinan untuk memakai platform ini secara anonim. Menjadi anonim tandanya manusianya memiliki kesempatan untuk bersembunyi di balik identitas misterius, memuaskan dan ngomporin sifat pengecut si manusia.

Berbicara soal pengecut, gue rasa semua manusia punya sifat tersebut. Mereka punya ketakutan jika yang mereka lakukan akan diketahui oleh orang lain. Mereka punya ketakutan kalau mereka ngelempar seseorang pake batu, orang tersebut akan marah. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk tetap ngelempar orang tersebut dengan batu, tapi kali ini menutupi kepalanya dengan kardus. Ketimbang mengurungkan niat dan ngebuang batu yang udah digenggam di tangan mereka.

Fenomena hate speech dan cyber bullying cukup sering gue lihat. Sekarang semua orang bisa jadi korban dua hal tersebut. Mau itu orang biasa, artis, sampai presiden sekalipun. Sering kali gue takjub dengan kebebasan yang kita sekarang miliki. Kita bebas sekali bicara apa aja yang kita mau tanpa harus mengkaji kalimatnya terlebih dahulu. Kita bebas bagaimana mau mengekspresikan kesetujuan maupun ketidaksetujuan kita terhadap sesuatu. Kita bebas bagaimana mau mengkritik seseorang atau sesuatu. Mungkin karena dengan percaya dirinya kita beranggapan semua itu nggak akan ada konsekuensinya kelak. Padahal sebagai manusia beragama, konsekuensi bertutur kata buruk itu sudah jelas. Tapi mungkin karena Tuhan itu nggak keliatan kali, ya. Jadi kita nggak setakut itu dengan konsekuensi yang udah Tuhan janjikan.

Berbicara soal hate speech, beberapa hari yang lalu untuk kesekian kalinya, gue menjadi korban. Kalau kata orang-orang, salah satu resiko menjadi orang yang "eksis" di dunia nyata maupun dunia maya adalah menjadi korban kehitaman hati beberapa orang. Seseorang insecure sama diri mereka sendiri, kita yang jadi korban. Seseorang nggak puas dengan hidup mereka sendiri, kita yang jadi korban. Yoi, gue masih merasa orang yang suka menyebarkan kebencian kepada orang lain sebenernya punya issue sama diri mereka sendiri. Ketimbang menyalahkan diri sendiri dan mencoba introspeksi, mereka malah ngelempar amarah tersebut ke orang lain.

Anyway, karena teori "resiko" tersebut, bereaksi terhadap hate speech seakan-akan menjadi hal yang sebaiknya nggak dilakukan karena toh itulah kenyataan yang harus dihadapi. 

"Terima aja kaliiiii. Itu kan udah jadi resiko. Lo nggak bisa nyuruh mereka untuk stop ngatain lo."  
"Lo baperan banget sih. Santai aja kali."
"Gampang terpelatuk banget sih lo. Nggak suka amat kalau ada orang yang nggak suka sama lo."

I don't think that's fair. Nggak adil buat si korban. Karena si korban dilahirin ke dunia ini bukan buat di-bully dan dihujat. Sama nggak masuk akalnya dengan orang di jalan yang nggak lo kenal tiba-tiba ngegaplok kepala lo. Waktu ditanya, alasan dia adalah "Gue nggak suka aja ngeliat muka lo. Muka lo songong."

Gue yakin ada banyak juga orang-orang biasa, artis, selebtwit, selebgram, politisi, dan sebagainya, yang juga mengalami kejadian serupa. Digoblok-goblokin, ditolol-tololin, dikatain fisiknya, dikatain keluarganya, dikatain cewe nggak bener, dihujat sok ini dan sok itu. Macem-macem lah omongan warganet. Tapi kebanyakan dari mereka diam. Karena memang kalau diladenin juga nggak akan ada habisnya. Oleh karena itu mereka lebih memilih diam.

Tapi setelah gue pikir-pikir, dengan berdiam diri kita malah terlihat mengamini atau menyetujui konsep berkomunikasi di sosial media yang seakan-akan nggak ada konsekuensi dikarenakan ke-anonymous-an tersebut. Gue percaya ada kalanya warganet-warganet aneh yang nggak tau sopan-santun ini harus diedukasi dan disadarkan bahwa kalau berbicara, mau di dunia manapun, sama aja caranya. Tapi di satu sisi, gue nggak tau cara yang seperti apa yang paling bisa menyadarkan mereka. Karena biasanya orang-orang yang kayak begini hatinya udah tertutup dan lebih seneng ngehujat orang karena buat mereka hal itu sangat asyik untuk dilakukan.

Satu lagi hal yang sangat amat gue benci dari sosial media di era sekarang adalah akun gosip dan drama yang mulai menjamur. Kenapa yang begini makin banyak? Karena manusia itu naturalnya memang suka bergosip dan mencari-cari keburukan orang lain. Kita suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain, kita suka sekali mencari dosa orang lain, kita senang sekali memperolok orang lain, dan kita senang sekali mengekspos satu orang untuk dijadikan bahan cacian dan tertawaan. Kita merasa ada gemercik-gemercik api seru di dalam hati setiap kali ngeliat yang seru-seru di sosial media. Tapi karena kita itu pengecut, maka kita memilih untuk mengolok-olok orang tersebut beramai-ramai lewat akun gosip dan drama, bersama dengan para pengecut lainnya yang berlindung di belakang akun sosmednya.

Satu hal yang nggak mereka sadari: orang yang mereka olok-olok, entah itu lewat akun palsu, akun asli, akun gosip, suatu saat akan baca kalimat-kalimat tersebut. Ada orang beneran di balik akun yang diolok-olok dan orang tersebut punya hati, punya perasaan. Efeknya pun sangat nyata.

Ketika gue sharing pengalaman gue ngedapetin hate comment lewat Insta story kemarin, ada banyak banget respon yang gue dapet. Nggak sedikit yang bercerita tentang dirinya sendiri, keluarga, ataupun teman dekat yang juga pernah menjadi korban hate speech. Bahkan ada yang sampe harus ke psikiater karena efek yang mereka dapet dari ujaran kebencian tersebut ngebikin mereka jadi nggak percaya diri, merasa nggak berharga, dan bahkan terpikir untuk menyudahi hidup mereka.

Apakah lo masih merasa ini adalah resiko bermain sosial media ataupun resiko menjadi orang "eksis"? I don't think so. Gue masih merasa setiap orang nggak berhak untuk menyakiti orang lain dan gue masih merasa alasan "Suka-suka gue, ini hape gue, ini kuota internet gue" adalah alasan super bodoh dan super omong kosong.

If you think we just have to deal with it because we cannot tell people what to do, but somehow they can do whatever they want, what makes you think that we cannot tell them to just shut their mouth if they have nothing nice to say to us?

Hate speech IS a big issue. Stop saying that it's not.

Temen gue, Subhi Taha, bikin video super on-point mengenai perangai kita di dunia maya sekarang: tukang gosip, tukang bully, trashtalking someone on social media, gosipin orang di komen foto orang lain bareng temennya, etc. Kalian harus nonton dan mungkin bisa kalian sebarkan.

Click here to watch Subhi's video

Gue masih percaya kita bisa mengubah keadaan sosial media sekarang menjadi lebih sehat. Gue masih percaya diam ketika menjadi korban itu tidak memberikan solusi, itu malah membuat semua itu seakan-akan adalah hal yang biasa. We have to speak up. We have to treat this issue as it is. Dan iya, gue yakin gue bisa mengedukasi orang-orang untuk berlaku baik di sosial media. Gue tau itu terlihat mustahil, tapi gue yakin pasti bisa.


Share:

8/23/2017

Rasanya Jadi "Artis"

Beberapa kali orang bilang begini di kolom komentar sosial media gue. Entah itu Instagram atau YouTube:

"Git, cepetan balik ke Jerman lagi, ya! Kalau lo menetap di Indonesia, nanti lo jadi artis."

Mungkin konotasi "artis" itu agak meh sekarang. Karena seperti yang kita lihat tayangan di TV jarang ada yang bermutu. Bahkan sekarang pun ada tayangan yang dikhususkan supaya orang-orang miskin bisa membayar hutangnya, dengan mikrofon. Begitu juga dengan sinetron. Hmm, kalau soal ini nggak usah dibahas lah, ya.

Tapi siapa yang sangka, jadi "artis" dan lalu-lalang di NET TV setiap hari Minggu pagi ternyata adalah salah satu highlight dari kepulangan gue ke Indonesia kali ini.

