by Gita Savitri Devi

11/22/2011

Coretan

Hidup itu nggak gampang. Kita dipaksa untuk selalu kämpfen, berjuang, gontok-gontokan. Kadang apa yang kita mau, nggak selalu terpenuhi. Banyak alasan. Entah karena orang lain, atau emang einfach "kita nggak bisa dapetin itu.". Banyak temen, dikelilingi keluarga yang kelihatannya harmonis, buat gue mungkin itu nggak cukup. Jujur, mein Leben gefällt mir gar nicht. Bukan gue nggak bersyukur, tapi emang nggak sreg sama hidup gue sendiri. Okay, gue emang cukup beruntung. Gue nggak kesulitan ekonomi, nggak perlu cari makan untuk esok hari, atau cari kardus untuk alas tidur. Lebih dari itu, lagi. Hidup gue bukan cuma diliat dari aspek ekonomi atau whatever they called.

Manusia. Manusia itu mahluk yang katanya paling sempurna. Dikasih akal dan pikiran sama Tuhan, sampe terkadang mereka suka sotoy. Berasa paling tau dan nunjuk-nunjuk ke muka manusia lain. Satu hal, beribu manusia, beribu macam karakternya. Yang kita pikir kita "tau" dia, ternyata nggak. Untuk manusia-manusia tertutup, yang tau betul siapa dirinya, di "sotoy"in itu nggak enak. I know exactly who I am. Nggak ada satu orang pun yang kenal gue. Untuk seseorang, atau mungkin beberapa orang, mereka bertanya-tanya apa yang ada di otak gue. Apa? Harus kalian tau? Gue nggak melontarkan apa yang gue mau. Gue cuma ngebuat sesuatu menjadi lebih baik, menurut gue. Egois? Iya mungkin. Mungkin gue egois, kelihatannya. Tapi mereka nggak mencoba ngebuka pintu lebih jauh lagi biar tau maksudnya. Bukan nggak mencoba, mereka nggak mau. Balik lagi ke atas, manusia itu sotoy.

Mereka nggak perlu tau apa yang gue rasain, alamin, apa yang gue lihat. Karena itu semua nggak penting. Menurut mereka, mungkin gue keras kepala. Iya gue keras kepala. Gue lakuin apa yang menurut gue bener. Jelas. Yang kadang bikin orang nggak habis pikir. Cara gue menimbang-nimbang dan menilai suatu hal, cuma gue yang tau. So, isi otak gue ya cuma gue kan yang tau?
Bersosialisasi dan kontak sama orang lain bukan favorit gue. Terserah, gue bukan orang yang friendly atau warm dan gue nggak mau jadi orang itu. Gue bukan karakter The Sims yang bisa di buat sempurna. Mungkin manusia di sekitar gue anggap sebagai penghibur. Bukan sebagai seseorang yang bisa di curhatin sedalem-dalemnya. Karena nggak ada yang ngerti cara pikir gue. Mereka pikir gue terlalu aneh atau bahkan nganeh.
Percuma. Buang-buang waktu menurut gue. Pada akhirnya yang dilakukan orang-orang itu adalah ngejudge gue. That's all. Membuat penilaian sendiri. Lo pikir lo kenal gue?

Nggak.

Gue ngejalanin hidup itu sendiri. Kalau gue gagal, cuma gue yang nanggung sedih, malu, dan marahnya. Kalau gue berhasil, cuma gue yang bisa ngerasain senengnya. Gue mati pun akan sendiri. Terbaring di liang kubur sendiri. Begitu juga dengan lo, atau kalian. Jalanin aja hidup lo, nggak perlu ngasih tau siapa gue. Gue tau gue siapa. Gue kenal betul manusia seperti apa gue itu.
Sekarang gue tanya lagi, lo kira lo kenal gue?
Share:

3 comments

  1. Bener, manusia itu gak sama karakternya, seharusnya orang disekitar bisa ngerti atas karakter kita yang berbeda dari dia sendiri. bukan asal main Judge aja..

    posting nya bagus kak

    ReplyDelete
  2. Determinisme seperti ini muncul secara alami dari pandangan ilmiah sosial. Kepercayaan pada determinisme menyebabkan orang untuk berpikir bahwa mereka tidak memiliki peran aktif untuk bermain dalam mengendalikan masa depan mereka sendiri. Sehingga terjadilah determinisme yang gita alami saat ini.

    "Life's hard if you think too much."(kalimatmu). salut buat kamu, walaupun tetap tidak ingin terlalu di pikirkan secara berat, saya tetap tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di dalam dirimu.

    semangat ya git... saya hanya bisa support di sini. ^_^

    ReplyDelete
  3. Dasyat banget bang. Terharu :'3 hahaha

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig