by Gita Savitri Devi

2/05/2017

Menjadi Seorang Diaspora

Ketika gue menulis postingan gue yang berjudul Generasi Tutorial, gue nggak pernah nyangka kalau tulisan itu bakal viral. Yang biasanya gue cuma dapet sekitar 20an komentar, kali ini gue dapet sampe 200an. Entah apa yang nge-trigger orang-orang buat ikutan komen. Tulisan gue yang lain juga biasanya nyablak dan nggak gue filter. Karena toh gue nulisnya di personal blog yang fungsinya sama seperti buku diary, based on personal opinion. Tapi buat yang satu ini nggak sedikit orang yang gegen sama pendapat gue, which is normal. Yang nggak normal adalah orang-orang yang ngomong begini nih:

"Emang lo udah berbuat apa buat Indonesia? Bisanya cuma komentar doang."
"Alah, tinggal di luar negeri aja pake sok-sokan komentar. Pulang dulu sini baru boleh ngomong!"

Kenapa gue bilang ini nggak normal? Karena dari kalimat di atas terkesannya yang boleh berkomentar tentang negaranya sendiri adalah hanya yang tinggal di negara tersebut. Orang-orang yang tinggal di luar negeri nggak boleh ikutan berkoar-koar, walaupun kewarganegaraannya masih Indonesia.  Gue jadi bingung, orang-orang ada sentimen apa sih terhadap diaspora?

Banyak orang ngomong ke gue, selama masih tinggal jauh dari Indonesia, gue masih belom memberi kontribusi nyata. Sementara gue nggak terlalu mengerti sebenernya yang dimaksud "kontribusi nyata" oleh mereka itu apa? Apa gue harus jadi presiden kah? Jadi menteri? Jadi pemimpin partai? Jadi politikus? Jadi aktivis HAM? Karena sebetulnya, yang mungkin nggak dimengerti oleh orang-orang yang tinggal di Indonesia, para diaspora di luar negeri nggak membawa namanya sendiri. Yang dia bawa adalah negara dan bahkan agamanya. Dengan berlaku sebagai citizen yang baik di negara yang ditinggali sekarang menurut gue sudah menjadi bentuk kontribusi. Karena lagi, toh kami adalah representasi dari negara asal kami.

Karena keseringan mendengar kata "kontribusi nyata" lama-lama gue jadi merasa orang-orang yang sentimen dengan diaspora sebenernya nggak ngerti apa yang mereka omongin. Mungkin dipikiran mereka tinggal di luar negeri itu selalu enak kali, ya. Nggak ada susahnya, hidup serba nyaman, jalan-jalan pake coat sambil minum coklat panas menerpa udara dingin. So, to clarify, gue akan sedikit menceritakan gimana pengalaman gue tinggal di luar negeri supaya kalian ada bayangan.

Gue nyampe ke Jerman tahun 2010. Saat itu gue masih umur 18 tahun. Masih remaja, masih labil, baru lahir kemaren. I don't know about you guys, tapi "dipaksa" untuk beradaptasi dengan lingkungan yang completely different di umur yang masih muda itu cukup challenging. Terutama ketika semuanya harus dihadapi sendiri tanpa orang tua. Gue harus menyerap segala sistem yang ada di Jerman dan mengubah cara gue berpikir, bertingkah, dan ber-ber-ber lainnya supaya gue bisa berintegrasi dengan baik. Mungkin banyak orang berpikir kalau galau tinggal di luar negeri itu cuma sebatas galau karena jauh dari rumah. But for me, jauh dari rumah adalah hal terakhir untuk digalauin. Galau akademik adalah salah satu yang bikin semua ini begitu sulit. Karena bukan gimana-gimana, coy. Kalau taunya kita gagal ujian, kita bisa dikeluarin dari universitas dan ujung-ujungnya balik ke Indonesia. Bayangin berapa banyak waktu, energi, dan materi yang udah keluar tapi ujung-ujungnya malah nggak dapet gelar. Dan kuliah pake bahasa Jerman, di universitas Jerman itu nggak gampang. Boro-boro mau dapet nilai bagus, lulus aja udah sukur. Bukan itu aja. Nggak semua orang yang tinggal di luar negeri itu orang kaya, gue contohnya. Kalau gue kasih liat berapa duit di rekening gue sekarang mungkin lo semua pada kaget. Maka dari itu mahasiswa di sini rata-rata harus kerja cari duit sendiri. Bukan buat liburan, bukan buat nambah uang jajan. Tapi buat makan dan bayar uang sewa apartemen. Gue harus selalu muter otak gimana caranya gue bisa dapet duit. Entah itu kerja di pabrik, di cafe, atau kayak sekarang nih, gue menjadikan YouTube sebagai source income. I can tell you keadaan ekonomi gue nggak seberapa nelangsa. Ada banyak mahasiswa yang lebih susah dari gue dan alhasil kuliahnya nggak lulus-lulus karena harus kerja terus. Belom lagi kalau ada masalah personal yang muncul seperti masalah keluarga, masalah sama temen, dan masalah-masalah lainnya. Dan yang paling penting adalah harus menjalani proses pencarian jati diri dan adulting tanpa bimbingan siapa-siapa, nggak ditemenin keluarga dan orang-orang yang wajahnya familiar, ternyata susahnya minta ampun. The bottom line is: ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram. Dan ini semua bukan cuma terjadi sama gue. Semua student Indonesia yang gue kenal di Jerman mengalami hal yang sama.

Menghadapi realita, kesulitan, dan keribetan tinggal di luar negeri, tapi masih menjadikan si negara tercinta sebagai topik pembicaraan setiap kali kita ngumpul, menurut gue adalah sesuatu yang harus diapresiasi. Tandanya WNI di sini masih peduli sama kampungnya. Nggak lantas langsung "Bhay!!! Gue udah enak tinggal di Jerman. Gue ogah ngurusin Indo lagi.". Bukan cuma sekedar berdiskusi, in fact kita selalu mencari cara gimana supaya kita bisa bantu sedikit-sedikit sesuai porsi yang kita bisa. Dan yang harus dipahami, setiap orang punya hak dan preferensi masing-masing gimana cara dia berkontribusi untuk negaranya. Ada orang yang lebih prefer untuk mengaplikasikan ilmu yang dia dapet waktu kuliah di Jerman dulu untuk terjun langsung ke sektor-sektor yang masih harus dibenerin. Ada yang lebih prefer untuk jadi orang sukses di Jerman karena toh kayak yang gue bilang berkali-kali, dia adalah representasi negara asalnya. Ada juga orang-orang yang kayak gue, yang memanfaatkan sosial media buat menggerakan anak muda Indonesia supaya bisa proaktif untuk bangun negara. Nggak ada yang salah dengan semua itu. Toh semuanya positif, semuanya bermanfaat, dan semuanya adalah buat Indonesia. Maka dari itu menurut gue sangat childish kalau masih ada orang-orang yang seakan-akan membungkam mulut diaspora dengan embel-embel "belom memberi kontribusi nyata".

Sebenernya ada banyak hal yang orang-orang tersebut nggak pahamin. Wajar, seseorang harus ngerasain dulu gimana tinggal di luar negeri yang sebenernya baru bisa ngerasa relate (tapi kalau gue ngomong kayak gini biasanya sih gue langsung dicap sombong. Yasudahlah, toh gue hidup bukan buat menyenangkan semua orang). Salah satunya adalah kenapa banyak diaspora yang terlihat agak sungkan untuk pulang (for good). Ada satu temen gue yang dulu S2 di Belanda. Sekarang studinya udah kelar dan dia udah balik lagi ke Indonesia. Suatu hari gue chatting sama dia. Ternyata dia lagi galau. Dia kangen sama Belanda katanya. Wajar lah ya, gue ngebayangin kalau gue udah lama tinggal di Jerman terus gue balik ke Indonesia, pasti gue akan kangen. Salah satunya kangen sama Kubideh dan Dรถner Kebab. Tapi ternyata dia bukan cuma kangen negaranya, tapi juga sama kehidupannya. Ada rasa ketakutan dalam dirinya dia. Karena setelah semua pengalaman, cerita, suka, dan duka yang bener-bener jadi pelajaran berharga buat dia, yang dialami hanya sekitar 2 tahun tinggal di tanah Eropa, dia harus balik lagi ke lingkungan yang itu. Lingkungan yang pada kenyataannya kurang kondusif untuk bikin manusianya tumbuh jadi lebih baik. 

Gue sangat paham dengan ketakutan temen gue ini, karena jujur gue juga merasakan hal yang sama. Sesulit-sulitnya tinggal di negeri orang, tempat ini lah yang bikin gue jadi orang yang kayak sekarang. Di tempat ini lah gue bisa belajar banyak hal yang berguna, bukan cuma ngurusin drama politik dan agama yang suka nganeh ataupun gosip artis masa kini. Sebelum gue diserang oleh orang yang sensitif, let me tell you this: gue tau dan gue udah liat sendiri, ada lingkungan-lingkungan sehat dan positif di Indonesia yang pastinya akan sangat suportif terhadap pertumbuhan kualitas gue sebagai individu. Tapi mereka nggak mainstream. Pertanyaannya adalah apakah nanti gue akan cukup kuat untuk nggak keikut arus utama? Apa nanti gue bisa tetap menjaga kualitas percakapan dan cara berpikir walaupun gue dikelilingin sama society yang mayoritas masih superficial? Gue nggak tau apakah gue akan tahan dikelilingi orang-orang yang lebih seneng ngomentarin alis orang lain ketimbang ngomongin sesuatu yang bikin pinter. Gue juga nggak tau apa nanti gue bisa sabar sama orang-orang yang ngomongnya janjian jam 1 tapi baru dateng jam 3. Dan gue juga nggak tau apakah gue bisa tetep di zen-mode ketika mobilitas gue super terganggu dan gue nggak bisa ngelakuin semua yang udah di-plan untuk hari itu karena jalanan di Jakarta nggak bisa diprediksi? Belom lagi gue harus menghadapi situasi yang sebenernya bisa diselesain secara cepat dan efisien, tapi sayangnya Indonesia masih menganut prinsip "Kalo bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?".

Terlebih karena sekarang gue udah memasuki umur 25, gue udah mulai kepikiran tentang keluarga. Gue emang belom nikah, tapi gue udah mulai berpikir di mana gue harus membesarkan anak gue supaya dia bisa tumbuh jadi orang yang kritis dan punya prinsip kuat. Gue aktif di sosmed. Gue suka mengobservasi apa aja yang lagi in di antara remaja dan gimana kelakuan anak muda sekarang. Dari yang gue liat, anak-anak muda yang cemerlang masih jauh lebih sedikit ketimbang yang begitu-begitu. Sekarang aja pergaulan udah makin aneh, apalagi nanti di jamannya anak gue? "Tapi kan itu tergantung orang tuanya, Git.". Ya, memang. Tapi gue pernah ngerasain gimana jadi anak yang tumbuh besar di Indonesia dan gue pun ngelihat sendiri gimana anak-anak yang besar di Jerman. Gue melihat orang tua di Jerman seperti punya kontrol lebih besar terhadap anaknya. Pergaulannya, agamanya, akademisnya, semuanya lebih mudah untuk dijaga dan pengaruh buruk dari luar lebih bisa difilter. Gue nggak tau kenapa, sih.

Selain itu gue juga harus mempertimbangkan kenyataan kalau untuk menjadi fully independent mother (or mother-to-be) di Indonesia itu sulit. Ketika nyokap mengandung gue dulu, dia nggak perlu minta anterin siapa-siapa atau tergantung dengan orang lain hanya karena dia lagi berbadan dua. Belanja bisa dikerjain sendiri, ke mana-mana bisa jalan sendiri karena toh transportasi di Berlin juga sangat mementingkan kenyamanan penggunanya. Juga untuk ibu-ibu yang punya anak bayi. Nggak perlu pake mobil, tinggal bawa stroller mereka bisa jalan sama anaknya. Nggak perlu takut kenapa-kenapa ataupun cemas dengan polusi udara. Taman-taman buat berjemur juga banyak. Bersih pula. Makanan buat si anak juga bisa lebih terjaga karena di sini penjualnya masih punya rasa tanggung jawab. Kita nggak perlu takut sama produk-produk yang ditambahin bahan kimia.

Intinya adalah kalau ada WNI yang nggak mau balik lagi ke Indonesia, gue rasa doi bukannya udah lupa sama negara. Ada banyak pertimbangan yang dia punya, yang kita nggak tau. Menurut gue setiap orang berhak untuk memilih apa pun yang menurut mereka terbaik buat dirinya. And who are we to judge?

Yha, gue jadi ngelantur. Ya intinya gitu, lah. Nyinyirin diaspora yang mencoba untuk memberikan opini dan pemikiran terhadap negaranya itu nggak akan menyelesaikan masalah. Nggak bikin Indonesia jadi maju dan yang pasti nggak bikin orang-orang di Indonesia lebih berhak untuk berkomentar. Berprasangka baik dan mensupport apapun yang udah dilakukan oleh setiap warga negaranya mungkin adalah the best thing to do. Karena kita-kita, diaspora, nggak akan lupa kok sama negara. Mau di mana pun kami tinggal, hati kami tetap Indonesia.
Share:

131 comments

  1. "ternyata hidup sendiri di negara asing itu nggak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram." ternyata bener ya ka! Awalnya gue mikir kayany enak bgt hidup diluar, tapi setelah gue banyak liat vlog dari orang2 yang tinggal diluar karna untuk cari ilmu atau sebagainya, contohnya ka gita, tasya.. yang ternyata bukan cuma enaknya aja disana, yg enaknya pasti ada, tapi kan yg susahnya itu lebih banyak, kaya kehidupan disana lingkungan dllnya. Setelah gue baca2 dr blog ka gita, nonton vlognya.. buat gue pribadi, bikin pemicu diri gue buat lebih semangat lg sih ka git. Makasih banyak ka, elu sangat menginspirasi:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumm gue sampe di sini gue pikir juga hidup di luar negeri itu enak, taunya banyak banget strugglenya hahaha.

      Terima kasih Nur Aini :)

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. I know what you feel Git. Walaupun gue nge-rantau enggak sejauh lu. Tapi gue sangat-sangat tahu, enggak mudah jadi anak rantau. Kadang orang ngeliat dari satu sisi doang, (kayak) yang mereka tahu kuliah di luar kota / negeri itu enak, orangtuanya (yang mereka kira) kaya karena mampu menyekolahkan anaknya di luar kota / negeri, yang biaya hidupnya jauh lebih tinggi dari tempat tinggal asal. Tapi banyak hal yang mereka enggak tahu. Salah satunya gimana caranya kita bisa survive menghadapi semuanya, boro-boro mikir pulang ke rumah, pulang 1 atau 2 tahun sekali aja udah bersyukur.

    Enggak mudah loh, ngadapin berbagai macam pola & tingkah laku manusia yang kadang bikin gue banyak-banyak istiqfar, me-manage uang bulanan yang pas-pasan (HAHA) belom lagi ada yang kerja, berkutat dengan tugas kuliah yang ah sudahlah, beradaptasi dengan lingkungan baru. Orang kek kita ini harus punya prinsip biar enggak terjerumus sama pergaulan yang enggak bener. Tanggung jawabnya gede loh, bukan hanya sekedar mikirin lulus kuliah tepat waktu aja, tapi banyak hal yang mesti jadi pertimbangan ketika hidup jauh dari orangtua. Yang kita jalanin itu, sama aja kayak sebuah amanah. Kalo kitanya enggak bener, yang disalahin pasti orangtuanya dulu dan dari kota/negara mana kita berasal. Didikannya enggak benerlah, inilah, itulah. Terlepas orangtuanya udah ngedidik dengan benar tapi (biasanya) ada aja anak yang nyeleneh karena faktor lingkungan. Orangtua yang menyekolahkan kita jauh dari mereka, pasti punya tujuan, bukan cuma buat keren-kerenan doang karena anaknya bisa kuliah di negara/kota inilah, di Univ A, B, C.

    Dalam keadaan gini aja, kita masih mikirin loh gimana perkembangan negara sendiri, apalagi moral anak remajanya, yang semakin lama makin mengkhawatirkan. Kalo gue dibilang sok tau, kalian sendiri berarti sama aja kurang aware, sampe nggak ngeuh.
    Kalo gue bilang kek gini, pasti masih ada aja yang nyinyir, *ah itukan risiko kalian sebagai perantau, ah bedalah enggak semua orang kayak gitu, ah lu bisanya komentar doang dan lain-lain* *tepok jidat* miris gue.

    Susah, namanya juga manusia, mau sebaik apapun kita, pasti ada pro dan kontra. Balik ke diri masing-masing lagi, gimana cara kita bersikap dan ngadapin hal-hal kek gini, keliatannya sepele, tapi please ini enggak gampang woy. Harus punya stock kesabaran.

    *the real perantau pasti tau gimana rasanya*
    *napa jadi curhat dah hahaha, gue kayaknya muncul muluk di kolom komentar* Maafin kalo bosan liat nama gue.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha ngga bosen kok. Danke yaa udah sharing!

      Btw setuju sama paragraf ke dua terakhir :)

      Delete
    2. Iya gimana sih orang indo. Pemikirannya itu masih pada pendek bener, zonanya itu terlalu nyaman. Kita itu terlalu dimanjakan dgn tontonan yg cuma bisa bikin ketawa ketiwi doang, hiburan itu harusnya ada batesnya gitu loooh. Lah ini justru hiburan doang isinya, jadi ga ada yg bisa diubahnya. Semua sektornya udah salah, jadi kita nih sebagai penerus yg sesuain keahlian kita buat ngembangin semua kekayaan yg kita punya.
      Proud of you ka gita๐Ÿ’‹

      Delete
  5. Setuju banget sama tulisan kak Gita :") Aku pribadi belum pernah, sih, kak, ke luar negeri, hehe (semoga bisalah nanti lanjut study di luar atau jalan-jalan, amin). Tapi menurut aku, orang rantau itu pikirannya bakalan lebih kebuka dibandingkan orang yang cuma tinggal di satu tempat. Orang rantau udah ngalamin tinggal di lingkungan yang beda sama lingkungan asal mereka dan otomatis pikiran mereka bakalan lebih "berwarna" juga. Tinggal pintar-pintarnya aja nyaring mana yang bener buat dia, mana yang nggak bener.

    Aku dari Sulawesi, kak. Kuliahnya dulu di Bintaro, sekarang kerja sama tinggal di Jakarta Pusat :") Padahal baru tiga tahun di Bintaro tapi rasanya udah suka tinggal di sana, sering kangen malah, hahaha. Tapi gara-gara Jakarta macet dan transportasi umum Jakarta yang kurang bersahabat di jam pulang kantor, saya milih tinggal deket kantor daripada di Bintaro.

    Saya sering kangen sama Bintaro, ya, karena emang di tempat kuliah saya itulah saya bisa jadi saya yang sekarang. Yang (rasanya) nggak manja sama orang tua, ke mana-mana nggak minta dianter/ditemenin lagi, apa-apa usaha dulu sendiri. Makanya saya (agak) ngerti sama temen kakak yang rindu Belanda, hehe.

    Aku kagum banget sama pemikiran, kak, Gita. Kadang aku juga suka mikir gitu, kak, cuma nggak berani buat nulis dan taro di medsos kayak kak Gita. Cuma diskusi biasa aja sama beberapa temen yang seneng diskusi.

    Keep inspiring, kak. Maapin kalo komen aku rada curhat^^

    ReplyDelete
  6. Lingkungan Indonesia yg kurang suportif utk perkembangan kualitas individu, mungkin deskripsi itu tepat. Mungkin penyebabnya bukan karena individu yg nggak mau berkembang, tapi faktor lainnya seperti masalah ekonomi, dan maaf, pendidikan yg kurang.Sebenarnya Kak, di Indonesia terutama di desa-desa, masih banyak sdm yg bisa dikembangkan. Namun, karena faktor lain tersebut, jadi mudah menelan Informasi mentah2 dari media.. Mereka belum melek internet, dan mudah terpengaruh opini media yg belum tentu bener. Sementara generasi mudanya, klo pun melek internet, banyak racun di dunia Maya, baik racun pornografi maupun games yg nggak edukatif, padahal ortunya gaptek. Ini saya lagi nggak ngomongin Jakarta Kak git, yg cenderung sangat kecil dibanding kan pulau Jawa apalagi Indonesia. Kk Gita sangat keren memberikan kontribusi bagi Indonesia dengan menjadi representatif Indonesia yg baik. Tapi ayok Kak, kita sama-sama membangun Indonesia lebih baik lagi, dengan mengubah lingkungan ke arah yg lebih baik lagi. Indonesia terdiri dari masyarakat majemuk, yg tingkat pendidikan, ekonomi, budayanya berbeda si setiap daerahnya. Indonesia berbeda kultur dengan luar negeri yg cenderung individualis, kebersamaannya akan sangat terasa terutama di desa. Kak Gita sudah banyak menginspirasi banyak orang, salah satunya saya, untuk meningkatkan kualitas diri. Bayangkan betapa banyak kualitas kehidupan yg akan meningkat apabila Kak Gita bisa berkontribusi langsung ke masyarakat. Tapi memang kadang ada masyarakat Indonesia yg kurang menghargai orang pintar yg mau berkontribusi kak, contohnya kasus pak Habibie, namun saya yakin Tuhan pasti akan membalas kebaikan dgn yg lebih baik... Tetap semangat Kak Gita kuliahnya di Jerman, semoga sukses kuliah akademik dan kuliah kehidupannya :) Indonesia menanti Kak Gita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih setuju banget banget. Sekangen apapun nantinya kakak sama jerman, setidaknya ilmu yg kakak dapet disana tuh bisa bener2 dishare kesini, yuk kita jermankan indonesia. Eh jangan deh indonesiakan indonesia, haha maksudnya apa coba ya..
      Intinya maksud aku, diterima atau nggak nanti kakak disini, bersabarlah.. Karena yg pro juga masih banyak, kita yang pro bakal dukung apa yg akan kakak kontribusikan nantinya secara nyata disini:))))

      Delete
  7. Wow! What a thought, Git. Tetap semangat dan tetap menginspirasi ya :)

    ReplyDelete
  8. Lingkungan Indonesia yg kurang suportif utk perkembangan kualitas individu, mungkin deskripsi itu tepat. Mungkin penyebabnya bukan karena individu yg nggak mau berkembang, tapi faktor lainnya seperti masalah ekonomi, dan maaf, pendidikan yg kurang.Sebenarnya Kak, di Indonesia terutama di desa-desa, masih banyak sdm yg bisa dikembangkan. Namun, karena faktor lain tersebut, jadi mudah menelan Informasi mentah2 dari media.. Mereka belum melek internet, dan mudah terpengaruh opini media yg belum tentu bener. Sementara generasi mudanya, klo pun melek internet, banyak racun di dunia Maya, baik racun pornografi maupun games yg nggak edukatif, padahal ortunya gaptek. Ini saya lagi nggak ngomongin Jakarta Kak git, yg cenderung sangat kecil dibanding kan pulau Jawa apalagi Indonesia. Kk Gita sangat keren memberikan kontribusi bagi Indonesia dengan menjadi representatif Indonesia yg baik. Tapi ayok Kak, kita sama-sama membangun Indonesia lebih baik lagi, dengan mengubah lingkungan ke arah yg lebih baik lagi. Indonesia terdiri dari masyarakat majemuk, yg tingkat pendidikan, ekonomi, budayanya berbeda si setiap daerahnya. Indonesia berbeda kultur dengan luar negeri yg cenderung individualis, kebersamaannya akan sangat terasa terutama di desa. Kak Gita sudah banyak menginspirasi banyak orang, salah satunya saya, untuk meningkatkan kualitas diri. Bayangkan betapa banyak kualitas kehidupan yg akan meningkat apabila Kak Gita bisa berkontribusi langsung ke masyarakat . Tapi memang kadang ada masyarakat Indonesia yg kurang menghargai orang pintar yg mau berkontribusi kak, contohnya kasus pak Habibie, namun saya yakin Tuhan pasti akan membalas kebaikan dgn yg lebih baik... Tetap semangat Kak Gita kuliahnya di Jerman, semoga sukses kuliah akademik dan kuliah kehidupannya :) Indonesia menanti Kak Gita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya dengan membuat video dan nulis blog pun kak gita sudah bisa loh berkontribusi tanpa harus ke indo. setidaknya mengurangi anak-anak alay yang terpengaruh sosmed. Masalah kak gita mau balik ke indo atau ngga pasti dia juga udh punya banyak pertimbangan sebelum itu. Dan bukan berarti ga balik ke indo kak gita ga membangun negeri bersama-sama dengan yang masih di indo. Coba deh artikelnya dibaca lagi, dan nah itu tuh pak habibie contohnya. beliau ga tinggal di indo tapi apa iya lantas beliau lepas tangan dlm membangun indonesia? Pesawat yang kita pake sekarang ada yang rancangan beliau, MAN INSAN CENDEKIA, salah satu sekolah menengah atas terbaik di indo juga dari dia awalnya, bahkan udh berturut-turut toh menjuarai olimpiade indonesia cerdas. Dan saya yakin, tanpa berkontribusi langsung ke masyarakat kak gita bisa menjangkau itu. Apalagi sekarang teknologi sudah semakin canggih. Kita yang didalam negeri juga bisa berperan menjadi agen distributor. Yaitu menyalurkan opini kak gita ke desa-desa yang masih minim pengetahuan dan teknologi. Akhirnya semuanya bisa sama-sama efektif toh.

      Delete
  9. As usual....selalu kritis, dan langsung ke inti. Btw, gue lebih suka cara pemaparan lo yang nyablak kali Git. Karena emang itu faktanya dan tiap orang emang punya pikiran beda. Isi otak manusia kan ngga homogen jadi wajar dong kalau ada yang beda pendapat, dan ada yang beda cara untuk nunjukin kontribusinya dia buat negara.

    Emang harus ya koar-koar ke semua orang...."ini lho gue udah aksi nyata buat negara."(?) Kok lucu sih? Gue jadi gemes ama yang komentar, "Emang lo udah berbuat apa buat Indonesia?" atau sebangsanya itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Wahyu :)

      Gue pun kurang paham sama yang begitu-begitu :'

      Delete
  10. Nah iya kak. Pada kenyataannya orang2 ga bisa terima ketika kita bilang kita ga mau balik ke lingkungan asal kita tanpa tau alasan-alasannya. Langsung aja mereka mikir kita ga peduli (walopun skalanya beda sih sama kak Gita, yang aku dan beberapa orang terdekat aku rasain masih antarprovinsi atau antarkota)

    Tapi ya intinya begitu, pertimbangan-pertimbangan yang kita pikirin padahal mungkin lebih 'make sense' daripada prejudice2 mereka hehe

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Deg degan mulu kalo baca vlognya ka gita hehe๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
  13. Haha iya git bener. Bude gue aja yang tinggal di Aussie, baru balik lagi ke Indo setelah 20th dan itu pun cuma sebentar, bukannya karena ga cinta atau kangen Indo, pastilah dia kangen, tapi yang bikin dia ga betah tinggal di sini lagi, menurut gue mungkin karena lingkungannya, yang di luar dia udah terbiasa disiplin, udah terbiasa apa-apa teratur, yang kalo ngobrol tuh bahasannya berisi, ga cuma haha hihi ngobrolin ga penting, udah berubah jadi open minded beneran (bukan sok di open minded-in alias salah kaprah cuma ngikutin cara gaul/cara pakaian orang barat). Walaupun sebenernya banyak orang Indo yang "bener", tapi ya gitu ketutupan sama yang "ga bener". Mungkin bude gue semacam udah terlalu lelah aja buat ngelandenin yang "ga bener" nya itu. Gue sekarang filter temen aja susah banget, yang bisa diajak bener bareng, maju bareng, yang bikin nambah pinter, pengen banget ga keseringan kongkow cantik haha hihi, tapi kalo circle friends nya masih begitu, kan ujungnya belok lagi :(( belum lagi kalo ketemu sama yang suka banget nyampurin idup orang, kepo tapi keponya bukan buat sesuatu hal yang bikin pinter, tapi lebih kepo urusan pribadi orang :((

    ReplyDelete
  14. Yg aku pahami ttg kontribusi itu bukan sekedar apa yg terlihat ke orang banyak. Bisa jadi org yg keliatannya dirumah terus nggak ngapa2in, tp dia bikin startup dan menjalin relasi banyak orang? Kan bisa jadiii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belajar yang rajin aja udah kontribusi. Sesederhana itu

      Delete
  15. Setuju dengan pendapat Kak Gita. Pada dasarnya toh tidak ada peraturan yang mengharuskan setiap orang untuk selalu tinggal dan memilih negara asalnya. Buat saya, nggak apa-apa ketika ada orang yang males atau capek atau nggak tertarik atau benci banget sama tanah airnya sendiri sampai dia memutuskan untuk pergi ke negara lain dan mungkin juga ganti kewarganegaraan. However, we had never gotten the chance to choose where we should be born to begin with. Semakin kita tumbuh dewasa, semakin kita tahu dan mengerti, bahwa mungkin tempat kita lahir dan hidup selama ini tidak sesuai dengan preferences yang kita punya, dan pengaruh yang membentuk preferences itu bisa dari mana saja. Kalau kita mau pergi dan pindah selamanya, buat saya itu oke-oke saja. Yang penting, di mana pun kamu tinggal, kamu jadi manusia yang berguna dan berbakti untuk sesama makhluk hidup dan tentu saja untuk negara yang sudah kamu pilih.

