by Gita Savitri Devi

10/09/2017

Bertutur Kata di Era Digital

Satu dari keresahan yang gue miliki adalah bagimana sosial media sekarang sudah bergeser permainannya. Perlahan-lahan penggunanya sadar akan kemungkinan untuk memakai platform ini secara anonim. Menjadi anonim tandanya manusianya memiliki kesempatan untuk bersembunyi di balik identitas misterius, memuaskan dan ngomporin sifat pengecut si manusia.

Berbicara soal pengecut, gue rasa semua manusia punya sifat tersebut. Mereka punya ketakutan jika yang mereka lakukan akan diketahui oleh orang lain. Mereka punya ketakutan kalau mereka ngelempar seseorang pake batu, orang tersebut akan marah. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk tetap ngelempar orang tersebut dengan batu, tapi kali ini menutupi kepalanya dengan kardus. Ketimbang mengurungkan niat dan ngebuang batu yang udah digenggam di tangan mereka.

Fenomena hate speech dan cyber bullying cukup sering gue lihat. Sekarang semua orang bisa jadi korban dua hal tersebut. Mau itu orang biasa, artis, sampai presiden sekalipun. Sering kali gue takjub dengan kebebasan yang kita sekarang miliki. Kita bebas sekali bicara apa aja yang kita mau tanpa harus mengkaji kalimatnya terlebih dahulu. Kita bebas bagaimana mau mengekspresikan kesetujuan maupun ketidaksetujuan kita terhadap sesuatu. Kita bebas bagaimana mau mengkritik seseorang atau sesuatu. Mungkin karena dengan percaya dirinya kita beranggapan semua itu nggak akan ada konsekuensinya kelak. Padahal sebagai manusia beragama, konsekuensi bertutur kata buruk itu sudah jelas. Tapi mungkin karena Tuhan itu nggak keliatan kali, ya. Jadi kita nggak setakut itu dengan konsekuensi yang udah Tuhan janjikan.

Berbicara soal hate speech, beberapa hari yang lalu untuk kesekian kalinya, gue menjadi korban. Kalau kata orang-orang, salah satu resiko menjadi orang yang "eksis" di dunia nyata maupun dunia maya adalah menjadi korban kehitaman hati beberapa orang. Seseorang insecure sama diri mereka sendiri, kita yang jadi korban. Seseorang nggak puas dengan hidup mereka sendiri, kita yang jadi korban. Yoi, gue masih merasa orang yang suka menyebarkan kebencian kepada orang lain sebenernya punya issue sama diri mereka sendiri. Ketimbang menyalahkan diri sendiri dan mencoba introspeksi, mereka malah ngelempar amarah tersebut ke orang lain.

Anyway, karena teori "resiko" tersebut, bereaksi terhadap hate speech seakan-akan menjadi hal yang sebaiknya nggak dilakukan karena toh itulah kenyataan yang harus dihadapi. 

"Terima aja kaliiiii. Itu kan udah jadi resiko. Lo nggak bisa nyuruh mereka untuk stop ngatain lo."  
"Lo baperan banget sih. Santai aja kali."
"Gampang terpelatuk banget sih lo. Nggak suka amat kalau ada orang yang nggak suka sama lo."

I don't think that's fair. Nggak adil buat si korban. Karena si korban dilahirin ke dunia ini bukan buat di-bully dan dihujat. Sama nggak masuk akalnya dengan orang di jalan yang nggak lo kenal tiba-tiba ngegaplok kepala lo. Waktu ditanya, alasan dia adalah "Gue nggak suka aja ngeliat muka lo. Muka lo songong."

Gue yakin ada banyak juga orang-orang biasa, artis, selebtwit, selebgram, politisi, dan sebagainya, yang juga mengalami kejadian serupa. Digoblok-goblokin, ditolol-tololin, dikatain fisiknya, dikatain keluarganya, dikatain cewe nggak bener, dihujat sok ini dan sok itu. Macem-macem lah omongan warganet. Tapi kebanyakan dari mereka diam. Karena memang kalau diladenin juga nggak akan ada habisnya. Oleh karena itu mereka lebih memilih diam.

Tapi setelah gue pikir-pikir, dengan berdiam diri kita malah terlihat mengamini atau menyetujui konsep berkomunikasi di sosial media yang seakan-akan nggak ada konsekuensi dikarenakan ke-anonymous-an tersebut. Gue percaya ada kalanya warganet-warganet aneh yang nggak tau sopan-santun ini harus diedukasi dan disadarkan bahwa kalau berbicara, mau di dunia manapun, sama aja caranya. Tapi di satu sisi, gue nggak tau cara yang seperti apa yang paling bisa menyadarkan mereka. Karena biasanya orang-orang yang kayak begini hatinya udah tertutup dan lebih seneng ngehujat orang karena buat mereka hal itu sangat asyik untuk dilakukan.

Satu lagi hal yang sangat amat gue benci dari sosial media di era sekarang adalah akun gosip dan drama yang mulai menjamur. Kenapa yang begini makin banyak? Karena manusia itu naturalnya memang suka bergosip dan mencari-cari keburukan orang lain. Kita suka sekali mencari-cari kesalahan orang lain, kita suka sekali mencari dosa orang lain, kita senang sekali memperolok orang lain, dan kita senang sekali mengekspos satu orang untuk dijadikan bahan cacian dan tertawaan. Kita merasa ada gemercik-gemercik api seru di dalam hati setiap kali ngeliat yang seru-seru di sosial media. Tapi karena kita itu pengecut, maka kita memilih untuk mengolok-olok orang tersebut beramai-ramai lewat akun gosip dan drama, bersama dengan para pengecut lainnya yang berlindung di belakang akun sosmednya.

Satu hal yang nggak mereka sadari: orang yang mereka olok-olok, entah itu lewat akun palsu, akun asli, akun gosip, suatu saat akan baca kalimat-kalimat tersebut. Ada orang beneran di balik akun yang diolok-olok dan orang tersebut punya hati, punya perasaan. Efeknya pun sangat nyata.

Ketika gue sharing pengalaman gue ngedapetin hate comment lewat Insta story kemarin, ada banyak banget respon yang gue dapet. Nggak sedikit yang bercerita tentang dirinya sendiri, keluarga, ataupun teman dekat yang juga pernah menjadi korban hate speech. Bahkan ada yang sampe harus ke psikiater karena efek yang mereka dapet dari ujaran kebencian tersebut ngebikin mereka jadi nggak percaya diri, merasa nggak berharga, dan bahkan terpikir untuk menyudahi hidup mereka.

Apakah lo masih merasa ini adalah resiko bermain sosial media ataupun resiko menjadi orang "eksis"? I don't think so. Gue masih merasa setiap orang nggak berhak untuk menyakiti orang lain dan gue masih merasa alasan "Suka-suka gue, ini hape gue, ini kuota internet gue" adalah alasan super bodoh dan super omong kosong.

If you think we just have to deal with it because we cannot tell people what to do, but somehow they can do whatever they want, what makes you think that we cannot tell them to just shut their mouth if they have nothing nice to say to us?

Hate speech IS a big issue. Stop saying that it's not.

Temen gue, Subhi Taha, bikin video super on-point mengenai perangai kita di dunia maya sekarang: tukang gosip, tukang bully, trashtalking someone on social media, gosipin orang di komen foto orang lain bareng temennya, etc. Kalian harus nonton dan mungkin bisa kalian sebarkan.

Click here to watch Subhi's video

Gue masih percaya kita bisa mengubah keadaan sosial media sekarang menjadi lebih sehat. Gue masih percaya diam ketika menjadi korban itu tidak memberikan solusi, itu malah membuat semua itu seakan-akan adalah hal yang biasa. We have to speak up. We have to treat this issue as it is. Dan iya, gue yakin gue bisa mengedukasi orang-orang untuk berlaku baik di sosial media. Gue tau itu terlihat mustahil, tapi gue yakin pasti bisa.


Share:

66 comments

  1. Bener kak, kadang yang ga diomongin secara langsung itu lebih nyakitin daripada yg diomongin secara langsung

    ReplyDelete
  2. Semangat Git.. gw yakin Gita dikasih salah satu talenta untuk kebermanfaatan yaitu menyuarakan melawan "Hate Speech" karena gak semua orang berani Git.. seolah-olah "udah lah gpp gak usah didenger" yupss budaya masyarakat seolah menormalisasikan hal itu, nah gimana anak cucu kita ntar ya?

    ReplyDelete
  3. Iya kak, kadang makin kesini makin miris sama keadaan sosmed yang semakin rasis, apa aja dari anak kecil(sd/smp) pun tingkah lakunya gak sesuai dengan anak seusianya, atau org" dewasa yang smakin ga punya toleransi trhadap sesama.. Cuma bisa prihatin, dan sedih krna gbs apa" n cuma bs mrasa gemas..
    Semoga apa yg kaka lakukan skrg ga sia" krna usaha gak akan mengkhianati hasil ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  4. Yup. Bener banget. Sering orang2 berlindung pake dalih "freedom of speech" tapi disini mereka kebablasan jadi "freedom of nge hujat". People should know kalau satu aja komen jahat mereka itu bakal ngaruh walaupun ada diantara ribuan komen lainnya.

    ReplyDelete
  5. Sebenernya kalo kita ga suka sama seseorang baik itu dalam dunia nyata maupun dunia maya ya udah disimpen sendiri aja, ga usah pake ngata-ngatain dengan negatifnya. Mungkin sekarang banyak dari kita yang lupa cara menjaga perasaan orang lain jadi suka komen seenaknya tanpa mikir orang yang kita komen bakalan sakit hati atau enggak. Kalau toh memang seseorang itu perlu diingatkan karena mungkin perilaku negatifnya ya dengan cara yang baik dan santun secara pribadi tanpa diumbar-umbar. Kadang kita lupa kalau apa yang kita tulis bisa membawa pengaruh buat orang lain yang ikutan baca, bisa menggiring opini seseorang. Udah seharusnya kita sebagai manusia saling menghargai dan menjaga perasaan orang lain dengan cara simpel tanpa negative judging.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, setuju banget. Bahkan secara etika seharusnya menegur itu secara diam-diam, kalau apresiasi boleh dikatakan di ruang terbuka. Bahkan menegur pun kita diajari harus dengan cara yang baik dan sopan.

      Delete
  6. Ka gita, gimana pendapat ka gita tentang kita punya slek lah sama temen, tapi kita gatau apa salah kita sebenernya dan dia memperlakukan kita seperti kita yg paling salah dan juga dia hate speech di media sosial ttg kita. What should i do ka?

    ReplyDelete
  7. Ka gita, gimana pendapat ka gita tentang kita punya slek lah sama temen, tapi kita gatau apa salah kita sebenernya dan dia memperlakukan kita seperti kita yg paling salah dan juga dia hate speech di media sosial ttg kita. What should i do ka?

    ReplyDelete
  8. Ka gita, gimana pendapat ka gita tentang kita punya slek lah sama temen, tapi kita gatau apa salah kita sebenernya dan dia memperlakukan kita seperti kita yg paling salah dan juga dia hate speech di media sosial ttg kita. What should i do ka?

    ReplyDelete
  9. Setuju, sangat setuju.
    Kadang, bahkan mereka atau kita nggak sadar dengan komen penampilan orang di sosmed, ngetawain, ngegosipin itu bisa nyakitin hati orang tersebut, kadang karena seakan-akan sudah hal wajar, semua orang menganggapnya ini hal sepele, mungkin harus merasakan sendiri disakiti, diketawain didepan mata karena penampilan kita untuk menjaga tutur kata kita ke orang lain, tapi masa iya harus begitu dulu..

    Jujur aja, aku lebih sering menggerutu dalam hati kalau ada org atau sesuatu di sosmed yang rame org bicarain, lebih ke ga peduli juga sebenernya untuk komen dan ngeladenin komen orang tp ttp dalem hati suka "ih kok gitu, kok gini", tapi setelah aku nonton video gita yg ttg hate speech, aku sadar dengan menggerutu dlm hati aja berarti aku udh judge mereka, thanks gita, aku belajar banyak untuk perbaiki diri lagi. Semoga banyak juga yang terbuka hati dan pikirannya, jangan lelah mengingatkan ttg hal ini, ini memang hal yg ga boleh dibiarin, karena sosial media pasti dan akan terus berkembang dan kita nggak tau akan sebesar apa impact sosial media di masa depan kalau attitude penggunanya masih begitu.

    ReplyDelete
  10. bener kak, harus ada yang mulai angkat bicara..
    mungkin ga akan mengubah dunia, tapi paling nggak yang masi bersih hatinya, yg ga nganggep nasihat itu nyinyiran akan nyadar..
    semangat kak! terus bermanfaat buat indonesia..

    ReplyDelete
  11. bener kak, harus ada yang mulai angkat bicara..
    mungkin ga akan mengubah dunia, tapi paling nggak yang masi bersih hatinya, yg ga nganggep nasihat itu nyinyiran akan nyadar..
    semangat kak! terus bermanfaat buat indonesia..

    ReplyDelete
  12. Bahkan dikampus aku sesama teman angkatan masih ada saja yg sering saling membicarakan dibelakang bahkan saling singgung menyinggung di medsos. Semangat ka Gits untuk gerakan mengedukasinya untuk menggunakan media sosial sebagai media untuk membagikan hal-hal yang positif

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Semangat ka git..terus menginspirasi

    ReplyDelete
  15. Hi, Gita...salam kenal, saya guru du salah satu SMA di p.Madura. you are so inspiring, Gitaa... Thank you, sdh menjadi anak muda yg seperti ini. Saya mengenalkan kamu sama siswa2 saya, mulai dr Youtube km,blog kamu. Berharap Mereka bisa speak up tapi santun, menjadi generasi yg keren. Terus seperti ini ya Gitaaa. I'm one of your fans, padahal umurnya sudah 30+, he..he... Sehat terus Git.
    Salam dari guru di pelosok negeri.

    ReplyDelete
  16. Semangat dan stay strong kak gita:) walaupun banyak dari netizen yg hatinya udh tertutup, pasti ada beberapa yang baca artikel ini dan mereka sadar. You've changed them, kak. Terus semangat dan jangan pernah nyerah menginspirasi ya kak gita:)

    ReplyDelete
  17. Apa yg ditulis di dumay dan apa pun yg dilakukan di dumay akan sama diaudit di akhirat...

    Thanks for ur article

    ReplyDelete
  18. Bener banget git, jangan biarin hal yang ga pantes dilakuin kaya hate speech gitu jadi hal yang biasa aja. Semakin si korban diam semakin ujaran kebencian itu jadi hal yang lumrah buat dilakuin.Padahal, dampak ucapan mereka buat si korban bisa jadi sangat besar. Ga sedikit kasus bullying di sosmed berakhir dengan bunuh dirinya si korban. We have to stop this cyber bullying.

    ReplyDelete
  19. Couldn’t agree more kak. Kalo jaman dulu ada pepatah lidah lebih tajam dari pedang kalo sekarang jempol lah yg lebih tajam. Setidaknya tuannya bisa bertanggung jawab atas lidahnya sedangkan jempol akan tetap asik bersembunyi di balik gadget pemilik nya. Kalo kata saya mah orang yg nyebarin hate speech itu orang orang yg lagi caper, jadi mereka berusaha sekuat mungkin untuk dapat perhatian orang walaupun dengan cara menyakiti mereka. Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa banyak artis memilih berdiam diri, karena mereka merasa kalo semakin di lawan si penyebar hate speech ini malah tambah kesenangan karena tujuannya tercapai. Tapi gasemua orang bisa menyangkal dan memprises hujatan dengan biasa aja ada juga orang orang yg gabisa, sehingga banyak yg sampe harus ke psikiater sampe ada yg bunuh diri itu. kak gita bener kalo lama lama di diemin hqte speech, cyber bullying ini lamalama bakal jadi habbit yg buruk, soalnya hate speech nyebar kaya virus. Semoga dengan baca tulisan ka gita ini banyak orang orang yg ikut berjuang memberantas bad habbit ini.

    ReplyDelete
  20. Setuju banget. Gue pribadi, kalo nggak suka sama orang itu ya mending gak follow atau kepoin. Toh kalo hidup kita asyik, kita nggak mungkin ada waktu ngurusin hidup orang :)

    ReplyDelete
  21. semangat Git :)
    kalo kata orang sih "perkataan mereka tu hanya sepanjang lidahnya" kadang asal ngomong aja, mungkin semacam penyakit jadi emang harusnya disenyumin aja, bilang Alhamdulillah gitu.ga penting.
    walaupun emang ada saatnya kita butuh dikuatin buat bisa senyum gitu haha

    pokoknya semangat terus yah buat menginspirasi banyak orang ❤

    ReplyDelete
  22. Di daerah aku blm kerasa bgt si "hate speech" ini. Atau bisa aja kerasa, tapi aku nya yg gk peduli. Dan aku baru tau kalau si "hate speech" ini sampe separah itu.

    ReplyDelete
  23. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  24. Halo ka gita . Aku sangat setuju dgn pemikiran kritis sperti ini. Krn menurut aku kita memilki kebebasan dlm hal apapun trmsuk dlm berpendapat dn mengkritik org di sosmed. Tp kebebasan bkn dijdikan senjata utk menyakiti seseorang dgn ujaran kebencian tnpa sebab dgn alasan g suka sm org. Aku harap Generasi muda membaca tulisan kritis ini biar g hanya sekedar tw. Tp sadar kita hidup di era perkembangan teknologi tetapi hrus diiringi jg dgn pola pikir. Akhlak dan attitude yg baik serta moral bangsa yg trdidik. Kebebasan yg bkn brrti menyakiti perasaan org lain dlm mngeluarkan tutur kata dn pendapat skalipun g suka tnpa alasan. Krn kita g punya hak utk menjudge hidup org
    Sukses slalu ka gita. Smoga makin bnyak anak muda kita yg punya pemikiran kritis di negri ini

    ReplyDelete
  25. Setuju banget Git! kalau dibiarin, kita bakalan kaya Korea, haters yang kebangetan banget, tau2 digaplokin orang di jalan, mobil dicorat-coret seenaknya. STOP Hate speech!

    ReplyDelete
  26. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  27. Satu penggerak yang luar biasa!!! Subhanallah. Sebelumnya emang sama sekali gak sadar bahwa satu hal buruk pun jika didiamkan maka akan dianggap biasa. Ketika sudah biasa maka akan dianggap 'normal'. Kalau misalnya pandangan seperti Kak Gita ini gak ada, terlebih jika tidak disuarakan, entah di masa mendatang hal buruk apa lagi yang akan tampak biasa dan normal di lingkungan kita? Ya Allah sama sekali gak kebayang:( Mending banyak-banyak biasain hal positif. Bermanfaat buat sendiri iya. Buat orang lain juga iya. Biarlah yang menjamur itu hal-hal yang berguna saja. Bukan hal negatif yang sama sekali tak ada faedahnya bagi nusa dan bangsa. Edyaaan! Saranghae, Kak Git! From Indri with ♥ (Btw aku lieur komennya pake akun mana jd aja repost haha)

    ReplyDelete
  28. Gue juga pernah nih
    Pas ospek ditandain gara-gara muka gue songong katanya, mukanya kayak ngajak ribut katanya ahahaha
    Dulu gue pernah jadi orang yang murah senyum, tapi malah dibilang cengengesan, tukang tebar pesona ��
    Salah lagi kan gue ��
    Jadi yaa gue abaikan aja sih, toh pas mereka udah mulai mengenal gue, pandangan mereka pun perlahan berubah

    Karena manusia sekarang itu emang doyan banget ngomentarin orang, jadi ya bingung juga buat mengendalikan komentar org2, terutama di sosmed.

    ReplyDelete
  29. I totally agree with you. I once had a thought like this by myself when I looked at some hate accounts on instagram. Why do people these days have so many times to do such things? I mean, really, why. Don't they have more important things to do in their life? Why do they have to mind other people's businesses? Frankly, I don't think I can fathom things like this like ever.

    ReplyDelete
  30. Sebaik2 kita, pasti akan ada yg mencela.
    Dan sejelek2nya kita, pasti ada yg membela..
    So simple gita

    ReplyDelete
  31. Terimakasih Gita buat tulisannya, videonya....you're so inspiring.
    Selalu dijaga kesehatannya,Git. Allah bersama orang2 baik

    ReplyDelete
  32. Intinya sih kita gak boleh mengatakan sesuatu hal yang kita gak ketahui betul kebenarannya, serem aja kita esok tangan, mata, telinga dimintai pertanggung jawabannya, btw kk git aku juga sempat gak buka instagram hampir 1 bulan dan benar benar selektif follow orang di Instagram walaupun itu temen dekat tapi isi akunnya tidak berfaedah dan rasis aku gak follow. Di ilmu komunikasi sih kk kita punya emang jelas jelas punya kebebesan untuk memilih konten apa yang kita pakai, masalah utamanya adalah setiap orang ngerasa komen dengan cara negatif adalah suatu hal yang "biasa" padahal efek kata lebih berbahya dari kalimat verbal
    .
    Salam dri jogja

    ReplyDelete
  33. Semangat kak gita!!
    Aku jg pernah ngerasain kyk ka gita, bkn hate speech atau cyber bullying sih, tp aku rasa lebih parah dr keduanya.
    aku dulu pernah wkt jaman SMA, fotoku digabungin sm foto monyet, foto barong dll trs di share k group kelas kak. Itu rasanya mah sakit bgt. Pdhal akunya gk ada masalah sm si anak yg ngedit sm ngeshare foto aku itu. Tp yaa mau gmn lg, marah iya tp gk bs apa2 kak, aku legowo-in aja, untungnya itu aku udh kls 3sma, udh mau deket kelulusan, jd udh gk intens ketemu anak itu lg wkt itu hmmm..
    Semangat trs yaa kak gita!!๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    ReplyDelete
  34. Memang masalah ini perlu "diedukasi". Canggihnya teknologi, seharusnya sih ya, attitude pengguna juga harus canggih. Takutnya sih, ada hal-hal tertentu yang membuat orang yang nge-hate speech ini kebablasan. Entah mungkin kurang dihargai, nggak dianggap, dan sebagainya.

    Keep this up kak! Sudah seharusnya ditegur supaya nggak sembarangan.

    ReplyDelete
  35. Mau cerita sedikit kak. Malah cuman gara gara sering denger orang ngomongin dan ngomentarin hidup gua di social media, yang katanya gua suka nulis hal hal yg gk bermutu dan terlalu sok puitis sering banget ngerasa pengen deh bikin aku fake biar gua bisa nulis puisi gua sesuka hati gua tanpa perlu orang tahu kalau yg nulis puisi itu gua. Entah kenapa gua malah jadi lebih sensitif sama orang orang disekitar gua (karena sering dapat perlakuan yang gk baik entah itu hanya perasaan gua yang lebay nanggepin mereka atau mereka yang terlalu berlebih menganggap gua jelek dan lebay" sering banget gua gk sengaja buka chat grup teman gua yg isinya ternyata ngomongin gua) padahal gua suka merasa toh yang gua bilang tidak menyindir orang lain, puisi yg gua buatpun gk jauh jauh tentang hidup gua aja, tapi entah kenapa gua sering merasa orang lain gk suka sama catatan atau puisi yg gua buat. Pun seandainya mereka gk nge like foto dancaption gua juga tidak merasa sedih, karena gua menulis bukan buat cari sensasi tapi ya emang pure, murni gua mau nulis. Maaf ya kak btw gua malah jadi curhat. Haha

    ReplyDelete
  36. Krisis etika emang ada dimana-mana yah ka git, nggak habis pikir hapenya pada smartphone tapi nggak dibarengi dengan etika manusia yg pola pikirnya Nggak cerdas. Kebanyakan orang udah nggak hidup dalam norma sosial hidupnya seenak tingkah sendiri. Kemunduran etika kids jaman now, astagfirullah

    ReplyDelete
  37. Gw selalu lovely banget sama elu git... Semangat terus buat nebar benih kebaikan... ❤❤❤❤

    ReplyDelete
  38. Bener banget, git. Rasanya di zaman digital ini gue lebih sering melihat bagaimana seseorang mengapresiasikan pendapatnya dimuka umum (walaupun dalam konteks dunia maya) ketimbang nonton televisi, dan radio. dari situ gue bisa menilai dan merasakan seperti apa perbedaannya ketika dulu sosial media dan media massa berbasis internet belum berkembang seperti sekarang. Dan dari situ pula, semakin kesini, semakin banyak orang-orang yang mengungkapkan argumen mereka sendiri dengan berbagai tanggapan dan pemikiran mereka, mau jelek atau mau buruk dengan bebas mereka tuangkan disitu. Rasanya dunia maya adalah tempat yang nyaman untuk dijadikan tempat persembunyian mereka untuk menanggapi sesuatu. Dan, parahnya dari situ pula mulai berjamur orang-orang dengan pemikirannya yang kurang baik menebarkan ujaran kebencian dan bullying yang bisa mereka katakan kepada siapa saja dan kapan saja. Contohnya seperti media instagram, facebook, twitter, dan youtube. lucu juga sih, ketika ada berita atau informasi yang menyampaikan mengenai ilmu pengetahuan yang mendidik dan hiburan tetapi yang gue lihat di kolom komentar banyak sekali perdebatan-perdebatan atau ucapan kurang sehat dari para warganet tersebut, gue pikir mungkin semua isi komentar dari posting yang sejenis itu isinya hampir sama, saling berargumen dengan kelewat batas. Begitulah perkembangan zaman, kalau kita tidak bisa mengikutinya dengan baik, mungkin akan banyak calon korban dan calon pelaku di dalam kejahatan media massa.

    ReplyDelete
  39. Kak tapi gua bingung gimana cara nanggepi mereka yang bully gua. Di satu sisi gua tanggepin makin jadi, gua diem juga makin menjadi. Gua korban bully dan juga hate speech btw kak gita. Gua ngerasa gaada semangat buat ngejalanin hari2 gua, gaada gairah and just nothing. Tapi baca blog kak git dan liat video kak git bikin gua ngerasa relate akan hal itu. Dan lupa sedikit sama persoalan yang gua alami

    ReplyDelete
  40. ุณู„ุงู…ุฉ ุงู„ุงู†ุณุงู† ุนู„ู‰ ุญูุธ ุงู„ู„ุณุงู†.

    Keselamatan seorang manusia terdapat pada penjagaan lisan.

    Begitu juga sebaliknya.

    ReplyDelete
  41. Kak gitaa, semangat InsyaAllah perbuatan baik Allah ridhoi. ๐Ÿ˜‡
    Gak ngerti lg harus pegimana sama org yg dg mudahnya ngetik sesuatu yang mengolok-olok fisik dan hate speech ke org yg mungkin dia hanya kenal dr sosmed tp udh nyaci kek dia paling "SEMPURNA"
    Kak semangat buat nunjukin kalo ada seseorg dibalik akun sosmed itu.
    Dari aku salah banyak korban Hate speech dan bully-ing
    Terimakasihh kak ๐Ÿ˜‰

    ReplyDelete
  42. The most saddest thing is, those hatespeechers would like to say "we have the right to speak up our mind, it's the freedom of speech" without thinking about karma or anything else.
    .
    I do agree with u Kak Git, we can't stay quiet about this or it would get worst than ever.
    .
    I ever saw a video on youtube about catcalling issues in the USA, so there was a girl, she was doing a social experiment to speak up to the person who catcalling on her. And the result was pretty amazing to me, like the moment when the girl was sayin "do u really think i should marry with u?" shamelessly, the catcallers automatically step back and go, WOW i never expecting that come
    .
    So, i just would like to say that when people leaving a negative comments on u, u should speak up with confidence, integrity, intelligence and last teach them how to treat people right.
    .
    Thankyou for bring this issues up ๐Ÿ’“
    Keep spreading ur positivity Kak Git ๐Ÿ’“

    ReplyDelete
  43. Setuju kak.
    Kalau si korban 1 diem aja, mungkin si pengecut 1 bakal berhenti membully korban 1.
    Tapi, si pengecut 1 itu bakal nyari korban lain atau korban 2 buat dibully.
    Dan masalah korban 1 gak berhenti gitu aja, bakal ada pengecut 2 yang giliran membully.
    Dan sampai muncul korban 3, 4, 5, 6, 7, dst dengan pengecut 3, 4, 5, 6, 7, dst.
    Kalau kita diem aja, gimana masalah itu mau selesai???
    Jadi, bener banget Kak Gita, we have to speak up.

    ReplyDelete
  44. Semangat trus kakgit memrangi hate speech, semoga tulisan kakgit tersampaikan dan semoga warganet yg hatinya masih terkurung agar dapat mendapat pencerahan. Jangan cuma beraninya mengintrospeksi org lain coy tp instrospeksi diri sndri dahulu lebih baik๐Ÿ˜Š✌

    ReplyDelete
  45. Adakalanya memang lebih baik diam, untuk menyuruh "mulut mereka" diam, karna "mereka" akan lebih senang dan mereka merasa diakui ketika "hate speech" mereka ada yang meladeni. Orang2 yg melakukan "hate speech" Itu mutlak salah, itu fakta. Tapi orang2 korban "hate speech" memilih diam bukan berarti mereka ga peduli, tapi mereka memilih cara lain untuk bisa bertahan dan menatap kedepan untuk tidak menjadi "gila" karna kata2 negatif. Manusiawi nya seseorang adalah ketika ada 10 comment 9 diantaranya positif dan 1 negatif yg selalu dipikirkan adalah negatif dan melupakan 9 positifnya yg pada dasarnya lebih potensial untuk buat orang tersebut lebih maju. Terima kasih Gita telah menyuarakan isi hati para korban "hate speech", memang ga mudah tapi kemungkinan itu pasti selalu ada untuk berubah ke arah "bersosmed lebih sopan".

    ReplyDelete
  46. Assalamuallaikum
    apa kabar mbak ?? :)
    Saya adl salah satu orang yang sepakat kalok media sosial adalah tempat berisinya konten yang mengedukasi dan informatif harusnya, bukan tempat orang bisa dengan mudah dimaki ato memaki, saya setuju harus ada tindakan dimana mereka akan mikir dan nggak seenaknya nggunain jempol mereka buat nyakitin ati orang lain. Tapi mbak akan selalu ada di diri manusia yang namanya penyakit hati dan sekarang media adalah sarana mereka ngelepar batu itu, saya yakin lebih banyak yang mendoakan dr pada yang mencela mbak. trimakasih keresahan mbak udah bikin kita makin melek mata melek hati dan yang masih suka usil moga dibikin melek hati ama mikir " udah cukup itu buruk,jangan lakuin itu". jika kita suka sesuatu yang indah knapa kata kata kita nggak gitu aja menurut saya mbak. trimakasih mbak gita semoga doa baik selalu bersama mbak. Amiin
    Assalamuallaikum... :)

    ReplyDelete
  47. Ini nih yg selama ini gw pikir penyakit dr kebebasan berbicara. Mrk bersembunyi pd satu paradigma =》 "Kalo gw gak suka, gw bakal bilang gw gak suka" tetapi menafikan paradigma yg lain =》 "berkata yg baik atau diam".

    ReplyDelete
  48. ijin share ya kagita,terima kasih :)

    ReplyDelete
  49. selintas baca notif kak gita soal tulisan terbarunya di blog ini sebenernya agak sedikit lupa lupa ingat buat bukanya. tapi akhirnya aku baca juga kok. dan boleh lah ya sedikit berusul juga di kolom komen ini soal apa yang udah ditanggapin kak gita melalui tulisannya (ijin share juga kak). intinya setelah aku baca tulisan ini ada beberapa pemikiran yang muncul soal isu ini. pertama, ada kalanya aku kepikiran segala sesuatu jika orang tersebut BISA memposisikan dirinya sebagai sosok yang akan mereka caci/komentari (like a mirror) pasti mereka akan berpikir dua kali mau nglakuin hal-hal tsb. Tapi mungkin gabanyak org yang bisa kyk gitu. hmm. kedua, aku sempet kepikiran sama org org yang dari awal emg punya keputusan gamau punya medsos (banyak banget kan tokoh" yang kyk gitu) mungkin salah satu pertimbangan mereka ya soal menghindari isu ini, dan mungkin mereka akan fokus ke karya" mereka sendiri tanpa terbebani kritik atau lebih mengarah ke olokan dr org lain, tapi disisi ini dia jadi stack buat memerangi apa yg disebut kebebasan berbicara itu sendiri, bisa dibilang mungkin mereka juga agak gapeduli (mungkin!). dan yang ketiga emg udah fitrah nya manusia kali ya dari jaman nabi ada org di kubu positif dan ada yg dikubu negatif, banyak org yang menentang ajaran yang di bawa para nabi, memusuhi nabi, hingga berbuat keji pada nabi, tapi kenyataannya sebaik-baik seorang nabi menyikapi mereka dengan selalu berbuat baik dan tidak membalasnya dgn kejahatan pula. dlm filsuf china juga dikenal yinyang aku mikirnya. segitu aja kak git imbuhan perspektif pemikiranku soal apa yg udah kak gita bahas di atas. semoga kita jadi salah satu org yang ada di pihak yang baik. amin

    ReplyDelete
  50. Kalau kata aku sih kak, orang-orang yang suka bully gak jelas kaya gitu, Identitas atau akunnya di expose aja biar tahu rasa. Tahu rasa kalau nanti dia di Bully sama yang lain juga. Biasanya, orang, kalau udah kena karma bakalan nyadar dan mengontrol apa yang mau dia sampaikan

    ReplyDelete
  51. Ga ngert lagi, hanya bisa berharap suara lo ini bisa ngebuka pikiran org2 yg berhati hitam. Yg jadi pertanyaan, para warganet yg hobi "cyber bully" knp musti melakukan itu? Untung yg mereka dapetin apa? Bahkan bukan hanya warganet yg banyak comment hate speech di sosmed, org2 di sekeliling gw aja, kenapa mereka harus selalu mengomentari kehidupan orang lain, selalu dlm hal apapun! Apa gak ada kegiatan lain yg bisa dikerjain smpe rela ikut campur di hidup org? Justru, hal positiv yg musti mereka lakukan adalah belajar. Belajar untuk menghargai seseorang bagaimanapun itu keadaannya! Klo emang ga suka yaudah kan, ga perlu harus "ngata2in org", mereka gak berhak buat ngelakuin hal itu. Kenapa mereka ngga coba berfikir, bagaimana perasaan dia klo dia yg di posisi itu, gitu.. Coba deh buat siapa aja yg demen ngomentarin orang terlebih fisik org, coba kalian memposisikan diri jd korban cyber bullying.. Jd kalian bisa berfikir dulu sebelum ngomong.
    Btw, gw udah seminggu ini ga makan nasi, cuma buah. Yg pd nanya emang kenyang cuma makan buah? Kenyang. Kenyang ama hate speech org2 yg ngatain gw gendut. Bahkan, usaha gw buat ga dikatain gendut lagi, salah!
    Dulu nih ya wktu idup msh happy2 aja, "kok gendutan skrg?"
    Skrg lg berusaha buat nunjukkin ke org2 itu, biar mereka ga hobinya ngeremehin fisik org, gw rela2in ga makan, nahan laper. And then, masih aja tuh org2 yg sama
    "Ngapain lo, sok2an diet"
    Mau mereka apa coba? Ga heran kan, korban hate speech sm cyber bully banyak yg depressed sama kayak yg kagita bilang. Bahkan smpe bunuh diri. Krn ga kuat ngadepin mereka, itu namanya juga ngebunuh org lain.

    Can you help me kagit? Gmn ngadepin org2 kyk gituuu, yg hobi ngejatohin org lain, hanya demi dirinya agar terlihat sempurna..

    ReplyDelete
  52. I think it's the new culture and new caracters of Indonesia Netizen. Kalau menurut gue sih yang namanya hate speech itu sesuatu yang serius apalagi buat anak muda Indonesia. Iyasih memang bebas buat berpendapat, tapi bukan berarti dengan hate speech. Kalau orang Indonesia itu udah punya suatu karakter yang baru lama kelamaan akan berubah jadi tradisi atau malah kewajiban. Kalau udah kaya gini, yang namanya edukasi udah nggak mempan buat disodorin sama netizen macem begini, jadi menurut gue ini butuh concern yang lebih tegas untuk masalah hate speech. Hate speech sama halnya buang sampah. Dari dulu orang Indonesia udah diajarin buang sampah di tempatnya, tapi tetep aja mau diomongin, di edukasi sampe jebol juga masih banyak orang yang buang sampah sembarangan. Sama halnya dengan hate speech, mungkin someday bakal ada kali ya hukum yang mengatur tentang hate speech. Karena menurut gue tipikal orang Indo itu, nggak akan jera kalo nggak dikasih hukuman. Karena ngerubah suatu hal yang udah dianggap tradisi itu sulitnya luar biasa, ya walaupun gue percaya masih banyak orang diluar sana yang sangat bijak dalam ngegunain sosmed. Menurut gue pengguna sosmed di Indonesia itu luar biasa banget banyaknya dan Indonesia mungkin 90% semua penduduknya punya sosmed, coba liat aksi spamming "Om Telolet Om". Siapa yang bikin kalimat itu mgebooming di dunia kalo bukan kerjaan netizen, cuman netizen Indonesia yang bisa kaya begitu. Jadi menurut gue butuh suatu action khusus untuk bisa bikin pemberi hate speech ini jera, entah itu dalam bentuk apapun, karena suatu edukasi mungkin nggak cukup untuk menyadarkan kembali warganet yang udah hilang arah. Thanks

    ReplyDelete
  53. Kata Kamal Saleh (talk Islam), "Kebebasan berbicara bukan kebebasan membenci."

    ReplyDelete
  54. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  55. Gue sepemikiran sama lo Git, semoga dengan tulisan lo ini bisa menginspirasi warganet supaya lebih baek lagi, lebih sehat lagi. Good Luck Gita!

    ReplyDelete
  56. Ya, actually itu sebenernya penyakit hati. Iya gak sih?
    Stop lah mengotori hati sendiri dengan berkomentar negatif ttg hal² yg kita gak suka atau nyeleneh di mata kita. Kak gita was right, if we dont have something nice to say, just shut up. Kalo gak bisa ngedo'ain, mending diem aja dripada nambah dosa. Nambah titik² hitam di hati kita.
    Satu hal yang bikin aku bener² sadar kalau hal itu gak baik adalah firman Allah yang nyata melalui Rasul-Nya.bahwa dosa paling besar itu dtgnya dr dua hal; yg ada di antara dua rahang (mulut) dan dua paha. Tp skrng ngatain orng bukan dr mulut aja, tp efeknya ttp sama malah impact ke orang yg ngelakuin hal jelek itu jadi nambah: mempersilakan dirinya menjadi pengecut dgn membiarkan diri bersembunyi dibalik kedok sosmed.
    We all believe in God, or at least as a human, we do know humanity. Gimana kalo kita yg digituin?

    ReplyDelete
  57. Semoga nitizen bisa lebih bijak lagi ngegunai sosmed secara sehat dan lebih masuk akal.

    ReplyDelete
  58. Emang susah kalo orang yg hati nya udah ketutup apa aja yg dilakuin sama orang yg dibencinya pasti selalu salah. Aku juga ampe kepikiran sampe detik ini kak, aku cuma ada masalah sama satu orang tp entah kenapa ngeleber ke temen temen dia yang lain nya yg buat temen" dia jd benci aku juga padahal mreka ngak tau yg terjadi sebenernya kalo ini cuma kesalah pahaman. Sering kali mereka nyinggung in aku gitu kalo lg ngak sengaja duduk deket an sama aku ada aja bahan buat nyinggung. Aku coba selalu buat diem karna aku ngak mau makin banyak lg orang yg ngebenci aku. Tapi kok makin di diemin mreka makin ngelunjak, fisik sih oke tapi batin ☺ cuma bisa numpahin air mata aja tanpa kata kata. Aku yakin kok Allah itu adil dan kehidupan kita ngak bakalan gini gini aja, kalo kita sabar pasti ada aja balesan buat mreka jadi aku percaya sama Allah . Kunci nya sabar sabar dan sabar

    ReplyDelete
  59. Perkara kepala digaplok itu yang pernah lo tweet ya, kak? Itu pas lagi jalan di Indo atau di Jerman tau-tau ada yang gaplok? Wah orang gila makin banyak ๐Ÿค”

    ReplyDelete
  60. Setuju banget ka gita ^^ , aku juga mikirnya gitu ...
    dulu paling sebel kalo udah ada temen dibully cuman karena mereka ga secantik / sekaya temen" yang laen ...
    menurut gue itu ga baik , pernah juga hilaf pernah ngatain dia karena ga sengaja terpancing dengan yang laen tp akhirnya sadar itu ga baik dan ga bisa diterusin ^^ nice post ka ^^ i hope semua pengguna sosial media / di kehidupan nyata bisa lebih menghargai dan tidak mencaci seenaknya . Amin ^^ kalo ada gerakan anti bully gue dukung karena gua juga sempet jadi korban bully kaaa ^^

    ReplyDelete
  61. This is a great post. I hope many people would think more before they type anything and click that "post comment" button. Kalo gue sih punya cara sendiri buat 'ngebungkam' secara nggak langsung biang komen-komen hateful dan abusive: di-report.

    Gue sekarang ini cuma menggunakan dua medsos - gara-gara eneg kalo kebanyakan menghuni dunia media sosial - yaitu Facebook dan Instagram. Itu pun dirasa overwhelming, lantaran banyak banget hateful comment/speech-nya. Dulu pas masih nggak kuat iman, gue sering nyautin komentar atau status itu. Cuma lama-kelamaan - apalagi kalo yang komentar begitu stubborn - jadi berasa ikut-ikutan bego.

    Alhasil mikir daripada capek sendiri, mending laporin aja sekalian ke yang empunya platform medsos itu. Enak, nggak perlu capek ngocehin, mata nggak keganggu lagi sama komentar atau postingan rusak (karena biasanya kalo dilaporkan, otomatis dihapus sementara).

    And this is what people should know: start using that "report" button. Fasilitas report itu dibuat supaya komunitas platform medsos tertentu itu bisa bergaul dan beraktivitas secara sehat dan nyaman di platform tersebut. Kalo ngerasa nggak nyaman, ya report. Laporin ke 'polisi'-nya platform itu, supaya ditindaklanjuti. Polisi emang kerjaannya buat nangkep maling dan jaga supaya nggak ada maling, cuma kalo jelas ada maling trus kita nggak laporin dan malah ditegur doang, ya gimana bisa ditindaklanjuti itu maling. Lagian, dengan nge-report, kita juga membantu pemilik platform untuk mengidentifikasi seperti apa komentar atau konten yang mengganggu, supaya lain kali bisa ditebas langsung sama platform itu.

    ReplyDelete
  62. manurut aku juga sama dalam hal ini. karena sangking banyaknya orang yang menyalahgunakan sosial media. dimana sosial media digunakan sebagai ajang membenci orang lain.

    ReplyDelete
  63. Gue termasuk salah satu korban hate speech, dan dengan baca tulisan Ka Gita, jujur gue kaya bilang ke diri sendiri: "Harusnya lo ke gini" ga cuma diem dan sedih dengan drama lo! Thank's Ka Git..

    ReplyDelete
  64. Media sosial sekarang memang sudag jadi ajang bullyng, saya juga pernah mendapat inbox entah dari siap, dan dia menjelekan saya dengan kata - kata yang sangat tidak pantas.

    Tanks artikelnya

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig