8/20/2016

Generasi Salah Fokus

Udah sekitar lima bulan ini gue aktif mengunggah video-video di YouTube. Ini semua diawali dengan kegerahan gue terhadap vlog-vlog yang lagi ngetrend jaman sekarang, yang rata-rata isinya bisa dibilang nggak lain dan nggak bukan hanyalah nongkrong-nongkrong bareng temen dan sesekali mengeluarkan kata kasar. Kenapa gue bisa gerah? Karena yang nonton banyak dan rata-rata penontonnya adalah anak sekitar belasan tahun, yang lagi mencari jati diri dan lagi labil-labilnya. And after watching these vlogs they'll be having this understanding that "cursing is cool" or nongkrong-nongkrong mulu itu gaul. Kemudian mereka akan merongrong orang tuanya yang (mungkin) duitnya pas-pasan buat beliin barang-barang mahal, karena "idola" mereka punya gaya hidup yang seperti orang kaya. I can go on and on and on. Saban hari salah satu temen gue bilang, "Yang gitu-gitu harus kita perangi dengan karya.". I agree 100%. Emang nggak akan ada habisnya kalo kita cuma complain dan ngeluh tentang how crappy their videos are, how low the quality of the content is, or how bad they are influencing the young indonesian teenagers through their lifestyle, karena mereka akan tetap dengan gaya hidup mereka yang masih kecil terus udah minum alkohol dan ngerokok, they will still be making that kind of videos and keep earning money from the ad views on YouTube. Unfortunately your worry isn't their concern. As I know they're as selfish as they can be. So the least I can do is membuat video yang sekiranya lebih baik dari segi kualitas dan isi. That's why I decided to also take part of this whole "vlogging phenomenon". I want these teenagers to at least have a choice, or at least have comparison. They can choose what kind of videos they want to watch. Bukan cuma video yang nggak mendidik, tapi video yang bisa ngasih positive impact ke mereka. Because at the end of the day penonton berhak untuk dikasih konten yang bermanfaat.

After these months of constantly putting out contents and interacting with the Indonesian viewers, there's something that draws my attention. Bukan cuma content creatornya yang menghasilkan vlog-vlog yang kurang mendidik, tapi ternyata penontonnya juga kurang siap untuk dikasih konten yang mendidik. The people on the internet love to focus on things that don't need to be focused on. Bisa dibilang konten video gue nggak kosong-kosong banget. Ada satu dua hal positif yang gue tawarkan di video gue. Ketika gue mengunduh video tentu aja gue dapet komentar-komentar dari yang nonton. Dan nggak jarang komentar yang gue dapetin malah yang di luar konteks video tersebut. Entah tentang alis gue yang kata mereka kurang tebel atau tentang gue yang kata mereka aneh karena pake baju itu-itu doang, atau bahkan ada beberapa orang yang dengan ignorannya pointing out muka cowok gue yang kata mereka kurang ganteng. Ada sedikit kekecewaan yang gue rasain kalo gue encounter hal-hal seperti ini. Gimana ya, I expect something more from these people. Karena lewat video-video ini gue melempar narasi yang jarang orang gandrungi. Ketika banyak orang lebih memilih untuk ngomongin temennya atau gosipin orang di Instagram, gue "mengajak" mereka untuk ngomongin hal-hal positif dari Jerman, negara yang gue tinggali sekarang, yang mungkin bisa dibandingin sama Indonesia dan mungkin bisa menjadi trigger bagi mereka supaya bisa bikin Indonesia jadi lebih baik. Pernah juga gue ngomongin tentang berkerudung di Jerman dan gimana temen gue dan gue berislam di sini, yang ternyata mengubah pandangan gue terhadap agama gue sendiri. Tapi lagi-lagi respon yang gue dapat cuma seputaran muka gue, tepatnya--yang mereka anggap sebagai--kekurangan dari muka gue. I guess I should've not expected anything in the first place.

Let me start off with one thing I've been questioning the whole time. Bukankah akan terpikir dengan sendirinya ketika kita ingin berbicara sesuatu atau melontarkan isi otak kita, lalu kita bertanya kepada diri sendiri, "Penting nggak sih omongan gue?". Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan selanjutnya, "Kalo gue ngomong gini dia tersinggung nggak, ya?". Lalu muncul pertanyaan lainnya, "Emang harus banget ya dia tau isi otak gue?". Terutama ketika isi dari uneg-uneg yang ingin kita lontarkan itu nggak seberapa atau bahkan sama sekali nggak ada, bukankah thought process-nya akan lebih panjang lagi? Gue pribadi nggak tau kapan dan gimana asal-mulanya. Tapi mungkin ini semua berawal dari budaya orang kita yang seneng gosipin orang lain, yang seneng pointing out kesalahan atau kekurangan orang lain, dan ngelakuin hal tersebut hanya untuk kepuasan diri. Lalu jaman sekarang muncul social media platform di mana kita bisa being totally anonymous commenting on someone's video or photo, yang tentunya makin menggelitik kegemaran kita akan ngejelekin orang. Either destructive or constructive people somehow have this urge of "I must putting my statement out there.". Dan keberanian mereka untuk berbicara hal negatif ke orang lain di sosial media semakin bertambah, karena toh mereka nggak berhadapan langsung sama orang yang dijelek-jelekin. Tapi menurut gue rela cape-cape nonton video orang lain yang nggak mereka kenal, lalu mengevaluasi visualnya dia, terus dilihat mana kurangnya, setelah itu ngetik komentarnya, butuh effort yang gede banget. Of course, for something that useless, giving that much of effort is also useless. Tapi ternyata orang kita rela-rela aja tuh. Selama dapet kepuasan, kenapa nggak?

Sampai detik ini gue masih belom bisa memahami obsesi orang kita terhadap penampilan orang lain. Entah kalo dia cantik, gendut, kurus, alisnya ketebelan, alis ketipisan, hidung gede, telinga caplang. Apapun bisa jadi sasaran. Moreover, what makes they think pointing out someone else's facial feature on the internet is something they're allowed to do? What's with this obsession of telling someone (you don't know), "Dude, your eyebrows are too thin.", "Your nose is huge.", "Why did you draw you eyebrows that thick? They don't look natural.". Padahal si orang yang mereka ribetin ini fine-fine aja sama mukanya dia. Gue cuma bisa berharap, kalo orang kita kelak bisa lebih kritis dalam ngelakuin semua hal. Kritis dalam hal-hal yang mereka lakuin dan lebih memilih untuk mengerjakan hal yang berfaedah. Gue juga masih punya harapan, kalo orang kita nantinya tidak terlalu fokus ke penampilan luar dan lebih fokus ke kepribadian dan isi otak orang, siapapun itu. Because at the end of the day penampilan itu cuma yang kita liat pake mata, sementara isi dan esensi itu dua hal yang utama. Karena menurut gue pribadi budaya ini akan makin kompleks kalo dibiarin terus-terusan. Akan makin terpaku di dalam mindset orang kita kalau appearance itu lebih penting, looking good in front of others dan pencitraan lebih penting, lalu kita jadi kelewatan poin penting yang beneran penting, kayak yang gue bilang tadi. Korea contohnya. Hampir semua cewek operasi plastik. Kelopak matanya digedein lah, hidungnya dibikin mancung, atau rahangnya lah dipotong. Gara-gara apa? Gara-gara social pressure-nya gede. Semua orang constantly judging each others' appearance. Ada standard of beauty yang terlalu ekstrim di negara itu yang bikin mindset orang-orang jadi rusak. Iya, gue bilang mindset kayak gitu rusak. Karena itu bisa bikin kita lupa kalo yang paling penting itu gimana kita menjadi individu yang baik, yang memperlakukan orang lain dengan baik, yang berkelakuan baik, dan yang menyebarkan hal-hal baik.

5/19/2016

Life is Not A Race

Lo tau gue sekarang lagi di mana? Gue sekarang lagi di Pausenraum a.k.a ruang istirahat laboratorium kimia anorganik kampus gue. Kenapa gue bukannya ke lab, tapi malah nulis blog? Soalnya eksperimen gue mesti dipanasin sampe jam 6 sore dan nggak bisa gue tinggal pulang. Karena dengan bodohnya gue nggak bawa headset, gue jadi nggak bisa nonton YouTube. The only thing I can do right now is writing blog.

So here I am.

Sekitar seminggu yang lalu gue ke Sate Siomay atau disingkat SASO. SASO ini adalah acaranya anak IWKZ yang bertujuan untuk ngumpulin dana buat bikin mesjid sendiri, karena basically tempat yang sekarang berfungsi sebagai mesjid nggak cukup besar buat ngelakuin kegiatan-kegiatan keagamaan. Nggak di Indonesia, nggak di Jerman, bikin mesjid itu lagi-lagi sulit. Lagi-lagi mesti minta sumbangan sama orang, lagi-lagi lama terealisasinya. Dulu gue pernah denger cerita Paul tentang orang-orang tajir di GBI Jakarta yang bisa provide finansial sampe harga mikrofon worship leadernya aja berpuluh-puluh juta. Wie schön.
Sebenernya bukan itu yang pengen gue omongin. Yang menarik adalah gue ketemu anak S3 domisili Dortmund yang lagi main ke Berlin. Umurnya kalo nggak salah 27 tahun dan kita ngobrol-ngobrol dikit lah. Lalu sampailah dia pada pertanyaan "Umur lo emang berapa, Git?". "Gue 24 tahun", jawab gue. "Sekarang lagi S2?", dia tanya lagi. "Nggak, gue masih S1.", jawab gue sembari quickly jump ahead to their point and processing my adequate level of response. That's typical INTJ by the way. 
Anyways, sampe mana kita tadi? Ah, iya. I was like, "This question again. The same explanation again. I am bored.". Gue pun memilih respon yang singkat, nggak panjang-panjang. Buat apa juga panjang-panjang. Then I said, "Kuliahnya susah."

...

Beberapa minggu belakangan ini gue banyak ngeliat foto temen SMA gue nikahan. Kebetulan sekarang emang lagi saatnya anak 90, 91, 92, dan 93 buat naik pelaminan. Dan temen-temen gue rata-rata anak 91. Terus temen gue yang di sini juga ada beberapa yang--entah bercanda atau serius--nyuruh-nyuruh gue buat nikah. Not once, but to the point that it annoyed me so much.

This whole thing got me thinking, apakah poin dari kita hidup adalah untuk cepet-cepetan ngelakuin sesuatu? Kenapa juga kita mesti cepet-cepetan ngelakuin sesuatu? Cepet-cepetan achieve sesuatu? Dan kenapa kita harus ngikutin pattern yang udah ada, yang udah dilakuin sama orang-orang sebelum kita? I am 24 now. Apakah gue seharusnya sudah lulus kuliah? Apakah seharusnya sekarang gue udah jadi orang kantoran? Apakah sekarang seharusnya gue udah sibuk ngurusin vendor buat nikahan? Terus salah kalo gue belom ngelakuin semua hal tersebut? Salah kalo gue masih berurusan dengan perkuliahan S1 gue? Salah kalo gue belom jadi orang kantoran, walaupun gaji gue lebih besar dari orang kantoran di Jakarta? Ngomong-ngomong, siapa sih yang awalnya mengharuskan begini dan begitu seorang individu? Siapa sih yang awalnya ngebuat sistem ini?

I was that kind of person, who planned everything from A to Z. Who said, "Umur 21 tahun gue udah lulus kuliah, terus gue bisa dapet kerja. Abis itu gue nikah and so on.". After learning that what you want isn't necessarily what you'll get in a hard way, I now know that life isn't a race with everybody else. Life is a place to learn and eventually you will gain something, achieve something. But the whole point of living is to learn. Seseorang pernah nanya ke gue, jika gue bisa muter-balikin waktu apakah gue mau memilih jalan yang lain, which is nggak ke Jerman dan hidup gue pun akan berjalan "tepat waktu". My answer was a no and still a no and will always be a no. Karena gue tau betapa banyak pelajaran yang gue dapet di sini, yang bikin gue bisa kayak sekarang. Dan karena gue tau gimana nggak bangetnya mental gue kalau gue memilih untuk stay di Indonesia. Let's say me living in Germany has changed my perspective. It has changed the way I look at things and the way I think of things.

Terus gue nggak pengen nikah cepet? Of course gue mau. Tapi--realistically speaking--gue nggak bisa. Kadang manusia suka lupa: everybody has their own problems, conditions and what not. Dan gue 100% sadar betul kendala apa yang gue miliki sekarang, apa yang menahan gue dari moving forward ke life goals lainnya, seberapa berat kendala itu, dan bagaimana cara gue menyelesaikannya. So, I know that getting married isn't on top of my priority. Well, gue emang nggak tau gimana takdir gue. Gue nggak tau kapan Allah bilang gue siap. Kalo ternyata out of the blue gue nikah sekarang, ya bagus. Jodoh udah dateng, masa gue tolak?. But still, to everybody out there, please stop telling me to get married.