    Soal "kontribusi nyata", belum lama ini akun Twitter Kemdikbud membagikan link ini: http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/02/pengiriman-tenaga-pengajar-bahasa-indonesia-bentuk-diplomasi-lunak. Menurut saya, artikel ini sedikit-banyak dapat menjelaskan "kontribusi nyata" seperti apa yang telah dan bisa dilakukan para diaspora. Di situ tertulis, "Mendikbud mengatakan, pada dasarnya hubungan antarnegara adalah diplomasi, baik diplomasi keras maupun diplomasi lunak. Diplomasi lunak dapat dijalankan dengan memperkenalkan budaya Indonesia kepada negara lain, salah satunya melalui bahasa Indonesia. Namun, ia berharap para pengajar BIPA tidak hanya bisa mengajarkan bahasa Indonesia di negara tujuan, melainkan juga menjadi pejuang diplomasi lunak dengan aktif memperkenalkan budaya dan nilai-nilai karakter Indonesia." Dari situ saya berpikir, yang namanya "kontribusi nyata" itu tidak melulu harus dalam bentuk kegiatan, posisi/jabatan, ataupun piala/medali. "Memperkenalkan budaya dan nilai-nilai karakter Indonesia" juga sudah merupakan kontribusi.

    Saya mendukung Kak Gita mengubah persepsi orang-orang tentang diaspora dan kontribusi mereka untuk Indonesia. Saya sendiri sedang menjalani voluntary program di Makati, Manila, Filipina dan ketika terjadi masalah di tempat saya kerja, mau tak mau nationality ikut dipandang. Seperti yang sudah Kak Gita bilang, kita yang merantau ke luar negeri adalah representasi dari negara asal kita. Jadi dengan menjadi orang Indonesia yang baik di negeri orang, saya rasa itu sudah bisa dibilang kontribusi.

    Semangat terus ya, Kak Git. Salam dari Makati :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepat!

      Btw have fun volunteering, ya! Semoga lancar sampe programnya berakhir :)

      Delete
  16. Kak Giiit, I can totally relate to this. SO MUCH. Padahal aku cuma tinggal di UK selama enam bulan, tapi karena udah terbiasa dengan kehidupan tanpa orang-orang kepo, ngurusin hidup orang lain, nggak memikirkan apa yang lagi on trend dan sebagainya; rasanya nggak bisa move on selama berbulan-bulan dan kangen kehidupan waktu di UK. Waktu cerita ke temen soal ini malah dibilang nggak nasionalis, tapi bener kata kak Git nobody will understand until they have to face it on their own.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman yang didapet bener-bener bisa jadi life lesson banget, ya. Hmm, semoga makin banyak orang dapet kesempatan untuk nyobain tinggal di luar biar paham rasanya :')

      Delete
  17. Sangat menginspirasi kak Gita. Ini tema tulisan yang aku tunggu-tunggu banget karena penasaran bgt bagaimana pandangan dari orang yang udah merasakan bagaimana hidup diluar negeri. Duka itu jelas pasti ada, tetapi aku melihat dari segi benefit yang kita dapet di luar negeri itu besar banget. Membuat aku berpikir dengan kita menjadi pelajar di negeri orang dan belajar dengan sungguh-sungguh di sana juga merupakan kontribusi yang besar bagi negara loh! Semoga aku bisa studi S2 di sana biar juga bisa merasakan suka dan duka menjadi seorang Diaspora :)

    ReplyDelete
  18. (sebelumnya maaf saya lebih suka nulis sbg anonim)
    sebagai diaspora juga, saya mengalami hal yang sama, setiap komen ttg tanah air selalu dianggap jahat dan benci negeri sendiri. ngga papa. tapi saya nyadar kok, saya banyak nemuin hal-hal aneh itu semua justru setelah saya keluar dari indonesia, sementara sebelumnya semua hal2 negatif itu (yg gue setuju bahwa itu ngga kondusif buat perkembangan anak) saya anggap normal-normal aja.
    Juga saya setuju bahwa ngga selamanya tinggal di luar negeri itu enak. Sayang sekali stereotype yang tercipta sudah terlanjur melekat bahwa orang yang kerja di luar negeri itu duitnya banyak (saya disini full professional, bukan pelajar), mereka ngga tahu bahwa untuk hidup disini itu berat buat survive. Bisa bertahan hidup dengan keluarga sudah syukur, kalo bisa nambah nabung alhamdulillah. Terbukti, tiap mudik dan kumpul temen ato keluarga, dan giliran ada acara bayar di kasir, semua mata melotot ke saya...hahaha.
    Bisa hidup di luar itu rejeki Allah, yang tidak selalu berupa uang. Ada kesempatan tinggal di negeri dengan budaya yang berbeda itu anugerah. Life lesson buat anak-anak, yang ngga bisa dinilai dengan materi. Kesempatan untuk memproteksi anak2 dari pengaruh buruk lingkungan sekitar itu juga anugerah yg mahal.
    Mengenai sudah berbuat apa untuk negara? masing2 individu bisa berkontribusi dengan cara apapun dan dari titik manapun di dunia ini.
    Tetaplah 'pedas' dan menginspirasi Git =)
    -Doha,Qatar-

    ReplyDelete
  19. Aku bermimpi dan berharap, segera dipertemukan dengan lingkungan dengan cara berpikir seperti kamu di Indonesia. Disini, di tempat ku tinggal, terlalu banyak masalah yang sebetulnya sangat mudah untuk dipecahkan, namun karena terlalu banyak kepentingan "nggak masuk akal" , jadi mbulet susahnya, wkwkwk. Tetap liar dalam berfikir Git, jangan redup! Dan, selalu aku tunggu setiap bulir lecutan dalam tulisan mu. Aku mau sok2 an make english, tapi nggak bisa, wkwk. *angkat topi*

    ReplyDelete
  20. Siapa bilang kak git gak memberikan kontribusi nyata? Buktinya gue yang notabenenya gak pernah keluar negeri dan menghadapi lingkungan seperti yg dihadapi kak gita, mulai ngerubah dan sadar pola pikiran negara maju tu kayak gimana, dan juga baru sadar society diindonesia khususnya dikalangan mahasiswa masih jauh tertinggal, kebanyakan pembahasannya gak bikin pinter.

    Terimakasih kak git, sumbang pikiran kakak di blog ini banyak membuka pikiran orang lain khususnya aku sendiri.

    Pokoknya semangat terus kak git
    (Walaupun mungkin gk dibaca komentar ini)

    ReplyDelete
  21. Cepet balik ke Indo git. Acara Hitam Putih udah menunggu HAHA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaa ampe gak kepikiran diundang acara hitam putih,, bener tuh ka gita wkwkwkwmkw:) judulnya antara mahasiswi asal indo di jerman mirip kim ji won sm mahasiswi jerman asal indo yg menginspirasi kaum muda.. Wkwkkw

      Delete
  22. hallow ka git, bingung sebenernya mau bilang apa,hehehe. entah apa yg terjadi di indo, seberapa parah dan kacaunya skrg, indo butuh perubahan terutama dr anak mudanya, banyak hal yg harus di perbaiki dan dibenahi. disadari juga banyak cara yang bisa di lakukan yg penting semuanya ikut bergerak termasuk yg ka git lakukan. stlh byk belajar, di tempa dan di didik menjadi manusia yg berkualitas, harapannya selain bisa berkarya di sana, bisa berkarya juga di indo. bukan untuk mengikuti, tp u masuk dan ikut merubahnya. tp lagi sblm bener2 terjun harus bener2 yakin dan berprinsip kuat.

    salam semangat ka git.

    ReplyDelete
  23. Salah satu prinsip yang bisa dipelajarin dari orang luar adalah mereka full time learner, dimana belajar bukan cuma untuk menghadapi UN dan ujian terjadwal lainnya, melainkan belajar adalah tugas seumur hidup dan setiap waktu. Semoga Indonesia dan manusia2 didalamnya, terutama remajanya (termasuk saya) bisa lebih mengedepankan kualitas dibanding sekedar "ikut-ikutan trend" aja. Semangat menginspirasi terus ka gita :)

    ReplyDelete
  24. Selalu suka dengan tulisan kak Gita! Semoga selalu menginspirasi ya kak!

    ReplyDelete
  25. Gue lahir di indonesia besar di indonesia dan masih tinggal di indonesia pun BELUM PERNAH BERKONTRIBUSI NYATA buat INDONESIA, sebenernya bingung juga maksud dari berkontribusi nyata tuh kayak gimana dan harus bagaimana supaya kita bisa dianggap "BERKONTRIBUSI NYATA" sama orang-orang, btw menjadi diaspora berarti kita berbicara tentang jarak. sama aja kayak orang-orang yg ngerantau ke kota besar. banyak juga mereka yg kuliah di kota besar dan pada akhirnya gak kembali lagi ke kampungnya. so ketika lo berfikir untuk tetep tinggal di jerman dan gak balik (dulu) ke indonesia menurut gue bukan masalah yang besar dan harus dianggap sebagai masalah dan malah gak harus mempertanyakan nasionalisme lo sendiri. karena Diaspora = Perantau Hahaha

    ReplyDelete
  26. Gita, kalo kamu nulis buku pasti aku beli! hahaahhah..

    ReplyDelete
  27. Nggak usah jauh-jauh yang di Jerman, Git. Masih ada kok sesama orang Indonesia di sini yang memandang profesi yang lain daripada profesinya tuh kurang "berkontribusi". Jadi PNS/orang DPR misalnya, masih ada aja yang bilang kerjanya cuma duduk, rapat nggak jelas, nggak ngapa-ngapain. ((ya wallahu a'lam ya mungkin memang ada yang begitu jadi kerjanya nggak niat asal-asalan, but believe me, PNS yang bener kerjanya nggak "gitu doang" kok)) Sebagian orang belum terbiasa buat melihat suatu hal dari sudut pandang lain, yang mungkin bisa aja ada nilai positifnya. Sementara "nilai positif" yang orang-orang ini bisa ambil paling gampang ya dari segi materi/fisik. Kalau nggak bikin tambah kaya/ngga ada perubahan yang kasat mata, ya nggak berkontribusi. Jadi inget di satu video "Tentang Jerman" kamu lupa eps brapa, orang Indonesia masih sekedar kerja keras cari duit buat hidupin keluarga. Mikirin hidup sendiri udah susah, apalagi buat memperluas wawasan soal "kontribusi nyata". Agak nggak banyak nyambung sih sama topik diaspora kamu, tapi kurang lebih gitu lah Indonesiamu ini, Git. :)) Didoaken saja semoga yang nyinyir begitu cepet dewasa dan dapet kesempatan ngerasain susahnya hidup di luar negeri.

    ReplyDelete
  28. setuju banget kak gita. nah sekarang yang harus tenarkan yah budaya untuk ngobrolin hal-hal yang lebih penting ketimbang bahas masalah artis, ikut tren-tren yang malah menjerumas dan tidak memberikan dampak baik.

    ReplyDelete
  29. Being a diaspora myself, I can definitely relate to this. Even though I've only lived in oz for less than a year, I feel like I've grown much more than in the past years living in Indonesia. Bener banget kalau lingkungan sangat berpengaruh terhadap cara kita berpikir dan bertindak. The way I see it, as long as I can absorb the good and ignore the bad while living here then why not? Kadang sedih sih waktu orang tanya tentang pengalaman sbg diaspora dengan pertanyaan yg cukup "close minded". I'm forever wishing that our people will grow past that way of thinking. Aaand I don't know abt u, but lately I've been thinking on how to "improve" Indonesia and esp its people. Anyways it's a great article thanks for sharing it! :D

    ReplyDelete
  30. WOW SAYA SANGAT SUKA๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š

    ReplyDelete
  31. Gita! Akhirnya memberanikan diri buat comment. Hehe.

    Gw selalu ngerasa sepikiran sama lw git, tetapi gw belum berani buat share di medsoc. Tiap baca tulisan lw itu kaya udah diwakili semuanya, bahkan untuk nyablak2nya *lol. Seriously, gw yakin sebenernya banyak orang kaya gw, satu pemikiran sama lw, kritis akan sesuatu tetapi masih bingung bagaimana menumpahkan semuanya di socmed dan orang bisa baca dengan yang kita pikirkan.

    I'll be your loyal blog reader.
    Once again, thanks a lot git!

