by Gita Savitri Devi

11/25/2018

Apakah Gue Seorang Muslim Liberal?

Beberapa bulan belakangan ini gue sering banget mendengar asumsi dari para netijen yaitu gue memiliki paham liberal. Awalnya gue baper. Karena sebagai orang yang dulu mengidentfikasi diri sebagai konservatif, gue merasa diserang oleh orang-orang dari kubu gue sendiri. Yah, gimana enggak? Pertama kalinya gue mengunggah video Beropini tentang dugaan pelecehan agama yang dilakukan oleh Joshua Suherman dan Ge Pamungkas, respon yang gue dapet cukup liar. Selain disebut-sebut JIL, gue juga disebut hijaber yang tidak islami sama sekali karena gue nggak marah ketika agama gue dijadikan bahan tertawaan.

Sejak saat itu ada banyak konten gue lainnya yang mengundang respon liar netijen konservatif. Salah satunya adalah ketika gue mengunggah foto dengan Mbak Hannah Al Rashid. Di saat itu gue senang banget akhirnya bisa ketemu dia. I adore her because she's fearless karena dia publik figure yang nggak takut untuk bersuara. Sedikit gue tau, ternyata Mbak Hannah udah dicap sebagai pro-LGBT dan auto-laknat oleh kubu tersebut. Alasannya? Gara-gara dia ikut Women's March, yang dianggap sebagian orang adalah gerakan mendukung LGBT di Indonesia.

Sampai saat itu entah ada berapa banyak komentar-komentar netijen yang secara gamblang dan tanpa basis menyebut gue sebagai muslim liberal. Yang tadinya baper, gue sekarang jadi punya invisible shield. Yang tadinya sakit hati, sekarang jadi nggak berasa apa-apa kalo ada yang nyebut gue liberal. Bahkan nyebut gue kafir sekalipun.

Di saat yang bersamaan, gue menjadikan ini sebagai kesempatan untuk berkomunikasi dan mengajak si accuser untuk sedikit elaborasi. Sebenarnya apa yang mendasari asumsi mereka tersebut? Hingga detik ini, dari sekian banyak orang yang gue japri di direct message, nggak ada yang bisa ngejelasin kenapa dia nyebut gue seperti itu.

Oh, gue jadi inget ada satu kejadian lucu. Bagi yang mengikuti gue, mungkin kalian tau lah waktu itu ada satu selebgram pendakwah yang call out gue sebagai sekuler di IG story-nya. Dari sekian banyak netijen yang komen nyuruh gue ke neraka, ada salah satu orang yang gue japri. Dia bilang gue sekuler, lalu gue tanya sekuler itu apa. Gue nggak ngibul. Dia literally jawab begini:

"Sekuler itu orang yang nggak bisa ngebedain mana yang baik dan mana yang buruk."

Jawabannya sungguh tidak memuaskan. Ternyata ada orang di luar sana yang tidak terlalu tau apa yang sedang dia bicarakan.

Ada satu lagi pernyataan lucu satu netijen yang ditujukan kepada gue. Dan lagi, ini beneran. Dia bilang, "Kakak suka sama ceramah Quraish Shihab. Kakak merasa yang dilakukan pelawak itu bukan pelecehan. Kakak nanti tahun 2019 pilih Jokowi, ya?".

Di situ gue bertanya-tanya, di mana korelasi antara ceramah Quraish Shihab sama preferensi politik gue. Tapi dipikir-pikir memang itu lah yang sedang terjadi di Indonesia. Pandangan seseorang terhadap suatu hal bisa dihubungkan ke siapa presiden yang akan dia pilih, entah bagaimana caranya. Apakah orang kita sudah overdosis drama Cebong dan Kampret? Bisa jadi.

Namun, dia jadi makin bingung setelah gue beritahu jawaban gue. "Tahun 2014 gue pilih Prabowo. Pilgub gue dukung Anis-Sandi, tapi memang Ahok kerjanya oke punya. Gue ikutan Liqo yang mana adalah sistem tarbiyah-nya PKS. Untuk ulama Indonesia, gue seneng dengerin Quraish Shihab karena lebih humanis. Untuk urusan pelecehan agama yang katanya dilakukan pelawak ini, gue merasa dia nggak melecehkan Islam."

"Makin bingung nggak lo?"
"Iya, Kak. Aku bingung."

Tamat.

Anyway, daripada kelamaan nungguin para netijen ini untuk menjelaskan ke gue satu per satu alasannya nyebut gue liberal, pagi ini setelah terbangun dari mimpi, gue mendapat ilham untuk mencari tau sendiri.

Let's break it down:

Case 1: Gita liberal. Soalnya di video Creators for Change tahun lalu, dia menghadirkan seorang waria untuk jadi salah satu narasumbernya. Tandanya dia pendukung LGBT. Laknatullah!
Kata Gita: Seperti yang udah gue jelasin sampe seret tenggorokan di video PagiPagi episode 5 (kalau nggak salah), gue nggak setuju dengan konsep LGBT. Dalam pengertian gue, gender itu nggak fluid. Kalo nggak cowok, ya cewek. Kalo lo punya penis, tandanya lo cowok. Kalo lo punya vagina, tandanya lo cewek. Beda kalau kasus spesial di mana si orang punya dua alat kelamin. Mungkin di kasus tersebut, beliau bisa memilih. Begitu pula dengan pengertian gue mengenai identitas seksual seseorang. Laki-laki ya sama perempuan. Kalo kita ngomongin tentang LGBT yang membuat keluarga, menurut gue keluarga nggak bisa dibangun oleh Bapak dan Bapak atau Ibu dan Ibu. Di mata gue, peran Bapak dan Ibu itu idealnya mengkomplimen aspek tumbuh anak in different ways. Kalau ada muslim yang gay, ya gue nggak setuju. Karena menyalahi aturan agama. Tapi balik lagi, itu urusan dia sama Tuhan. Kalau dia bukan muslim, gue lebih nggak ngurusin lagi. In the end, hidup setiap manusia itu kompleks. Everyone is fighting their own battle. Gue nggak berada di posisi di mana gue bisa mengatur mereka. Bukan pula di posisi gue marah-marah ngelaknat mereka. Lantas, gue harus memusuhi teman-teman gue yang LGBT? Gue rasa tidak. Gue selalu mengajarkan diri gue dan mencoba untuk melihat seseorang lebih dari sekedar identitas seksual dia, agama dia, ras dia, dan apapun faktor personal lainnya. Temen-temen LGBT gue banyak dan mereka baik-baik banget. Makin ke sini, hal itu sih yang makin gue prioritaskan dalam pertemanan. Asalkan lo baik, faktor lain nggak terlalu penting.

Case 2: Gita liberal. Soalnya Gita nggak merasa Tretan Muslim dan Coki Pardede melecehkan agama. Di mana ghirah mu?!
Kata Gita: Mungkin karena gue sering nonton film-film dan video dari luar negeri, jadi referensi lawakan gue nggak sekadar ngata-ngatain fisik orang atau gebuk orang pake styrofoam kali, yah? Seperti halnya lawakan Joshua dan Ge, lawakan Muslim dan Coki tidak lebih hanya sekadar sarkasme terhadap beberapa orang muslim di Indonesia yang fanatik buta. Gue yakin nggak cuma gue doang, ada banyak orang lain yang merasa kelompok ini terlalu keras dalam berdakwah. Kerjanya mengkafir-kafirkan orang seenaknya, melabeli orang dengan kata-kata tidak pantas, bahkan sampai mencaci-maki orang yang berseberangan dengan mereka. Ironisnya, kelakuan mereka sama sekali nggak mencerminkan agama yang katanya sedang mereka bela. Islam sendiri artinya peace, kedamaian. Apakah mencaci-maki orang itu perbuatan damai? Buat gue, pelecehan agama adalah Geert Wilders, pemimpin oposisi anti Islam di Belanda yang sengaja membuat kontes menggambar karikatur Rasulullah SAW. Seperti halnya yang pernah dilakukan oleh koran Charlie Hebdo. Kalo nggak setuju sama Islam ya monggo, tapi nggak perlu menghina. Contoh pelecehan agama lain adalah orang-orang yang ngebom kanan-kiri dan ngakunya lagi jihad membela agama. Jelas-jelas Islam nggak pernah nyuruh kita bunuh orang, tapi tetep aja dilakuin. Imbasnya sudah pasti ke muslim moderat lain yang jadi korban Islamophobia. Kalo si ekstrimis mungkin sudah naik ke khayangan sana dan ditemani oleh 72 virgin angels seperti yang dijanjikan ajarannya.

Case 3: Gita liberal. Soalnya dia pernah bilang di video Beropini seorang artis yang lepas kerudung kalau pada akhirnya itu pilihan dia karena kerudung adalah perkara pribadi yang sensitif. Mbak, hijab itu wajib hukumnya buat wanita muslim!
Kata Gita: Hallease, sesama ambasador Creators for Change tahun ini, memfitur gue di dalam videonya yang membahas tentang headwraps. Di videonya tersebut, gue menjelaskan konsep dari kerudung dalam Islam dan apa yang mendasari keputusan gue untuk menutup aurat. Gue bilang bahwa kerudung itu wajib hukumnya dan sudah tertulis di Al-Quran. Makanya sejujurnya gue nggak setuju jika ada muslim yang bilang bahwa kerudung itu pilihan. "Git, tapi kan lo bilang lo feminis? Feminism is all about choice. Women can wear whatever they want!". Nah, ini poin yang sebenarnya ingin gue sampaikan lewat tulisan ini. Setiap pemahaman yang masing-masing orang miliki, selalu memiliki nuance. Seringkali, kacamata hitam dan putih nggak cukup untuk membantu kita memahami sesuatu. Contoh: ada beberapa muslim yang beranggapan ngebom dan membunuh orang kafir adalah bentuk dari jihad. Ada juga yang nggak, termasuk gue. Maka dari itu, nggak bener dong pernyataan para white supremacist di luar sana yang bilang bahwa Islam adalah agama teroris? Karena kita nggak bisa melihat muslim dari satu kacamata aja, kacamata para muslim ekstrimis. Balik lagi ke kerudung. Gue percaya kerudung adalah kewajiban. Tapi pada akhirnya kerudung itu berhubungan erat banget dengan perjalanan spiritual setiap muslimah dalam mencari Tuhannya. Pada akhirnya setiap muslimah berhak untuk menentukan sendiri, jalan seperti apa yang mau dia telusuri. Netijen nggak ada urusan dan sebetulnya nggak berhak untuk mendikte pencarian Tuhan seseorang. Wallahualam kalau nantinya di akhirat, fakta bahwa si muslimah tidak pakai kerudung saat di dunia dulu akan dihisab oleh Allah SWT. Kalau urusan hisab, gue merasa gue tidak berada di posisi di mana gue bisa berkomentar banyak. Karena gue punya dosa gue sendiri yang harus gue urusin.

Case 4: Gita liberal. Soalnya dia bilang dia feminis. Feminisme itu paham barat! Barat itu negara-negara kafir!
Kata Gita: Seperti yang gue bilang di atas, pemahaman seseorang terhadap sesuatu pasti ada spektrumnya. Jika lo nanya gue apa arti feminisme untuk diri gue sendiri, kemungkinan besar jawabannya akan berbeda ketika lo bertanya dengan orang lain. Karena gue muslim, ada beberapa paham di dalam feminisme yang bertabrakan dengan agama gue. Dan kewajiban gue adalah mengambil yang baik dan membuang yang gue kira buruk. Ada beberapa feminis yang beranggapan pria dan wanita tidak ada bedanya. Gue kurang setuju. Secara biologis, fisik, dan psikologi, pria dan wanita diciptakan berbeda. Maka dari itu kedua gender memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Itulah mengapa kita harus saling menghargai hal tersebut dan kemudian saling melengkapi. Ada beberapa feminis yang merasa wanita harus di atas pria. Dengan alasan yang sama seperti di atas, gue nggak setuju dengan pernyataan ini. Buat gue, feminisme bukan ajang di mana kita, wanita, mau main lebih-lebihan dibanding laki-laki. Menurut gue, lebih bijak jika kita semua be fair. Buat gue, feminisme adalah kesetaraan. Kesetaraan bukan berarti sama. Keresahan yang gue miliki adalah bagaimana pandangan beberapa orang terhadap wanita. Wanita dianggap seperti second gender yang cukup berkontribusi urusan dapur sama bikin anak aja. Imbasnya ada banyak orang yang merasa kalau wanita sekolah terlalu tinggi, maka dia akan susah cari jodoh dan ilmunya akan sia-sia. Terlebih dengan maraknya kejadian pelecehan seksual. Ini menandakan banyak banget cowok di luar sana yang memandang cewek hanya sebatas objek seksual. Dan nggak sedikit wanita yang juga terjebak di dalam budaya patriarki tanpa mereka sadari. Temennya abis kena grepe cowok di angkutan umum, responnya malah "Yah, lo nggak berhijab sih.". Seakan-akan wanita muslim berjilbab agar terhindar dari pelecehan seksual yang mungkin akan dia alami. Nah, menurut gue ini juga salah satu pelecehan agama nih. Memakai ayat Allah SWT untuk menyudutkan suatu kaum dan mendukung kaum lainnya. Dengan tameng ayat Allah mengenai perintah kepada muslimah untuk menutup aurat, oleh beberapa orang dimanfaatkan untuk mempertahankan budaya patriarki agar makin kental di negara ini. Sedihnya, karena banyak banget yang setuju dengan jargon "berhijablah, maka niscaya kamu akan terhindar dari pelecehan", banyak orang yang nggak familiar dengan Islam merasa Islam adalah agamanya yang tidak ramah perempuan. Feminisme adalah paham di mana seseorang percaya bahwa setiap gender berhak mendapatkan respek dan kesempatan yang sama dan tidak ada superiority di dalamnya. And I'm all for it.

Case 5: Gita liberal karena dia nggak mendukung gerakan nikah muda. Mending nikah muda daripada zina!
Kata Gita: Lawan dari berzina adalah tidak berzina, bukan nikah muda. Buat kebanyakan orang, menjadi suami ataupun istri adalah tujuan dalam hidupnya. Peran tersebut juga dibarengi dengan tanggung jawab yang besar. Gue seneng sama orang-orang yang tau diri. Tau bahwa dirinya belum siap secara materi dan belum juga siap dalam aspek kedewasaan, lantas dia masih belum berani untuk meminang calon istri. Beda ceritanya sama orang-orang yang jelas-jelas masih labil, tapi isi otaknya cuma kawin doang. Alasannya, menikah itu mendatangan rezeki. Yaa... Mungkin bener menikah mendatangkan rezeki. Tapi kalo masih misqueen tapi berani-beraninya claiming kalau dirinya pasti bisa membiayai satu manusia lagi, masih bocah tapi merasa sudah bisa membimbing sang wanita, bukan bunuh diri itu namanya? Lebih ngeselin lagi kalo si orang yang kebelet ini memanfaatkan ayat Quran untuk menjustifikasi aksinya. "Menikah itu menyempurnakan separuh agama.". Yang separuhnya lagi gimana? Memangnya udah sempurna? Gue sejujurnya sedih, makin ke sini perkara menikah makin menjadi tekanan di kalangan masyarakat. Kesannya kalau belum menikah itu sedih banget. Padahal siapa tau yang masih single itu lebih bahagia daripada yang udah nikah tapi tiap hari berantem terus. Kesannya jika sang pria maupun wanita wafat ketika masih single, mereka akan langsung ditolak oleh malaikat penjaga surga karena selama di dunia belum menikah. Belum lagi, beberapa orang yang gemar berkampanye nikah muda seakan-akan berkata inti dari segala kehidupan yang sungguh pelik ini adalah mencari pasangan. Seakan-akan menuntut ilmu sampai ke negeri Cina tidak penting. Seakan-akan menambah wawasan dan pengalaman hanya membuang waktu. Memberi mimpi semu, seakan-akan menikah adalah solusi segala masalah yang dia punya. Sebenernya pandangan gue sesederhana ini: menikah atau tidak menikah bukanlah urusan publik bersama. Mau menikah kapan aja, terserah si manusianya.

Case 6: Gita liberal. Soalnya Gita pernah bilang di IG story kalau dia pingin nunda punya anak. Anak itu rezeki, woy! Masa lo tolak?!
Kata Gita: Gue udah hidup di dunia ini selama 26 tahun. Ada banyak banget yang gue dengar, yang gue lihat, dan yang gue alami, yang membuat gue belajar satu hal: punya anak itu susah banget. Karena ternyata anak itu bukan sekadar rezeki kayak lo dapet uang kaget dari Helmi Yahya, tapi tanggung jawab. Pertama soal finansial. Anak butuh dikasih gizi yang cukup, lebih malah. Nutrisinya harus terpenuhi apalagi di 1000 hari pertama dari dia di dalam janin. Karena kalo nggak, itu anak nanti bakal stunting. Stunting bukan cuma berefek ke pertumbuhan anak yang badannya jadi lebih pendek dari rata-rata, tapi ke perkembangan kognitifnya juga. Intinya kalo si ibu hamil kurang gizi (kurang zat besi misalnya) dan anaknya kurang nutrisi, memang si Ibu jadi punya keturunan. Tapi keturunannya lemot. Sementara kalau lo bereproduksi, lo maunya anaknya jadi anak yang pinter. Biar pas gede nggak jadi sampah masyarakat dan gampang dibegoin sama hoax. Kedua soal pendidikan akademik. Ini masih berhubungan dengan perkara finansial. Lo mau menyekolahkan anak lo di tempat yang menurut lo terjamin kualitasnya. Biasanya sekolah yang bagus, maka bagus pula SPP-nya. Selain itu lo juga mau dia nggak cuma sekolah doang. Karena nyatanya hidup ini bukan cuma soal nilai dan ijazah. Anak lo harus punya kemampuan lain entah itu kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, berempati, seni, olahraga, bahasa asing, dan keterampilan lainnya. Berarti lo harus daftarin dia di kursus ABCD yang mana butuh biaya yang nggak sedikit. Ditambah lagi lo sebagai Ibu yang menyandang titel "madrasah pertama bagi sang anak" harus jadi Ibu yang pintar pula. Anak harus diajarin caranya bersikap, diajarin agama biar tau mana yang benar dan salah. Tapi di saat yang bersamaan, si Ibu harus ngajarin anaknya bertoleransi. Anaknya harus dibikin cultured biar gedenya nanti nggak misuh-misuh liat orang warna kulitnya beda sama dia atau liat orang yang cara beribadahnya beda. Gimana caranya supaya kita bisa jadi Ibu yang pintar? Banyak ketemu orang, banyak ngobrol sama orang, banyak baca, banyak nonton, banyak mengedukasi diri. Belum lagi komitmen yang harus kuat ketika kedua pasangan memilih untuk punya keturunan. Faktanya, banyak suami dan istri yang masih labil dan akhirnya berefek ke perkembangan psikis anak tersebut. Jadi begitu, Fernando Jose, nggak semua orang menganggap remeh punya anak. Karena kalau si anak tumbuh jadi orang yang bodoh, ignoran, rasis, dan pembenci. Sedikit banyak di situ ada tanggung jawab dari Emak-Babenya.

Begitulah kiranya jawaban-jawaban yang gue pertanyakan. Asli, gue jadi berasa lagi di talkshow Mas Deddy Corbuzier. Tapi yang jawab Mas Corbuziernya sendiri

Nah jadi pertanyaannya, gue liberal apa enggak sih?
Share:

10/10/2018

It's the Will, Not the Skill

Tadi pagi gue scrolling komen salah satu postingan akun di Instagram tentang film Rentang Kisah. Iya, buku gue bakal difilmin dan gue seneng banget! 

Anyway, satu orang di postingan itu bilang, buku ini diangkat karena kebetulan gue lagi rame aja. Padahal sebenernya nggak ada yang segimana banget dari kisah gue, sampe-sampe bukunya harus difilmkan. Kisah gue sangat biasa, karena toh di dunia ini banyak sekali orang Indonesia yang sekolah dan tinggal di luar negeri. Tidak ada yang spesial dari itu semua. Menurut dia, buku gue pun biasa aja karena banyak cerita yang terlalu gue romantisasi dan terkesan berlebihan untuk dia.

Komentar dia membuat gue berpikir lagi mengenai usaha dan rezeki dan membuat gue jadi flashback ke masa lalu.

Dulu gue punya temen yang juga suka menggambar sama kayak gue. Di saat dia baru memulai hobinya itu, gue udah lebih dulu berkecimpung di dunia gambar-menggambar dan bahkan udah dapet pengakuan dari salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia bahwa gue memang punya skill dan pantas kuliah seni di sana. Makanya tiap kali dia mengunggah karyanya di media sosial, yang gue lakukan adalah mencibir "Halah, bagusan juga gambar gue". 

Si temen gue ini rajin ngegambar tiap hari dan selalu mengunggah gambarnya di medsosnya dia. Dia juga terlihat selalu excited bercerita di caption tentang arti dari karya dia tersebut. Lagi-lagi kelakuan dia gue cibir "Lo emang ngerasa gambar lo sebagus apa sih sampe lo pede banget nge-upload itu di medsos?". Dipikir-pikir tengik jugak ye gue dulu. Tapi tenang, I learned my lesson kok. Everyday is a day to learn.

Lama nggak pernah ngikutin lagi perkembangan gambarnya (karena jumawanya gue), suatu hari gue penasaran untuk ngeliat hasil karyanya sekarang. Jleb! Gue berasa ditampar. Gue kaget, kemajuan dia pesat banget. Bahkan dia udah berani untuk jadiin menggambar sebagai mata pencahariannya dan kliennya nggak sedikit!

Di situ gue nyesek banget dan akhirnya merenung. Di saat gue lagi sibuk mencibir dan menyepelekan hasil karyanya, dia selalu latihan gambar pagi sampai malam. Di saat gue merasa skill gue jauh di atas dia, di saat itu juga gue lengah dan nggak terpikir kalau nanti dia akan jauh lebih jago dari gue. Di saat itu memang gambar gue lebih bagus, tapi gue lupa kalau pada akhirnya orang pintar akan kalah dengan orang yang rajin dan ulet. Dan yang lebih menyedihkan lagi, gue terlalu sibuk mencibir dia, tapi gue nggak sibuk naikin skill gambar gue sendiri. Alhasil, gue nggak maju-maju.

Konsep usaha dan rezeki ini juga terbesit kalo gue lagi ngeliatin Instagram-nya the Kardashians.  Hahaha, contohnya harus Kardashian banget nih?! Eh, tapi walaupun mereka kayak gitu, menurut gue ada hal positif yang harus kita contoh. 

Selama ini gue sering banget mendengar opini nggak enak orang-orang terhadap keluarga yang satu ini. Banyak orang bilang the Kardashians are famous for doing nothing. Keluarga ini keluarga nggak jelas yang cuma ketawa-ketawa dan bikin drama doang. Pokoknya orang barat senggak suka itu deh sama mereka.

Menurut gue, si Kardashians itu revolusioner. Mereka bisa ngeliat opportunity untuk dapet uang dan fame yang orang lain nggak lihat. Mereka bisa keluar dari stereotip "bekerja harus literally kerja di depan komputer di dalam cubicle". It's a smart move! 

Dan menurut gue banyak orang yang nggak suka sama mereka bukan karena mereka nggak bisa apa-apa. Tapi para anti-Kardashian kesel aja kali yah, mereka udah kerja siang-malem mati-matian tapi nggak tajir. Sementara mereka lihat Kim bersaudara cuma "begitu-begitu" doang kerjaannya, tapi duitnya triliunan.

Di sini menurut gue yang kita mesti renungin. Kita nggak pernah tau usaha di balik kesuksesan keluarga ini karena kita terlalu sibuk mencibir mereka. Kita nggak pernah tau berapa banyak pengorbanan yang harus mereka lakuin. Kita nggak pernah tau cuma berapa jam mereka bisa tidur dalam sehari. Kita nggak tau se-hectic apa kesehariannya karena kerjaannya sebenernya segunung. Lagi, kita sibuk mencibir sementara mereka lagi working their asses off to get a better life. Pada akhirnya, mereka makin kaya dan kita masih miskin aja.

Balik lagi ke cerita gue. Waktu gue dikasih tau sama editor gue kalau Falcon Pictures berniat untuk bikin Rentang Kisah jadi film, rasanya tuh campur aduk. Selama ini gue suka lihat gimana para penulis yang bukunya diangkat ke layar lebar. Tapi nggak pernah sedikit pun ada rasa jika gue pun ingin bisa mengalami hal itu. Karena ya nggak mungkin. Gue siapa? Gue udah ngapain?

I am not a dreamer, makanya gue nggak pernah bermimpi terlalu jauh. Gue si orang yang belum ngapa-ngapain, belum memberi pengaruh apapun ke orang lain, nggak mungkin bisa punya karya apapun. Karena setau gue hanya orang hebat yang bisa mencapai sesuatu.

Tapi gue diingetin lagi sama konsep usaha dan rezeki yang gue pelajari. Selama ini orang tua gue udah berusaha mati-matian sampe gue bisa kayak sekarang. Gue ngeliat betul gimana perjuangan mereka berdua cari uang dan mengatur uang itu supaya gue dan adik gue bisa dapetin yang terbaik. Bokap gue sampe harus jauh-jauh ke luar negeri dan bertahun-tahun pisah sama keluarga. Sementara nyokap juga sampe harus cari sampingan. Saking jagonya orang tua gue, sampe-sampe kita selalu disangka orang kaya sama banyak orang.

Nggak cuma masalah materi, setiap hari nyokap gue selalu ngasih gue nasehat dan wejangan supaya gue bisa jadi manusia yang berguna. Supaya gue jadi manusia yang mandiri, yang kritis, yang berani. Aduh, tiba-tiba gue merasa gue belom ngelakuin apa-apa buat mereka T_T

Oke, lanjut... Mungkin dari semua usaha, energi, waktu, dan keringat yang dikeluarkan oleh bokap, nyokap dari sejak dulu kala, Tuhan merasa gue pantas untuk dikasih apa yang gue dapetin sekarang. Gue yakin itu karena gue tau Tuhan nggak pernah tidur dan Dia Maha Adil.

Dengan adanya buku gue yang alhamdulillah udah sampe cetakan ke sembilan, terus sekarang mau diangkat ke film. Dengan banyaknya kesempatan gue kerja sama segala macam brand dan exposure yang gue dapetin sekarang. Mungkin itu semua adalah buah manis yang Tuhan kasih buat keluarga gue. Mungkin Tuhan ngedenger doa nyokap gue siang dan malam, bagaimana dia selalu mengucap dalam sujudnya semoga gue bisa jadi anak yang mengangkat derajat dan menolong keluarganya.

Karena kita nggak pernah tau usaha orang, hendaknya kita nggak mencibir orang tersebut. Dan menyepelekan seseorang atau karya orang ternyata nggak membuat kita berjalan kemana-mana selain mundur. Karena kita akan selalu merasa lebih baik dari orang lain dan nggak ada rasa urgensi untuk mengaktualisasi diri. Itu yang gue pelajari dari mencibir temen gue, dari ngejulidin artis X, dari ngeliat seseorang yang gue pikir nggak pantas dapetin kesuksesan yang dia dapetin saat itu.

Dan sebenernya pada akhirnya Tuhan itu Maha Adil dan Dia lah yang berhak memberi rezeki kepada siapapun yang dikehendakiNya. Kepada hambaNya yang selalu berusaha, kepada hambaNya yang selalu berdoa.

Remember. It's the will, not the skill.
Share:

9/30/2018

Some Informations We All Need

APA ITU PELECEHAN SEKSUAL?
Pelecehan seksual adalah perilaku yang berhubungan dengan seks yang tidak diinginkan, yang terjadi secara lisan, tindakan, maupun lewat isyarat.

APA SAJA YANG TERMASUK PELECEHAN SEKSUAL?
- Pemerkosaan atau percobaan pemerkosaan
- Pemaksaan keinginan seksual yang tidak diinginkan
- Memegang, menyudutkan, bersender kepada seseorang yang tidak diinginkan
- Memandang dan melakukan gesture seksual
- Bercandaan, ejekan, komentar, pertanyaan, pernyataan seksual yang tidak diinginkan
- Bersiul kepada orang lain
- Cat calls
- Komentar seksual terhadap bentuk tubuh, cara berpakaian, maupun penampilan orang lain
- Ekspresi wajah, kedipan mata, throwing kisses atau licking lips
- dsb

PELECEHAN SEKSUAL TERJADI PADA SATU DARI TIGA WANITA DI DUNIA DAN PADA SATU DARI ENAM PRIA. KENAPA DINORMALISASI?
1. Rape culture
2. Victim blaming
3. Kurangnya edukasi menyeluruh akan sexual behaviour dan sexual violence

APA ITU RAPE CULTURE?
Rape culture adalah sebuah lingkungan di mana pemerkosaan dianggap lazim terjadi dan kekerasan seksual dinormalisasi. Rape culture dilakukan dan dibudayakan lewat pemakaian kata-kata misogynist (yang menyudutkan wanita), objektifikasi tubuh wanita, dan glamorisasi terhadap kekerasan seksual di kehidupan sehari-hari maupun di popular culture.

APA SAJA YANG TERMASUK RAPE CULTURE?
- Menyalahkan korban dengan cara meneliti pakaian korban, mental state, motive, dan juga kelakuan korban
- Menyepelekan pelecehan seksual —> „Ahh, namanya juga laki-laki. Nafsu mereka memang lebih tinggi.“
- Menolerir pelecehan seksual
- Mengartikan „kelaki-lakian“ sebagai DOMINASI dan memiliki NAFSU LEBIH TINGGI (sexually aggressive)
- Mengartikan „kewanitaan“ sebagai PENURUT dan tidak lebih agresif secara seksual
- Beranggapan bahwa hanya wanita „nakal“ lah yang bisa dilecehkan
- Mengajarkan wanita supaya tidak dilecehkan dan tidak mengajarkan pria supaya tidak melecehkan

APA ITU VICTIM BLAMING?
Menyalahkan korban yang terkena pelecehan seksual. Seseorang menyalahkan korban karena dia tidak mau tahu dan mau menjauhi diri dari kejadian yang tidak mengenakan. Dengan cara melabeli dan menuding korban, orang tersebut beranggapan dirinya tidak sama dengan korban. Maka dari itu dia merasa akan terhindar dari pelecehan seksual tersebut.

Sikap ini bisa mengenyampingkan korban pelecehan seksual dan membuat mereka makin tidak mau menceritakan dan melaporkan kejadian. Sikap ini juga MEMPERKUAT ALASAN BUATAN SI PELAKU PELECEHAN, „Kejadian ini terjadi karena salah korbannya. She’s asking for it.“. Pelecehan seksual bukan kesalahan korban, tetapi hal tersebut adalah pilihan si pelaku untuk tidak melakukannya! Dan bukan kewajiban korban untuk memperbaiki situasi.

BAGAIMANA CARA SUPAYA BISA MELAWAN RAPE CULTURE DAN VICTIM BLAMING?
- Berpikir dan bersikap kritis terhadap bagaimana lingkungan dan media menggambarkan laki-laki, wanita, relationships, dan kekerasan
- Tidak menggunakan bahasa yang mengobjektifikasi dan menyudutkan korban
- Jika kalian melihat seseorang melakukan bercandaan seksual atau melakukan pelecehan, SPEAK UP!
- Jika seseorang bilang ke kalian bahwa dia dilecehkan, have a conversation with this person and be supportive
- Beri tahu si korban bahwa apa yang terjadi bukan kesalahan dia
- Jangan biarkan si pelaku beralasan konyol terhadap apa yang dia perbuat, seperti menyalahkan korban atau keadaan
- Artikan sendiri „kelaki-lakian“ dan „kewanitaan“, terlepas dari stereotip yang ada
- BE AN ACTIVE BYSTANDER! Karena diam berarti membuat rape culture dan pelecehan seksual terus dianggap lazim di masyarakat.

BAGAIMANA KEADAANNYA DI INDONESIA?
- Menurut CATAHU 2018 Komnas Perlindungan Perempuan, di ranah privat/personal persentasi kekerasan seksual adalah sebesar 31% (2.979 kasus)
- Untuk kekerasan seksual di ranah privat/personal tahun ini, incest (pelaku orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga) merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan yakni sebanyak 1.210 kasus, kedua adalah kasus perkosaan sebanyak 619 kasus, kemudian persetubuhan/eksploitasi seksual sebanyak 555 kasus. Dari total 1.210 kasus incest, sejumlah 266 kasus (22%) dilaporkan ke polisi, dan masuk dalam proses pengadilan sebanyak 160 kasus (13,2%)
- Di tahun ini, CATAHU juga menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah privat/personal adalah pacar sebanyak 1.528 orang, diikuti ayah kandung sebanyak 425 orang, kemudian diperingkat ketiga adalah paman sebanyak 322 orang. Banyaknya pelaku ayah kandung dan paman selaras dengan meningkatnya kasus incest.
- Di ranah publik (pelaku dan korban tidak memiliki hubungan kekerabatan, darah ataupun perkawinan), kekerasan seksual mencapai angka 76% (2670 kasus), yaitu pencabulan (911 kasus), pelecehan seksual (708 kasus), dan perkosaan (669 kasus)

-------------------------------------------------

Gue terpelatuk oleh direct message salah satu followers gue di Instagram yang berkata bahwa jika seorang wanita mengalami pelecehan seksual, maka dirinya harus introspeksi diri. Lihat lagi cara dia berpakaian dan kenapa dia bisa mengundang laki-laki untuk melecehkan dirinya. Katanya lagi, Islam sudah mengatur bagaimana wanita harus berpakaian agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Wanita harus menutup aurat karena pria memiliki nafsu lebih besar dan aurat wanita bisa memicu hal-hal nggak enak.

Oke, gue setuju kalau Allah SWT mewajibkan umatNya yang wanita untuk menutup aurat. Tapi gue sangat tidak setuju jika alasan menutup aurat adalah untuk menghindari pelecehan. Hi, have you heard of SELF-CONTROL? Setiap manusia dikasih nafsu, tapi juga dikasih akal pikiran. Jangankan nafsu untuk megang-megang atau bahkan memperkosa cewek lain, nafsu makan kebanyakan sampe begah aja harus ditahan. Dan bukan salah si korban kalau si pelaku nggak bisa menahan nafsunya. It's never about the women's clothes. Kenyataannya ada banyak wanita yang udah menutup aurat pakai pakaian syari, tapi tetap kena pelecehan.

Maaf banget, tapi memanfaatkan agama untuk membudayakan rape culture adalah salah satu hal yang paling menjijikan. Yes, it is rape culture if you think the victim is the one responsible for this unfortunate occurance. It is rape culture if you normalize and think sexual harassment is prevalent, because heeyyy boys will be boys, right?!

Gue berharap siapapun dari kalian yang merasa pelecehan seksual adalah tanggung jawab si korban, setelah membaca informasi di atas, kalian tersadar jika kalian sedang berada di bawah pengaruh budaya patriarki dan rape culture yang sangat pekat di masyarakat kita.
Share:

9/24/2018

There is No Place Like Home

Setiap kali gue sedang berada di Indonesia, gue sering dapet pertanyaan apakah gue akan kembali ke Jerman lagi. Jika iya, kenapa dan apakah masih ada urusan yang belum terselesaikan sehingga seorang WNI yang tinggal di luar negeri belum bisa pulang ke tanah airnya. Emangnya nggak kangen sama Indonesia?

Dari banyaknya pertanyaan serupa yang dilontarkan orang-orang, gue bisa kasih konklusi kalau konsep tinggal di luar negeri buat sebagian orang adalah hal yang nggak jelas. I get it. Seorang manusia memang butuh tempat menetap selamanya. Seorang manusia memang butuh tempat yang membuat mereka nyaman dengan segala kefamiliarannya. Dan pada umumnya, tempat yang bisa memberikan kenyamanan adalah tempat lahir kita. 

Hmmm... seperti biasa isi otak gue semacam mengawang-ngawang dan gue nggak tau mana yang harus gue tulis duluan. Let start with the idea of "home".

The reality is, I was actually grasping for the actual meaning of home since 2012, marking my two years of living abroad. Pada awalnya, Indonesia terasa sangat nyaman karena kebiasaan. Lahir dan besar di sana memberikan gue banyak banget orang-orang istimewa dan yang pasti cerita-ceritanya. Tempat-tempat yang sering gue kunjungi, suasananya, bahasanya, makanannya. Indonesia felt so familiar and that's what I called home.

Makin lama gue meninggalkan Indonesia, kefamiliaran itu makin lama pudar. Iya, sih. Bahasa dan makanannya masih sama. Tapi 8 tahun nggak menyaksikan secara konstan perkembangan negara ini, jelas gue ketinggalan banyak hal. Jejeran gedung yang tadinya gue selalu lihat, sekarang udah diganti sama bangunan yang baru yang nggak ada di ingatan gue. Kebiasaan orang-orang lokal yang tadinya gue kenal, sekarang malah gue yang harus menyesuaikan. 

Di sisi lain, Jerman makin terasa seperti guru kesayangan karena di sini lah gue pertama kalinya belajar untuk hidup seorang diri. Negara ini lah yang mengajarkan gue untuk jadi orang yang kuat. Negara ini juga yang mengajarkan gue bagaimana menjadi manusia bermental negara pertama. Dan negara ini juga yang memperlihatkan gue keberagaman agama, ras, dan warna kulit. Di sini lah gue dihadapkan oleh perbedaan dan diajarkan bagaimana menghadapinya. 

More and more I felt Indonesia is not special anymore. Bukan karena gue tidak nyaman dengan sekitarannya, bukan karena gue tidak familiar dengan keadaannya. Gue terlalu familiar dengan orang-orangnya, budayanya, bahasanya. Indonesia terlalu nyaman buat gue, dan membuat gue sulit untuk berkembang

Satu hal yang gue pelajari dari semua ini, ternyata seorang manusia bisa merasa nyaman di tempat yang bukan tanah kelahirannya. Ternyata definisi rumah hanyalah ada-adaan sebagian orang yang agak khawatir meninggalkan zona nyamannya.
I found my inner peace in Germany, despite all of the inconvenience this country has constantly given me.

Isu nasionalitas adalah salah satu yang sering diangkat ke permukaan. Tinggal di luar Indonesia nggak semerta-merta membuat gue hilang kepedulian terhadapnya. Gue nggak setuju jika berada di sana adalah satu-satunya cara mengekspresikan rasa cinta kita terhadap Indonesia. Karena banyak sekali para diaspora yang setiap harinya diisi dengan kegiatan positif dan mengharumkan nama bangsa. Sedangkan ada banyak juga yang tinggal di Indonesia tapi kerjanya hanya menyusahkan negara. Merusak fasilitas umum, menyuap polisi, korupsi, buang sampah nggak pada tempatnya, nggak membudayakan antre, dan lain sebagainya.

See? You can love your country however you want. You can in fact make your country proud wherever you are. Karena di manapun kita berada, selama yang kita lakukan berdampak positif untuk sekitar, negara juga bangga kok.

Will I ever live in Indonesia forever? Mungkin. Mungkin juga tidak, karena belum terpikirkan oleh gue untuk menetap selamanya di suatu negara. Ahh.. The classic "setelah kuliah harus bekerja dan menetap" banget nggak sih? 

Buat gue, mau di Indonesia, Jerman, Korea Selatan, Amerika Serikat, di manapun gue berada asalkan gue mendapatkan kesempatan untuk menantang diri gue. Asalkan gue bisa tetap proaktif berkontribusi untuk kemaslahatan anak manusia. Nggak jadi masalah. I live to experience, not to settle down. But maybe if I am old and tired of growing, I will.

But seriously, guys. The whole idea of home, work, settle down, build a family, etc are so confusing to me.  

Why does someone have to stay in their hometown? Why does someone has to have a 9 to 5 job? Why does someone have to settle once she has a family? 

Why does life has to be so conventional? Nobody said it has to be. Ya, kan?
 
Share:

7/28/2018

(Akhirnya) Hari Untuk Gita

The day is almost there. Gue akan jadi istri orang dan gue akan punya suami.

Suami.

Seseorang yang nggak pernah gue sangka gue punya. Karena dari dulu gue berpikir pernikahan itu bukan buat semua orang. Some people are comfortable being all by themselves. Some people are not there to build a family. But for me, I slowly learned about myself that I need someone to be there for me

to be a listener
to be a partner
to be a company
to be a friend for life

And I don't mind that at all.

...

Now let's talk about the wedding.

Buat gue pernikahan itu adalah suatu aktivitas yang dibuat-buat oleh manusia. Gue nggak berkata tentang akad nikahnya, tapi tentang resepsinya. Bayangin, hanya untuk acara yang berlangsung beberapa jam aja, lo diharuskan untuk pusing-pusing dan menyiapkan semuanya dari jauh-jauh hari. Anyway, ada satu film Indonesia berjudul Hari Untuk Amanda yang kebetulan adalah salah satu film favorit gue. Walau aktingnya kurang, ceritanya menurut gue oke. Tapi yang buat gue suka adalah latarnya. Jakarta banget.

Film itu menceritakan tentang Amanda, seorang wanita muda yang bekerja sebagai karyawati, yang sedang riweuh menyiapkan hari pernikahannya. Sebagaimana pra-pernikahan pada umumnya, selalu ada aja drama yang dateng. Selain karena si Dodi, calon Amanda, yang workaholic dan selalu nggak ada waktu ngurusin kawinan bareng-bareng, mantan Amanda bernama Hari pun tiba-tiba dateng untuk ngerebut Amanda balik. Tapi gue seneng, di situ Amanda nggak jadi fakir cinta dan korban gombalan Hari. Dia tetep jadi sama Dodi. Emang, ya. At the end of the day wanita itu butuh pria yang bisa memberi kepastian. Ups, sorry spoiler.

Pertama kali nonton film ini adalah tahun 2010. Gue masih umur 18 tahun dan nggak kepikiran kawin sama sekali. Ngeliat gimana ribetnya Amanda ngurusin undangan, catering, sampe fitting baju, gue ampe mikir, "Emang seribet itu, ya?". Ternyata emang ribet banget sih. Karena pada kenyataannya manusianya sendiri yang bikin ribet. Semuanya harus sempurna, catering nggak boleh kurang, baju harus pas, dekorasi harus paripurna, undangan nggak boleh salah, dan lain sebagainya.

Gue juga sering banget nonton video-video informatif di YouTube mengenai industri pernikahan itu sendiri. Isinya rata-rata sesuai dengan realita yang gue liat. Pernikahan sangat dibisnisin dan apapun yang ada embel-embel "wedding" pasti di-charge mahal. 

Mengetahui hal itu, tunangan kemaren gue bikin super simpel. Boro-boro mau pake dekor atau fotografer, nyewa makeup artist pun enggak. Batiknya Paul adalah batik yang dia udah punya dari lama. Kotak seserahannya minjem sama temennya sepupu gue dan kotak sirih-sirihannya minjem punya nenek gue. Pas selesai tunangan, gue mikir, "What, nggak jelas banget ni acara. Untung gue nggak pake vendor-vendoran.". Gimana enggak, acaranya palingan cuma 2 jam dan intinya sebenernya cuma pertemuan dua keluarga.

Sebenarnya setelah gue tau mau kawin, gue langsung check segala macam vendor di Instagram dan nanya-nanya harga. I was really pumped karena akhirnya gue bisa jadi bridedzilla kayak orang-orang LOL. Pas gue liat harga yang mereka tawarkan, kepala gue langsung sakit. Asli, ini gue bukannya ngelebih-lebihin. Digitnya banyak banget, lalu gue pun bingung gimana gue bayarnya. Terus gue mikir, nggak nikah gimana, mau nikah mahal. Mengapa seringkali hidup itu tidak ada pilihan. Akhirnya gue memilih untuk tunangan dan nikah di Palembang aja karena ogut nggak shanggup bayar kawinan di ibu kota hahaha.

Di nikahan nanti sebenernya nggak jauh beda. Wedding organizer-nya, Eviar, dipunyai temennya sepupu gue. Makeup artist-nya Mbak Carol, pentolan Wardah yang baik hati banget menawarkan diri untuk makeup-in gue. Baju? Dibikinin sama Ibu Nina dari Aira Wedding. Akhirnya pake Aira pun karena obrolan malam hari di dalam Uber bareng Tika kala itu di London, ketika kita abis makan di Nando's. Kalau foto, ada temen-temen dari Ink Photos yang mau bantuin. Dan untungnya punya keluarga gede adalah ada yang mau bantuin catering.

Di sini yang jadi pahlawan adalah Emak gue. Dia ngurusin literally semuanya. Dia yang bikin dekorasi sendiri bareng sama temennya, dia yang ngurusin lampunya bareng tukang lampu yang biasa kerja di rumah Nenek gue, dia yang bolak-balik ke Asemka dan Rawa Belong buat beli bunga. Sampe ke souvenir pun doi yang nyetrikain dan ngebungkusin satu-satu. Gue ngebayanginnya aja nggak sanggup. Kayaknya kalo gue punya anak nanti, gue nggak akan ngurusin kawinan anak gue sampe segitunya.

Gue jadi teringat saat gue mau ke Jerman dulu. Di mana orang-orang pada pake agen karena merasa nggak ada cara lain untuk ke negara tersebut, Emak gue rela buat ngurusin semuanya sendiri daripada harus bayar ratusan juta. That's how we normally role, always look for the alternative.

Kayak satu pasangan yang di-feature di The Bridesdept beberapa waktu lalu. Mereka cuma ngeluarin duit 50 juta buat acara kawinan. Salah satu triknya adalah dengan nggak bikin pelaminan. Menurut gue itu smart banget. Lo nggak perlu sama dengan orang lain kalau memang terms and conditions-nya sulit diaplikasikan di lo. Apalagi saat lo tau orang-orang banyak yang nge-charge harga setinggi langit karena mereka tau akan ada orang yang mau bayar berapa pun. You don't have to be that person. You actually have a choice.

Mungkin kita sering lihat gimana kawinan-kawinan zaman sekarang di Instagram. Mewah, keliatan mahal, meriah. Kalo sobat-sobat qismin kayak gue maksain, yaa mungkin bisa lah gue ngutang kiri-kanan, tapi setelah kawinan baru deh gelagapan mikirin balik modalnya. Tapi emang bener sih. Di agama juga nggak pernah diwajibkan harus pesta pora, yang penting sah di mata Allah SWT. Dasar kita, manusia-manusia yang rela terjebak di dalam permainan kultur dan society, karena berpikir, "Nikah kan sekali seumur hidup".

Yha.


Share:

5/04/2018

Tulisan Tentang Toilet

Hi folks, how have u guys been doing? I am currently in the Philippines, di suatu pulau bernama Palawan. Kemaren lusa dari El Nido, gue pindah ke Coron yang katanya lebih bagus. Tapi menurut gue pribadi, soal alam tropikal mah Indonesia yang paling mantep.

Beberapa hari ini gue merasakan rasa syukur yang particularly lebih besar karena gue dilahirin dan dibesarkan sama Emak gue. Seperti biasa, gue nggak bilang ke beliau karena nanti malah geer haha. But she did a great job raising me. She's an awesome mother.

Salah satu hal yang diajarin sama beliau dari dulu adalah gue harus mencoba ngertiin orang lain dan jangan melulu minta dingertiin. In short, gue dididik untuk aware sama sekitar. Entah itu orang maupun lingkungan. Apparently that lesson really got into my head. After encouraging myself to meet more people, gue melihat gue punya awareness yang cukup besar dari rata-rata orang yang gue temui.

Hal-hal kecil kayak misalnya nggak mengganggu kenyamanan orang atas keseleboran kita, kejorokan kita, ketidakrapihan kita. Sampai ke tidak mengganggu orang lewat sifat dan sikap kita. Dan yang bikin gue sadar adalah betapa pentingnya mendidik seorang anak untuk punya sifat-sifat tersebut. You know human can be selfish, right? Ternyata banyak manusia yang "egois" bukan karena mereka memilih untuk hidup egois, tapi mereka nggak sadar kalo mereka begitu.

Dari tadi gue ngomong nggak jelas sih. Gue kasih contoh simpel deh nih ya. Misalkan kita ke toilet yang kita tahu akan dipake orang lain a.k.a toilet umum. Sering kali gue ngelihat ada semacam pemberitahuan di dalem cubicle toiletnya untuk meninggalkan toilet dalam keadaan awal; bersih dan kering. Dengan adanya pemberitahuan kaya gitu aja menurut gue sebenernya nggak perlu. Obviously lo harus ngebersihin lagi dong? But in reality, banyak orang yang setelah keluar dari toilet, mereka meninggalkan jejak. Entah tetesan-tetesan air yang berasal dari pan*at atau bagian tubuh lain, tetesan darah kalo misalnya itu orang lagi dapet, atau bahkan bekas tokai karena doi abis boker. 

Nah, orang ini mungkin nggak memilih untuk meninggalkan serpihan tokai di toilet tersebut. Tapi dia hanya nggak sadar ada sisa-sisa kecoklatan yang nempel di sisi-sisi toilet dan nggak kepikiran untuk ngecek dua kali. Ketidaksadaran atau keignoranan ini lah yang menurut gue sangat menyedihkan dan tentunya bikin dumbfounded. Karena buat sebagian orang, itu hanyalah tugas yang mudah. Bukan susah kayak Matematika atau Kalkulus. Lo tinggal pake mata lo, lalu scanning sekitar lo apakah semuanya udah seperti sedia kala karena nanti akan ada orang lain yang pake fasilitas ini. Ya kan? Tapi ternyata buat sebagian orang lagi, hal tersebut nggak gampang. 

Menurut gue sifat atau mentalitas kayak gini lah yang bikin gue suka kesel sama manusia. Jarang ada manusia yang bisa ngerti kalo dia itu hidup berdampingan sama orang. Ini nggak sebatas cuma menjaga kebersihan fasilitas umum lho ya. Yang kayak gini bisa berentet ke urusan lain yang lebih kompleks.

Mulai dari sekarang semoga kita bisa lebih aware sama surrounding. It takes the least effort. Nggak akan bikin lo tiba-tiba miskin atau jadi pegel-pegel karena cape. But it would make the biggest difference.
Share:

3/26/2018

Setelah Menghilang Sekian Bulan

:::::::This post will contain just rant, pure rant. If you want something positive, just skip this one or check out my other posts!:::::::



Oke, pertama-tama gue mau bilang, WOW GILA UDAH LAMA BANGET NIH GUE NGGAK NGEBLOG?! Hampir dua bulan blog ini ditinggalin. Semoga nggak lantas ditungguin sama mahluk ghaib. Last time I checked sih belom ada sarang laba-laba ataupun sarang tikus, so it's all good.

Ada yang peduli kabar gue nggak? Gue lagi sakit karena ternyata ampe sekarang gue masih capek. I don't know guys, but I never stop working. Ini lah realita jadi freelancer, lo akan kerja terus dari Minggu ke Minggu. The only time you get to rest is when you sleep at night. Kerjaan online udah numpuk, ditambah kerjaan offline. Kemaren ini gue liputan mulu tiap hari. It was fun! Tapi tentu melelahkan. Because as you know I have no helper or assistant. All things are done by me. Dari kerjaan ke kantor pos ngambil paket, sampe ke maintaining semua social media platforms gue yang for some people just part of their lives, but for me it's my job LOL. Btw, bentar lagi gue bakal cabut lagi untuk liputan for another two weeks. Not that far, cuma ke Belanda sama Belgia alhamdulillah. Tapi lusanya gue harus langsung cabut ke Filipina dua minggu. Bye life.

Anyway, I told you this post should be a rant. Imma start now. So, if you are an influencer, especially a vocal one, lo akan dapet certain persona atau branding atau label dari followers lo, even if you do not have intention to have a certain label given to you. Kalo lo sering vocal tentang politik, lo akan dapet citra kalau lo kritis dan anaknya politik abis, enlighten, dan woke abis pokoknya (wth). Kalo lo sering nge-share kajian atau ayat-ayat, lo akan dicap sebagai muslim influencer yang alim dan syari. Kalo lo sering posting fashion related stuff dan barang-barangnya branded, lo akan dicap sebagai sosialita dan orang tajir. You get my point.

That's what I am struggling with right now. Gue merasa makin ke sini gue makin nggak ada kemerdekaan untuk menjadi diri gue sendiri. Then again, if you are a public figure, one thing that you will lose is that; lo nggak bisa menjadi diri lo sendiri. You have to be aware that you should be responsible, you have to be a good example especially if your followers are young people. TAPI, gue aware gue bukan orang yang reckless. Even when I wasn't a public figure, I was a pretty responsible human being. Selalu mencoba menjadi warga negara yang baik, teman yang baik, saudara yang baik, etc. No particular reason, I just don't find the reason kenapa gue harus jadi orang yang tidak baik. That's all.

But now, because I have lots of followers, a lot of them are being ridiculous dan menuntut gue untuk menjadi orang yang bukan gue banget atau lebih tepatnya menjadi orang yang mereka mau. They saw how I speak in my videos, how I pose in my photos, then they QUICKLY gave me these certain labels; girly, kalem, lemah lembut, alim. So, when I don't act like that, they will be somewhat pissed and I don't understand that. They expect too much from me. They expect me to be this holy figure yang nggak boleh sama sekali membuat--what they think is--kesalahan atau sesuatu yang negatif.

Karena beberapa hari yang lalu gue ngetwit sesuatu yang--in my point of view--twitnya gue banget. I know myself so well. Dari dulu gue orangnya tomboy. All that girly clothes that I wear on my Instagram, I wear them because they were sent to me. Dan somehow fashion industry memang tend to design clothes for women yang girly-girly gitu lah. There is not a lot of choice for boyish women. Makanya kalau lagi nggak diendorse, gue selalu pake sweatshirt and jeans because I could care less about how I dress. Dan salahkan juga komuk gue yang kayak orang baik-baik dan perempuan banget. Kayaknya banyak yang ketipu sama komuk ini.

Selain tomboy, gue juga kalo ngomong ya cukup nyablak. I mean, suara gue toh udah kayak abang-abang dan gue kalo ngomong juga nggak ada ekspresi atau nadanya. And I am high tempered. Gue orangnya relatively chill, but I get annoyed easily. I get annoyed whenever I get stupid questions, whenever I encountered stupid people. Dan sedihnya gue harus encounter those two things in my daily life. Jadi intinya gue annoyed terus. Siapakah baskom gue untuk mengeluarkan segala komplen? Paul. He's a very good listener. People who know me in real life know that. Malah mereka suka ngeceng-cengin gue kalo lagi ketemu, karena di Instagram gue keliatannya kalem dan cewek banget. Yha, foto memang bisa menipu.

Okay, back to the twitter story. Lalu, ada beberapa orang yang merespon, katanya twit gue itu kok tumben negatif dan nadanya seperti annoyed dan marah-marah. It wasn't even that bad. Tapi seakan-akan buruk banget karena itu tadi, some people expect too much from me. Gue nggak X (add any adjective here), mereka sendiri yang ngelabelin gue sebagai X. So when I show them I am not X, they will complain. Sooooo.... Why did you then give me that X label in the first place, people?

Then it got me thinking, followers gue yang segambreng itu clearly have nooooo idea who I really am. Because I've been like this my whole life. And I was really annoyed when some people who never met me, never talked to me in real life, complained about the way I am. Meanwhile, orang-orang yang kenal gue beneran santai aja because like I said, I've been like this my whole life. Ngerti kan gimana keselnya? Kesel aja karena kenapa beberapa orang act like they really know me. Like, what's with that sotoy thing you got there?

