A Cup of Tea

by Gita Savitri Devi

7/04/2017

Penilaian

Manusia ada mahluk yang nggak pernah berhenti membuat gue terpana dengan segala macam tingkahnya, segala macam sifatnya, dan segala macam keribetannya.

Kali ini gue mau cerita sedikit tentang pandangan gue terhadap manusia. Entah itu manusia lain, maupun gue yang terakhir kali gue check masih berupa manusia. Beberapa hari yang lalu gue nge-tweet. Manusia itu membuat terlalu banyak judgement, kata gue. Kita menilai diri kita nggak mampu untuk melakukan sesuatu atau banyak hal. Kita menilai diri kita tidak lebih dari sampah, sementara orang-orang lain banyak yang lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya.

Dulu pun gue begitu. Gue manusia yang penuh dengan pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Apapun yang gue lakukan, gue tidak mencari baiknya, tapi malah mencari kurangnya. Gue mencari-cari perbedaan antara bayangan yang gue punya dengan realita yang ada dan mencoba mencari letak kesalahannya. Acap kali gue melihat diri gue di kaca, yang gue liat adalah betapa besarnya jidat gue yang menyebabkan gue harus menutupinya dengan poni dan menyesali kenapa gue nggak bisa punya tulang pipi seperti layaknya wanita-wanita dewasa pada umumnya.

Alhasil gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri.

Ternyata orang yang tidak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain. Karena perlakuan gue ke orang lain juga nggak jauh beda. Setiap kali ketemu orang, yang gue cari selalu kurangnya. Mengukur-ngukur proporsi wajahnya. Kalau jidatnya lebih lebar dari "ideal"nya, jidatnya lah yang menjadi fokus pertama gue. Begitu juga kalau lengannya lebih gemuk dari pergelangan tangannya, kalimat "Gendut juga ni cewe." sudah terucap di dalam hati.

Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Pasti gue cari kurangnya. Pasti gue cari di mana salahnya.

Karena begitulah manusia. Suka mencari kekurangan. Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Padahal kita ini adalah mahluk yang paling nggak bisa melakukan hal tersebut.

Tapi lama-kelamaan gue bosan dengan kekeruhan gue dalam memandang manusia. Gue berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun. 

Melihat diri di kaca sekarang hanya sekadar melihat diri di kaca tanpa mengukur-ukur proporsi pipi gue dengan bagian wajah lainnya. Melakukan sesuatu hanya sekadar berbuat baik tanpa mengintip apa yang orang lain sudah atau sedang lakukan. Melakukan sesuatu hanya sekadar ingin menikmati hidup dengan menyebarkan kebaikan tanpa membentuk pengharapan yang berpotensi untuk bikin gue jadi manusia paling sialan sedunia, yaitu manusia yang sudah diberi banyak berkah tapi masih bisa mencari apa yang bisa dikeluhkan.

Terlebih ketika gue melihat orang lain, melihat apa yang dikerjakannya. Ada usaha yang teramat keras di sana, yang nggak dia tunjukkan kepada gue, yang nggak dia tunjukkan di dunia maya. Ada berpuluh-puluh malam dilewatinya tanpa tidur, yang nggak dia share di lini masa Instagram-nya.

Orang-orang lain termasuk gue, hanya melihat hasilnya. Hanya melihat hasil dari usaha kerasnya, tanpa mengetahui seberapa berat beban yang harus dipikulnya. Hanya melihat hasil dari jerih payahnya, yang bahkan masih kami cari-cari kekurangannya.

I don't want to be that person who thinks she knows better, who thinks everything has to be the way she wants.

I don't want to be that person who cannot see the good side in others. Who will always complain about what other people did, but doesn't realize that she has not done anything yet.

Banyak yang mencurahkan hatinya ke gue karena mereka kecewa dengan keadaannya kini. Tidak sesuai dengan usaha yang sudah diberikan, katanya. Lalu apa sebenarnya tujuannya kamu berusaha? Hanya supaya bisa dapetin apa yang kamu mau?
Banyak juga yang sekadar mengeluhkan penampilannya. Ingin diberitahu bagaimana cara gue memakai kerudung, sampai-sampai ke bagaimana cara gue bersolek. Karena mereka melihat gue sebagai wanita berpipi bulat, berjidat lebar, dan beralis tipis, tapi hal tersebut tidak terlihat salah. Seolah-olah mereka bukan suatu kekurangan.

That's the key, my friend. Gue tau caranya menghargai diri gue sendiri. Gue tau caranya menyayangi diri gue sendiri. Gue tau caranya mengapresiasi diri gue sendiri. 

Kekurangan tidak gue lihat sebagai kekurangan, tapi sebagai bagian dari diri gue. I don't hide it. I embrace it.  

Kegagalan tidak gue lihat sebagai kegagalan, tapi sebagai kesempatan gue untuk belajar lebih baik lagi.

Hidup gue lihat sebagai tempat gue mencari pengalaman, tempat gue belajar dari orang-orang, tempat gue mendapatkan inspirasi dari sekitar. Bukan tempat gue meraih ini dan itu, menyuapi ego yang selalu haus akan pengakuan.

Hargailah dirimu. Hargailah orang-orang di sekitarmu.

Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu. Dan lihatlah selalu kebaikan dari kanan-kirimu.


Share:

6/16/2017

Be Like Forrest Gump

 

Kutipan di atas gue ambil dari Instagram @humansofny, salah satu akun favorit gue. Isinya cerita para New Yorker yang bermacam-macam. Ternyata dari wajah dan penampilan yang biasa, selalu ada cerita luar biasa yang layak untuk didenger dan untuk dijadiin bahan merenung.

Kutipan di atas lebih gue rasa sangat resonate apa yang gue percayai. Karena begitu lah cara gue menjalani hidup ini. 

Banyak orang pikir gue terlalu polos. Tapi sering juga kepolosan itu diperlukan. Karena dari "kepolosan" itu gue jadi nggak lupa caranya bersyukur. Dari "kepolosan" itu gue nggak lupa untuk terus merunduk. Dan dari "kepolosan" itu juga gue bisa cepat bangkit lagi di kala diterpa masalah.

Gue percaya hidup itu seringkali sulit karena manusianya yang mempersulit. Entah karena kita terlalu banyak mikir, terlalu banyak mengeluh dan komplain, atau terlalu banyak mengira-ngira hal yang belum terjadi.

Berpikir seperti Forrest Gump itu perlu. Kita nggak perlu tau semua, nggak perlu take everything into a count, nggak perlu terlalu memikirkan suatu hal, nggak perlu merencanakan semuanya.

Cukup aja kita tau apa tujuan kita. Apa yang kita mau. Apa yang ingin kita lakukan. Supaya kita selalu punya satu alasan kenapa kita harus tetap jalan ke depan.

Just like what this guy said, Forrest figured everything out because he just kept going.

Don't stop. Keep going.
Share:
Blog Design Created by pipdig