A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

9/24/2018

There is No Place Like Home

Setiap kali gue sedang berada di Indonesia, gue sering dapet pertanyaan apakah gue akan kembali ke Jerman lagi. Jika iya, kenapa dan apakah masih ada urusan yang belum terselesaikan sehingga seorang WNI yang tinggal di luar negeri belum bisa pulang ke tanah airnya. Emangnya nggak kangen sama Indonesia?

Dari banyaknya pertanyaan serupa yang dilontarkan orang-orang, gue bisa kasih konklusi kalau konsep tinggal di luar negeri buat sebagian orang adalah hal yang nggak jelas. I get it. Seorang manusia memang butuh tempat menetap selamanya. Seorang manusia memang butuh tempat yang membuat mereka nyaman dengan segala kefamiliarannya. Dan pada umumnya, tempat yang bisa memberikan kenyamanan adalah tempat lahir kita. 

Hmmm... seperti biasa isi otak gue semacam mengawang-ngawang dan gue nggak tau mana yang harus gue tulis duluan. Let start with the idea of "home".

The reality is, I was actually grasping for the actual meaning of home since 2012, marking my two years of living abroad. Pada awalnya, Indonesia terasa sangat nyaman karena kebiasaan. Lahir dan besar di sana memberikan gue banyak banget orang-orang istimewa dan yang pasti cerita-ceritanya. Tempat-tempat yang sering gue kunjungi, suasananya, bahasanya, makanannya. Indonesia felt so familiar and that's what I called home.

Makin lama gue meninggalkan Indonesia, kefamiliaran itu makin lama pudar. Iya, sih. Bahasa dan makanannya masih sama. Tapi 8 tahun nggak menyaksikan secara konstan perkembangan negara ini, jelas gue ketinggalan banyak hal. Jejeran gedung yang tadinya gue selalu lihat, sekarang udah diganti sama bangunan yang baru yang nggak ada di ingatan gue. Kebiasaan orang-orang lokal yang tadinya gue kenal, sekarang malah gue yang harus menyesuaikan. 

Di sisi lain, Jerman makin terasa seperti guru kesayangan karena di sini lah gue pertama kalinya belajar untuk hidup seorang diri. Negara ini lah yang mengajarkan gue untuk jadi orang yang kuat. Negara ini juga yang mengajarkan gue bagaimana menjadi manusia bermental negara pertama. Dan negara ini juga yang memperlihatkan gue keberagaman agama, ras, dan warna kulit. Di sini lah gue dihadapkan oleh perbedaan dan diajarkan bagaimana menghadapinya. 

More and more I felt Indonesia is not special anymore. Bukan karena gue tidak nyaman dengan sekitarannya, bukan karena gue tidak familiar dengan keadaannya. Gue terlalu familiar dengan orang-orangnya, budayanya, bahasanya. Indonesia terlalu nyaman buat gue, dan membuat gue sulit untuk berkembang

Satu hal yang gue pelajari dari semua ini, ternyata seorang manusia bisa merasa nyaman di tempat yang bukan tanah kelahirannya. Ternyata definisi rumah hanyalah ada-adaan sebagian orang yang agak khawatir meninggalkan zona nyamannya.
I found my inner peace in Germany, despite all of the inconvenience this country has constantly given me.

Isu nasionalitas adalah salah satu yang sering diangkat ke permukaan. Tinggal di luar Indonesia nggak semerta-merta membuat gue hilang kepedulian terhadapnya. Gue nggak setuju jika berada di sana adalah satu-satunya cara mengekspresikan rasa cinta kita terhadap Indonesia. Karena banyak sekali para diaspora yang setiap harinya diisi dengan kegiatan positif dan mengharumkan nama bangsa. Sedangkan ada banyak juga yang tinggal di Indonesia tapi kerjanya hanya menyusahkan negara. Merusak fasilitas umum, menyuap polisi, korupsi, buang sampah nggak pada tempatnya, nggak membudayakan antre, dan lain sebagainya.

See? You can love your country however you want. You can in fact make your country proud wherever you are. Karena di manapun kita berada, selama yang kita lakukan berdampak positif untuk sekitar, negara juga bangga kok.

Will I ever live in Indonesia forever? Mungkin. Mungkin juga tidak, karena belum terpikirkan oleh gue untuk menetap selamanya di suatu negara. Ahh.. The classic "setelah kuliah harus bekerja dan menetap" banget nggak sih? 

Buat gue, mau di Indonesia, Jerman, Korea Selatan, Amerika Serikat, di manapun gue berada asalkan gue mendapatkan kesempatan untuk menantang diri gue. Asalkan gue bisa tetap proaktif berkontribusi untuk kemaslahatan anak manusia. Nggak jadi masalah. I live to experience, not to settle down. But maybe if I am old and tired of growing, I will.

But seriously, guys. The whole idea of home, work, settle down, build a family, etc are so confusing to me.  

Why does someone have to stay in their hometown? Why does someone has to have a 9 to 5 job? Why does someone have to settle once she has a family? 

Why does life has to be so conventional? Nobody said it has to be. Ya, kan?
 
Share:

7/28/2018

(Akhirnya) Hari Untuk Gita

The day is almost there. Gue akan jadi istri orang dan gue akan punya suami.

Suami.

Seseorang yang nggak pernah gue sangka gue punya. Karena dari dulu gue berpikir pernikahan itu bukan buat semua orang. Some people are comfortable being all by themselves. Some people are not there to build a family. But for me, I slowly learned about myself that I need someone to be there for me

to be a listener
to be a partner
to be a company
to be a friend for life

And I don't mind that at all.

...

Now let's talk about the wedding.

Buat gue pernikahan itu adalah suatu aktivitas yang dibuat-buat oleh manusia. Gue nggak berkata tentang akad nikahnya, tapi tentang resepsinya. Bayangin, hanya untuk acara yang berlangsung beberapa jam aja, lo diharuskan untuk pusing-pusing dan menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Anyway, ada satu film Indonesia berjudul Hari Untuk Amanda yang kebetulan adalah salah satu film favorit gue. Walau aktingnya kurang, ceritanya menurut gue oke. Tapi yang buat gue suka adalah latarnya. Jakarta banget.

Film itu menceritakan tentang Amanda, seorang wanita muda yang bekerja sebagai karyawati, yang sedang riweuh menyiapkan hari pernikahannya. Sebagaimana pra-pernikahan pada umumnya, selalu ada aja drama yang dateng. Selain karena si Dodi, calon Amanda, yang workaholic dan selalu nggak ada waktu ngurusin kawinan bareng-bareng, mantan Amanda bernama Hari pun tiba-tiba dateng untuk ngerebut Amanda balik. Tapi gue seneng, di situ Amanda nggak jadi fakir cinta dan korban gombalan Hari. Dia tetep jadi sama Dodi. Emang, ya. At the end of the day wanita itu butuh pria yang bisa memberi kepastian. Ups, sorry spoiler.

Pertama kali nonton film ini adalah tahun 2010. Gue masih umur 18 tahun dan nggak kepikiran kawin sama sekali. Ngeliat gimana ribetnya Amanda ngurusin undangan, catering, sampe fitting baju, gue ampe mikir, "Emang seribet itu, ya?". Ternyata emang ribet banget sih. Karena pada kenyataannya manusianya sendiri yang bikin ribet. Semuanya harus sempurna, catering nggak boleh kurang, baju harus pas, dekorasi harus paripurna, undangan nggak boleh salah, dan lain sebagainya.

Gue juga sering banget nonton video-video informatif di YouTube mengenai industri pernikahan itu sendiri. Isinya rata-rata sesuai dengan realita yang gue liat. Pernikahan sangat dibisnisin dan apapun yang ada embel-embel "wedding" pasti di-charge mahal. 

Mengetahui hal itu, tunangan kemaren gue bikin super simpel. Boro-boro mau pake dekor atau fotografer, nyewa makeup artist pun enggak. Batiknya Paul adalah batik yang dia udah punya dari lama. Kotak seserahannya minjem sama temennya sepupu gue dan kotak sirih-sirihannya minjem punya nenek gue. Pas selesai tunangan, gue mikir, "What, nggak jelas banget ni acara. Untung gue nggak pake vendor-vendoran.". Gimana enggak, acaranya palingan cuma 2 jam dan intinya sebenernya cuma pertemuan dua keluarga.

Sebenarnya setelah gue tau mau kawin, gue langsung check segala macam vendor di Instagram dan nanya-nanya harga. I was really pumped karena akhirnya gue bisa jadi bridedzilla kayak orang-orang LOL. Pas gue liat harga yang mereka tawarkan, kepala gue langsung sakit. Asli, ini gue bukannya ngelebih-lebihin. Digitnya banyak banget, lalu gue pun bingung gimana gue bayarnya. Terus gue mikir, nggak nikah gimana, mau nikah mahal. Mengapa seringkali hidup itu tidak ada pilihan. Akhirnya gue memilih untuk tunangan dan nikah di Palembang aja karena ogut nggak shanggup bayar kawinan di ibu kota hahaha.

Di nikahan nanti sebenernya nggak jauh beda. Wedding organizer-nya, Eviar, dipunyai temennya sepupu gue. Makeup artist-nya Mbak Carol, pentolan Wardah yang baik hati banget menawarkan diri untuk makeup-in gue. Baju? Dibikinin sama Ibu Nina dari Aira Wedding. Akhirnya pake Aira pun karena obrolan malam hari di dalam Uber bareng Tika kala itu di London, ketika kita abis makan di Nando's. Kalau foto, ada temen-temen dari Ink Photos yang mau bantuin. Dan untungnya punya keluarga gede adalah ada yang mau bantuin catering.

Di sini yang jadi pahlawan adalah Emak gue. Dia ngurusin literally semuanya. Dia yang bikin dekorasi sendiri bareng sama temennya, dia yang ngurusin lampunya bareng tukang lampu yang biasa kerja di rumah Nenek gue, dia yang bolak-balik ke Asemka dan Rawa Belong buat beli bunga. Sampe ke souvenir pun doi yang nyetrikain dan ngebungkusin satu-satu. Gue ngebayanginnya aja nggak sanggup. Kayaknya kalo gue punya anak nanti, gue nggak akan ngurusin kawinan anak gue sampe segitunya.

Gue jadi teringat saat gue mau ke Jerman dulu. Di mana orang-orang pada pake agen karena merasa nggak ada cara lain untuk ke negara tersebut, Emak gue rela buat ngurusin semuanya sendiri daripada harus bayar ratusan juta. That's how we normally role, always look for the alternative.

Kayak satu pasangan yang di-feature di The Bridesdept beberapa waktu lalu. Mereka cuma ngeluarin duit 50 juta buat acara kawinan. Salah satu triknya adalah dengan nggak bikin pelaminan. Menurut gue itu smart banget. Lo nggak perlu sama dengan orang lain kalau memang terms and conditions-nya sulit diaplikasikan di lo. Apalagi saat lo tau orang-orang banyak yang nge-charge harga setinggi langit karena mereka tau akan ada orang yang mau bayar berapa pun. You don't have to be that person. You actually have a choice.

Mungkin kita sering lihat gimana kawinan-kawinan zaman sekarang di Instagram. Mewah, keliatan mahal, meriah. Kalo sobat-sobat qismin kayak gue maksain, yaa mungkin bisa lah gue ngutang kiri-kanan, tapi setelah kawinan baru deh gelagapan mikirin balik modalnya. Tapi emang bener sih. Di agama juga nggak pernah diwajibkan harus pesta pora, yang penting sah di mata Allah SWT. Dasar kita, manusia-manusia yang rela terjebak di dalam permainan kultur dan society, karena berpikir, "Nikah kan sekali seumur hidup".

Yha.


Share:
Blog Design Created by pipdig