    Eh iya, menurut gw tulisan ini dan kemarin-kemarin yang lw post itu kontribusi nyata loh, kali aja ada anak yang begitu-begitu aja pas liat tulisan lw berubah jadi "sesuatu" yang lebih :D

    ReplyDelete
  32. Hai kak, saudara gue ada jg yg tinggal di Dรผren-German udah puluhan tahun dan dia selalu cerita susahnya hidup di German. Gue tadinya biasa aja kyk mikir "apa sesusah itu?" Ehh gak taunya gue liat vlog2 diaspora Indonesia pada rata2 menjelaskan hal yg sama. Gue jd nyesel sendiri sih krn dulu sempet di tawarin ke sana dan di jadiin kyk anak angkat gitu (krn gue masih di bawah umur katanya jd sistemnya hrs kyk gitu. Gak ngerti jg) tp malah gak mau krn waktu itu di tawarinnya pas gue masih SMP. Tapi gue agak nyesel sih krn gue gak bisa belajar mentalitynya org sana yg kyk lo bilang kak. Orang2 di Indonesia bilang gue itu org yg "cuek" hanya krn (kalau gue perhatiin) gue gak pernah mau peduli sm urusan pribadi orang (misal : heboh si A putus sm si B) atau yg gue pikir emg bukan kapasitas gue utk ikut campur masalah org lain. Gak tau kenapa gue ngerasa orang2 di sekitar gue itu hobby bngt ngurusin hal2 sepele, padahal negara lg butuh2nya sm perubahan yg lebih baik. Gue jg tipikal org yg hobbynya diskusi tentang keadaan negara saat ini, krn itu kyk jd makanan aja utk otak gue dan gue pernah mau nyoblos ketemu ibu2 dan bilang : "Dew milih siapa tadi? Ah anak muda mah asal milih aja kyknya, yg penting nyoblos" ngedenger dia ngomong rasanya abvxcghs. Smp apa yg gue coblos aja niat bngt pengen di komentarin, padahal gue milih pemimpin yg udh bener2 gue liat profilnya bukan cm kampanyenya aja. Dan gue bisa bedain banget sih kelakuan org2 sekitar gue yg ketemu sehari2 sm kelakuan saudara gue yg diaspora itu kalau lg main ke Indonesia. Dia lebih bisa menghargai segalanya termasuk hal2 kecil dan masih tetep Indonesia pisan (krn kalau di German jg ngomongnya masih bhs sunda :) ). *sorry jd campur cerita. Ya intinya semangat utk semua diaspora yg sedang menjadi representasi negaranya (khususnya mahasiswa/i), semoga bisa pulang ke Indonesia dan jadi pemimpin biar bisa mengubah apa yg memang sdh seharusnya di ubah, maju terus! Dan berhubung kita cm punya dua tangan mending di pake utk tutup kuping aja krn kita gak akan bisa ngebungkan mulut bnyk org yg kerjaannya cm ngomong negatif aja.
    Semangat skripsi nya jg kak Git ๐Ÿ˜‰

    ReplyDelete
  33. Setuju banget kak. Sekarang ini di indo masih sedikit remaja yang punya pikiran maju dan mau berkembang. Dan itu aku rasain banget di masa2 kuliah ini. Disaat kita mau berkembang tapi orang disekitar kita masih blm berpikir ke arah sana. Kerasa banget sulitnya melawan arus yang mana arus itu udah jadi kebiasaan. Semoga makin banyak anak-anak muda yg mulai berpikir maju, dan mulai banyak hal-hal positif yg kita kerjain sehingga bisa menginfluence byk org buat jadi positif juga.

    Semangat terus kak gita. Sukses skripsinya ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  34. Pertanyaannya " Kontribusi nyata" itu apa sih? Yakin da, itu yang komeng " Bisanya ngemeng doang, aksinya gak ada" aslinya juga belum sepenuhnya berkontribusi. Bahkan buat dirinya sendiri. Buktinya masih suka nyinyir.

    Mungkin buat berkontribusi itu istilahnya ada tahapannya, " Perbaikin diri dulu, lalu negara, lalu dunia ".

    Kontribusi gak harus koar-koar udah ngelakuin apa, yang penting manfaatnya bisa dirasa. Ngebetulin pola pikir, atau istilahnya ngasih pola pikir baru buat pemuda-pemudi dengan ngevlog positif kek vlog Gita udah macam kontribusi keles.

    Di dunia ini pasti adaaaa....aja orang yang kritis tapinya jadi skeptis dan berujung nyinyir. Gue rasa Gita udah lebih tau itu dari pada kebanyakan orang disini. ;)

    Barakallah Gita buat tulisan-tulisannya, dan karya-karyanya.

    ReplyDelete
  35. Salam Gita

    Gue salut banget sama pengalaman Gita yang lebih maju beberapa langkah daripada gue, padahal dari segi usia lebih muda Gita. Itu semua sih gue pikir ya karena pengalaman Gita di Jerman.

    Mau di luar negeri, mau di dalam negeri hidup pasti ada enak dan enggaknya dong. Cuman kalau gue pikir hidup di luar negeri banyak plus-plusnya, kalau di Indonesia ya banyak plusnya. Segimana jalan hidup yang mau diambil, tantangan yang mau diambil.

    Lagian pertanyaannya "kontribusi nyata' yang dimaksud banyak orang apa sih? yang gue yakin, kebanyakan juga masih bertanya-tanya kontribusi nyata yang udah dia kasih buat negera ini apa sih? pengennya kontribusi dalam sekala besar, sekala sebesar kerikil gak diakuin atau dipandang, bahkan dirasa sama dirinya sendiri.

    Gue seneng ada penggiat medsos kek Gita, kek Wirda Masur, yang isinya berbobot gitu. Walau ada beberapa yang berbeda pandangan, ya itu malah memperkaya pengetahuan aja. Ternyata ada orang yang berbeda pandangan, berbeda sifat sama kita. Dan iniloh menurut gua yang contoh kontribusi positif, jangan negatif, buat anak baru gede Indonesia. Yang disuguhi pola pikir berbeda dari mereka, yang ada memberi tahu ini yang bener loh....

    Orang yang terlalu kritis sampe jadi skeptis selalu ada kok Gita, mungkin Gita lebih tahu dari pada kita-kita hehe

    Barakallah Gita buat tulisan-tulisannya dan karya-karyanya :)

    ReplyDelete
  36. Wahh! suka bgt sama pemikiran nya kak Gita,aku masih SMA dan insyallah taun ini akan kuliah, baca ini jd terbuka gitu gimana rasanya jd anak rantau (karena mungkin kuliah nnt bakal jd anak rantau juga), Thankyou kak Gita! inspirasi sekali❤️

    ReplyDelete
  37. Kak git share dong gmn pendapat kakak tentang pertikaian politik antar politikus yang menyangkutpautkan masalah agama?

    ReplyDelete
  38. yappp, just be yourself.
    kita ga hidup untuk menyenangkan semua orang, haha bener banget. ga semua orang punya pola pikir yang sama, toh ujungnya kita bertanggung jawab sama kehidupan kita masing-masing. klo bisa jadi dampak positif buat orang lain, ya syukurlah, klo ngga yah setidaknya jangan merugikan oranglain. klo tiap orang bisa punya kesadaran dalem dirinya untuk bertanggung jawab aja itu udah berguna banget.
    tetap semangat ka gita :) , anw awet mudah banget loh yaa ganyangka umurnyqa udah 25 .

    ReplyDelete
  39. setuju banget sama kak gita.
    Indonesia ini masih perlu peningkatan SDM-nya supaya orang-orang yang close minded berkurang, sayangnya mereka yang educated karna hal tsb jadi kelihatan noneducated, bukan sok-pintar tapi keadaannya memang begitu. lagipula banyak orang yang tinggal di Indonesia justru gak peduli sama kondisi negaranya sendiri justru malah memperburuk keadaan, percuma kalau ada berbagai "percontohan" tapi cuma buat dapetin gelar aja. banyak orang yang hanya bisa berkomentar karena merasa mereka benar dan gak menghiraukan pendapat orang lain. entah kenapa dulu aku sempat benci sama negaraku ini, dari masalah yang ada, dari kesalahan yang ada. terlebih lagi kekayaan negara ini yang sama sekali gabisa seluruhnya dinikmatin oleh tuan rumahnya sendiri. tapi dari kebencianku itu aku punya semangat, supaya aku kelak bisa membangun negara ini dimulai dari kota-ku sendiri. aku rasa kita udah lupa sama jati diri bangsa sendiri, kita lupa gimana menyaring budaya yang masuk. persatuan dan kesatuan kita mulai luntur, pihak lain yang mendapatkan keuntungan.

    semangat kak! jangan pedulikan mereka yang hanya bisa mencaci, nanti biarkan hasil dari usaha kakak selama ini yang menampar keras mereka

    ReplyDelete
  40. emang ga munafik kalo orang Indonesia yang udah lama tinggal diluar negri bakalan ketagihan untuk tinggal di sana, toh emang apapun yang ada di sana lebih men-janji-kan ketimbang di sini. dan kita emang ga punya hak untuk menjudge siapun karena apapun. gue sebagai orang yang dari lahir ada di indonesia pun ngerasa belum melakukan "kontribusi nyata" yang orang banyak bilang hehe, gue juga gatau gimana caranya ngerubah indonesia ini menjadi negara yang mempunyai jiwa jiwa yang kritis dan berprinsip, it's start from our self. "Berprasangka baik dan mensupport apapun yang udah dilakukan oleh setiap warga negaranya mungkin adalah the best thing to do" gue setuju untuk menerapkan ini, ya karena gabanyak hal yg bisa kita (sebagai remaja) lakukan, apalagi "kontribusi nyata". -LA17thn

    ReplyDelete
  41. Pulang ka, jadi motor pergerakan nyata untuk perubahan indonesia ini. Kita bisa bikin forum buat yg sepemikiran dan sevisi untuk memajukan dan memperbaiki indonesia kemudian bergerak untuk memberikan kontribusi nyata. Agar diskusi dan kritikan tidak hanya sebatas dibibir dan pikiran saja, tapi ada dipergerakan tangan kita, langkah kaki kita dan tarikan napas kita :) terima kasih untuk tamparanmu kak, seketika kami tersadar

    ReplyDelete
  42. Susah memang setelah dari lingkungan yang mampu meningkatkan kualitas lalu turun karena harus kembali ke tempat asal. Emang susah kayak aku sekarang, walau gak sampe ke luar negeri kuliahnya. Tapi aku dapet kesimpulan kak git, setelah berpikir ternyata konsistensi kita meski dilingkungan berbeda apakah kita tetap bisa menjaga kualitas bahkan menularkan kualitas atau malah ikut terjerembab pada lingkungan.

    Btw makasih kak git udah menginspirasi lewat vlog maupun blog. Semoga bisa istiqomah, semoga bisa menular ke yang lain buat semakin banyak orang yg positif

    ReplyDelete
  43. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  44. tentang kontribusi kepada negara. emang knp kalo planet bumi ini tanpa negara? apakah hidup manusia akan smerawut? emang knp kalo Pak Trump jd presiden indonesia?
    apakah pribumi indo akan lenyap? apakah islam akan hilang? apakah Tuhan YME langsung menyudahi ajaran agama Islam begitu saja?
    emang nanti di alam kubur ditanya kamu KTPnya dr mana? negara kamu apa? bangsa kamu apa? waktu kamu hidup presidennya siapa? gubernurnya muslim ga?
    apakah bumi tanpa negara ga bisa berkembang sprti sekarang? apakah tanpa negara, bangunan, kendaraan bermotor ga akan pernah ada? apakah tanpa negara ilmu kedokteran ga akan hadir untuk
    mengatasi berbagai penyakit? kenyataanyan itu semua ada dr individu2 yg ga terkait dg teori Kewarganegaraan, kekuasaan dll. negara menurut gw hanya formalitas tentang batas wilayah dan
    kebijakan2 aneh (kalo di Indo),yg kalo ga diikutin pun tetep bisa hidup, seperti suku dayak, suku baduy dll. Jkt punya bus transJkt, yg buat juga bukan warga indonesia sendiri,
    malah dr perusahaan di tiongkok. bukan juga negara tiongkok.

    knp negara harus capek-capek buat UU kalo hanya kebanyakn untuk kekuasaan dan birokrasi??
    Padahal Alqur'an, hadist dan sunnah Rasul udah DETAIL BGT untuk jadi pedoman hidup manusia. sampe-sampe cara pake baju diajarin dr yg kanan dulu, kalo lepas
    baju dr yg kiri dulu.

    knp harus capek-capek perang, ciptain senjata yg canggih-canggih kalo buakan buat kekuasaan dan ujung-ujungnya duit.
    Rasulullah dulu perang buat bela agama Islam dan survive untuk ga wafat dulu sebelum islam diajarkan sepenuhnya dan disebarkan. bukan buat kekuasaan dan harta. kalo udah waktunya meninggal
    ya udah takdirnya begitu, sekarang gmn kita aja yg bisa manfaatin waktu untuk bisa bermanfaat sama org lain.

    knp harus capek-capek dgn buat birokrasi yg 'TEBEL' dan ga rasional kalo ga diikutin pun manusia tetep bisa hidup.

    gw sarjana interior design, dulu diajarin teori-teori tentang problem solving di dlm ruangan,semuanya terukur dan masuk akal, TAPI PLISS MEN..., MANUSIA ITU MAKHLUK TUHAN YG PALING
    FLEKSIBELga sesuai teori pun manusia tetep bisa hidup, org zaman dulu hidup dihutan tetep bisa bertahan hidup dengan akalnya yg kreatif,
    tanpa buat aturan baru dr UU dan ikutin Alqur'an, Hadist dan sunnah
    (zaman sekarang ya kali masih ansos sama ajaran AGAMA) sudah di jamin sama Rasul kalo hidupnya akan lurus.

    menurut gw kontribusi untuk negara itu ga cocok sama sekali dg prinsip hidup gw, KAN SEBAIK-BAIK MANUSIA ITU ADALAH MANUSIA YG BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN BAIK ITU ORANG DI KELUARGA, TETANGGA
    SEBANGASA ATAU TIDAK, BERBEDA WARNA KULIT, BERBEDA JENIS KELAMIN, BERBEDA AGAMA pun kita bisa berkontribusi memberi manfaat kpd mereka. baby step... yg ada di sekitar kita yg sedang kesusahan
    bantu dahulu, gausah mikir sebesar bangsa kalo tetangga sendiri masih kesusahan.

    bahkan menurut gw cita-cita gw yg paling ekstrim adalah secepatnya pindah kewarganegaraan ke negara yg menurut gw sudah matang sistemnya di segala bidang.
    toh juga gw kalo ga tinggal diindonesia ga dosa, kalo tetep jadi warga negara indo belum tentu juga masuk surga atau neraka,
    zaman skrg keluarga dah harusnya bukan masalah lagi buat gw. teknologi dah canggih. tinggal bberapa org aja yg masih baper
    kalo ga tinggal deket keluarga.keluarga bisa bantu dimana aja, bisa bantu moril amupun materiil dimanapun kita berada. (ISTJ)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komen paling keren yang ada di tulisan ini menurut gue. Ya meskipun ga semuanya gue setuju sih.

      Delete
  45. Apapun itu alasan kenapa aku rasain hidup Rantau beda pulau gini, jauh dari keluarga, teman, sahabat, alone, nerima suasana baru, kultural baru, semua serba baru.๐Ÿ˜‚ apa lagi kak Git yg lagi tinggal jauh di Jerman thank u kak, inspirasi sekali kata":"uang di atm hari ini" ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  46. Pertama.. suka banget sama pembahasan ka gita yang satu ini..
    Aku jadi bisa liat sisi lain dari ka gita. Cara ka gita ungkepin pemikiran lewat tulisan pun makin ada kemajuan [jempol]

    Kedua..
    Terkait topik, memang ini tantangan buat kita yang kritis ka.
    Kita yang berasal dari tanah air yang begitu kaya, saking kayanya tantangannya adalah orang-orang yang masih terlena dengan hal yang ga penting. Mengomentari tanpa memahami, mendewakan sesuatu yang bikin diri sendiri rugi.
    Kak gita yang sabar ya, mudah-mudahan usaha kakak untuk menginspirasi kaum-kaum muda Indonesia sukses :) :D


    Salam hangat
    Gea ^^v
    Padang,Sumatera Barat.

    ReplyDelete
  47. Hai kak Gita, gue pribadi (sangat) setuju sama apa yang dituliskan disini. Terkadang gue sendiri capek melihat orang-orang disini, tapi bagaimanapun selelahnya gue menghadapi orang-orang yang "tidak normal" itu, gue mungkin adalah "minoritas" yg berfikir berlawanan dari mereka, jadi gue gabisa menyampaikan opini gue.

    Gue sangat senang ternyata ada orang yg berfikiran sama dengan gue. Sejujurnya gue juga punya blog dan gue mau post di blog mengenai apa opini gue tentang Indonesia, tapi gue takut, gue takut bahasa gue yang aslinya nyablak ini juga, malah menyakiti hati orang atau sekelompok orang.

    Jujur, disuatu titik gue bener-bener mau menimba ilmu saja di negri orang, biar tau rasanya rindu negara sendiri. Tapi sejauh ini gue berfikir, mendingan gue jalani hidup gue dengan ideologi gue sendiri, biar gue bisa tetap menikmati kehidupan gue disini.

    HAHA JADI CURHAT.
    Btw, jangan takut, karena masih banyak orang yang bisa berfikiran sama Kak Gita. Dan terimakasih lo adalah satu-satunya YouTuber yang menginspirasi gue untuk menjadi orang yang cerdas (mengenai pengetahuan-pengetahuan dunia) daripada menjadi generasi salah fokus :)

    ReplyDelete
  48. Akhirnya gue dapet pencerahan juga dari perpektif yang berbeda.
    Ya... gue sendiri setuju banget sama apa yang lo tulis kak Git..! Gue sendiri juga pernah ngerasain apa yang kak Gita rasain, walaupun gue gue belum pernah tinggal di negara orang. Tapi gue pernah ngerasain hal yang sama di lingkungan gue tinggal dan itu di indonesia sendiri. Gue tinggal di lokasi dimana orang gampang ke distrike dengan media. Kebanyakan mereka menerima informasi secara ditelan mentah. Dan itu terjadi tidak hanya di lingkungan pendidikan rendah saja. Bahkan orang yang berpendidikan tinggi juga gampang banget ke-distrike dengan dramatisasi yang dibuat oleh media. Yang lebih aneh menurut gue, mereka merasa menjadi orang yang benar dengan informasi yang belum tentu kebenarannya dan gue sebagai seorang yang bisa dibilang kritis kalo melihat suatu hal dianggap sebagai orang yang salah, gue dianggap sebagai orang yang sok tahu.
    Terlebih lagi lingkungan remaja seumuran gue. Mereka lebih suka ngobrolin para artis ketimbang ketimbang ngomongin apa yang baik untuk negeri ini. Mungkin mereka udah capek dengan permasalahan yang dibuat oleh para petinggi negeri ini. Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi kepentingan golongan mereka sendiri - sendiri. Ada juga yang tidak peduli sama sekali.
    Anehnya lagi orang - orang yang kaya gitu lah yang suka komen - komen nyinyir. Merasa sok benar dan menganggap yang lain salah. Merasa bisa memberi perubahan untuk negara.
    Tapi apakah dibenarkan menjudge orang seperti sampah dengan bahasa yang seperti sampah juga?
    Apakah dibenarkan nyinyirin orang dikolom komen dengan seenak jidat?
    Kenapa nggak dibuktikan dengan karya atau gerakan yang real?
    Dari pada buang waktu dan tenaga cuma untuk komen nyiyir mending buktiin aja omongannya benar apa salah. Buktikan lewat karya jangan cuma ngomong.
    Talk less do more
    Cot less create more

    Semoga saja gue bisa nemuin lingkungan dengan orang yang punya pemikiran kaya kak Gita. Biar gue bisa diskusi secara sehat.. hehe...
    .
    .

    ReplyDelete
  49. Topik ini selalu menarik.
    Jangan jauh-jauh dengan perantau ke luar negeri, di Indonesia pun hal ini kerap terjadi.
    Percakapan sederhana dengan teman tapi cukup memberikan refleksi tentang langkah apa yang seharusnya dilakukan dan oleh siapa saja yang melakasanakan solusinya kalau perantau ragu pulang kampung (dalam artian hidup menetap)?.
    A :(Saya ) , B : (Teman)
    A : A, kamu lulus kuliah mau ngajar(saya kuliah di kampus pendidikan)? Mau balik lagi ke kampung halaman?
    B : Ya ngga lah, kalo saya pulang saya dapet apa, ngga ada apa-apa di kampung saya, mending di sini.

    Para perantau mengalami untuk ragu pulang ke kampung halaman, tidak satu dua orang aku temuin kayak gitu, bukan maksud generalisir, pasti ada yang mau berbaik hati kembali ke kampung halaman dengan niat mulia walaupun tantangannya sulit karena lingkungan berbeda yang membuat diri sendiri sulit berkembang, akhirnya apa? karena ketakutan terhadap diri sendiri untuk berkembang maka terjadi ketimpangan di Indonesia. Pembangunan, perkenomian, pendidikan, kesehatan, dsb di Ibukota DKI Jakarta sangat jauh berbeda kualitasnya dengan di kota-kota lain. Semua manusia "berkualitas" berkumpul di satu titik, di kota lain pun ada tapi presentasenya sedikit.

    Ini adalah kondisi di Indonesia dan kasus lebih besarnya adalah dunia, dimana para perantau dari Indonesia merasa sulit mengembangkan diri jika pulang lagi ke Indonesia. Hal umum yang menjadi budaya, tapi cukup dilematis untuk pemerataan kualitas segala aspek kehidupan.

    ReplyDelete
  50. hi kak git! aku termasuk followers kaka yang baru hhe. hmmm dan aku langsung suka gitu sama apa yang udah kaka sharing ke kita2 disini, yang tinggal di Indo. hampir semua pesan dari vlog kaka yang aku tonton nyerep gitu di diri ku sendiri, trus ada beberapa yang kaya 'ditampar' sama kata kata2 kak git wkwk - aku jadi tau bahwa kakak dan temen2 lain yang lagi berjuang di luar negri sana tuh gak segampang ekspektasi aku.

    aku sendiri kuliah di jakarta. dan bener banget sih fakta2 yang udah kaka sharing, mulai dari masyarakatnya yang rata2 jam karet dan unpredictable jalanannya, sesuatu bgt sih.

    dannnn aku punya pesen sama kak gita hehehehhe : terus menginspirasi kami ya kak, anak-anak muda indonesia yang baru lahir ini dan masih haus sama wawasan, biar bisa terus fight tinggal disini.sama terus bagi2 ke kita apa aja kebaikkan yang bisa di ambil disana, karena disini juga kita pengen indonesia yang makin maju. aamiin..

    trimakasih kak gita :)

    ReplyDelete
  51. asalamualaikum teh gita dan semua blogger salam kenal:) baru sempet*tugas mahasiswa kebidanan gada ujungnya* buka blog teteh baca ini isinya sangat menghibur daaannnn berisi banget,krennnnn. seneng sama mental bajanya orang rantau bisa menghadapi masalah sesulit apapun kren krenn. Sehat selalu teh gita :)

    ReplyDelete
  52. Cape banget emang org Indonesia . Gimana negaranya mau maju, orang - orangnya aja begini . Lain kali, pahami dulu artinya . Baru bisa kecot .

    ReplyDelete
  53. Hehehe sama deh, Kak Git. Orang mah lihatnya cuma sekadar foto-foto para diaspora main salju, tidur ditumpukan daun Maple gugur, dls. Yakali masa mau share foto lagi nangis gegara bolak-balik terjemahin materi kuliah. Kak Gita kuliah full Jerman ya, Kak? Skripsi-nya ntar juga ditulis pakai bahasa Jerman? Semoga dimudahkan. Aamiin. Aku kuliah full Turkish sih dan cukup pusing lihat kakak angkatan nulis tugas akhirnya pakai bahasa Turki *lah jadi curhat*. Mengenai kontribusi... kayaknya itu yang bilang kakak nggak ada kontribusi nyata adalah orang yang belum baca blog atau nonton vlog Kak Gita deh. Aku sejauh ini dapat banyakkkkkkk banget pelajaran yang bisa diambil dari channel Kak Gita. Thanks, Kak Git! Padahal aku cuma satu dari puluhan ribu (jelang seratus ribu nih) subcribers kakak di youtube. So, tetap semangat Kak Gita menjadi representasi Indonesia di Berlin :)) Salam dari Izmir, Turki.

    ReplyDelete
  54. Karena kenyataannya, mostly orang Indo kalo ngumpul bukan ngomongin masalah/perkembangan negaranya tp ngegosipin hal yg ga penting:"
    Btw setelah liat blog dan vlog kak git, aku jd ke motivasi untuk bisa tinggal di luar negeri. Bukan untuk foto ala-ala, tp untuk belajar hidup.

    ReplyDelete
  55. Lihat kalimat yang " Gue juga nggak tau apa nanti gue bisa sabar sama orang-orang yang ngomongnya janjian jam 1 tapi baru dateng jam 3" haduhh sebagai orang yg pernah tinggal di LN juga dan sekarang di Indo rasanya lama2 males banget deh ketemuan sama orang kayagithu sampai lama2 org harus dimarahin +diceramahin.Kadang mereka gangerti apa jadinya kita yang sudah on time nungguin orang yang telat dtg.Ada juga Gitt yang lebih nyebelin orang yang misalnya janjian di suatu tempat terus ngeWA "Kalau sudah sampai WAya" dan habis itu br dia OTW.WTF kaya gak ada gunanya kita janjian jam 1.

    ReplyDelete
  56. Terus semangat kak git. I'll be there for you. Doakan kita-kita juga anak yang ada di dalam negri ini untuk bisa terus memperbaiki karakter diri dan bangsa ini. karena sebenarnya juga tidak mudah dengan lingkungan yang terlanjur seperti ini, namun kita mencoba untuk berbeda dan merubah, tak jarang banyak yang menertawai, dibilang terlalu serius lah dll. baca komen2 di blog ini aku jadi mikir masih banyak kok orang-orang hebat yang masih peduli dan dengan tulus ingin memperbaiki generasi bangsa ini. Thanks kak git sudah mempertemukan aku dengan orang-orang hebat ini. MAN JADDA WA JADDA :)

    ReplyDelete
  57. selalu nungguin post di blognya kak gita :) selalu suka sama cara berpikirnya yang bikin "oh iya yah" dalam hati. semangat terus buat kak gita :)

    ReplyDelete
  58. setuju sama isi blog ini. iyaa bener, tapi masih banyak kok yang sebenernya aware tentang kondisi negara ini. tapi bingung bagaimana cara berkontribusi untuk negeri, bingung cara mengubahnya. banyak juga kok yang paham tentang sulitnya bertahan di negara luar. orang orang selalu bilang "orang indo kaya gitu gimana mau maju" "orang indo close minded" tapi mereka lupa mereka sendiri orang indonesia. emang semuanya harus dimulai dari diri sendiri, harus cari wawasan sendiri, harus belajar sendiri. semoga kita semua bisa membangun indonesia menjadi yang lebih baik lagi. kita harus bisa. generasi muda, ayo bangun indonesia. alam kita mendukung, sekarang saatnya orang orangnya juga mendukung.

    -n, 18.

    ReplyDelete
  59. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  60. Hi kak git.Suka banget sama tulisan" kak git.Sangat menginspirasi.Termasuk menginapirasi saya untuk menulis dan lbih bermanfaat buat orang banyak.
    BTW soal bemanfaat buat orang lain kak.Mau tanya dong ka, menurut kakak apa sih perbedaan yang paling terlihat jelas antara di manfaatkan dengan bermanfaat ? Thank you for sharing kak git

    ReplyDelete
  61. uuuhhh, menginspirasi banget kak Gitaa. Bener tuh, balita2 sampe remaja jaman sekarang mah kudu di filter, banyak pintu menuju pergaulan bebas yang bisa dikatakan always open, thought. Semoga makin byk generasi muda yg lebih bisa berpikir kritis tapi tetep terlihat simple kyk kak Gita dah, krn dunia politik di Indo skrg maybe bisa dikatakan agak kacau dan rumit, belom bisa ngatur warganya jadi WNI yg sbenarnya. Semoga aku bisa lebih open-minded kyk kak Gita, krn pertengahan thn ini aku bakal jadi mahasiswa... semangat kak Gita, cepet lulus dan sukses ya!! keep fighting, ํ™”์ดํŒ…!! :)

    ReplyDelete
  62. Hy kak, pertama tau tentang kakak dari instagramnya @taufiknoor terus kepoin yutubnya, liat-liat vlognya yang suara kakak kurang jelas tertutup suara background musik :D terus penasaran karena vlognya kok backgroundnya diluar negeri terus, kepengen tau cerita awal mula sampe nyasar disana gimana :v terus lanjut cek blog kakak. nah sewaktu baca artikel pertama yg terpampang di blog kakak dengan judul "Menjadi Seorang Diaspora" aku langsung tertarik malah pada hal "Tapi gue pernah ngerasain gimana jadi anak yang tumbuh besar di Indonesia dan gue pun ngelihat sendiri gimana anak-anak yang besar di Jerman. Gue melihat orang tua di Jerman seperti punya kontrol lebih besar terhadap anaknya. Pergaulannya, agamanya, akademisnya, semuanya lebih mudah untuk dijaga dan pengaruh buruk dari luar lebih bisa difilter."

    Nah kenapa malah saya fokusnya pada hal tersebut, adalah karena saya seorang ibu dari anak yang sebentar lagi menginjak umur 1 tahun. Saya lagi nyaritahu model pendidikan terbaik buat anak tuh yang kayak gimana.

    Jadii saya minta tolong donk kak kapan hari gitu bisa dibahas ditulis atau vlog tentang pendidikan anak usia dini di jerman itu kayak apa, pola asuh ortunya gimana, fasilitas sekolahnya bagemana, buku anak usia dini kayak gimana dll semua tentang itu semuanya...

    please..please.. aku pengen mencetak generasi unggul biar gak jadi orang yang begitu-begitu saja :)

    ReplyDelete
  63. Thankyou for sharing kak Git! Gue sangat menikmati tulisan lo kakak hehe. Jangan bosen-bosen untuk sharing ya kak Gitaa, karena gue sangat merasakan perubahan pola pikir gue kok melalu tulisan maupun video-video lo di YouTube. Mungkin orang-orang yang berpendapat kalo lo harus balik dulu ke Indo baru disebut berkontribusi nyata itu punya pemikiran yang berbeda sama lo, hehe gue yakin mereka punya alasan. Dan semoga aja mereka bisa merasionalisasikan pendapat pendapat mereka itu, aamiin. Pokoknya semangat kak Gita! Terus sharing! Jangan lelah buat melakukan kebaikan! Tuhan gatidur! Semoga segala macam niat baik kak gita berbuah manis yaa! Semangat dan Terimakasih sudah menginspirasi!

    ReplyDelete
  64. Setuju banget sama kak Gita! Setelah jadi student di China, aku ngerasain kalo awal-awal menyesuaikan diri dengan kehidupan orang sini itu susah (padahal masih di China, apalagi di Jerman). Kayak disiplin waktu yg biasanya ngaret sekarang udah gak bisa ngaret, kebiasaan belajar H-1 sebelum ujian yang bener-bener gak bisa diterapin disini (karena dosen minta ujian se-enak dia jadi gak ada jadwal yang pasti) which is harus belajar tiap hari biar paham materi hari itu, atau kemana-mana harus jalan kaki/naik sepeda/ngebis/naik subway padahal biasanya bawa motor/mobil.
    Aku bahkan kaget sama student disini, everyone here is studying. Mereka tuh kemana-mana bawa buku, jalan mau ke kampus baca buku, dipinggir danau baca buku, ada waktu pergantian kelas baca buku, bahkan ngantri beli minuman aja baca buku. Yang paling bikin sesek itu, most of them kalo dikelas pada aktif dan pada jago semua materinya padahal baru diterangin hari itu sama dosen, bikin geleng-geleng kepala dan ngerasa minder sendiri (takut dicap gimana-gimana sama student sini, ntar dikira orang Indonesia itu beginilah, begitulah, makanya aku harus studying very hard buat bisa menyeimbangkan diri, dan menurutku menjaga nama baik negara dengan menyesuaikan diri yang seperti ini tuh udah termasuk kontribusi nyata).
    Tapi emang bener, kebiasaan-kebiasaan ini tuh bener-bener meningkatkan kualitas diri, aku juga sempet takut kalo balik Indo, takut gak bisa menerima keadaan karena kebiasaanku disini udah berubah, takut gak bisa menyesuaikan diri lagi dan nanti malah dikira orang sombong atau apalah, orang tuh bisa aja bikin komentar buruk tentang kita.
    Thanks banget kak Git, tulisannya sangat menginspirasi. Bikin semangat berkarya dan belajar. Keep going kak!

    ReplyDelete
  65. Hay Gitaa,, Salam kenal yaa

    Pagi ini gw iseng liat IG, dan di IG itulah gw jadi tau kalau ada yang mencuri tulisan lo..Awalnya gw liat tulisan si Via itu,, terus gw buka blog lo untuk bandinginnya..hahaha kurang kerjaan banget yaaa orang itu.. Saran aja nih Git, menurut gw, ga usah lah lo ngehub dia etc, karna kayanya ga bakal digubris..sepertinya lo jadi sumber inspirasinya dia,, sampe tulisan dan ide2 cerita lo dia ambil..Tenang ajaa,,Allah ga tidur..orang2 pembaca setia blog lo dah pasti tau gaya bahasa lo seperti apa..cuekin aja..tetap berkarya coz apa yang lo lakukan selama ini sangat menginspirasi kami2 semua.. Sukses ya buat skripsinyaaa..selamat maenan grafik2 lucu itu yaaa..Yang mencuri tulisan lo itu anggap aja itu angin lalu dan jadi motivasi lo gimana caranya biar gaya bahasa lo ga mungkin ditiru oleh seseorang seperti dia..Copas mah gampang,, pertanggungjawabannya dia dengan tulisan dia sendiri kan kita ga tau.. Syemangat yaaaa...๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

    Vita
    Pangkalpinang, Babel

    ReplyDelete
  66. gue jadi pengen tau ka, gimana pendapat orang luar yang tinggal di indonesia, apakah dia juga merasa seperti org indo yang nyaman ketika tinggal di luar negeri, atau sebaliknya?
    selain kita yang harus tau gimana keadaan tinggal di luar indonesia biar bisa memperbaiki indonesia itu sendiri, mungkin kita juga harus denger pendapat org luar yang tinggal di indonesia.

    maaf ya kalo pendapat gue salah hehe, gue masih belum berani berpendapat sebenernya walaupun sebenernya gue pengen, karena lo tau sendiri ka, org yang ga mainstream di indonesia suka jadi perhatian org banyak, karena gua gamau di perhatiin jadi ya gue mengikuti arus aja dah, walaupun sebenernya ga nyaman, tapi sekarang gua mau ngubah mindset gue dan gue mau keluar dari comfort zone.

    thanks ka sudah meng inspirasi
    sukses kuliahnya

    ReplyDelete
  67. Sabar aja kak nanti juga ada balasan orang yang suka "mencuri" tulisan orang lain. Kak gita aku suka banget tulisan kaka. Tetep nulis ya kak salam dari surabaya. Nih aku salah satu gitalovers๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  68. Assalamu'alaikum ka gita☺ setuju. Setuju banget sama semua yang ada di tulisan ini..cuman setelah baca dan setelah dipikir pikir lagi aku ingin memberi saran aja untuk ka gita.. Tinggal di luar negeri dalam beberapa hal memang lebih nyaman, tapi kalau untuk jangka waktu lama atau menetap, terutama di negara yang lingkungannya kurang islami (muslimnya masih minoritas) sebaiknya dipertimbangkan lagi.. Karna dalam hal ibadah mungkin kita tidak bisa setotal kalau berada di negara yang masih banyak lingkungan islaminya karna "bisa saja" contohnya kita bekerja di suatu perusahaan yang jam istirahatnya baru boleh jam satu (contohnya di australia), untuk yang laki laki mungkin akan susah untuk bisa shalat jumat.. Ini hanya sekedar contoh karna tidak semua tempat juga seperti itu.. Dan satu lagi yang paling penting adalah ketika kita meninggal, jangan sampai kita berada di lingkungan atau tidak berada dalam komunitas islam, dan dikuburkan dengan cara yang tidak islami (naudzubillah)..
    Itu aja sih saran aku dan itu sangat penting untuk dipertimbangkan ๐Ÿ˜Š
    Sukses dan sehat selalu ya buat ka gita. Terus menginspirasi anak muda Indonesia ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

    ReplyDelete
  69. Sabar aja kak nanti juga ada balasan orang yang suka "mencuri" tulisan orang lain. Kak gita aku suka banget tulisan kaka. Tetep nulis ya kak salam dari surabaya. Nih aku salah satu gitalovers๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  70. Git gue habis mampir ya ke blog sebelah yang lo mention itu, parah sih... like what the zzz she did gt, sampe kata2 lo yang soal senioritas pun ada disitu, yampun yampun aneh bgt

    ReplyDelete
  71. Gue jadi teringat salah satu vlog mba git yang tentang Jerman sama temennya yang cowok pake kacamata, dan ada satu kat akata yang tertanam sama gue, "buat apa kita anak anak yang kuliah diluar pulang buat bangun negara kita, sedangkan mahasiswa di Indo gak berusaha juga untuk ngebangun negara". Itu sih sebenernya sebuah kayak bikin gue pribadi untuk lebih semangat buat doing something yang berguna buat bangsa gue.

    Tapi mba git, kadang di medsos kita emang gak menemukan anak anak muda Indonesia yang berfikiran kedepan, kenapa juga gue gak tau, persaingan sosial mungkin gak tau deh. Tapi yang jelas masih ada kok di kehidupan asli di Indo orang orang yang kayak mbak git, tapi ya mereka emang ga muncul di medsos medsos, ya karna mungkin disini udah salah penggunaan medsos, jadi mereka males untuk gunain medsos.

    gue pernah mengalami apa yang lo alami kok mbak git, gak mudah, mungkin tambah gak mudah karna lo diluar negeri, gue ga tau deh itu, mungkin kalo gue udah nangis mulu kerjaannya hehehe, yang jelas kehidupan setiap orang tuh berbeda beda, gak bisa dipukul sama rata.

    heu maap ya mbak git panjang, selamat dan semangat penelitiannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Dhea/Nisa/Dhani/Putri,

      betul betul. Itu juga yang gue rasakan. Entah dari big data sosmed gue hanya akan nemuin yang begitu-begitu atau emang sosmed lebih banyak dihuni sama yang rada-rada, gue juga kurang paham. I agree with you at some point.

      Semangat terus buat lo juga, ya :D

      Delete
  72. Hai kak, tulisan ini sepertinya sudah dihapus Via dari blognya. Semoga seterusnya ga ada yang jiplak tulisan kak Gita lagi ya. Keep inspiring kak Git!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Putri,

      yoi yang ini udah dihapus. Tulisan yang lain masih ada tapi udah di"modif" sama dia. Judulnya diganti, beberapa kalimat ada yang diganti juga, dan ditambahin. Tapi masih tetep keliatan kalau itu ngopas dari sini, sih.

      Karena lagi ada waktu aku copy-paste beberapa tulisan dia di google. Taunya dia copas dari tulisan orang lain banyak jugak. Ada yang dari Sri Izzati, ada juga yang ngopas dari blog Alyssa Soebandono tahun 2009 lol

      Hm Hm Hm....

      Delete
  73. Hi gita. Salam kenal. Astaga gw baca blog si via dan gw cuma bisa geleng-geleng. Tetep berkarya yaa, kebenaran akan selalu mengungkapkan dirinya sendiri kok.

    ReplyDelete
  74. iyaa kak git, aku udh liat blognya sih via itu. gak mikir sih tuh orang kalo ngejiplak tulisan orang lain tuh gk banget. jadi jengkel.

    ReplyDelete
  75. Kalo gw punya pengalaman dan perasaan yang berbeda git. Ane putusin balik ke Indonesia setelah 2 tahun di UK buat studi Master dan Kerja. Salah satu keputusan yang sulit mengingat betapa besarnya harapan gw lanjut studi doktoral sebelum umur 30 dan di saat yang sama peluang untuk mendapatkan sponsor terbuka lebar.

    Itu semua karena teman gw orang Kurds yg studyholic. Ane pernah nanya kok serius amat belajarnya emangnya mw lanjut studi atau nyari kerja di UK. Dia jawab No. Dia jelasin bahwa "Kurds have fighting in Turkey, Iraq and Syria since they have no an independent homeland". "So I have to study hard and back to Kurdistan since I believe that the intellectuals have to fight with the Kurds to bring our independence". Dengar itu langsung terlintas, whooo this mate have guts.

    Setelah itu ane pikir2, ini ada orang yang jelas kampung halamannya "tidak memiliki teritori" tapi ngak takut sama sekali balik dan ingin berjuang bersama bangsanya. Nah kalo gw sebagai "seorang anak dari bangsa yang sudah merdeka" memilih berlama-lama di luar negeri, bentuk "konstribusi nyata" gw buat Negara akan naif. Paling hanya memberikan manfaat kepada gw dan anak istri gw dan menjadi "duta bangsa" di Negara orang.

    Menurut gw kalo balik ke Indo, maka "kontribusi nyata" yang bisa gw berikan kepada Negara dan khususnya Masyarakat lebih nyata. Bentuk kontribusi nyata gw sekarang di Indonesia adalah memberikan bantuan hukum secara pro bono (gratisan) yang dimana gw ngak bisa lakuin itu di luar.

    Sepengetahuan gw sdh ada diaspora balik ke Indo misalnya pak Arcandra Tahar dan pak Yanuar Nugroho, mungkin mereka merasa kalo di Indo lebih dapat memberikan "kontribusi nyata".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Penggemar Komuter,

      gue seneng lo punya cara sendiri gimana lo mau mengabdi buat negara. Gue harap lo bisa makin berbuat hal positif dan bermanfaat buat yang lain :)

      Btw gue kagum sama temen lo itu dan setuju banget perang nggak mesti pake senjata, tapi pake otak.

      Sukses terus, ya :)

      Delete
  76. Hi Gita. I love watching your youtube channel. So inspiring. Anyway. I know who is Via. 70% of her post is copying from other famous blogger like diana rikasari, srizatti, and even tatjana saphira so I'm not surprise that she's copying you also. You have a great talent in writing.
    Via ever failed one unit in college because of plagiarism and she never change. So I hope she got the lesson from what happen.

    Cheers.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi there, many thanks for your support :)

      Wow, she emailed me today and when I asked whether this was the first time she copied someone's blog post she said no. I should've known that she was lying of course.

      Do you know her personally? I think there's something wrong with her. Idk, she gave me this weird vibe.

      Delete
  77. Hi Gita.
    I'm curious about who is Via and found that 80% of her blog content is copying from another famous blogger like srizatti, diana rikasari, or even tatjana saphira. So I'm not surprise that she's copying some of your content also. Maybe she's sick of being famous. Keep a good writing anyway.

    ReplyDelete
    Replies
    1. could you please give me the link for Via's Blog ? I'm curious too

      Delete
  78. Hai, kak git. Gue gak begitu kaget baca tulisan ini. Dulu gue tipikal orang yg 'knapa sih nih orang pd kagak balik Indonesia? Kagak cinta Indonesia?' trus sejak gue nontonin vlog lo yg tentang jerman feat anak² indo yg kuliah di jerman, gue nyadar, oh ini toh yang bikin mereka ogah balik. Mereka bisa berpikir sekritis itu karena tinggal di luar Indonesia. Dan gue pun sebenernya merasakan juga struggle jd org indo. Mencoba berpikir kritis di tengah org² yg skeptis kalo negeri ini bisa diperbaiki sedikit demi sedikit. Mereka yg bilang ah, Indonesia udah terlanjur rusak.
    Gue dulu kuliah di jurusan hukum. Niatnya gue pingin masuk di bidang yg menurut orang² udah rusak parah di negeri ini..pingin ada di dalamnya dan ngebenerin pelan², sedikit demi sedikit. Tapi semua org yg gue kenal termasuk keluarga gue bilang: ngapain sih masuk ke dunia hukum? Hukum indo udah ancur. Kotor abis. Udah keluar aja!!
    Gue gak dpt dukungan bahkan dr keluarga gue sendiri. Sekarang kalo semua org berpikir kayak gitu, gimana Indonesia bisa maju..kapan hukum Indonesia bisa bener lagi kalo yg udah berniat baik buat memperbaiki malah gak pernah didukung?
    Gue sedih menyadari kenyaataan itu. Kadang gue berharap gue se lucky lo bisa tinggal di jerman. Dikelilingi lingkungan yg support buat jd diri yg lebih baik. Sorry jd curhat :')

    ReplyDelete
  79. Mohon maaf nih ka Gita, saya jadi ikut-ikutan nimbrung. Hehe.
    Jadi saya memang belum pernah merasakan tinggal di luar negeri tetapi, saya (agak) bisa merasakan bagaimana 'risihnya' orang-orang yang terbiasa disiplin dan teratur jika tinggal di Indonesia. Dimulai dari hal kecil saja. Saya juga suka kesel kalau melihat orang-orang yang main bunyiin klakson padahal baru aja lampu hijau menyala. Dari situ saya jadi punya penilaian kalau 'kebanyakan' orang Indonesia maunya cepet tapi nggak sabaran. Selain itu karena lingkungan yang kurang kondusif, saya juga sulit menemukan partner ngobrol yang nyambung dengan topik obrolan yang berisi. Saya sering nemuinnya malah banyak orang ngumpul, tapi buat ngobrolin hal-hal seperti harga mode terbaru ini-itu dan gimana enaknya nyari tempat buat hang out dll yang menurut saya, ada hal lain yang lebih penting dari itu. Apalagi tipikal orang yang cuma menghargai orang lain dari tampang. Di Indonesia, sejauh pengalaman saya, saya belum menemui orang-orang dengan pemikiran terbuka, menghargai orang lain berdasarkan cara berpikir atau pilihan hidupnya, dan prinsipnya, menjamur seperti ka Gita. Yang ada malah orang-orang seperti itu sering dicap aneh, kalau nggak gitu dikucilkan. Kadang saya juga penasaran, sebenernya apa sih maunya mereka?
    Omong-omong, mohon maaf buat komentar yang nggak solutif ini, semangat terus ka Gita. Semoga makin banyak orang-orang dengan pemikiran terbuka memberi pengaruh yang baik buat pemuda Indonesia.

    ReplyDelete
  80. Ya emang begitu ka git. Orang - orang banyak yang gak bisa berpikir positif tentang sesuatu. biasanya langsung buat perspektif sendiri :/ kadang mereka yang ngomong tentang 'kontribusi' aja belum tentu pernah mikirin hal yang bermanfaat untuk negaranya sendiri. yang mereka bisa ya cuma ngehujat sana sini aja. banyak kok kak yang begitu.

    ReplyDelete
  81. hai Gita, salam kenal! setelah baca artikel kamu di majalah yang judulnya "owning only what we need" (yang saya banget dan memang resolusi saya di tahun ini) bikin saya nyasar kesini. ini pertama kalinya saya baca post kamu di blog dan saya suka banget isinya dan cara nyampeinnya. saya punya cita-cita ingin sekolah diluar negeri, bukan buat mau sombong atau ngikutin trend tapi untuk merasakan lingkungan positif seperti yang kamu sampaikan di post kamu yang ini, semoga masih ada kesempatan dan saya masih bisa menyerap energi positif untuk memperjuangkannya. ditunggu cablakan kamu selanjutnya. semoga Allah SWT senantiasa memudahkan langkah2 kamu dalam kebaikan. Amin.

    ReplyDelete
  82. Assalamualaikum kak Gita.. aku seneng banget baca blog kak gita sama liat vlog-vlog kak gita yang di youtube. bener-bener beda dan informatif. kak gita selalu bisa melontarkan kata-kata yang langsung 'kena' tanpa menyinggung perasaan manapun. terimakasih karna kak gita termasuk 'golongan' dari mereka yang peduli sama nasib generasi muda jaman sekarang. terimakasih udah menginspirasi termasuk aku juga. seneng akhirnya selama ini masih ada public figure yang 'as the real public figure' bisa jadi contoh dan dikenal orang bukan karena sensasi belaka. terimakasih kak gita, semoga selalu dilindungi Allah ya kak git dan semoga studinya cepet selesai, Amin. akan seneng banget kalau kak gita baca ini. Wassalamualaikum kak..

    ReplyDelete
  83. Berikan terus tulisan tulisan yang sebelumnya belum pernah aku baca di blog lain. Merci beaucoup kak gita

    ReplyDelete
  84. Assalamu'alaikum kak git..
    Mimpi untuk kuliah di luar negeri itu emng cita2 saya dr kecil.. saya tau seperti kaka bilng banyak resiko-resiko besar yg akan dtang.. tp sy bertekad untuk berkuliah disana yaitu di jerman setelah saya selesai berstudi s1 dulu.. tinggal 1 thun lg studi saya selesai s1.. saya mau lanjut kuliah saya s2 di jerman.. nah kak step2 untuk saya atau masukan untuk saya ada gak kak supaya saya bisa melanjutkan studi saya s2 karena saya masih bingung cara2nya?
    Terima kasih kak

    ReplyDelete
  85. Ka git, hidup itu penuh dengan perjuangan. Terus, berjuang disana. Buatlah indonesia bangga kepadamu dan berikan sesuatu untuk indonesia. Terus, menginpirasi anak2 indo supaya neraka sadar dan mampu berpikir kritis

    ReplyDelete
  86. Hai, saya sangat setuju dengan opini dirimu. Saya pun sama dengan mu merantau jauh. Saya rasa yang kamu katakan sangat berani dan dapat mewakili rasa galau yang saya rasakan. Sukses ya gita semoga indonesia masih bisa melihat bahwa orang-orang indonesia nan jauh disana masih mencintai negara nya sehingga indonesia dapat menghargai itu. saya harap pula orang indonesia dapat berfikir lebih baik kedepanya. Salam from Norwich

    ReplyDelete
  87. Kalo mikirin omongan orang yang gak ada abis-abisnya, bisa-bisa buang energi kita buat think and do something more important ya gak, Kak Git? Tetep semangat berjuang disana ya, kak. Masi banyak kok yang ngedukung kakak diluar sana (including me) <3 xx

    ReplyDelete
  88. Thankyou so much buat tanggung jawabnya sebagai generasi muda bangsa Indonesia kak gita, terharu bacanya karena rasanya anak muda yang tinggal disini pun banyak yang gak peduli dengan negaranya sendiri. Aku pribadi juga berharap bisa banyak berkontribusi buat negara ini. At least untuk lingkungan sekitar dulu :)

    ReplyDelete
  89. Meskipun terkesan sebagai sebuah pembelaan, tapi tulisan Kak Gita ini memang ada benernya. Para Diaspora punya alasan untuk gak bisa tinggal di tanah sendiri dengan alasan blablabla karena memang ranah kontribusi mereka disana. Setiap orang punya caranya sendiri untuk berkontribusi, sesuai dengan passion nya masing-masing. Bakat bawaan setiap orang kan beda-beda? Ya, kenapa toh orang yang passion nya 'disini' harus dipaksakan untuk berkontribusi dengan passion milik orang lain (yang disebutin oleh orang2 normal kayak Kak Gita di atas)? Generally, mungkin orang-orang gak normal itu mikirnya kontribusi adalah 'Menjadi Publik Figur di Bidang Politik Kenegaraan'. Karena yang namanya politik negara cuma bisa dilakukan di tanah sendiri. Wass..

    ReplyDelete
  90. walaupun belum menjadi seorang diaspora seperti ka git, pas bacaa tulisan ini membuat aku jadi berpikir lebih kritis lagi. and yes, aku setuju banget sama ka git kalo pergaulan di Indo sekarang makin ngga terarah, terlalu bebas dan gaada batasannya. hal-hal kecil bisa jadi besar karena viral di internet yang sebenernya itu hal yang gaperlu diomongin (contohnya: alis). semangat terus ka git, do your best and i like your principles.

    ReplyDelete
  91. Kak, share dong menurutmu apa sih definisi "orang baik" itu? Secara kita manusia ngga hidup sendiri di dunia ini dan bakal timbul yang namanya sosialisasi dan timbal balik sebagai salah satu makhluk yang menghuni bumi ini. Please argue this, if you will. Thanks :)

    ReplyDelete
  92. halo kak git. aku setuju sama kak gita. menurut aku, lebih baik orang indo yg tinggal di luar tapi sedikit2 (bagi orang indo) masih memiliki kepedulian terhadap kemajuan negara asalnya, dalam bentuk apapun kepedulian itu dari pada orang indo yang hidupnya "ah gini aja udah enak, ngapain repot", yang mana pemikiran trsebut membuat indonesia sulit maju. orang2nya ga mau kesulitan demi kebaikan, tapi kalau ada orang lain yg berusa membuat kebaikan dikomen dicari2 kesalahannya. sebenernya menurut aku, meskipun bukan tangan yang langsung bekerja, tapi kita share pikiran kita seperti yg biasa kakak perbuat, dan bisa menginspirasi banyak orang menjadi lebih baik itu udah termasuk pendidikan karakter. disadari atau tidak. pendidikan karakter itu sendiri juga menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan bagi indonesia. harusnya kalau mereka atau siapapun sebagai netizen, termasuk aku, jika ingin baca opini orang, misalnya opini kak gita, harusnya udah open mind sebelum membaca. komentar netizen2 yg kakak sebutkan diatas, menurut aku termasuk orang2 yg close mind menurut aku.jangankan di internet di blog begini kak, sama temen sekalas di bangku pendidikan tinggi aja aku ngalamin rasanya punya teman yg close mind, dan cara pandang terhadap teman sekelasnya selalu mencari kesalahan. sabar aja ya kak. lakukan yg menurut kak gita positif. semoga kak gita selalu bisa berbagi cerita yang bermnfaat. bagi aku apa yg kakak tulis ttg pemikiran kakak selalu nambah wawasan baru dan aku bisa bandingin dg pemikiran lain yg pernah aku dengar, ataubahkan pemikiran aku sendiri. banyak setujunya sama kak gita dari pada enggaknya. tapi apapun itu, ada positifnya aku sangat berterimakasih sama kak gita, kalau aku merasa ga sependapat ya aku simpan buat pelajaran diri sendiri, buka nge judge orang lain.

    ReplyDelete
  93. halo kak git, aku setuju sama pendapat kak gita. tapi mohon dibaca dan dikoreksi barang kali komentar saya tidak semestinya. menurut saya lebih baik orang indo yg tinggal di luar yg sedikit banyak masih peduli sama negara asalnya, dalam bentuk apapun kepedulian itu daripada orang indo yang di indo malah cuma mikir "ah gini aja udah enak, ngapain repot". itu sangat melumpuhakan kesempatan indonesia untuk maju.
    meskipun bukan tangan yg langsung berbuat untuk kemajuan negara, menurut aku, dengan share pemikiran positif untuk negri, bahkan sampai bisa menjadi orang yg menginspirasi banyak orang seperti kak gita itu udah sama dg mendukung pendidikan karakter, yang mana indonesia butuh banget pendidikan karakter. kalau kita merasa sudah dewasa, sebelum membaca atau bahkan komentarin opini orang, seperti misalnya blognya kak gita gini, harus selalu open mind. kebanyakan orang indonesia emang ga mau open mind, dan suka cari2 kesalagan orang lain, padahal dia sendiri tau dia belum tentu bisa melakukan kebaikan yg dilakukan orang lain. jadi mungkin mereka iri, atau apa, sukanya komentar negatif. kalau udah dewasa si harusnya bisa menimbang mana yg baik mana yg bermanfaat mana yg enggak kan kak git? ada yg baik silakan diadopsi, yg dirasa kurang baik silakan ditinggalkan. bukan ngejudge orang kayak gitu. dengan berprestasi di luar negeri, itu nukannya udah termasuk berkontribusi mengharumkan nama bangsa ya? wah orang indo ternyata pinter2 misalnya. banyak yg bisa kita lakukan untuk bela negara. kalau kita komennya negatif terus sama orang yg senegara, itu malah ygbukan bela negara, bukan begitu kak git?
    aku aja yg kuliah di indonesia, punya temen dilingkungan kuliah banyak yg close mind dan suka cari2 kesalahan orang, terlebih ga mau melihat dia udah sebaik apa sampe beraninya menilaiorang ini itu. semoga kak gita selalu diberi kelancaran studinya, dan selalu bisa meuis sesuatu yg bermanfaat.

