by Gita Savitri Devi

4/03/2014

Am I Too Old To Write This?

Gue mau curhat nih. Gue nggak mau cerita detailnya gimana. Karena mengingat umur gue yang sekarang 22 tahun ini, akan sangat labil dan sok masih remaja kalau gue cerita semua detail masalah gue disini. Memang ini blog gue, tapi website ini bisa dibaca siapa aja yang mau baca.

Intinya gini. Gue masih beranggapan sama dengan bertahun-tahun lalu : nggak semua orang disekeliling lo itu peduli dan mengerti lo apa adanya. Yang lucunya lagi, lo pikir dengan mereka yang sebaya sama lo, harusnya mereka juga bisa berpikir sama kayak lo. Ternyata enggak. Ternyata mereka masih berasa sekarang ini jaman SMA. Terus gue akhirnya mikir "Oh. Jadi nggak semua orang bisa mengubah cara pikir mereka. Walaupun mereka udah melihat contoh baik, karena mereka udah pergi dari tanah air mereka.".
Apa sih sebenernya maksud omongan gue ini? Iya, maksud gue adalah mau orang itu udah di lingkungan dimana tidak mungkin bagi mereka untuk tetep nge-keep karakter dia yang typical Indonesia banget, ternyata masih lho mentalnya nggak berubah.

Contohnya gini deh. Gue jujur banget lebih comfortable tinggal disini. Kenapa? Karena orang-orangnya berpikirnya pake otak, mereka kritis, mereka nggak kenal apa itu muka dua. Nggak tau gimana cara baik di depan tapi ngejelekin dibelakang. Kenapa kayak gitu? Karena berkaca pengalaman gue berurusan sama orang-orang sekitar gue di Jakarta dulu aja. Orang seperti gue, yang pembawaannya keras, yang kalau nggak suka gue langsung ngomong, yang vokal, yang nggak suka bertele-tele, yang pingin segala sesuatunya efektif, yang nggak bisa basa-basi, yang nggak mau ngelakuin hal yang buang-buang waktu dan tidak masuk akal, ternyata kurang bisa diterima. Karakter seperti gue ini yang banyak membuat orang kurang nyaman. Why? Melihat karakter tipikal orang indonesia yang nggak suka kalau dikritik, nggak suka kalau ada orang yang suka ngomong straight to the point, yang nggak berpura-pura, wajar aja kalau mereka merasa keberadaan gue itu mengganggu mereka. Banyak hal dari diri gue yang nggak bisa mereka terima. Gue sangat paham.
Terus gue seneng ketika gue pindah. Gue bertemu dengan orang-orang (yang gue pikir) udah terbuka pikirannya, udah berubah mindsetnya, udah meng-absorb sifat orang jerman. Ternyata apa? Lambat laun gue nemu-nemuin aja orang yang kayak di jakarta itu. Terus lagi-lagi orang-orang seperti gue ini yang disudutkan. Einfach karena mereka pikir gue tidak santai. Sifat gue yang terkesan keras jadi alasan mereka menyebut gue sebagai otoriter. Apa tanggapan gue? Gue mau ketawa aja dengernya. Dan gue sangat menyayangkan aja orang-orang seperti itu udah jauh-jauh dateng ke jerman, tapi sifat jeleknya masih aja nempel. What a shame. Padahal disini lah saatnya lo membentuk diri lo, lo introspeksi diri, dan disinilah tempat lo bisa belajar tentang diri lo sendiri lebih dalam.

Apa gue bakalan berubah menjadi orang yang mereka mau? Never. You can call me stubborn or whatever you want. Tapi gue adalah manusia yang berprinsip. Gue adalah orang yang kenal betul siapa diri gue. Gue tau betul apa kelebihan dan kekurangan gue. Gue tau betul kalau gue selalu memiliki alasan logis setiap kali gue melakukan sesuatu, dan yang paling penting gue itu selalu berpikir sebelum gue bertindak.
Urusan mereka yang tidak menyukai gue dan tidak bisa menerima gue yang seperti ini itu bukan urusan gue. Lagipula gue hidup bukan untuk please everyone. Gue punya tujuan yang lebih penting dari itu.

I know it's kinda sad knowing that not everyone around you is real. Some of them are fake. But I'm okay with that and I'm not blaming them. At the end of the day mereka adalah individu masing-masing dan mereka punya hak sepenuhnya dalam memilih mau jadi manusia seperti apa mereka :)
Share:

7 comments

  1. yeah it's true, some indonesian are fake, so just live your life

    ReplyDelete
  2. hai mba Gita, salam kenal dulu deh, sebut saja saya eka hehe
    baca artikelnya mba ini saya jadi ngrasa ada temen, jiahaha *apaan coba, maksud saya karakter saya miriplah sama mba (keras, gak suka basa basi, kalo gak suka ya gak suka, to the point) ya tapi saya malah dibilang kaku, ya gapapa sih biar mirip orang Jerman secara orang Jerman kan kaku katanya, bahahaha
    biarin aja mba, yg penting mba Gita skrg bisa kuliah di Jerman, saya malah masih mimpi bisa sperti mba Gita, ortu saya gk dukung, tabungan saya belum cukup, saya beberapa kali baca blog mba kalo saya mrasa sedih mimpi saya rasanya kapan bisa terwujud sekolah di Jerman, hehe jadi curcol. semangat aja mba, bruntung banget mba bisa kuliah di Jerman. semoga saya bisa juga, hehe amiiinn.

    ReplyDelete
  3. Ptra : indeed.. anjing menggonggong diemin aja yah

    Eka : iya eka.. kita nggak bisa ekspektasi semua orang bisa suka sama kita kan? Rasulullah aja yg orangnya baik banget, tetep banyak haters nya. apalagi kita kan :D
    doa aja terus lurusin niat inshaa Allah dikasih jalan. terus doa ya supaya dapet rezeki biar bisa kesini amin

    ReplyDelete
  4. hi.. same situation here in my uni, indonesians are all about drama.

    btw i love your voice, stay strong:)

    ReplyDelete
  5. buaat askfm dongg!!

    ReplyDelete
  6. gue merasakan hal yang sama...

    ReplyDelete
  7. Wow ternyata Kak Gita sama kek gue orangnya. Temen2 gw di skolah pada ngejauhin gw soalnya gw kl ga suka, bilang ga suka. Kl bagus,gw puji tapi g pernah ada yg berlebihan atau di tengah itu2. Yaa akibatnya gw di skolah sendirian aja terus haha. Temenannya kebanyakan jauh lbh tua dari gw...(kok jadi curhat yak).

    Anyways, semangat kak! Semoga mreka yang masih bertopeng menemukan jati diri mreka (kan kasian mreka gatau siapa mreka sebenarnya makanya kesel kl dikritik, ga bisa terima kenyataan bahwa mreka bkn diri mreka sendiri).

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig