A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

1/16/2017

Generasi Tutorial

"Kak, gimana sih caranya biar bisa kritis kayak Kak Gita?"
"Kak, gimana caranya Kak Gita bisa banyak tau tentang macem-macem?"
"Kak, biasanya Kak Gita baca berita di mana?"
"Kak, gimana sih cara Kak Gita baca berita gitu? Liat di mana? Kak Gita kan sibuk kuliah."

Pertanyaan di atas adalah beberapa dari pertanyaan lucu yang sering gue dapatkan dari orang-orang di internet. Not just funny, but until now these questions remain unanswered since I am still not able to respond to any of them.

Sejak beberapa tahun belakangan ini kayaknya pengguna internet di Indonesia makin meningkat. Mungkin karena makin lama harga smartphone dan harga kuota internet makin terjangkau, aksesnya pun jadi makin mudah. Nggak cuma di Indonesia doang kayaknya. Di belahan dunia lain orang-orang juga makin melek internet. Tua, muda, tinggal di kota, di desa, semua udah familiar dengan internet. Konklusi yang gue dapet? Kemajuan teknologi nggak lantas membuat masyarakat Indonesia mengubah tabiatnya. Nggak nyambung. Okay, let me explain it to you. Mungkin buat beberapa orang internet semacam savior kali, ya. Dari yang biasanya cuma punya TV atau buku sebagai sumber informasi, sekarang tinggal buka laptop/pc/hape dan cari informasi yang kita mau. Dulu orang-orang rantau macam gue mungkin sebelum ke luar negeri harus diajarin dulu cara masak sama nyokapnya. Sekarang tinggal cari resep dan ikutin langkah-langkahnya. Dulu mahasiswa harus banget pinjem buku di perpustakaan. Sekarang dengan bantuan Wikipedia kita bisa dapetin gelar sarjana. Lo pernah denger nama "Julius Yego"? He's an athlete from Kenya, javelin thrower, a great one to be exact. Dia kemaren berpartisipasi di olimpiade Rio. Gimana cara dia belajar jadi atlit javelin? Lewat YouTube. Mengetahui begitu banyak hal yang bisa kita pelajari di internet, pertanyaan-pertanyaan di atas jadi terlihat invalid. But you see my point? Kemajuan teknologi nggak lantas membuat masyarakat Indonesia mengubah tabiatnya.

Kalo lo tanya ke gue kenapa Indonesia, walaupun udah berkali-kali upacara 17 agustusan, sampe sekarang tetep nggak maju-maju, jawabannya adalah karena orang Indonesia itu pemalas dan nggak ada inisiatif. Semua-muanya harus dikasih tau, harus dicekokin, harus disuapin. Mungkin untuk negara maju dengan adanya internet segala urusan mereka bisa sangat terbantu, tapi nyatanya nggak buat negara kita. Terlebih anak mudanya, ya. Karena sekarang banyak konten-konten tutorial bermunculan, dari tutorial makeup sampe tutorial ngangetin makanan di mikrowave, mereka pikir semua aspek di dalam hidup juga harus ada tutorialnya. What does it lead to? Daripada buka browser, mengetik apapun pertanyaan mereka di search engine, dan pilih-pilih sendiri artikel yang mau dibaca, mereka lebih seneng nanya orang random di sosial media--disuapin langsung jawaban atas pertanyaan mereka. Oh, I know what I'm talking about. Pernah ditanya orang gimana cara ngilangin rasa malas? Pernah ditanya orang 1 euro berapa rupiah? Pernah ditanya orang harga tiket pesawat dari Jakarta ke Berlin? Gue sering. Internet adalah jendela dunia. Sorry, but it doesn't apply to my country. Internet membuat masyarakat Indonesia makin lumpuh, makin nggak ada rasa ingin tau (tapi anehnya rasa ingin tau terhadap kehidupan orang lain malah makin tinggi. Di situ lah kata "kepo" muncul), makin nggak bisa menjadi diri yang indepedent, dan makin jauh dari ekspektasi. Internet nggak membuat orang Indonesia jadi pintar. Thanks to the internet barusan gue jadi tau kapan sebenernya internet masuk ke Indonesia. Despite keberadaan internet yang ternyata sudah dari awal tahun 1990an banyak dari kita yang masih nggak tau kalau dunia maya itu (bisa jadi) lebih luas dari dunia nyata. Banyak dari kita yang masih nggak sadar kalau internet bukan sekedar sosial media. Internet bukan cuma berisi tentang info orang yang lagi lo kepoin. Internet bukan cuma diisi sama online shop. Tapi mengingat tabiat jelek orang Indonesia yang gue sebut di atas, gue pun nggak heran dengan kenyataan yang ada. Se-triggered-nya gue dengan pertanyaan 1 euro berapa rupiah, nyatanya bagian kecil dari otak gue tau kalau semua ini harus dimaklumi.

Beberapa waktu yang lalu (terima kasih kepada kehidupan politik Indonesia yang nggak berkontribusi positif terhadap kecerdasan bangsa dan kepada bangsanya juga yang memang nggak mampu untuk dikasih politik "cerdas") kita jadi sering banget denger kata "hoax". Nyatanya masih banyak orang Indonesia yang nggak bisa bedain mana berita bener dan berita boong. Nyatanya masih banyak orang Indonesia yang kemakan berita hoax dan akhirnya ribut-ribut sama strangers di internet. Lagi, se-denial gue dengan kenyataan kalau orang Indonesia gampang banget dibikin berantem sama berita provokatif, otak gue tau kalau semua ini harus dimaklumi. Jangankan memilah berita, nyari berita aja orang Indonesia males. Akibatnya banyak orang-orang yang memanfaatkan keignoranan netizen Indonesia dengan cara bikin "portal berita" nggak jelas dan nyebarin beritanya di Facebook atau di sosial media lainnya. Efektif, nggak? Banget. Buktinya berita-berita tersebut selalu viral dan comment sectionnya selalu seru dengan orang berantem. Yang lebih menyedihkan lagi adalah netizen Indonesia nggak sadar kalau mereka lagi dibodohin, tapi malah merasa fully informed dan dengan agresifnya mencoba untuk "enlighten" orang-orang yang memiliki opini bersebrangan dengan mereka karena mereka ngerasa paling bener. Indonesia, negara yang nggak tau kapan majunya.

Kemaren gue dan beberapa temen membicarakan hal yang serupa, kebutaan masyarakat terhadap dunia maya dan ketidakmampuan mereka untuk keep up dengan kemajuan teknologi. Obrolan dimulai dengan gue yang mengeluhkan pertanyaan bodoh yang sering gue dapet di sosial media, dilanjutkan dengan banyak orang Indonesia yang masih nggak tau fungsinya e-mail (padahal kalau mau main sosmed harus pake e-mail ehm.), berlanjut ke fenomena Pokemon Go yang bikin abang-abang counter hape kebanjiran rezeki karena banyak orang yang minta mereka untuk download-in game nya di hape, berakhir dengan gimana netizen Indonesia menghadapi fake news yang sekarang beredar di mana-mana. A friend then came up with the idea of an app that can help users to sort out the news. Jadi, berita di app tersebut adalah berita yang udah terkonfirmasi kebenarannya dan berita yang bersumber dari portal berita legit semata. Gue cuma bisa ketawa. "Coy, gue ngerti keinginan lo nyuguhin mereka dengan berita legit. Tapi orang-orang itu nggak ada yang download app lo in the first place.". Dikasih berita di depan muka aja yang dilihat cuma headlinenya. Boro-boro mau download app portal berita, boro-boro berinisiatif ngebandingin sama sumber berita yang lain, boro-boro berinisiatif cari sendiri berita benernya. It is sad but that, my friend, is the reality. Sekarang solusinya apa? Kalau lo bertanya ke gue apa solusinya, pertanyaannya sama membingungkannya dengan "gimana cara Kak Gita bisa berpikir kayak gini?". Gue hanya bisa mengerutkan dahi dan bertanya dengan diri gue sendiri, "Bukannya semua orang punya otak, ya? Bukannya fungsi otak buat mikir, ya?". Lalu apa solusinya? Bukannya udah ada di nature manusia untuk mencari solusinya sendiri, ya? 

Setiap kali gue berdiskusi tentang masalah ini ke Paul kami berdua selalu bertanya-tanya dan pertanyaan kami masih belum didapetin jawabannya. "Kenapa orang Indonesia nggak ada inisiatif bergerak sendiri seperti layaknya manusia normal dan nggak ada rasa ingin tau ketika mereka memiliki lubang-lubang informasi di otak mereka yang harus diisi? Kenapa mereka nggak tergerak untuk mencari tau ketika mereka sadar kalau ada banyak hal yang mereka nggak tau? Instead, hence the title of my post, masyarakat Indonesia ternyata harus selalu dituntun dan disuguhkan. Generasi kita adalah generasi tutorial. Masyarakat Indonesia ternyata harus dikasih ikan, karena mereka nggak tau caranya memancing. Wait, apa sebenernya orang Indonesia nggak sadar kalau mereka sebenernya banyak nggak tau?

Kemaren malem sembari gue beres-beres dapur gue coba pikir-pikir lagi. Terus gue iseng nelfon Paul ngobrolin tentang macem-macem, dari debat calon gubernur DKI sampe celotehan gue dan temen-temen gue di sore harinya. Bukan mau mencari jawaban atas pertanyaan gue di atas, tapi sekedar pengen mengeluarkan uneg-uneg di kepala. Entah gimana thought processnya, tiba-tiba gue dilanda rasa sedih dan pesimis. Terlalu jauh sih gue loncat dari tema netizen Indo yang males cari berita ke permasalah ini. But I tend to overthink. That's why. Sebenernya pikiran ini udah terlalu sering tiba-tiba muncul di kepala. Harusnya gue nggak menjadikan sedih dan pesimis ini sebagai reaksi lagi. Buat gue, nggak masuk akal negara yang begitu besar, yang level kesejahteraan dan pendidikannya terlalu timpang, yang kehidupan ekonominya masih terlalu terpusat di ibu kota, yang masih struggling sama urusan public transportation, harus mengadaptasi sistem yang ada sekarang. Sebenernya rakyat Indonesia belom siap buat memilih pemimpin buat mereka. Mereka belom siap buat jadi penonton permainan politik Indonesia. Gimana kita mau punya pemimpin yang beneran capable dan beneran pinter, kalau yang memilih aja gampang dibodohin sama berita palsu, gampang ditipu sama pencitraan klise, dan gampang diadu domba pake isu SARA. Rakyat Indonesia, disebabkan oleh kemalasannya sendiri, ketidakpeduliannya sendiri, dan keignorannya sendiri, cuma akan dijadiin korban. Media-media busuk yang nggak tau lagi caranya netral, politisi-politisi culas yang gampang aja pura-pura jadi domba padahal serigala, dan pejabat lain yang bilangnya pingin ngebenerin Indonesia padahal cuma pingin tahta, akan terus jadiin rakyat sebagai korban. Kita itu nggak sadar kalau kebodohan kita adalah boomerang yang berbalik. Generasi muda yang tau cara main sosial media dan bahkan bisa ngepoin orang kayak agen CIA, tapi nggak tau caranya meng-inform diri mereka sendiri, itu fatal banget. Kita lho yang nanti harus take over negara ini. Kalau kita aja segitu butanya dengan sekitar, cuma tau apa yang lagi nge-trend doang, cuma tau apa yang menghibur doang, cuma tau cara pake Instagram doang, tau cara nanya orang di Ask FM tapi nggak tau caranya googling, tau caranya posting foto lagi makan di restoran kece ke Instagram tapi nggak tau caranya baca berita--nggak tau caranya nyari berita, nonton YouTube cuma nonton vlog doang,  cuma nonton makeup tutorial doang, mau pake jilbab aja harus lagi-lagi liat tutorial, cara belajar mesti liat tutorial, mencari motivasi kuliah aja harus minta cariin sama orang di Ask FM,

Indonesia mau dibawa kemana?
Share:

1/10/2017

New York Calling - Day One

Hari pertama di New York dimulai dengan ketemuan dengan bokap di Grand Central Terminal. Gue yang tinggal di The Bronx butuh waktu sekitar 40 menit untuk ke Downtown. Karena gue juga udah terbiasa dengan sistem subway, gue nggak ada masalah untuk beli tiket dan ke sana sendirian. Pagi itu gue pake tiket single ride karena gue masih belum tau apakah worth it beli tiket subway yang 7 hari. Gue belum tau apakah tempat-tempat yang akan gue kunjungi itu jauh-jauh atau bisa dijangkau jalan kaki. But I ended up buying the 7 day metro card karena yang single ride cuma valid 2 jam dan nggak bisa buat bolak-balik.

Single ride metro card costs $3

I recommend you to buy this one if you're planning to stay in the city for a week or so. It costs $31.


Sesampainya di Grand Central Terminal kita berdua langsung cari sarapan. Karena gue nggak sempet makan banyak kemarennya pas bangun gue laper abis dan gue nggak sempet beli makan buat ngemil-ngemil. Gue langsung tau mau makan di mana: Shake Shack. Awalnya gue nggak ada intention buat makan burger pagi-pagi. Because, hello! Siapa coba yang makan daging buat sarapan? Tapi pas ketemu Shake Shack gue langsung meyakinkan bokap gue kalo ini adalah pilihan yang tepat lol. Restoran cepat saji ini emang udah masuk what-to-eat list gue karena dari yang gue denger burgernya enak untuk ukuran restoran fast food. Untung banget kita sampe di sana ketika dia baru buka. Kami jadi nggak perlu ngantri panjang-panjang. 

Okay, sebelum kita membahas burger dewa ini, I want to take sometime to appreciate the beauty of Grand Central Terminal. Gue tau gue tinggal Eropa dan mestinya gue udah terbiasa dengan bangunan-bangunan lama. Tapi yang satu ini menurut gue tetep unik. It felt so classic. Bukan European classic, tapi American classic. Ketika gue turun dari subway dan pergi menuju main hall terminalnya, gue berasa kayak di film. I was so mesmerized by all the details that complete the whole american classic atmosphere. Bayangin, seragam petugas di terminal ini aja layaknya petugas kereta jaman dulu. It fits the whole theme! This place is also huge. Saking gedenya gue ampe nggak tau gue mesti kemana. Di setiap section terminal ini selalu aja ada tempat-tempat aneh. Di lantai bawah ada food hall, di sisi sebelah mana lagi ada semacam food market, di sisi yang lain lagi ada toko-toko. Intinya ini tempat cocok buat main petak umpet.

Stasiun ini selalu dipenuhi oleh orang-orang

Of course, the American flag

Cool hat! Don't you agree?

Arsitektur luar Grand Central Terminal


Now let's talk about the burger. Burgernya enak. Level enaknya makin nambah karena perut gue juga lagi kosong. Pattynya jauh lebih juicy ketimbang burger di McDonald's yang super kering kayak berasa lagi makan dendeng (jangan disamain sama burger €1-nya McD kali, Git). Yang lebih enak adalah bun nya. Rotinya nggak terlalu kaya roti burger fast food karena it looked and tasted like "real bun" (if you know what I mean). I remember shoving it into my mouth in just like 10 minutes sampe bokap gue nanya "Gita masih laper?". Nggak, pa. Laper dan burgernya emang enak.

Look at this beauty!


Setelah sarapan bokap dan gue beranjak dari Grand Central dan menyusuri sekitaran kota. Tujuan pertama kita adalah Empire State Building. Setelah gue perhatiin ternyata hampir semua tourist attractions di New York bisa dijangkau dengan jalan kaki. Jadi ketika lo udah berada di Downtown Manhattan, lo nggak terlalu butuh naik subway terus sebenernya. Kecuali kalo lo nggak suka atau nggak terbiasa jalan banyak. Tapi karena gue emang sangat suka jalan, jadi gue seneng-seneng aja. Sampe terkadang gue lupa kalo bokap gue udah tua dan nggak bisa lama jalan kaki. My first glance of the city was the buildings and pretty crowded street. Gue langsung dapet feel kalau New York memang pantes disebut sebagai kota tersibuk di dunia. Karena emang ini kota metropolitan banget. Everyone was moving fast, hustling, looked busy and always in hurry. Di satu sisi gue yang turis ini butuh pace lebih lambat untuk menikmati kota ini. That's one thing I found a bit hard to do there, trying to slow down when everyone was moving rapidly. Karena para New Yorker ini selalu tergesa-gesa, gue harus selalu aware untuk nggak tiba-tiba berhenti ketika lagi di jalan untuk liat peta atau ngambil foto suatu gedung. Gue harus melipir ke sisi kiri dulu. Kalau nggak gue bisa kena marah dan mengganggu kelancaran lalu lintas di trotoar. Yep, New York adalah satu-satunya tempat di mana gue berasa kayak lagi nyetir di jalan raya, padahal gue lagi jalan kaki di trotoar. Mungkin lain kali gue bahkan harus nyalain lampu sen biar orang belakang gue tau kalo gue mau belok. But what I like about this city is the fact that the pavement is huge. Trotoarnya bisa muat ampe dua mobil kali ya, jadinya emang nyaman banget buat pejalan kaki walaupun harus macet-macetan atau harus jalan tapi lari kayak orang jogging.





Okay, where are we now? Ah iya, Empire State Building. Di sini lo bisa ngeliat kota New York dari atas, dari lantai 86 atau lantai 112. Harga naik ke lantai 86 lebih murah ketimbang kalau lo naik sampe ke lantai 112. Sebagai student dan bukan anak konglomerat sudah tentu gue memilih yang harganya lebih murah. Was it worth the money? Absolutely. Melihat pemandangan New York skyline adalah salah satu kegiatan yang HARUS lo lakukan at least once in your life time. It's that beautiful and you won't get any view like this other than in this city.





Selama di atas gue selalu terpana ngeliat setiap bagian New York. Manhattan literally penuh dengan gedung-gedung tinggi sampe di point di mana menurut gue kota ini terlalu banyak gedung. As a person living in Germany gue ngeliat NY kurang lahan hijau dan sebenernya kalau lama-lama tinggal di Manhattan mungkin sesek juga kali ya. Bangun tidur yang dilihat gedung, pergi ke kantor lihat gedung, pulang ke rumah lihat gedung. Tapi di satu sisi itulah yang bikin NY itu charming.


Setelah menghabiskan waktu di Empire State Building bokap dan gue lanjut ke tujuan selanjutnya, Times Square. Dalam perjalanan menuju sana, kita ngelewatin Bryant Park dan New York Library. There's nothing that special about Bryant Park tho. Hanya terdapat kios-kios kecil yang kayaknya ada di sana dikarenakan lagi suasana menjelang natal dan arena ice skating yang cukup penuh.




After a lot of walking and (maybe) riding a subway we finally made it to Times Square. First impression? It wasn't like how I had in mind. Gue kira Times Square akan vavavoom dan over the top, but in the reality it was just a place full of billboard and light. Area Times Square dan Broadway lebih berantakan dan kotor dibanding area lain di New York. Mungkin karena isinya juga turis dan orang-orang yang pake kostum aneh-aneh buat foto bareng turis. Intinya gue nggak impressed. But to be honest Times Square lebih menarik ketika di malam hari. It reminded me a bit of Las Vegas yang terlihat berantakan di siang hari, tapi ketika malam kota nya jauh lebih indah dan lebih hidup. But it was pretty amazing seeing something you normally saw on the internet. Now it was in front of you. It felt surreal.

Billboard, billboard everywhere


Times Square selalu penuh dengan orang (duh)


Tujuan selanjutnya adalah Rockefeller Center. Sampe sekarang gue sebenernya nggak ngerti Rockefeller Center itu apa. Di sana ada studio NBC dan pohon natal terbesar di New York yang biasa kita lihat di film Home Alone 2 dan yang jelas ini adalah salah satu tourist attraction juga. Ah, satu lagi. Di deket Rockefeller Center ada salah satu tempat yang wajib gue datengin, Magnolia Bakery. Gue lebih excited sama itu sih karena finally gue bisa nyobain banana pudding yang terkenal itu!

That famous christmas tree
Huge picture of Jimmy Fallon in the NBC merchandise store

Not the one in Sex and The City, but I came here just for the banana pudding

Sebelum gue jalan-jalan ke New York gue banyak research di internet tentang apa aja yang harus gue cobain. Then this bakery came up on the list. I've heard about this place before but not really in details. Lalu gue pun baca-baca blog orang, forum, dan nonton video NY travel di YouTube kalau tempat ini is a must to visit. Of course I bought the banana pudding and that thing only (because I'm not into cupcake and other stuffs). They came in three different sizes; small, medium and large. The small one would be enough if you just wanna try how it tastes. It's enough for you to enjoy without getting sick or anything. Rasanya gimana? Enak banget. I'm a fan of banana anything and this one is not an exception. It tastes really creamy and they put the real banana inside. Gue bawain Paul yang size medium dan dia juga suka banget.

Make sure to get your hands on this little fella if you come to New York


That's it. That's what I did on the first day. I hope you guys enjoy my story. Bear with me because there are still a lot to come.
Share:
Blog Design Created by pipdig