A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

11/25/2018

Apakah Gue Seorang Muslim Liberal?

Beberapa bulan belakangan ini gue sering banget mendengar asumsi dari para netijen yaitu gue memiliki paham liberal. Awalnya gue baper. Karena sebagai orang yang dulu mengidentfikasi diri sebagai konservatif, gue merasa diserang oleh orang-orang dari kubu gue sendiri. Yah, gimana enggak? Pertama kalinya gue mengunggah video Beropini tentang dugaan pelecehan agama yang dilakukan oleh Joshua Suherman dan Ge Pamungkas, respon yang gue dapet cukup liar. Selain disebut-sebut JIL, gue juga disebut hijaber yang tidak islami sama sekali karena gue nggak marah ketika agama gue dijadikan bahan tertawaan.

Sejak saat itu ada banyak konten gue lainnya yang mengundang respon liar netijen konservatif. Salah satunya adalah ketika gue mengunggah foto dengan Mbak Hannah Al Rashid. Di saat itu gue senang banget akhirnya bisa ketemu dia. I adore her because she's fearless karena dia publik figure yang nggak takut untuk bersuara. Sedikit gue tau, ternyata Mbak Hannah udah dicap sebagai pro-LGBT dan auto-laknat oleh kubu tersebut. Alasannya? Gara-gara dia ikut Women's March, yang dianggap sebagian orang adalah gerakan mendukung LGBT di Indonesia.

Sampai saat itu entah ada berapa banyak komentar-komentar netijen yang secara gamblang dan tanpa basis menyebut gue sebagai muslim liberal. Yang tadinya baper, gue sekarang jadi punya invisible shield. Yang tadinya sakit hati, sekarang jadi nggak berasa apa-apa kalo ada yang nyebut gue liberal. Bahkan nyebut gue kafir sekalipun.

Di saat yang bersamaan, gue menjadikan ini sebagai kesempatan untuk berkomunikasi dan mengajak si accuser untuk sedikit elaborasi. Sebenarnya apa yang mendasari asumsi mereka tersebut? Hingga detik ini, dari sekian banyak orang yang gue japri di direct message, nggak ada yang bisa ngejelasin kenapa dia nyebut gue seperti itu.

Oh, gue jadi inget ada satu kejadian lucu. Bagi yang mengikuti gue, mungkin kalian tau lah waktu itu ada satu selebgram pendakwah yang call out gue sebagai sekuler di IG story-nya. Dari sekian banyak netijen yang komen nyuruh gue ke neraka, ada salah satu orang yang gue japri. Dia bilang gue sekuler, lalu gue tanya sekuler itu apa. Gue nggak ngibul. Dia literally jawab begini:

"Sekuler itu orang yang nggak bisa ngebedain mana yang baik dan mana yang buruk."

Jawabannya sungguh tidak memuaskan. Ternyata ada orang di luar sana yang tidak terlalu tau apa yang sedang dia bicarakan.

Ada satu lagi pernyataan lucu satu netijen yang ditujukan kepada gue. Dan lagi, ini beneran. Dia bilang, "Kakak suka sama ceramah Quraish Shihab. Kakak merasa yang dilakukan pelawak itu bukan pelecehan. Kakak nanti tahun 2019 pilih Jokowi, ya?".

Di situ gue bertanya-tanya, di mana korelasi antara ceramah Quraish Shihab sama preferensi politik gue. Tapi dipikir-pikir memang itu lah yang sedang terjadi di Indonesia. Pandangan seseorang terhadap suatu hal bisa dihubungkan ke siapa presiden yang akan dia pilih, entah bagaimana caranya. Apakah orang kita sudah overdosis drama Cebong dan Kampret? Bisa jadi.

Namun, dia jadi makin bingung setelah gue beritahu jawaban gue. "Tahun 2014 gue pilih Prabowo. Pilgub gue dukung Anis-Sandi, tapi memang Ahok kerjanya oke punya. Gue ikutan Liqo yang mana adalah sistem tarbiyah-nya PKS. Untuk ulama Indonesia, gue seneng dengerin Quraish Shihab karena lebih humanis. Untuk urusan pelecehan agama yang katanya dilakukan pelawak ini, gue merasa dia nggak melecehkan Islam."

"Makin bingung nggak lo?"
"Iya, Kak. Aku bingung."

Tamat.

Anyway, daripada kelamaan nungguin para netijen ini untuk menjelaskan ke gue satu per satu alasannya nyebut gue liberal, pagi ini setelah terbangun dari mimpi, gue mendapat ilham untuk mencari tau sendiri.

Let's break it down:

Case 1: Gita liberal. Soalnya di video Creators for Change tahun lalu, dia menghadirkan seorang waria untuk jadi salah satu narasumbernya. Tandanya dia pendukung LGBT. Laknatullah!
Kata Gita: Seperti yang udah gue jelasin sampe seret tenggorokan di video PagiPagi episode 5 (kalau nggak salah), gue nggak setuju dengan konsep LGBT. Dalam pengertian gue, gender itu nggak fluid. Kalo nggak cowok, ya cewek. Kalo lo punya penis, tandanya lo cowok. Kalo lo punya vagina, tandanya lo cewek. Beda kalau kasus spesial di mana si orang punya dua alat kelamin. Mungkin di kasus tersebut, beliau bisa memilih. Begitu pula dengan pengertian gue mengenai identitas seksual seseorang. Laki-laki ya sama perempuan. Kalo kita ngomongin tentang LGBT yang membuat keluarga, menurut gue keluarga nggak bisa dibangun oleh Bapak dan Bapak atau Ibu dan Ibu. Di mata gue, peran Bapak dan Ibu itu idealnya mengkomplimen aspek tumbuh anak in different ways. Kalau ada muslim yang gay, ya gue nggak setuju. Karena menyalahi aturan agama. Tapi balik lagi, itu urusan dia sama Tuhan. Kalau dia bukan muslim, gue lebih nggak ngurusin lagi. In the end, hidup setiap manusia itu kompleks. Everyone is fighting their own battle. Gue nggak berada di posisi di mana gue bisa mengatur mereka. Bukan pula di posisi gue marah-marah ngelaknat mereka. Lantas, gue harus memusuhi teman-teman gue yang LGBT? Gue rasa tidak. Gue selalu mengajarkan diri gue dan mencoba untuk melihat seseorang lebih dari sekedar identitas seksual dia, agama dia, ras dia, dan apapun faktor personal lainnya. Temen-temen LGBT gue banyak dan mereka baik-baik banget. Makin ke sini, hal itu sih yang makin gue prioritaskan dalam pertemanan. Asalkan lo baik, faktor lain nggak terlalu penting.

Case 2: Gita liberal. Soalnya Gita nggak merasa Tretan Muslim dan Coki Pardede melecehkan agama. Di mana ghirah mu?!
Kata Gita: Mungkin karena gue sering nonton film-film dan video dari luar negeri, jadi referensi lawakan gue nggak sekadar ngata-ngatain fisik orang atau gebuk orang pake styrofoam kali, yah? Seperti halnya lawakan Joshua dan Ge, lawakan Muslim dan Coki tidak lebih hanya sekadar sarkasme terhadap beberapa orang muslim di Indonesia yang fanatik buta. Gue yakin nggak cuma gue doang, ada banyak orang lain yang merasa kelompok ini terlalu keras dalam berdakwah. Kerjanya mengkafir-kafirkan orang seenaknya, melabeli orang dengan kata-kata tidak pantas, bahkan sampai mencaci-maki orang yang berseberangan dengan mereka. Ironisnya, kelakuan mereka sama sekali nggak mencerminkan agama yang katanya sedang mereka bela. Islam sendiri artinya peace, kedamaian. Apakah mencaci-maki orang itu perbuatan damai? Buat gue, pelecehan agama adalah Geert Wilders, pemimpin oposisi anti Islam di Belanda yang sengaja membuat kontes menggambar karikatur Rasulullah SAW. Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh koran Charlie Hebdo. Kalo nggak setuju sama Islam ya monggo, tapi nggak perlu menghina. Contoh pelecehan agama lain adalah orang-orang yang ngebom kanan-kiri dan ngakunya lagi jihad membela agama. Jelas-jelas Islam nggak pernah nyuruh kita bunuh orang, tapi tetep aja dilakuin. Imbasnya sudah pasti ke muslim moderat lain yang jadi korban Islamophobia. Kalo si ekstrimis mungkin sudah naik ke khayangan sana dan ditemani oleh 72 virgin angels seperti yang dijanjikan ajarannya.

