by Gita Savitri Devi

5/04/2018

Tulisan Tentang Toilet

Hi folks, how have u guys been doing? I am currently in the Philippines, di suatu pulau bernama Palawan. Kemaren lusa dari El Nido, gue pindah ke Coron yang katanya lebih bagus. Tapi menurut gue pribadi, soal alam tropikal mah Indonesia yang paling mantep.

Beberapa hari ini gue merasakan rasa syukur yang particularly lebih besar karena gue dilahirin dan dibesarkan sama Emak gue. Seperti biasa, gue nggak bilang ke beliau karena nanti malah geer haha. But she did a great job raising me. She's an awesome mother.

Salah satu hal yang diajarin sama beliau dari dulu adalah gue harus mencoba ngertiin orang lain dan jangan melulu minta dingertiin. In short, gue dididik untuk aware sama sekitar. Entah itu orang maupun lingkungan. Apparently that lesson really got into my head. After encouraging myself to meet more people, gue melihat gue punya awareness yang cukup besar dari rata-rata orang yang gue temui.

Hal-hal kecil kayak misalnya nggak mengganggu kenyamanan orang atas keseleboran kita, kejorokan kita, ketidakrapihan kita. Sampai ke tidak mengganggu orang lewat sifat dan sikap kita. Dan yang bikin gue sadar adalah betapa pentingnya mendidik seorang anak untuk punya sifat-sifat tersebut. You know human can be selfish, right? Ternyata banyak manusia yang "egois" bukan karena mereka memilih untuk hidup egois, tapi mereka nggak sadar kalo mereka begitu.

Dari tadi gue ngomong nggak jelas sih. Gue kasih contoh simpel deh nih ya. Misalkan kita ke toilet yang kita tahu akan dipake orang lain a.k.a toilet umum. Sering kali gue ngelihat ada semacam pemberitahuan di dalem cubicle toiletnya untuk meninggalkan toilet dalam keadaan awal; bersih dan kering. Dengan adanya pemberitahuan kaya gitu aja menurut gue sebenernya nggak perlu. Obviously lo harus ngebersihin lagi dong? But in reality, banyak orang yang setelah keluar dari toilet, mereka meninggalkan jejak. Entah tetesan-tetesan air yang berasal dari pan*at atau bagian tubuh lain, tetesan darah kalo misalnya itu orang lagi dapet, atau bahkan bekas tokai karena doi abis boker. 

Nah, orang ini mungkin nggak memilih untuk meninggalkan serpihan tokai di toilet tersebut. Tapi dia hanya nggak sadar ada sisa-sisa kecoklatan yang nempel di sisi-sisi toilet dan nggak kepikiran untuk ngecek dua kali. Ketidaksadaran atau keignoranan ini lah yang menurut gue sangat menyedihkan dan tentunya bikin dumbfounded. Karena buat sebagian orang, itu hanyalah tugas yang mudah. Bukan susah kayak Matematika atau Kalkulus. Lo tinggal pake mata lo, lalu scanning sekitar lo apakah semuanya udah seperti sedia kala karena nanti akan ada orang lain yang pake fasilitas ini. Ya kan? Tapi ternyata buat sebagian orang lagi, hal tersebut nggak gampang. 

Menurut gue sifat atau mentalitas kayak gini lah yang bikin gue suka kesel sama manusia. Jarang ada manusia yang bisa ngerti kalo dia itu hidup berdampingan sama orang. Ini nggak sebatas cuma menjaga kebersihan fasilitas umum lho ya. Yang kayak gini bisa berentet ke urusan lain yang lebih kompleks.

Mulai dari sekarang semoga kita bisa lebih aware sama surrounding. It takes the least effort. Nggak akan bikin lo tiba-tiba miskin atau jadi pegel-pegel karena cape. But it would make the biggest difference.
Share:

3/26/2018

Setelah Menghilang Sekian Bulan

:::::::This post will contain just rant, pure rant. If you want something positive, just skip this one or check out my other posts!:::::::



Oke, pertama-tama gue mau bilang, WOW GILA UDAH LAMA BANGET NIH GUE NGGAK NGEBLOG?! Hampir dua bulan blog ini ditinggalin. Semoga nggak lantas ditungguin sama mahluk ghaib. Last time I checked sih belom ada sarang laba-laba ataupun sarang tikus, so it's all good.

Ada yang peduli kabar gue nggak? Gue lagi sakit karena ternyata ampe sekarang gue masih capek. I don't know guys, but I never stop working. Ini lah realita jadi freelancer, lo akan kerja terus dari Minggu ke Minggu. The only time you get to rest is when you sleep at night. Kerjaan online udah numpuk, ditambah kerjaan offline. Kemaren ini gue liputan mulu tiap hari. It was fun! Tapi tentu melelahkan. Because as you know I have no helper or assistant. All things are done by me. Dari kerjaan ke kantor pos ngambil paket, sampe ke maintaining semua social media platforms gue yang for some people just part of their lives, but for me it's my job LOL. Btw, bentar lagi gue bakal cabut lagi untuk liputan for another two weeks. Not that far, cuma ke Belanda sama Belgia alhamdulillah. Tapi lusanya gue harus langsung cabut ke Filipina dua minggu. Bye life.

Anyway, I told you this post should be a rant. Imma start now. So, if you are an influencer, especially a vocal one, lo akan dapet certain persona atau branding atau label dari followers lo, even if you do not have intention to have a certain label given to you. Kalo lo sering vocal tentang politik, lo akan dapet citra kalau lo kritis dan anaknya politik abis, enlighten, dan woke abis pokoknya (wth). Kalo lo sering nge-share kajian atau ayat-ayat, lo akan dicap sebagai muslim influencer yang alim dan syari. Kalo lo sering posting fashion related stuff dan barang-barangnya branded, lo akan dicap sebagai sosialita dan orang tajir. You get my point.

That's what I am struggling with right now. Gue merasa makin ke sini gue makin nggak ada kemerdekaan untuk menjadi diri gue sendiri. Then again, if you are a public figure, one thing that you will lose is that; lo nggak bisa menjadi diri lo sendiri. You have to be aware that you should be responsible, you have to be a good example especially if your followers are young people. TAPI, gue aware gue bukan orang yang reckless. Even when I wasn't a public figure, I was a pretty responsible human being. Selalu mencoba menjadi warga negara yang baik, teman yang baik, saudara yang baik, etc. No particular reason, I just don't find the reason kenapa gue harus jadi orang yang tidak baik. That's all.

But now, because I have lots of followers, a lot of them are being ridiculous dan menuntut gue untuk menjadi orang yang bukan gue banget atau lebih tepatnya menjadi orang yang mereka mau. They saw how I speak in my videos, how I pose in my photos, then they QUICKLY gave me these certain labels; girly, kalem, lemah lembut, alim. So, when I don't act like that, they will be somewhat pissed and I don't understand that. They expect too much from me. They expect me to be this holy figure yang nggak boleh sama sekali membuat--what they think is--kesalahan atau sesuatu yang negatif.

Karena beberapa hari yang lalu gue ngetwit sesuatu yang--in my point of view--twitnya gue banget. I know myself so well. Dari dulu gue orangnya tomboy. All that girly clothes that I wear on my Instagram, I wear them because they were sent to me. Dan somehow fashion industry memang tend to design clothes for women yang girly-girly gitu lah. There is not a lot of choice for boyish women. Makanya kalau lagi nggak diendorse, gue selalu pake sweatshirt and jeans because I could care less about how I dress. Dan salahkan juga komuk gue yang kayak orang baik-baik dan perempuan banget. Kayaknya banyak yang ketipu sama komuk ini.

Selain tomboy, gue juga kalo ngomong ya cukup nyablak. I mean, suara gue toh udah kayak abang-abang dan gue kalo ngomong juga nggak ada ekspresi atau nadanya. And I am high tempered. Gue orangnya relatively chill, but I get annoyed easily. I get annoyed whenever I get stupid questions, whenever I encountered stupid people. Dan sedihnya gue harus encounter those two things in my daily life. Jadi intinya gue annoyed terus. Siapakah baskom gue untuk mengeluarkan segala komplen? Paul. He's a very good listener. People who know me in real life know that. Malah mereka suka ngeceng-cengin gue kalo lagi ketemu, karena di Instagram gue keliatannya kalem dan cewek banget. Yha, foto memang bisa menipu.

Okay, back to the twitter story. Lalu, ada beberapa orang yang merespon, katanya twit gue itu kok tumben negatif dan nadanya seperti annoyed dan marah-marah. It wasn't even that bad. Tapi seakan-akan buruk banget karena itu tadi, some people expect too much from me. Gue nggak X (add any adjective here), mereka sendiri yang ngelabelin gue sebagai X. So when I show them I am not X, they will complain. Sooooo.... Why did you then give me that X label in the first place, people?

Then it got me thinking, followers gue yang segambreng itu clearly have nooooo idea who I really am. Because I've been like this my whole life. And I was really annoyed when some people who never met me, never talked to me in real life, complained about the way I am. Meanwhile, orang-orang yang kenal gue beneran santai aja because like I said, I've been like this my whole life. Ngerti kan gimana keselnya? Kesel aja karena kenapa beberapa orang act like they really know me. Like, what's with that sotoy thing you got there?

It's okay kalau gue emang ngebranding gue sebagai orang yang lovely, bubbly, cheerful, tapiii seinget gue, gue nggak pernah merasa melakukan pencitraan seperti itu. Dari awal main medsos sampe sekarang gue selalu jutek. Gue jarang senyum dan selalu awkward. But why do some people think I am lovely, bubbly and cheerful?? Please someone explain it to me right now T_T

The same goes to kealiman. Satu-satunya alasan kenapa gue paling ogah dakwah-dakwah di media sosial pake ayat adalah gue nggak suka dakwah pake ayat. If you wanna show the beauty of Islam, then do it through your action not your mouth. Dan gue juga paling males kalau dikasih branding atau label sebagai orang yang sudah berhijrah. Karena stage atau level Islam gue sekarang sangat jauh dari standar hijrah yang orang-orang tau. Hijrah itu erat kaitannya dengan pake kerudung syari. But me, sampe sekarang gue nggak ada kepikiran atau rencana untuk pake kerudung syari. Hijrah itu erat kaitannya dengan gerakan anti pacaran. Meanwhile gue merasa fine-fine aja kalo ada orang pacaran. I don't care. Hijrah itu erat kaitannya dengan nontonin kajian ustadz-ustadz seperti Khalid Bassalamah di YouTube. I have no interest at all. The only ustadz yang gue dengerin adalah Nouman Ali Khan dan kadang Omar Suleiman. Tapi gue pernah dibilangin sama follower gue di Instagram, katanya NAK pengikut Sufism dan Sufism adalah termasuk golongan sesat. Well, I am sesat then.

Even if you saw me talking about Islam on my blog, Instagram or Twitter, it was just for me. Blog gue fungsinya sebagai diary. Sebagai tempat gue numpahin segala macem uneg-uneg. Bukan sebagai alat buat ngajarin atau nasehatin orang. Begitu juga dengan Twitter gue. I've been using Twitter since it first came out and I've been using it as a platform to rant and to do monologue atau ngomong sendiri, but in a smaller scale. It's more simple to rant in 140 characters. Kadang-kadang gue males nulis di blog karena kepanjangan. Sebenernya semua media sosial gue pake sebagai diary gue sih. Kecuali postingan yang ada iklannya, ya. Kalo itu buat nyari duit.

Maka dari itu gue suka heran kalau orang-orang sangat mengasosiasikan gue dengan muslim alim atau Islam yang Islam banget, because I am clearly not alim. Look at me! Dan pada saat gue berlaku yang tidak sesuai dengan agama, for example gue memperlihatkan ankle gue karena gue sangat suka pake kaos kaki pendek, cepolan kerudung gue yang buat beberapa orang kayak punuk unta, gue pake kerudung nggak nutupin dada, gue minum nggak duduk, and so on, mulailah gue dapet protes dari orang-orang. Hhhhhh lelah.

Ada satu twit di @tubirfess yang bilang "Gita suka nyinyirin orang yang belom berhijab, tapi dirinya sendiri berdua-duaan sama cowoknya di kamar.". That one tweet really annoyed me. Gue paling nggak peduli orang mau pake jilbab atau enggak. Apalagi makin ke sini gue makin sering berdialog sama muslim lain, gue makin belajar buat ngehargain apapun keputusan orang. Yang penting gue tau apa responsibility gue ke Tuhan. 

Kalo kasus ini gue rasa adalah sifat naturalnya manusia, yang mana kita paling males menjaga keaslian suatu kalimat yang kita dengar dari mulut orang untuk menghindari fitnah. This is not the first time kata-kata gue dipelintir seenaknya. Ini nggak pertama kalinya gue mendengar sesuatu yang salah tentang gue, dari hasil seseorang yang membuat conclusion tentang yang berhubungan dengan gue seenak jidat. Karena gue sangat aware gue nggak pernah seumur-umur nyinyirin orang karena belom pake jilbab. Gue selalu bilang, jilbab itu kewajiban tapi suka-suka lo mau ngejalanin kewajiban tersebut atau tidak. See? It's clearly different than "nyinyirin orang yang belom berhijab".

Okay. That's all I wanna say. Gue nggak tau ini postingan apaan, tapi ya gue cuma mau ngomel doang. Ah, satu lagi. Jangan banyak expect apa-apa dari orang. Apalagi sama seorang figur di media sosial. Disantaiin aja semuanya, jangan dibikin kaku. Takutnya nanti kita semua lupa bahagia. Bye!


Share:

1/18/2018

Manusia Dan Beribu Alasannya

Saat itu gue sedang dalam perjalanan ingin mengambil laptop gue yang hari itu udah selesai direparasi. Karena seminggu ini gue udah terlalu banyak berkutat dengan smartphone dan layar kecilnya itu, gue memilih untuk baca buku untuk menemani gue di kereta. Hitung-hitung sebagai refreshment untuk mata. Ketika lagi asik membaca, kereta gue berhenti di salah satu stasiun. Kemudian masuk lah seorang Penner. Dalam bahasa Jerman, Penner berarti pengemis atau tuna wisma yang tinggal di jalanan.

Gue adalah orang pertama yang dimintai uang sama dia. Out of all the passengers, kenapa gue? Apakah karena muka gue yang terlihat baik atau karena gue terlihat seperti orang berada? Either way, gue menolak dengan halus pengemis ini. Bukan karena sedang nggak ada koinan, tapi karena gue nggak mau memberi.

Kemudian dia memohon lagi sama gue apakah gue punya makanan instead uang. Lagi, gue menolak secara halus. Kali ini karena gue memang nggak sedang ada makanan.

Pengemisi ini pun berlalu, memberi pertanyaan di kepala gue dan sedikit penyesalan.

"Kenapa gue nggak mau ngasih uang?"

Kebanyakan pengemis yang gue lihat menggunakan uangnya untuk obat-obatan dan alkohol. Mengetahui uang yang baru saja kita berikan akan digunakan untuk kesenangan temporer membuat gue selalu berpikir empat kali untuk lantas memberi. Menyisihkan sebagian uang kecil terasa berat jika melihat orang yang meminta hanya menadah tangan, melihat mereka tidak berusaha cukup keras untuk keluar dari kesengsaraan.

Yang selalu hati gue pertanyakan, "Git, apa lo yakin mereka nggak berusaha?"

Nggak, gue nggak yakin. Mungkin baru kemarin mereka coba-coba cari pekerjaan. Mungkin juga si pengemis sudah 5 tahun keluar masuk kereta hanya meminta-minta.

Biasanya setelah itu otak gue akan mencoba berargumen lagi, mengingat kembali cerita tentang orang dari kampung yang datang ke Jakarta untuk bekerja, sebagai pengemis tentunya. Dia sengaja meminta-minta di lampu merah, seakan-akan nggak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan dan benar-benar kepepet hidupnya. Tapi ternyata di kampung hidupnya cukup berada. Punya harta yang dibeli dari hasil mengemis di ibu kota.

Perdebatan ini biasanya berlangsung sepersekian detik. Tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan perdebatan antara dua manusia. You know, our brain thinks way faster than our mouth and brain combined trying to construct a sentence. Tapi tetap terlalu lama untuk membuat pengemis ini menunggu di depan kita dengan muka memelas sembari kita menyelesaikan perdebatan antara si otak dan si hati. That's why I ended up telling him or her no. I don't wanna make this person wait.

...

Direct message seorang kawan pagi ini mengingatkan gue akan kejadian di atas. Dia bercerita tentang percakapan antara Nabi Musa as. dengan Allah SWT. Dalam percakapan ini Nabi Musa bertanya tentang ibadah yang membuat Allah senang. 

Bukan sholat, karena sholat sesungguhnya melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar. Bukan dzikir, karena dzikir membuat hati kita tenang. Bukan pula puasa, karena puasa membuat kita belajar untuk menahan hawa hafsu.

Kemudian Nabi Musa lantas bertanya ibadah apa yang dapat membuat Allah SWT senang.

Allah SWT menjawab, "Sedekah. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang kesusahan dengan sedekah, sesungguhnya Aku sedang berada di sampingnya."

Look at you, Gita. Si manusia yang punya seribu alasan untuk tidak membahagiakan si pengemis, padahal sebenarnya lo tidak membutuhkan satu alasan pun untuk menolong orang lain.

Share:

1/07/2018

Kerudung Hanyalah Sebuah Kain

Perempuan satu ini adalah junior gue di Jerman. Kita bertemu pertama kali di Hamburg dan nggak banyak ngobrol, tapi biasanya sesama mahasiswa S1 di Indonesia kita saling kenal lewat media sosial. Dari media sosial dia juga, gue tau dia sekarang sedang berada di Istanbul karena sedang ikut program pertukaran pelajar. Alhasil waktu di Istanbul kemarin, gue ngajak dia ketemuan.

Dia nyamperin gue di hotel tempat konferensi dan kita berdua naik taksi online ke komplek Hagia Sofia, Masjid Sultan Ahmed, dan sebagainya. Di mobil dia cerita banyak, salah satunya adalah kenapa dia memilih Turki sebagai destinasi. Sebenernya tanpa dia jelasin ke gue, sedikit banyak gue bisa ngerti. Setau gue rasa ingin tau dia besar dan anaknya suka belajar. Belajar di sini maksudnya agama dan sejarah. Turki yang kita tau memang kaya banget akan sejarah Islam-nya. Sebagai orang Islam, nggak heran cerita tentang Konstantinopel dan Ottoman Empire menarik banget untuk dinapaktilasi.

"Kak, gimana kesan-kesannya setelah beberapa hari di sini?" tanya dia.

Sejujurnya gue agak sedih sesampainya gue di sana dan ngeliat sendiri bagaimana keadaannya. Growing up, all I heard was how powerful Ottoman Empire was. Tapi sekarang dengan mata kepala gue sendiri, gue melihat kejayaan itu serasa nggak bersisa. Islam di sana hanya sekadar entah apa, padahal 99% penduduknya adalah muslim.

...

Terima kasih kepada kemacetan jalanan Istanbul, kita berdua jadi banyak cerita panjang lebar. Perjalanan jadi nggak berasa, tiba-tiba kita udah sampai. Karena saat itu udah jam 17.00, tempat yang mau kita kunjungi udah tutup. Kita berdua pun langsung menuju ke satu restoran yang direkomendasiin sama temen gue, Johnny, karena pemandangannya yang bagus banget. Dari restoran tersebut kita bisa lihat selat Bosphorus beserta jembatannya dan bangunan-bangunan bersejarah terkenal di Istanbul.

Percakapan kita lanjutkan dan mengalir begitu saja. Dari sekian banyak obrolan, ada satu hal yang masih menempel di otak gue sampai sekarang. Teman gue ini bercerita bagaimana sulitnya perjalanan menuju dia yang sekarang; berkerudung syar'i. Gue nggak terlalu tau masa lalunya dan dari keluarga yang bagaimana dia, tapi terlihat banyak sekali kenikmatan dunia yang udah dia tinggalin, banyak sekali sifat-sifat, sikap, dan kebiasaan dia yang nggak mencerminkan agamanya yang juga udah dia buang jauh-jauh. Dan terlihat sekali bagaimana dia sangat menghargai kain yang dipakai di kepalanya, karena secara tidak langsung dia sedang "memakai" agamanya.

Cerita dia membawa gue ke satu hal yang udah mengganggu gue sejak lama; hijab is just a piece of cloth and does not represent who you are. Jujur, sekarang ini gue merasa gue tinggal di zaman yang membingungkan. Semua serba abu-abu dan buat gue ini bahaya.

Masalah yang gue miliki adalah bagaimana sekarang banyak muslimah yang berkerudung, tapi cara pikirnya, sifatnya, dan kelakuannya jauh dari apa yang dianjurkan Tuhannya. Gue pun begitu. Gue berkerudung, tapi gue pacaran. Gue berkerudung, tapi gue sering kali masih belum bisa mengontrol emosi gue. Gue berkerudung, tapi terkadang gue masih punya penyakit hati.

Gue sadar, gue dan muslimah berkerudung lainnya bukan manusia yang sempurna. Tapi yang menyeramkan adalah jika kita sudah menormalkan ketidaksempurnaan kita dan nggak berusaha memperbaiki diri. Dan untuk menjustifikasi kelakuan kita yang sangat tidak islami ini, kita malah merendahkan kerudung, beralasan kalau kerudung hanyalah kain dan ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan akhlak. Kita sendiri lantas tetap bertingkah #yolo dan sebodo teuing.

Gue nggak tau pemikiran mana yang bener dan yang salah. Tergantung dari sisi mana kita melihat dan mungkin argumen di atas nggak 100% salah.  Tapi yang jelas, melihat ada satu orang (dan gue yakin ada banyak yang juga begitu) yang sangat menghargai kerudung sebegitu tingginya, yang rela meninggalkan semua hal yang tidak merepresentasikan agamanya dengan baik hanya demi secarik kain tersebut, gue merasa sangat hina.


Share:

1/05/2018

288.05 km

Perjalanan dari Hamburg ke Berlin memakan waktu sekitar 3 jam. Sebenernya gue udah download dua episode “Black Mirror” season 2 buat nemenin perjalanan gue di bus ini, tapi gue udah menahan keinginan nulis dari lama karena gue nggak bisa konsentrasi kalau lagi sama orang. Sebenernya di bus ada banyak penumpang sih, so I’m technically alone. But we are here minding our own business and don’t have to talk to each other.

I am finally alone.

What should I talk about now? Ah iya, siang tadi gue dapet komen di Instagram mengenai how broke a person is and that was the reason traveling is not an easy thing for her. Let’s talk about that.

If you ask me, I am broke, too. Do I come from a wealthy family? No. Kalau kalian baca buku Rentang Kisah, mungkin kalian tau bokap gue harus pergi dan tinggal jauh dari keluarga supaya kami bertiga (Emak, gue, dan Adek gue) bisa makan dan kerjaan Bapak gue juga bukan kerjaan fancy. That’s a sign that we are broke.

Lo juga bisa liat lah dari pakaian gue, tas gue, sepatu gue yang nggak ganti-ganti, dan hape gue yang baru ganti kalo ada yang ngasih gratisan.


“Ehm, Git. What about your Macbook Pro? That shit ain’t cheap.”

Yah, emak gue harus nyisihin uang tagihan buat beliin gue Macbook. Insha Allah laptop gue yang sekarang adalah laptop terakhir yang emak gue beliin buat gue. Amin.


That’s my family. Now let’s talk about this lady right here a.k.a me. Silahkan tanya apa aja yang pernah gue rasakan menjadi seorang hamba qismin. Kelaperan karena nasi abis? Sering. Nggak bisa ngambil duit karena rekening di bank minus? Sering. Nggak bisa bayar tagihan kuliah dan kena denda? Pernah. Nggak bisa bayar rumah dan kena denda? Sering.

So, what did I do back then? I worked. Gue kerja di cafe dan “dibego-begoin” bos, gue kerja di percetakan dan “dibego-begoin” kolega kerja. Kerja siang-malam tanpa duduk. Pulang-pulang badan nyeri dan cuma bisa gue pijet-pijet pake balsem. Dan hal tersebut bertahun-bertahun gue lakukan.

Sering tebersit di benak ini gimana susahnya duit dicari sampe gue harus direndahin sama orang. Mau minta ortu, Bapak gue nggak bisa ngirim banyak karena doi sakit-sakitan. Emak gue nggak punya penghasilan karena dia hanya ibu rumah tangga. Ditambah lagi gue stress kuliah Bachelor gue susah banget.

Begitulah hidup. Ternyata emang harus berjuang buat cari makan, cari ilmu, cari kenikmatan.

So if y’all assume I’m a rich kid, that offends me so much cause I’m not. I know exactly why I am not rich. I know exactly what my Mom and Dad (and myself) have to do to provide the life I have. And let me tell you, we have to work really really hard.

.........

Suatu hari gue dipecat sama salah satu tempat kerja gue karena satu hal. Langit rasa runtuh. Kayak disamber geledek di siang bolong. I cried and begged him to let me stay, but he refused. Why did I do that? Cause at that time I needed the money. My dad was sick and couldn’t go to the doctor. Not sick, sick. But his body did not let him to work as hard as he normally would. He had been doing that job for more than 10 years. Of course your body will scream and refuse to properly function. On top of that, he was freaking 54 years old.

Lo tau rasanya dapet telfon dari bos lo dan dia nyuruh gue untuk nggak usah dateng lagi ke tempat kerja tersebut? Lo tau rasanya dipecat padahal kerjaan itu adalah kerja terniat yang pernah gue lakukan? Lo tau rasanya dipecat di saat lo tau Babe lo yang jauh di sana—yang udah 10 tahun nggak lo liat lagi meringis kesakitan?


It was awful and I will never ever forget that.


Gue pun muter otak dan cari cara gimana gue bisa bantuin Bokap dan Nyokap. Gimana caranya gue bisa ada penghasilan, tapi gue tetep mau dapet pahala dari apa yang gue lakukan biar niat gue tetap lurus.

You know, if you’re poor, there is a possibility of you ngedzalimin orang lain hanya demi uang. Gue sering denger gimana orang “memeras” dan memanfaatkan orang lain dengan alasan dia adalah tulang punggung keluarga. I don’t want that. Gue nggak dididik dan dibesarkan di mana uang adalah segalanya. Nyokap gtue selalu bilang uang nggak dibawa mati, jadiin ibadah sebagai prioritas.

That’s when the magic happened. God listened and he showed me how to get the best of both worlds; nebar pahala dan dapet duit. That’s how I found YouTube (it’s a long story why I decided to jump on the vlogging bandwagon. But I am grateful I did, cause it feels good when you know you’re doing something positive and impactful. And on top of that you get paid, too)

So, what I learnt from my own experience was how important your intention is and having a pure heart. I’m not saying that my heart is pure (oh hell no). I am saying, I was really—and still trying to be really careful whenever I work on my video, whenever I work basically. Because I need to have pure heart without greed, without arrogance, without hate, without envy. I need to be nice to people and treat them kindly. And all of the blessings will come to you automatically. Be it money, kindhearted people, opportunities, pahala, these things will surround you.


Alhamdulillah my life has changed for a better now. Yah, walaupun buat beli sepatu sneakers baru juga masih mikir-mikir. Tapi paling nggak sekarang gue ada uang untuk makan, bayar rumah, dan bayar kuliah.

But I am scared. Kenikmatan itu juga ujian. Manusia bisa lengah. I don’t know how strong I can be. Hopefully I am gonna be okay.


For you guys my fellow qismin (lol jk), I know how hard it is not able to afford some things in life. You feel limited, can’t do what you love, what you want. I know how it feels like. Jangan lupa kita punya Allah. Kalau niat kita lurus dan hati kita bersih, insha Allah diberi jalan. Karena Allah sudah menjanjikan bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Share:
Blog Design Created by pipdig