A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

10/10/2018

It's the Will, Not the Skill

Tadi pagi gue scrolling komen salah satu postingan akun di Instagram tentang film Rentang Kisah. Iya, buku gue bakal difilmin dan gue seneng banget! 

Anyway, satu orang di postingan itu bilang, buku ini diangkat karena kebetulan gue lagi rame aja. Padahal sebenernya nggak ada yang segimana banget dari kisah gue, sampe-sampe bukunya harus difilmkan. Kisah gue sangat biasa, karena toh di dunia ini banyak sekali orang Indonesia yang sekolah dan tinggal di luar negeri. Tidak ada yang spesial dari itu semua. Menurut dia, buku gue pun biasa aja karena banyak cerita yang terlalu gue romantisasi dan terkesan berlebihan untuk dia.

Komentar dia membuat gue berpikir lagi mengenai usaha dan rezeki dan membuat gue jadi flashback ke masa lalu.

Dulu gue punya temen yang juga suka menggambar sama kayak gue. Di saat dia baru memulai hobinya itu, gue udah lebih dulu berkecimpung di dunia gambar-menggambar dan bahkan udah dapet pengakuan dari salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia bahwa gue memang punya skill dan pantas kuliah seni di sana. Makanya tiap kali dia mengunggah karyanya di media sosial, yang gue lakukan adalah mencibir "Halah, bagusan juga gambar gue". 

Si temen gue ini rajin ngegambar tiap hari dan selalu mengunggah gambarnya di medsosnya dia. Dia juga terlihat selalu excited bercerita di caption tentang arti dari karya dia tersebut. Lagi-lagi kelakuan dia gue cibir "Lo emang ngerasa gambar lo sebagus apa sih sampe lo pede banget nge-upload itu di medsos?". Dipikir-pikir tengik jugak ye gue dulu. Tapi tenang, I learned my lesson kok. Everyday is a day to learn.

Lama nggak pernah ngikutin lagi perkembangan gambarnya (karena jumawanya gue), suatu hari gue penasaran untuk ngeliat hasil karyanya sekarang. Jleb! Gue berasa ditampar. Gue kaget, kemajuan dia pesat banget. Bahkan dia udah berani untuk jadiin menggambar sebagai mata pencahariannya dan kliennya nggak sedikit!

Di situ gue nyesek banget dan akhirnya merenung. Di saat gue lagi sibuk mencibir dan menyepelekan hasil karyanya, dia selalu latihan gambar pagi sampai malam. Di saat gue merasa skill gue jauh di atas dia, di saat itu juga gue lengah dan nggak terpikir kalau nanti dia akan jauh lebih jago dari gue. Di saat itu memang gambar gue lebih bagus, tapi gue lupa kalau pada akhirnya orang pintar akan kalah dengan orang yang rajin dan ulet. Dan yang lebih menyedihkan lagi, gue terlalu sibuk mencibir dia, tapi gue nggak sibuk naikin skill gambar gue sendiri. Alhasil, gue nggak maju-maju.

Konsep usaha dan rezeki ini juga terbesit kalo gue lagi ngeliatin Instagram-nya the Kardashians.  Hahaha, contohnya harus Kardashian banget nih?! Eh, tapi walaupun mereka kayak gitu, menurut gue ada hal positif yang harus kita contoh. 

Selama ini gue sering banget mendengar opini nggak enak orang-orang terhadap keluarga yang satu ini. Banyak orang bilang the Kardashians are famous for doing nothing. Keluarga ini keluarga nggak jelas yang cuma ketawa-ketawa dan bikin drama doang. Pokoknya orang barat senggak suka itu deh sama mereka.

Menurut gue, si Kardashians itu revolusioner. Mereka bisa ngeliat opportunity untuk dapet uang dan fame yang orang lain nggak lihat. Mereka bisa keluar dari stereotip "bekerja harus literally kerja di depan komputer di dalam cubicle". It's a smart move! 

Dan menurut gue banyak orang yang nggak suka sama mereka bukan karena mereka nggak bisa apa-apa. Tapi para anti-Kardashian kesel aja kali yah, mereka udah kerja siang-malem mati-matian tapi nggak tajir. Sementara mereka lihat Kim bersaudara cuma "begitu-begitu" doang kerjaannya, tapi duitnya triliunan.

Di sini menurut gue yang kita mesti renungin. Kita nggak pernah tau usaha di balik kesuksesan keluarga ini karena kita terlalu sibuk mencibir mereka. Kita nggak pernah tau berapa banyak pengorbanan yang harus mereka lakuin. Kita nggak pernah tau cuma berapa jam mereka bisa tidur dalam sehari. Kita nggak tau se-hectic apa kesehariannya karena kerjaannya sebenernya segunung. Lagi, kita sibuk mencibir sementara mereka lagi working their asses off to get a better life. Pada akhirnya, mereka makin kaya dan kita masih miskin aja.

Balik lagi ke cerita gue. Waktu gue dikasih tau sama editor gue kalau Falcon Pictures berniat untuk bikin Rentang Kisah jadi film, rasanya tuh campur aduk. Selama ini gue suka lihat gimana para penulis yang bukunya diangkat ke layar lebar. Tapi nggak pernah sedikit pun ada rasa jika gue pun ingin bisa mengalami hal itu. Karena ya nggak mungkin. Gue siapa? Gue udah ngapain?

I am not a dreamer, makanya gue nggak pernah bermimpi terlalu jauh. Gue si orang yang belum ngapa-ngapain, belum memberi pengaruh apapun ke orang lain, nggak mungkin bisa punya karya apapun. Karena setau gue hanya orang hebat yang bisa mencapai sesuatu.

Tapi gue diingetin lagi sama konsep usaha dan rezeki yang gue pelajari. Selama ini orang tua gue udah berusaha mati-matian sampe gue bisa kayak sekarang. Gue ngeliat betul gimana perjuangan mereka berdua cari uang dan mengatur uang itu supaya gue dan adik gue bisa dapetin yang terbaik. Bokap gue sampe harus jauh-jauh ke luar negeri dan bertahun-tahun pisah sama keluarga. Sementara nyokap juga sampe harus cari sampingan. Saking jagonya orang tua gue, sampe-sampe kita selalu disangka orang kaya sama banyak orang.

Nggak cuma masalah materi, setiap hari nyokap gue selalu ngasih gue nasehat dan wejangan supaya gue bisa jadi manusia yang berguna. Supaya gue jadi manusia yang mandiri, yang kritis, yang berani. Aduh, tiba-tiba gue merasa gue belom ngelakuin apa-apa buat mereka T_T

Oke, lanjut... Mungkin dari semua usaha, energi, waktu, dan keringat yang dikeluarkan oleh bokap, nyokap dari sejak dulu kala, Tuhan merasa gue pantas untuk dikasih apa yang gue dapetin sekarang. Gue yakin itu karena gue tau Tuhan nggak pernah tidur dan Dia Maha Adil.

Dengan adanya buku gue yang alhamdulillah udah sampe cetakan ke sembilan, terus sekarang mau diangkat ke film. Dengan banyaknya kesempatan gue kerja sama segala macam brand dan exposure yang gue dapetin sekarang. Mungkin itu semua adalah buah manis yang Tuhan kasih buat keluarga gue. Mungkin Tuhan ngedenger doa nyokap gue siang dan malam, bagaimana dia selalu mengucap dalam sujudnya semoga gue bisa jadi anak yang mengangkat derajat dan menolong keluarganya.

Karena kita nggak pernah tau usaha orang, hendaknya kita nggak mencibir orang tersebut. Dan menyepelekan seseorang atau karya orang ternyata nggak membuat kita berjalan kemana-mana selain mundur. Karena kita akan selalu merasa lebih baik dari orang lain dan nggak ada rasa urgensi untuk mengaktualisasi diri. Itu yang gue pelajari dari mencibir temen gue, dari ngejulidin artis X, dari ngeliat seseorang yang gue pikir nggak pantas dapetin kesuksesan yang dia dapetin saat itu.

Dan sebenernya pada akhirnya Tuhan itu Maha Adil dan Dia lah yang berhak memberi rezeki kepada siapapun yang dikehendakiNya. Kepada hambaNya yang selalu berusaha, kepada hambaNya yang selalu berdoa.

Remember. It's the will, not the skill.
Share:

9/30/2018

Some Informations We All Need

APA ITU PELECEHAN SEKSUAL?
Pelecehan seksual adalah perilaku yang berhubungan dengan seks yang tidak diinginkan, yang terjadi secara lisan, tindakan, maupun lewat isyarat.

APA SAJA YANG TERMASUK PELECEHAN SEKSUAL?
- Pemerkosaan atau percobaan pemerkosaan
- Pemaksaan keinginan seksual yang tidak diinginkan
- Memegang, menyudutkan, bersender kepada seseorang yang tidak diinginkan
- Memandang dan melakukan gesture seksual
- Bercandaan, ejekan, komentar, pertanyaan, pernyataan seksual yang tidak diinginkan
- Bersiul kepada orang lain
- Cat calls
- Komentar seksual terhadap bentuk tubuh, cara berpakaian, maupun penampilan orang lain
- Ekspresi wajah, kedipan mata, throwing kisses atau licking lips
- dsb

PELECEHAN SEKSUAL TERJADI PADA SATU DARI TIGA WANITA DI DUNIA DAN PADA SATU DARI ENAM PRIA. KENAPA DINORMALISASI?
1. Rape culture
2. Victim blaming
3. Kurangnya edukasi menyeluruh akan sexual behaviour dan sexual violence

APA ITU RAPE CULTURE?
Rape culture adalah sebuah lingkungan di mana pemerkosaan dianggap lazim terjadi dan kekerasan seksual dinormalisasi. Rape culture dilakukan dan dibudayakan lewat pemakaian kata-kata misogynist (yang menyudutkan wanita), objektifikasi tubuh wanita, dan glamorisasi terhadap kekerasan seksual di kehidupan sehari-hari maupun di popular culture.

APA SAJA YANG TERMASUK RAPE CULTURE?
- Menyalahkan korban dengan cara meneliti pakaian korban, mental state, motive, dan juga kelakuan korban
- Menyepelekan pelecehan seksual —> „Ahh, namanya juga laki-laki. Nafsu mereka memang lebih tinggi.“
- Menolerir pelecehan seksual
- Mengartikan „kelaki-lakian“ sebagai DOMINASI dan memiliki NAFSU LEBIH TINGGI (sexually aggressive)
- Mengartikan „kewanitaan“ sebagai PENURUT dan tidak lebih agresif secara seksual
- Beranggapan bahwa hanya wanita „nakal“ lah yang bisa dilecehkan
- Mengajarkan wanita supaya tidak dilecehkan dan tidak mengajarkan pria supaya tidak melecehkan

APA ITU VICTIM BLAMING?
Menyalahkan korban yang terkena pelecehan seksual. Seseorang menyalahkan korban karena dia tidak mau tahu dan mau menjauhi diri dari kejadian yang tidak mengenakan. Dengan cara melabeli dan menuding korban, orang tersebut beranggapan dirinya tidak sama dengan korban. Maka dari itu dia merasa akan terhindar dari pelecehan seksual tersebut.

Sikap ini bisa mengenyampingkan korban pelecehan seksual dan membuat mereka makin tidak mau menceritakan dan melaporkan kejadian. Sikap ini juga MEMPERKUAT ALASAN BUATAN SI PELAKU PELECEHAN, „Kejadian ini terjadi karena salah korbannya. She’s asking for it.“. Pelecehan seksual bukan kesalahan korban, tetapi hal tersebut adalah pilihan si pelaku untuk tidak melakukannya! Dan bukan kewajiban korban untuk memperbaiki situasi.

BAGAIMANA CARA SUPAYA BISA MELAWAN RAPE CULTURE DAN VICTIM BLAMING?
- Berpikir dan bersikap kritis terhadap bagaimana lingkungan dan media menggambarkan laki-laki, wanita, relationships, dan kekerasan
- Tidak menggunakan bahasa yang mengobjektifikasi dan menyudutkan korban
- Jika kalian melihat seseorang melakukan bercandaan seksual atau melakukan pelecehan, SPEAK UP!
- Jika seseorang bilang ke kalian bahwa dia dilecehkan, have a conversation with this person and be supportive
- Beri tahu si korban bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan dia
- Jangan biarkan si pelaku beralasan konyol terhadap apa yang dia perbuat, seperti menyalahkan korban atau keadaan
- Artikan sendiri „kelaki-lakian“ dan „kewanitaan“, terlepas dari stereotip yang ada
- BE AN ACTIVE BYSTANDER! Karena diam berarti membuat rape culture dan pelecehan seksual terus dianggap lazim di masyarakat.

BAGAIMANA KEADAANNYA DI INDONESIA?
- Menurut CATAHU 2018 Komnas Perlindungan Perempuan, di ranah privat/personal persentasi kekerasan seksual adalah sebesar 31% (2.979 kasus)
- Untuk kekerasan seksual di ranah privat/personal tahun ini, incest (pelaku orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga) merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan yakni sebanyak 1.210 kasus, kedua adalah kasus perkosaan sebanyak 619 kasus, kemudian persetubuhan/eksploitasi seksual sebanyak 555 kasus. Dari total 1.210 kasus incest, sejumlah 266 kasus (22%) dilaporkan ke polisi, dan masuk dalam proses pengadilan sebanyak 160 kasus (13,2%)
- Di tahun ini, CATAHU juga menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah privat/personal adalah pacar sebanyak 1.528 orang, diikuti ayah kandung sebanyak 425 orang, kemudian diperingkat ketiga adalah paman sebanyak 322 orang. Banyaknya pelaku ayah kandung dan paman selaras dengan meningkatnya kasus incest.
- Di ranah publik (pelaku dan korban tidak memiliki hubungan kekerabatan, darah ataupun perkawinan), kekerasan seksual mencapai angka 76% (2670 kasus), yaitu pencabulan (911 kasus), pelecehan seksual (708 kasus), dan perkosaan (669 kasus)

-------------------------------------------------

Gue terpelatuk oleh direct message salah satu followers gue di Instagram yang berkata bahwa jika seorang wanita mengalami pelecehan seksual, maka dirinya harus introspeksi diri. Lihat lagi cara dia berpakaian dan kenapa dia bisa mengundang laki-laki untuk melecehkan dirinya. Katanya lagi, Islam sudah mengatur bagaimana wanita harus berpakaian agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Wanita harus menutup aurat karena pria memiliki nafsu lebih besar dan aurat wanita bisa memicu hal-hal nggak enak.

Oke, gue setuju kalau Allah SWT mewajibkan umatNya yang wanita untuk menutup aurat. Tapi gue sangat tidak setuju jika alasan menutup aurat adalah untuk menghindari pelecehan. Hi, have you heard of SELF-CONTROL? Setiap manusia dikasih nafsu, tapi juga dikasih akal pikiran. Jangankan nafsu untuk megang-megang atau bahkan memperkosa cewek lain, nafsu makan kebanyakan sampe begah aja harus ditahan. Dan bukan salah si korban kalau si pelaku nggak bisa menahan nafsunya. It's never about the women's clothes. Kenyataannya ada banyak wanita yang udah menutup aurat pakai pakaian syari, tapi tetap kena pelecehan.

Maaf banget, tapi memanfaatkan agama untuk membudayakan rape culture adalah salah satu hal yang paling menjijikan. Yes, it is rape culture if you think the victim is the one responsible for this unfortunate occurance. It is rape culture if you normalize and think sexual harassment is prevalent, because heeyyy boys will be boys, right?!

Gue berharap siapapun dari kalian yang merasa pelecehan seksual adalah tanggung jawab si korban, setelah membaca informasi di atas, kalian tersadar jika kalian sedang berada di bawah pengaruh budaya patriarki dan rape culture yang sangat pekat di masyarakat kita.
Share:
Blog Design Created by pipdig