Alhamdulillah gue mendapat kesempatan untuk bisa memandu salah satu liputan, Halal Living namanya. Liputan ini adalah bagian dari program Indonesia Morning Show. Jujur, waktu gue diajak untuk jadi host untuk salah satu programnya NET TV, gue senengnya bukan main. Karena lagi-lagi gue dapet kesempatan untuk melakukan satu hal yang belum pernah gue kerjakan sebelumnya. Gue nggak punya pengalaman jadi host, hanya sebatas sebagai narasumber. Itupun hanya satu sampai dua segmen. Spiel dalam membuat liputan pun gue nggak tau. Apa yang harus dipersiapkan dan apa yang harus dilakukan? I had zero idea. Tapi menjadi Gita di umur 25 tahun adalah Gita yang nggak mikir bisa atau nggak. So, I was like, "let's do this!".

Untuk yang nggak tau apa itu Halal Living, pada dasarnya itu adalah liputan mengenai daerah-daerah di Indonesia. Selain membahas tentang budaya, kuliner, dan tempat-tempat wisatanya, di sana dibahas juga tentang jejak Islamnya. Biasanya kita membahas masjid yang terdapat di wilayah tersebut.

Intinya, menjadi host Halal Living ternyata dituntut untuk banyak baca sebelum liputan. Karena begitu lah fungsi host, yaitu menyampaikan atau mengulik apa yang ingin diliput untuk dikonsumsi oleh penonton. Kita harus tau apa yang kita bicarakan, supaya ketika ingin improvisasi pun nggak asbun. Kita juga harus banyak bertanya dan ngobrol sama narasumber, biar "tek-tok" ketika bagian chit-chat nya natural. Plus, buat nambah-nambahin info liputan. Karena selengkap-lengkapnya Wikipedia, pasti warga lokal lebih tahu. Yes, ternyata jadi "artis" itu nggak gampang. Harus banyak baca dan belajar sebelum on camera. Harus selalu aktif otaknya walaupun badan lagi kecapean karena selalu kurang tidur.

Liputan pertama yang gue lakukan kebetulan di kota Makassar, bareng sama Hamidah. Hanya dalam 5 hari liputan, gue belajar banyaaaaaaaaaaaakkkk banget tentang kota ini. Gue belajar tentang Pelabuhan Paotere yang dulu ternyata adalah tempat parkirnya kapal Phinisi di zaman kerajaan Gowa. Gue belajar tentang Benteng Somba Opu yang ternyata dulu sempat rusak terkena ombak pasang. Gue juga belajar ternyata membangun benteng di zaman dulu hanya pake putih telur sebagai perekat bebatuannya. Ketika liputan gue juga baru tahu kalau Masjid Raya Makassar dulu dibangun tahun 1949 dan hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 1,000,000.-. Dan yang paling menarik adalah gue bisa bertemu dengan binatang endemik Sulawesi Selatan yang ternyata langka, Makaka Maura.

Apakah gue akan tau hal-hal tersebut tanpa gue memandu liputan ini? Belum tentu. Kepikiran untuk baca-baca soal Makassar aja pasti gue males banget. Mungkin yang terpikir adalah gue pingin makan Sate Padang Ajo Ramon, mumpung gue lagi di Jakarta.

Maka dari itu gue bersyukur banget bisa jadi "artis", apalagi di acara liputan yang mengharuskan gue untuk mengulik bahan. Walaupun liputan serius, tapi ternyata di lapangan orang-orangnya seru-seru banget: Reporternya (halo Lia!), Campers-nya (camera person), Drivernya. Dari mereka gue bisa denger cerita-cerita suka dan duka kerja di pertelevisian. Cerita yang gue nggak pernah denger sebelumnya, karena gue nggak pernah ketemu sama orang yang kerja di TV. Terus sekarang sedikit-sedikit gue jadi tau proses pembuatan suatu liputan. Di TV hanya ditayangkan belasan menit, tapi ternyata prosesnya memakan waktu berhari-hari. Belum lagi sebelumnya harus ada proses mengajukan tempat buat diliput, meriset item-item liputannya. Intinya yang kita lihat outcome-nya sederhana, sebenarnya ada banyak sekali malam yang dilalui tanpa tidur oleh orang-orang di balik layar.

Nah, kalau ada orang-orang yang kecewa gue di Indonesia masuk TV mulu, doi nggak tau aja gimana bersyukurnya gue bisa dapet kesempatan kayak gini. Karena doi nggak tau berapa banyak ilmu baru yang gue dapet :p
Share:
Blog Design Created by pipdig