Case 3: Gita liberal. Soalnya dia pernah bilang di video Beropini seorang artis yang lepas kerudung kalau pada akhirnya itu pilihan dia karena kerudung adalah perkara pribadi yang sensitif. Mbak, hijab itu wajib hukumnya buat wanita muslim!
Kata Gita: Hallease, sesama ambasador Creators for Change tahun ini, memfitur gue di dalam videonya yang membahas tentang headwraps. Di videonya tersebut, gue menjelaskan konsep dari kerudung dalam Islam dan apa yang mendasari keputusan gue untuk menutup aurat. Gue bilang bahwa kerudung itu wajib hukumnya dan sudah tertulis di Al-Quran. Makanya sejujurnya gue nggak setuju jika ada muslim yang bilang bahwa kerudung itu pilihan. "Git, tapi kan lo bilang lo feminis? Feminism is all about choice. Women can wear whatever they want!". Nah, ini poin yang sebenarnya ingin gue sampaikan lewat tulisan ini. Setiap pemahaman yang masing-masing orang miliki, selalu memiliki nuance. Seringkali, kacamata hitam dan putih nggak cukup untuk membantu kita memahami sesuatu. Contoh: ada beberapa muslim yang beranggapan ngebom dan membunuh orang kafir adalah bentuk dari jihad. Ada juga yang nggak, termasuk gue. Maka dari itu, nggak bener dong pernyataan para white supremacist di luar sana yang bilang bahwa Islam adalah agama teroris? Karena kita nggak bisa melihat muslim dari satu kacamata aja, kacamata para muslim ekstrimis. Balik lagi ke kerudung. Gue percaya kerudung adalah kewajiban. Tapi pada akhirnya kerudung itu berhubungan erat banget dengan perjalanan spiritual setiap muslimah dalam mencari Tuhannya. Pada akhirnya setiap muslimah berhak untuk menentukan sendiri, jalan seperti apa yang mau dia telusuri. Netijen nggak ada urusan dan sebetulnya nggak berhak untuk mendikte pencarian Tuhan seseorang. Wallahualam kalau nantinya di akhirat, fakta bahwa si muslimah tidak pakai kerudung saat di dunia dulu akan dihisab oleh Allah SWT. Kalau urusan hisab, gue merasa gue tidak berada di posisi di mana gue bisa berkomentar banyak. Karena gue punya dosa gue sendiri yang harus gue urusin.

Case 4: Gita liberal. Soalnya dia bilang dia feminis. Feminisme itu paham barat! Barat itu negara-negara kafir!
Kata Gita: Seperti yang gue bilang di atas, pemahaman seseorang terhadap sesuatu pasti ada spektrumnya. Jika lo nanya gue apa arti feminisme untuk diri gue sendiri, kemungkinan besar jawabannya akan berbeda ketika lo bertanya dengan orang lain. Karena gue muslim, ada beberapa paham di dalam feminisme yang bertabrakan dengan agama gue. Dan kewajiban gue adalah mengambil yang baik dan membuang yang gue kira buruk. Ada beberapa feminis yang beranggapan pria dan wanita tidak ada bedanya. Gue kurang setuju. Secara biologis, fisik, dan psikologi, pria dan wanita diciptakan berbeda. Maka dari itu kedua gender memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Itulah mengapa kita harus saling menghargai hal tersebut dan kemudian saling melengkapi. Ada beberapa feminis yang merasa wanita harus di atas pria. Dengan alasan yang sama seperti di atas, gue nggak setuju dengan pernyataan ini. Buat gue, feminisme bukan ajang di mana kita, wanita, mau main lebih-lebihan dibanding laki-laki. Menurut gue, lebih bijak jika kita semua be fair. Buat gue, feminisme adalah kesetaraan. Kesetaraan bukan berarti sama. Keresahan yang gue miliki adalah bagaimana pandangan beberapa orang terhadap wanita. Wanita dianggap seperti second gender yang cukup berkontribusi urusan dapur sama bikin anak aja. Imbasnya ada banyak orang yang merasa kalau wanita sekolah terlalu tinggi, maka dia akan susah cari jodoh dan ilmunya akan sia-sia. Terlebih dengan maraknya kejadian pelecehan seksual. Ini menandakan banyak banget cowok di luar sana yang memandang cewek hanya sebatas objek seksual. Dan nggak sedikit wanita yang juga terjebak di dalam budaya patriarki tanpa mereka sadari. Temennya abis kena grepe cowok di angkutan umum, responnya malah "Yah, lo nggak berhijab sih.". Seakan-akan wanita muslim berjilbab agar terhindar dari pelecehan seksual yang mungkin akan dia alami. Nah, menurut gue ini juga salah satu pelecehan agama nih. Memakai ayat Allah SWT untuk menyudutkan suatu kaum dan mendukung kaum lainnya. Dengan tameng ayat Allah mengenai perintah kepada muslimah untuk menutup aurat, oleh beberapa orang dimanfaatkan untuk mempertahankan budaya patriarki agar makin kental di negara ini. Sedihnya, karena banyak banget yang setuju dengan jargon "berhijablah, maka niscaya kamu akan terhindar dari pelecehan", banyak orang yang nggak familiar dengan Islam merasa Islam adalah agamanya yang tidak ramah perempuan. Feminisme adalah paham di mana seseorang percaya bahwa setiap gender berhak mendapatkan respek dan kesempatan yang sama dan tidak ada superiority di dalamnya. And I'm all for it.

Case 5: Gita liberal karena dia nggak mendukung gerakan nikah muda. Mending nikah muda daripada zina!
Kata Gita: Lawan dari berzina adalah tidak berzina, bukan nikah muda. Buat kebanyakan orang, menjadi suami ataupun istri adalah tujuan dalam hidupnya. Peran tersebut juga dibarengi dengan tanggung jawab yang besar. Gue seneng sama orang-orang yang tau diri. Tau bahwa dirinya belum siap secara materi dan belum juga siap dalam aspek kedewasaan, lantas dia masih belum berani untuk meminang calon istri. Beda ceritanya sama orang-orang yang jelas-jelas masih labil, tapi isi otaknya cuma kawin doang. Alasannya, menikah itu mendatangan rezeki. Yaa... Mungkin bener menikah mendatangkan rezeki. Tapi kalo masih misqueen tapi berani-beraninya claiming kalau dirinya pasti bisa membiayai satu manusia lagi, masih bocah tapi merasa sudah bisa membimbing sang wanita, bukan bunuh diri itu namanya? Lebih ngeselin lagi kalo si orang yang kebelet ini memanfaatkan ayat Quran untuk menjustifikasi aksinya. "Menikah itu menyempurnakan separuh agama.". Yang separuhnya lagi gimana? Memangnya udah sempurna? Gue sejujurnya sedih, makin ke sini perkara menikah makin menjadi tekanan di kalangan masyarakat. Kesannya kalau belum menikah itu sedih banget. Padahal siapa tau yang masih single itu lebih bahagia daripada yang udah nikah tapi tiap hari berantem terus. Kesannya jika sang pria maupun wanita wafat ketika masih single, mereka akan langsung ditolak oleh malaikat penjaga surga karena selama di dunia belum menikah. Belum lagi, beberapa orang yang gemar berkampanye nikah muda seakan-akan berkata inti dari segala kehidupan yang sungguh pelik ini adalah mencari pasangan. Seakan-akan menuntut ilmu sampai ke negeri Cina tidak penting. Seakan-akan menambah wawasan dan pengalaman hanya membuang waktu. Memberi mimpi semu, seakan-akan menikah adalah solusi segala masalah yang dia punya. Sebenernya pandangan gue sesederhana ini: menikah atau tidak menikah bukanlah urusan publik bersama. Mau menikah kapan aja, terserah si manusianya.

Case 6: Gita liberal. Soalnya Gita pernah bilang di IG story kalau dia pingin nunda punya anak. Anak itu rezeki, woy! Masa lo tolak?!
Kata Gita: Gue udah hidup di dunia ini selama 26 tahun. Ada banyak banget yang gue dengar, yang gue lihat, dan yang gue alami, yang membuat gue belajar satu hal: punya anak itu susah banget. Karena ternyata anak itu bukan sekadar rezeki kayak lo dapet uang kaget dari Helmi Yahya, tapi tanggung jawab. Pertama soal finansial. Anak butuh dikasih gizi yang cukup, lebih malah. Nutrisinya harus terpenuhi apalagi di 1000 hari pertama dari dia di dalam janin. Karena kalo nggak, itu anak nanti bakal stunting. Stunting bukan cuma berefek ke pertumbuhan anak yang badannya jadi lebih pendek dari rata-rata, tapi ke perkembangan kognitifnya juga. Intinya kalo si ibu hamil kurang gizi (kurang zat besi misalnya) dan anaknya kurang nutrisi, memang si Ibu jadi punya keturunan. Tapi keturunannya lemot. Sementara kalau lo bereproduksi, lo maunya anaknya jadi anak yang pinter. Biar pas gede nggak jadi sampah masyarakat dan gampang dibegoin sama hoax. Kedua soal pendidikan akademik. Ini masih berhubungan dengan perkara finansial. Lo mau menyekolahkan anak lo di tempat yang menurut lo terjamin kualitasnya. Biasanya sekolah yang bagus, maka bagus pula SPP-nya. Selain itu lo juga mau dia nggak cuma sekolah doang. Karena nyatanya hidup ini bukan cuma soal nilai dan ijazah. Anak lo harus punya kemampuan lain entah itu kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, berempati, seni, olahraga, bahasa asing, dan keterampilan lainnya. Berarti lo harus daftarin dia di kursus ABCD yang mana butuh biaya yang nggak sedikit. Ditambah lagi lo sebagai Ibu yang menyandang titel "madrasah pertama bagi sang anak" harus jadi Ibu yang pintar pula. Anak harus diajarin caranya bersikap, diajarin agama biar tau mana yang benar dan salah. Tapi di saat yang bersamaan, si Ibu harus ngajarin anaknya bertoleransi. Anaknya harus dibikin cultured biar gedenya nanti nggak misuh-misuh liat orang warna kulitnya beda sama dia atau liat orang yang cara beribadahnya beda. Gimana caranya supaya kita bisa jadi Ibu yang pintar? Banyak ketemu orang, banyak ngobrol sama orang, banyak baca, banyak nonton, banyak mengedukasi diri. Belum lagi komitmen yang harus kuat ketika kedua pasangan memilih untuk punya keturunan. Faktanya, banyak suami dan istri yang masih labil dan akhirnya berefek ke perkembangan psikis anak tersebut. Jadi begitu, Fernando Jose, nggak semua orang menganggap remeh punya anak. Karena kalau si anak tumbuh jadi orang yang bodoh, ignoran, rasis, dan pembenci. Sedikit banyak di situ ada tanggung jawab dari Emak-Babenya.

Begitulah kiranya jawaban-jawaban yang gue pertanyakan. Asli, gue jadi berasa lagi di talkshow Mas Deddy Corbuzier. Tapi yang jawab Mas Corbuziernya sendiri

Nah jadi pertanyaannya, gue liberal apa enggak sih?
Share:

10/10/2018

It's the Will, Not the Skill

Tadi pagi gue scrolling komen salah satu postingan akun di Instagram tentang film Rentang Kisah. Iya, buku gue bakal difilmin dan gue seneng banget! 

Anyway, satu orang di postingan itu bilang, buku ini diangkat karena kebetulan gue lagi rame aja. Padahal sebenernya nggak ada yang segimana banget dari kisah gue, sampe-sampe bukunya harus difilmkan. Kisah gue sangat biasa, karena toh di dunia ini banyak sekali orang Indonesia yang sekolah dan tinggal di luar negeri. Tidak ada yang spesial dari itu semua. Menurut dia, buku gue pun biasa aja karena banyak cerita yang terlalu gue romantisasi dan terkesan berlebihan untuk dia.

Komentar dia membuat gue berpikir lagi mengenai usaha dan rezeki dan membuat gue jadi flashback ke masa lalu.

Dulu gue punya temen yang juga suka menggambar sama kayak gue. Di saat dia baru memulai hobinya itu, gue udah lebih dulu berkecimpung di dunia gambar-menggambar dan bahkan udah dapet pengakuan dari salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia bahwa gue memang punya skill dan pantas kuliah seni di sana. Makanya tiap kali dia mengunggah karyanya di media sosial, yang gue lakukan adalah mencibir "Halah, bagusan juga gambar gue". 

Si temen gue ini rajin ngegambar tiap hari dan selalu mengunggah gambarnya di medsosnya dia. Dia juga terlihat selalu excited bercerita di caption tentang arti dari karya dia tersebut. Lagi-lagi kelakuan dia gue cibir "Lo emang ngerasa gambar lo sebagus apa sih sampe lo pede banget nge-upload itu di medsos?". Dipikir-pikir tengik jugak ye gue dulu. Tapi tenang, I learned my lesson kok. Everyday is a day to learn.

Lama nggak pernah ngikutin lagi perkembangan gambarnya (karena jumawanya gue), suatu hari gue penasaran untuk ngeliat hasil karyanya sekarang. Jleb! Gue berasa ditampar. Gue kaget, kemajuan dia pesat banget. Bahkan dia udah berani untuk jadiin menggambar sebagai mata pencahariannya dan kliennya nggak sedikit!

Di situ gue nyesek banget dan akhirnya merenung. Di saat gue lagi sibuk mencibir dan menyepelekan hasil karyanya, dia selalu latihan gambar pagi sampai malam. Di saat gue merasa skill gue jauh di atas dia, di saat itu juga gue lengah dan nggak terpikir kalau nanti dia akan jauh lebih jago dari gue. Di saat itu memang gambar gue lebih bagus, tapi gue lupa kalau pada akhirnya orang pintar akan kalah dengan orang yang rajin dan ulet. Dan yang lebih menyedihkan lagi, gue terlalu sibuk mencibir dia, tapi gue nggak sibuk naikin skill gambar gue sendiri. Alhasil, gue nggak maju-maju.

Konsep usaha dan rezeki ini juga terbesit kalo gue lagi ngeliatin Instagram-nya the Kardashians.  Hahaha, contohnya harus Kardashian banget nih?! Eh, tapi walaupun mereka kayak gitu, menurut gue ada hal positif yang harus kita contoh. 

Selama ini gue sering banget mendengar opini nggak enak orang-orang terhadap keluarga yang satu ini. Banyak orang bilang the Kardashians are famous for doing nothing. Keluarga ini keluarga nggak jelas yang cuma ketawa-ketawa dan bikin drama doang. Pokoknya orang barat senggak suka itu deh sama mereka.

Menurut gue, si Kardashians itu revolusioner. Mereka bisa ngeliat opportunity untuk dapet uang dan fame yang orang lain nggak lihat. Mereka bisa keluar dari stereotip "bekerja harus literally kerja di depan komputer di dalam cubicle". It's a smart move! 

Dan menurut gue banyak orang yang nggak suka sama mereka bukan karena mereka nggak bisa apa-apa. Tapi para anti-Kardashian kesel aja kali yah, mereka udah kerja siang-malem mati-matian tapi nggak tajir. Sementara mereka lihat Kim bersaudara cuma "begitu-begitu" doang kerjaannya, tapi duitnya triliunan.

Di sini menurut gue yang kita mesti renungin. Kita nggak pernah tau usaha di balik kesuksesan keluarga ini karena kita terlalu sibuk mencibir mereka. Kita nggak pernah tau berapa banyak pengorbanan yang harus mereka lakuin. Kita nggak pernah tau cuma berapa jam mereka bisa tidur dalam sehari. Kita nggak tau se-hectic apa kesehariannya karena kerjaannya sebenernya segunung. Lagi, kita sibuk mencibir sementara mereka lagi working their asses off to get a better life. Pada akhirnya, mereka makin kaya dan kita masih miskin aja.

Balik lagi ke cerita gue. Waktu gue dikasih tau sama editor gue kalau Falcon Pictures berniat untuk bikin Rentang Kisah jadi film, rasanya tuh campur aduk. Selama ini gue suka lihat gimana para penulis yang bukunya diangkat ke layar lebar. Tapi nggak pernah sedikit pun ada rasa jika gue pun ingin bisa mengalami hal itu. Karena ya nggak mungkin. Gue siapa? Gue udah ngapain?

I am not a dreamer, makanya gue nggak pernah bermimpi terlalu jauh. Gue si orang yang belum ngapa-ngapain, belum memberi pengaruh apapun ke orang lain, nggak mungkin bisa punya karya apapun. Karena setau gue hanya orang hebat yang bisa mencapai sesuatu.

Tapi gue diingetin lagi sama konsep usaha dan rezeki yang gue pelajari. Selama ini orang tua gue udah berusaha mati-matian sampe gue bisa kayak sekarang. Gue ngeliat betul gimana perjuangan mereka berdua cari uang dan mengatur uang itu supaya gue dan adik gue bisa dapetin yang terbaik. Bokap gue sampe harus jauh-jauh ke luar negeri dan bertahun-tahun pisah sama keluarga. Sementara nyokap juga sampe harus cari sampingan. Saking jagonya orang tua gue, sampe-sampe kita selalu disangka orang kaya sama banyak orang.

Nggak cuma masalah materi, setiap hari nyokap gue selalu ngasih gue nasehat dan wejangan supaya gue bisa jadi manusia yang berguna. Supaya gue jadi manusia yang mandiri, yang kritis, yang berani. Aduh, tiba-tiba gue merasa gue belom ngelakuin apa-apa buat mereka T_T

Oke, lanjut... Mungkin dari semua usaha, energi, waktu, dan keringat yang dikeluarkan oleh bokap, nyokap dari sejak dulu kala, Tuhan merasa gue pantas untuk dikasih apa yang gue dapetin sekarang. Gue yakin itu karena gue tau Tuhan nggak pernah tidur dan Dia Maha Adil.

Dengan adanya buku gue yang alhamdulillah udah sampe cetakan ke sembilan, terus sekarang mau diangkat ke film. Dengan banyaknya kesempatan gue kerja sama segala macam brand dan exposure yang gue dapetin sekarang. Mungkin itu semua adalah buah manis yang Tuhan kasih buat keluarga gue. Mungkin Tuhan ngedenger doa nyokap gue siang dan malam, bagaimana dia selalu mengucap dalam sujudnya semoga gue bisa jadi anak yang mengangkat derajat dan menolong keluarganya.

Karena kita nggak pernah tau usaha orang, hendaknya kita nggak mencibir orang tersebut. Dan menyepelekan seseorang atau karya orang ternyata nggak membuat kita berjalan kemana-mana selain mundur. Karena kita akan selalu merasa lebih baik dari orang lain dan nggak ada rasa urgensi untuk mengaktualisasi diri. Itu yang gue pelajari dari mencibir temen gue, dari ngejulidin artis X, dari ngeliat seseorang yang gue pikir nggak pantas dapetin kesuksesan yang dia dapetin saat itu.

Dan sebenernya pada akhirnya Tuhan itu Maha Adil dan Dia lah yang berhak memberi rezeki kepada siapapun yang dikehendakiNya. Kepada hambaNya yang selalu berusaha, kepada hambaNya yang selalu berdoa.

Remember. It's the will, not the skill.
Share:
Blog Design Created by pipdig