It's okay kalau gue emang ngebranding gue sebagai orang yang lovely, bubbly, cheerful, tapiii seinget gue, gue nggak pernah merasa melakukan pencitraan seperti itu. Dari awal main medsos sampe sekarang gue selalu jutek. Gue jarang senyum dan selalu awkward. But why do some people think I am lovely, bubbly and cheerful?? Please someone explain it to me right now T_T

The same goes to kealiman. Satu-satunya alasan kenapa gue paling ogah dakwah-dakwah di media sosial pake ayat adalah gue nggak suka dakwah pake ayat. If you wanna show the beauty of Islam, then do it through your action not your mouth. Dan gue juga paling males kalau dikasih branding atau label sebagai orang yang sudah berhijrah. Karena stage atau level Islam gue sekarang sangat jauh dari standar hijrah yang orang-orang tau. Hijrah itu erat kaitannya dengan pake kerudung syari. But me, sampe sekarang gue nggak ada kepikiran atau rencana untuk pake kerudung syari. Hijrah itu erat kaitannya dengan gerakan anti pacaran. Meanwhile gue merasa fine-fine aja kalo ada orang pacaran. I don't care. Hijrah itu erat kaitannya dengan nontonin kajian ustadz-ustadz seperti Khalid Bassalamah di YouTube. I have no interest at all. The only ustadz yang gue dengerin adalah Nouman Ali Khan dan kadang Omar Suleiman. Tapi gue pernah dibilangin sama follower gue di Instagram, katanya NAK pengikut Sufism dan Sufism adalah termasuk golongan sesat. Well, I am sesat then.

Even if you saw me talking about Islam on my blog, Instagram or Twitter, it was just for me. Blog gue fungsinya sebagai diary. Sebagai tempat gue numpahin segala macem uneg-uneg. Bukan sebagai alat buat ngajarin atau nasehatin orang. Begitu juga dengan Twitter gue. I've been using Twitter since it first came out and I've been using it as a platform to rant and to do monologue atau ngomong sendiri, but in a smaller scale. It's more simple to rant in 140 characters. Kadang-kadang gue males nulis di blog karena kepanjangan. Sebenernya semua media sosial gue pake sebagai diary gue sih. Kecuali postingan yang ada iklannya, ya. Kalo itu buat nyari duit.

Maka dari itu gue suka heran kalau orang-orang sangat mengasosiasikan gue dengan muslim alim atau Islam yang Islam banget, because I am clearly not alim. Look at me! Dan pada saat gue berlaku yang tidak sesuai dengan agama, for example gue memperlihatkan ankle gue karena gue sangat suka pake kaos kaki pendek, cepolan kerudung gue yang buat beberapa orang kayak punuk unta, gue pake kerudung nggak nutupin dada, gue minum nggak duduk, and so on, mulailah gue dapet protes dari orang-orang. Hhhhhh lelah.

Ada satu twit di @tubirfess yang bilang "Gita suka nyinyirin orang yang belom berhijab, tapi dirinya sendiri berdua-duaan sama cowoknya di kamar.". That one tweet really annoyed me. Gue paling nggak peduli orang mau pake jilbab atau enggak. Apalagi makin ke sini gue makin sering berdialog sama muslim lain, gue makin belajar buat ngehargain apapun keputusan orang. Yang penting gue tau apa responsibility gue ke Tuhan. 

Kalo kasus ini gue rasa adalah sifat naturalnya manusia, yang mana kita paling males menjaga keaslian suatu kalimat yang kita dengar dari mulut orang untuk menghindari fitnah. This is not the first time kata-kata gue dipelintir seenaknya. Ini nggak pertama kalinya gue mendengar sesuatu yang salah tentang gue, dari hasil seseorang yang membuat conclusion tentang yang berhubungan dengan gue seenak jidat. Karena gue sangat aware gue nggak pernah seumur-umur nyinyirin orang karena belom pake jilbab. Gue selalu bilang, jilbab itu kewajiban tapi suka-suka lo mau ngejalanin kewajiban tersebut atau tidak. See? It's clearly different than "nyinyirin orang yang belom berhijab".

Okay. That's all I wanna say. Gue nggak tau ini postingan apaan, tapi ya gue cuma mau ngomel doang. Ah, satu lagi. Jangan banyak expect apa-apa dari orang. Apalagi sama seorang figur di media sosial. Disantaiin aja semuanya, jangan dibikin kaku. Takutnya nanti kita semua lupa bahagia. Bye!


Share:

1/18/2018

Manusia Dan Beribu Alasannya

Saat itu gue sedang dalam perjalanan ingin mengambil laptop gue yang hari itu udah selesai direparasi. Karena seminggu ini gue udah terlalu banyak berkutat dengan smartphone dan layar kecilnya itu, gue memilih untuk baca buku untuk menemani gue di kereta. Hitung-hitung sebagai refreshment untuk mata. Ketika lagi asik membaca, kereta gue berhenti di salah satu stasiun. Kemudian masuk lah seorang Penner. Dalam bahasa Jerman, Penner berarti pengemis atau tuna wisma yang tinggal di jalanan.

Gue adalah orang pertama yang dimintai uang sama dia. Out of all the passengers, kenapa gue? Apakah karena muka gue yang terlihat baik atau karena gue terlihat seperti orang berada? Either way, gue menolak dengan halus pengemis ini. Bukan karena sedang nggak ada koinan, tapi karena gue nggak mau memberi.

Kemudian dia memohon lagi sama gue apakah gue punya makanan instead uang. Lagi, gue menolak secara halus. Kali ini karena gue memang nggak sedang ada makanan.

Pengemisi ini pun berlalu, memberi pertanyaan di kepala gue dan sedikit penyesalan.

"Kenapa gue nggak mau ngasih uang?"

Kebanyakan pengemis yang gue lihat menggunakan uangnya untuk obat-obatan dan alkohol. Mengetahui uang yang baru saja kita berikan akan digunakan untuk kesenangan temporer membuat gue selalu berpikir empat kali untuk lantas memberi. Menyisihkan sebagian uang kecil terasa berat jika melihat orang yang meminta hanya menadah tangan, melihat mereka tidak berusaha cukup keras untuk keluar dari kesengsaraan.

Yang selalu hati gue pertanyakan, "Git, apa lo yakin mereka nggak berusaha?"

Nggak, gue nggak yakin. Mungkin baru kemarin mereka coba-coba cari pekerjaan. Mungkin juga si pengemis sudah 5 tahun keluar masuk kereta hanya meminta-minta.

Biasanya setelah itu otak gue akan mencoba berargumen lagi, mengingat kembali cerita tentang orang dari kampung yang datang ke Jakarta untuk bekerja, sebagai pengemis tentunya. Dia sengaja meminta-minta di lampu merah, seakan-akan nggak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan dan benar-benar kepepet hidupnya. Tapi ternyata di kampung hidupnya cukup berada. Punya harta yang dibeli dari hasil mengemis di ibu kota.

Perdebatan ini biasanya berlangsung sepersekian detik. Tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan perdebatan antara dua manusia. You know, our brain thinks way faster than our mouth and brain combined trying to construct a sentence. Tapi tetap terlalu lama untuk membuat pengemis ini menunggu di depan kita dengan muka memelas sembari kita menyelesaikan perdebatan antara si otak dan si hati. That's why I ended up telling him or her no. I don't wanna make this person wait.

...

Direct message seorang kawan pagi ini mengingatkan gue akan kejadian di atas. Dia bercerita tentang percakapan antara Nabi Musa as. dengan Allah SWT. Dalam percakapan ini Nabi Musa bertanya tentang ibadah yang membuat Allah senang. 

Bukan sholat, karena sholat sesungguhnya melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar. Bukan dzikir, karena dzikir membuat hati kita tenang. Bukan pula puasa, karena puasa membuat kita belajar untuk menahan hawa hafsu.

Kemudian Nabi Musa lantas bertanya ibadah apa yang dapat membuat Allah SWT senang.

Allah SWT menjawab, "Sedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku sedang berada di sampingnya."

Look at you, Gita. Si manusia yang punya seribu alasan untuk tidak membahagiakan si pengemis, padahal sebenarnya lo tidak membutuhkan satu alasan pun untuk menolong orang lain.

Share:

1/07/2018

Kerudung Hanyalah Sebuah Kain

Perempuan satu ini adalah junior gue di Jerman. Kita bertemu pertama kali di Hamburg dan nggak banyak ngobrol, tapi biasanya sesama mahasiswa S1 di Indonesia kita saling kenal lewat media sosial. Dari media sosial dia juga, gue tau dia sekarang sedang berada di Istanbul karena sedang ikut program pertukaran pelajar. Alhasil waktu di Istanbul kemarin, gue ngajak dia ketemuan.

Dia nyamperin gue di hotel tempat konferensi dan kita berdua naik taksi online ke komplek Hagia Sofia, Masjid Sultan Ahmed, dan sebagainya. Di mobil dia cerita banyak, salah satunya adalah kenapa dia memilih Turki sebagai destinasi. Sebenernya tanpa dia jelasin ke gue, sedikit banyak gue bisa ngerti. Setau gue rasa ingin tau dia besar dan anaknya suka belajar. Belajar di sini maksudnya agama dan sejarah. Turki yang kita tau memang kaya banget akan sejarah Islam-nya. Sebagai orang Islam, nggak heran cerita tentang Konstantinopel dan Ottoman Empire menarik banget untuk dinapaktilasi.

"Kak, gimana kesan-kesannya setelah beberapa hari di sini?" tanya dia.

Sejujurnya gue agak sedih sesampainya gue di sana dan ngeliat sendiri bagaimana keadaannya. Growing up, all I heard was how powerful Ottoman Empire was. Tapi sekarang dengan mata kepala gue sendiri, gue melihat kejayaan itu serasa nggak bersisa. Islam di sana hanya sekadar entah apa, padahal 99% penduduknya adalah muslim.

...

Terima kasih kepada kemacetan jalanan Istanbul, kita berdua jadi banyak cerita panjang lebar. Perjalanan jadi nggak berasa, tiba-tiba kita udah sampai. Karena saat itu udah jam 17.00, tempat yang mau kita kunjungi udah tutup. Kita berdua pun langsung menuju ke satu restoran yang direkomendasiin sama temen gue, Johnny, karena pemandangannya yang bagus banget. Dari restoran tersebut kita bisa lihat selat Bosphorus beserta jembatannya dan bangunan-bangunan bersejarah terkenal di Istanbul.

Percakapan kita lanjutkan dan mengalir begitu saja. Dari sekian banyak obrolan, ada satu hal yang masih menempel di otak gue sampai sekarang. Teman gue ini bercerita bagaimana sulitnya perjalanan menuju dia yang sekarang; berkerudung syar'i. Gue nggak terlalu tau masa lalunya dan dari keluarga yang bagaimana dia, tapi terlihat banyak sekali kenikmatan dunia yang udah dia tinggalin, banyak sekali sifat-sifat, sikap, dan kebiasaan dia yang nggak mencerminkan agamanya yang juga udah dia buang jauh-jauh. Dan terlihat sekali bagaimana dia sangat menghargai kain yang dipakai di kepalanya, karena secara tidak langsung dia sedang "memakai" agamanya.

Cerita dia membawa gue ke satu hal yang udah mengganggu gue sejak lama; hijab is just a piece of cloth and does not represent who you are. Jujur, sekarang ini gue merasa gue tinggal di zaman yang membingungkan. Semua serba abu-abu dan buat gue ini bahaya.

Masalah yang gue miliki adalah bagaimana sekarang banyak muslimah yang berkerudung, tapi cara pikirnya, sifatnya, dan kelakuannya jauh dari apa yang dianjurkan Tuhannya. Gue pun begitu. Gue berkerudung, tapi gue pacaran. Gue berkerudung, tapi gue sering kali masih belum bisa mengontrol emosi gue. Gue berkerudung, tapi terkadang gue masih punya penyakit hati.

Gue sadar, gue dan muslimah berkerudung lainnya bukan manusia yang sempurna. Tapi yang menyeramkan adalah jika kita sudah menormalkan ketidaksempurnaan kita dan nggak berusaha memperbaiki diri. Dan untuk menjustifikasi kelakuan kita yang sangat tidak islami ini, kita malah merendahkan kerudung, beralasan kalau kerudung hanyalah kain dan ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan akhlak. Kita sendiri lantas tetap bertingkah #yolo dan sebodo teuing.

Gue nggak tau pemikiran mana yang bener dan yang salah. Tergantung dari sisi mana kita melihat dan mungkin argumen di atas nggak 100% salah.  Tapi yang jelas, melihat ada satu orang (dan gue yakin ada banyak yang juga begitu) yang sangat menghargai kerudung sebegitu tingginya, yang rela meninggalkan semua hal yang tidak merepresentasikan agamanya dengan baik hanya demi secarik kain tersebut, gue merasa sangat hina.


Share:

1/05/2018

288.05 km

Perjalanan dari Hamburg ke Berlin memakan waktu sekitar 3 jam. Sebenernya gue udah download dua episode “Black Mirror” season 2 buat nemenin perjalanan gue di bus ini, tapi gue udah menahan keinginan nulis dari lama karena gue nggak bisa konsentrasi kalau lagi sama orang. Sebenernya di bus ada banyak penumpang sih, so I’m technically alone. But we are here minding our own business and don’t have to talk to each other.

I am finally alone.

What should I talk about now? Ah iya, siang tadi gue dapet komen di Instagram mengenai how broke a person is and that was the reason traveling is not an easy thing for her. Let’s talk about that.

If you ask me, I am broke, too. Do I come from a wealthy family? No. Kalau kalian baca buku Rentang Kisah, mungkin kalian tau bokap gue harus pergi dan tinggal jauh dari keluarga supaya kami bertiga (Emak, gue, dan Adek gue) bisa makan dan kerjaan Bapak gue juga bukan kerjaan fancy. That’s a sign that we are broke.

Lo juga bisa liat lah dari pakaian gue, tas gue, sepatu gue yang nggak ganti-ganti, dan hape gue yang baru ganti kalo ada yang ngasih gratisan.


“Ehm, Git. What about your Macbook Pro? That shit ain’t cheap.”

Yah, emak gue harus nyisihin uang tagihan buat beliin gue Macbook. Insha Allah laptop gue yang sekarang adalah laptop terakhir yang emak gue beliin buat gue. Amin.


That’s my family. Now let’s talk about this lady right here a.k.a me. Silahkan tanya apa aja yang pernah gue rasakan menjadi seorang hamba qismin. Kelaperan karena nasi abis? Sering. Nggak bisa ngambil duit karena rekening di bank minus? Sering. Nggak bisa bayar tagihan kuliah dan kena denda? Pernah. Nggak bisa bayar rumah dan kena denda? Sering.

So, what did I do back then? I worked. Gue kerja di cafe dan “dibego-begoin” bos, gue kerja di percetakan dan “dibego-begoin” kolega kerja. Kerja siang-malam tanpa duduk. Pulang-pulang badan nyeri dan cuma bisa gue pijet-pijet pake balsem. Dan hal tersebut bertahun-bertahun gue lakukan.

Sering tebersit di benak ini gimana susahnya duit dicari sampe gue harus direndahin sama orang. Mau minta ortu, Bapak gue nggak bisa ngirim banyak karena doi sakit-sakitan. Emak gue nggak punya penghasilan karena dia hanya ibu rumah tangga. Ditambah lagi gue stress kuliah Bachelor gue susah banget.

Begitulah hidup. Ternyata emang harus berjuang buat cari makan, cari ilmu, cari kenikmatan.

So if y’all assume I’m a rich kid, that offends me so much cause I’m not. I know exactly why I am not rich. I know exactly what my Mom and Dad (and myself) have to do to provide the life I have. And let me tell you, we have to work really really hard.

.........

Suatu hari gue dipecat sama salah satu tempat kerja gue karena satu hal. Langit rasa runtuh. Kayak disamber geledek di siang bolong. I cried and begged him to let me stay, but he refused. Why did I do that? Cause at that time I needed the money. My dad was sick and couldn’t go to the doctor. Not sick, sick. But his body did not let him to work as hard as he normally would. He had been doing that job for more than 10 years. Of course your body will scream and refuse to properly function. On top of that, he was freaking 54 years old.

Lo tau rasanya dapet telfon dari bos lo dan dia nyuruh gue untuk nggak usah dateng lagi ke tempat kerja tersebut? Lo tau rasanya dipecat padahal kerjaan itu adalah kerja terniat yang pernah gue lakukan? Lo tau rasanya dipecat di saat lo tau Babe lo yang jauh di sana—yang udah 10 tahun nggak lo liat lagi meringis kesakitan?


It was awful and I will never ever forget that.


Gue pun muter otak dan cari cara gimana gue bisa bantuin Bokap dan Nyokap. Gimana caranya gue bisa ada penghasilan, tapi gue tetep mau dapet pahala dari apa yang gue lakukan biar niat gue tetap lurus.

You know, if you’re poor, there is a possibility of you ngedzalimin orang lain hanya demi uang. Gue sering denger gimana orang “memeras” dan memanfaatkan orang lain dengan alasan dia adalah tulang punggung keluarga. I don’t want that. Gue nggak dididik dan dibesarkan di mana uang adalah segalanya. Nyokap gtue selalu bilang uang nggak dibawa mati, jadiin ibadah sebagai prioritas.

That’s when the magic happened. God listened and he showed me how to get the best of both worlds; nebar pahala dan dapet duit. That’s how I found YouTube (it’s a long story why I decided to jump on the vlogging bandwagon. But I am grateful I did, cause it feels good when you know you’re doing something positive and impactful. And on top of that you get paid, too)

So, what I learnt from my own experience was how important your intention is and having a pure heart. I’m not saying that my heart is pure (oh hell no). I am saying, I was really—and still trying to be really careful whenever I work on my video, whenever I work basically. Because I need to have pure heart without greed, without arrogance, without hate, without envy. I need to be nice to people and treat them kindly. And all of the blessings will come to you automatically. Be it money, kindhearted people, opportunities, pahala, these things will surround you.


Alhamdulillah my life has changed for a better now. Yah, walaupun buat beli sepatu sneakers baru juga masih mikir-mikir. Tapi paling nggak sekarang gue ada uang untuk makan, bayar rumah, dan bayar kuliah.

But I am scared. Kenikmatan itu juga ujian. Manusia bisa lengah. I don’t know how strong I can be. Hopefully I am gonna be okay.


For you guys my fellow qismin (lol jk), I know how hard it is not able to afford some things in life. You feel limited, can’t do what you love, what you want. I know how it feels like. Jangan lupa kita punya Allah. Kalau niat kita lurus dan hati kita bersih, insha Allah diberi jalan. Karena Allah sudah menjanjikan bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Share:
Blog Design Created by pipdig