    ReplyDelete
  94. agree with you kak ...
    i hope i can continue my s2 and develop my self :)
    anyway my student should watch your video about german
    and i wish they would be inspired by you

    ReplyDelete
  95. Nggak tau knp apa yg kamu omongin di vlog2 mu dan yang kamu tulis di blog ini selalu jadi inspirasi khususnya buat aku secara pribadi, dari pemikiran-pemikiran yang kamu tuangin dalam tulisan kadang secara nggak sadar udah ngebukak semua cara berpikirku yang terlalu kuno git. Dan aku salah satu subscriber youtube channelmu yang ga pernah kelewatan satupun video-videomu..

    terus berkarya dan menginspirasi anak muda Indonesia :)

    ReplyDelete
  96. Bener banget, selalu setuju sama pendapat kak gita.Makasih kak gita selalu menginspirasi. Aku sekarang perlahan-lahan jadi punya tujuan setelah kuliah,jadi punya motivasi buat kuliah lebih serius, dan jadi lebih sering instropeksi diri. Makasih kak udah berkontribusi memotivasi kami, pemuda indonesia,walau kakak jauh di negeri orang.

    ReplyDelete
  97. menurutku sih, dengan tidak mengikuti arus yang 'begitu-begitu', itu merupakan salah satu kontribusi nyata yang sangat sederhana. tp masih banyak banget yang ga sadar :)

    ReplyDelete
  98. menurutku sih, dengan tidak mengikuti arus yang "begitu-begitu", itu merupakan salah satu konstrubusi nyata yang sangat sangat nyata dan sangat sederhana. tp yaa sangat banyak yg tidak memahaminya :)

    ReplyDelete
  99. Read through your blog before I slept because I already consider it as a source to feed my brain. Your thoughts are always on the same page as mine. I was once on a vacation in Indonesia, and I got bored so I decided to tag along with my cousin and go to a lecture at her uni in unsri (yes im from palembang just like u) just to you know, compare how classes are between there and where im currently living, how the professors and students are. To be honest I was quite SHOCKED. Believe me or not, the professor literally lectured the entire lesson while smoking. INSIDE A FREAKING UNIVERSITY CLASSROOM. Not only that, the way he taught was also bizarre to me. He was so grumpy, insulted students when they dont answer correctly instead of correcting them, and more of those non professor-like behaviors. But this was not what bothered me. In the middle of the lecture he said something that caught my attention. "Banyak orang2 jaman sekarang, besar disini, kuliah disini, wisuda cumlaude, ujung2nya tinggalin Indonesia dan pake ilmu ny buat negeri lain." As a daughter of parents who did exactly that, of course I subconsciously felt 'kesindir'. But then I thought of how corrupt Indonesia is. Organizations behind primary schools, junior high schools all the way till university are corrupt. Organizations behind governmental involvement in building roads and other infrastructue are corrupt. Police departments themselves who are supposed to be banishing all these crimes are CORRUPT. It has literally reached a point where fixing this problem is basically HOPELESS. So before anyone wants to point fingers at those who abandoned their home country to live somewhere where it would be more suitable for their family and psychological well being as a whole and labeling them as "nation betrayers", I dont think anyone has the right to blame someone for trying to escape this trash cycle of corruption and stupidity of a nation whenever he gets the slightest chance to.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I agree with you 100%. I mean, like you said, I personally don't blame those who feel Indonesia isn't the right place for them to be in. But, balik lagi ke preferensi masing-masing. Semua tau kalau negara dan seisinya super duper corrupt. Tapi setiap orang punya reaksi berbeda-beda terhadap hal itu. Ada yang pingin kabur aja, ada juga yang masih naruh harapan kalau someday (although kemungkinannya kecil banget) Indonesia bakal paling nggak bisa kayak Malaysia atau Singapura lah, ada yang nggak cuma berharap tapi juga turun tangan.

      What I find ironic is, si bapak dosen mengeluh dan blaming kiri-kanan sementara dia sendiri nggak mencoba untuk mengubah diri dia dan sekitarnya, dengan mulai untuk take his job seriously misalnya?. I mean, doi dosen dan clearly doi punya kontribusi super duper nyata as pendidikan adalah core dari permasalahan kemajuan suatu bangsa.

      Thank you Meidina for sharing your story! Very interesting to hear

      Delete
  100. Yes, I really hope the situation in Indonesia improves. Situation in every aspect. Because they all need improvement. Also, theres something else that I agree with. Indonesians are very very superficial. What i really find it hard to understand is how they casually body shame, face shame, etc. people. There'll be a picture on Instagram of a girl and I think 'woow pretty' and I dont find anything wrong with the picture, but then I scroll down and find comments like "tu pipi di kontrol dong" "aduh itu kancing kasian hampir lepas" "itu alis apa ulat bulu" "kok keliatan agak berisi ya?".... like????? Are you all trained to find flaws that no one else(even the person her/himself) notices or did u really spend time scanning through the picture to find flaws and just really felt like u HAD to announce it to everyone by commenting? Because normal people with normal manners dont usually do that. Weird people really.

    ReplyDelete
  101. Hallo kak gita aku fani mahasiswa dari solo, sory ni kalau aku mengajukan pertanyaan yang nggak sesuai dengan isi blog kak git. aku mau nanya soal cita cita yang kakak posting lewat youtube kemaren.
    au bingung banget ni kak next time mau jadi apa karena dalam hidup ini jujur aku belum punya tujuan dan aku ngerasa sekarang ni jalanin aja hidup ku meskipun nggak ngerti kedepannya mau jadi apa. aku kuliah jurusan pendidikan akuntansi tapi buat kedepan aku nggak ingin menjadi guru karena aku ngerasa pesson aku bukan di pendidikan. dan aku makin bingunng besok kedepan mau jadi apa. sarann dong kak sebaiknya aku harus gemana, terima kasih :)

    ReplyDelete
  102. baru baca postingan gita yang ini...waktu baca artikel ini, kenapa aku ngerasa mengalami hal yang sama...tapi scope yg lebih kecil..yaitu membandingkan kehidupanku dulu di Semarang (which is aku lahir sampe kuliah disana), dibandingkan dengan kehidupanku di Jakarta saat ini. Jujur sebenernya di saat orang tanya kamu mau balik Semarang g, aku gak bisa spontan bilang "iya"....(walaupun berat tentunya hidup cewek sendirian di Jakarta)....karena aku merasakan apa yang kamu rasain git ketika kamu disuruh balik ke indo...aku takut kehidupan aku melambat...terlalu nyaman...walaupun di Semarang ada sumber kekuatan gw alias keluarga....tapi di Jakarta ini aku udh nemuin komunitas yang mendekatkan aku ke Allah, kajian kajian buanyak banget, akses yang luas dan jujur setelah pindah ke Jakarta aku bisa semakin mandiri dan berpikir terbuka...bisa berkarya...( yah walaupun kelemahan Jakarta udah kamu sebutin di artikel di atas :p )but I little bit know what u feel git....(sok solidaritas haha) Tetap menginspirasi ya gita... di saat anak anak gaul medsos kurang concern saat ulama-nya dihina... rasanya sejuk saat kamu dengan tegas berkali kali bilang ulama itu orang yang patut dihormati, kalau g ada mereka, kita kayak apa... kadang aku mention nama kamu di percakapan ku ama temen2 saat ngobrolin soal ini, bahwa mahasiswa Berlin yang aktif di medsos, vlogger aja waras..masak yang di indo notabene mayoritas muslim koq gak mudeng...hehhehe....udah ah itu dulu...semoga seluruh umat muslim di dunia selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu ditunjukin jalan yang lurus...aamiin ya rabbal alamiin :)

    ReplyDelete
  103. nggak sengaja mampir di tulisan ini, dan...

    duh, jangan "pergi" dari Indonesia cuma karena mereka yang pada nyinyir2 itu lah, Git. btw, aku suka..suka banget malah sama video2 di channelnya gita yang bahas soal perbedaan Indonesia dan Jerman. bukannya bandingin atau mejelekkan salah satu, tapi tiap kali aku lihat/ denger yang begituan kayak dapat satu sisi cerah lagi gitu buat belajar jadi pribadi yang lebih baik, anak yg baik, calon ibu yang baik. you know lah gimana susahnya berubah jadi baik dan melawan nyinyiran2 begitu, percayalah kalo gita yang di sana aja dapat begituan palagi yang di sini.

    kalo mau buat lingkungan baik harus mulai dari diri sendiri kan. so, please.. keep sharing that for us ya, Git. in your own ways, of course.

    ReplyDelete
  104. Superficial Society ini bener2 kejadian sama aku, kak. Aku bener2 ga tahan lagi tiap hari diajakin ngomongin orang lain yg sebenernya ga ada faedahnya buat aku. Tapi, di sisi lain kalo aku ngomongin sesuatu yg berbobot dikit mereka malah susah nyerna omonganku dan malah nganggep aku freak. Yah wajar aja sih aku hidup di kota kecil (red:Banyuwangi). Semoga aja, nanti kalo aku kuliah (5 bulan lagi) aku bakalan ketemu orang2 yg intelek dan bisa nambah ilmu aku.

    ReplyDelete
  105. kak sebenernya dengan nge-vlogging dan cuapcuap di blog gini udah berkontribusi. but idk why some ppl ttp mikir kaya ga berkontribusi gt hvvt. emg dia udh lakuin apa

    ReplyDelete
  106. Liat kakak-kakak dan tetangga yang sama kuliah di jerman jadi pengen kuliah di sana juga. Dan waktu aku sampein ke bapak (yang waktu itu kita lagi berangkat ke luar kita bareng sodara) dia malah bilang takut. Liberalisme, islam sekuler blablabla. Di tambah sodara punya tetangga yang anaknya kuliah di amerika tapi gak pulang-pulang bikin kesempatan aku buat belajar keluar negeri hilang u,u. Setelah baca artikel ini, akhirnya aku tahu kenapa sebagian dari kalian kok gak pulang-pulang. Beneran gak seindah foto liburan di instagram :"))

    ReplyDelete
  107. Halo kak gitaa. Sekarang akutau knp banyak anak2 yg kuliah diluar negri ada yg gakmau balik ke indo. Itu yg sering aku diskusiin sm temenku wkwk.
    Selain lingkungan mainset orang indo jg susah dirubah, jd nya mempengaruhi ke cara didik anak2nya.
    contohnya,di daerah rumahku (surabaya) masih ada desa. Dan ibuku kebetulan kerja di LSM yg menangani supaya warga lbh sejahtera dg memberi pinjaman modal dan pelatihan usaha. Setelah pelatihan, banyak dr warga (terutama ibu2) pada komentar. 'Ngapain mbk susah2 usaha blm tentu untung, mending jd pembantu tetep dpt uang bs makan. Apalagi jd TKW'
    yg aku heranin orangtua yg udah berusaha dirubah mainsetnya spy hidup lbh berkualitas, tp ttp mikir kayak gt. gmn sama didikan yg dikasih sama anaknya?
    Ya just my opinion si kak. Cm emang lingkungan sangat2 berpengaruh kayak yg dibilang kak gita di youtube ((:

    ReplyDelete
  108. Hi Kak Git,
    Gila, gue suka banget baca blog lu.
    Selain karena konten yg berbotot, cara lu menyampaikan apa yg ada dipikiran lu itu keren banget. Konten berbobot ini jadi ringan rasanya.

    Eh, ngomongin soal 'anak rantau', kita senasib. Cuma bedanya lu di luar negeri dan gue masih di dalam negeri.
    Jadi anak rantau di Indo aja susah buat survive (baik materi maupun mental ya) gimana di luar negeri haha
    Sebenernya cita2 gue itu, bisa ngerasain pendidikan di luar negeri. Manis keliatannya, cuma di baliknya gue tau pasti ada perjuangan yg harus gue lakuin.

    Thank you for sharing kak, gue tau lo sharing karena lu care.

    Keep spirit ya!
    God bless you day by day.

    Salam kenal,
    Liana

    ReplyDelete
  109. God never sleeps, keep giving your contributions for Indonesia by your own ways. God's assessment is more important than human's assesment.

    Keep istiqomah and being an inspiration women for Indonesian.
    Hope you always be in protection of Allah SWT whenever and wherever. #Aamien

    ReplyDelete
  110. May Allah grant you success with your future studies and may He grant you what’s best for you in Dunya and Akhirah. Allahumma ameen.

    ReplyDelete
  111. Aku gak pernah hidup di luar Indonesia. Tapi sejak SMP aku merasa otak dan imajinasiku udah keluar dari Indonesia. Aku banyak berkomunikasi dengan orang luar, tanya kehidupan mereka, bahasa, budaya, sistem pendidikan, dan lain-lain. Kalu bisa berkata frontal, aku pingin hidup di luar negeri. Aku sudah bosan dan (hamppir) muak dengan sistem yang berjalan sehari-hari.

    My bad.....

    Aku cinta Indonesia secara keseluruhan, aku sangat menghargai perjuangan para pahlawan. Sayangnya terdapat oknum (dan bisa jadi salah satunya adalah aku) yang wira-wiri, bahkan dekat sekali dengan aku, yang membuat semuanya semakin sulit.

    Kiranya hanya ada beberapa hal di Indonesia yang membuat rasa sayang itu masih ada. Keluarga, alamnya yang luar biasa indah (ampuh banget sebagai alasan bagi manusia yg suka traveling), budaya ramahnya, dan gotong royong. Tapi ntah kapan sifat "pingin tahu kemudian anarkis beropini tanpa dasar" itu bisa hilang.

    Padahal....Indonesia adalah negara yang menjunjung agama (terlepas dr apapun agamanya). Dan aku yakin semua agama itu baik (bkn berarti benar), tp mengapa apalikasinya sulit.

    Nah jadi curhat.

    Dan aku setuju, semua org punya pilihan utk menentukan dimana ia tinggal demi aktualisasi dirinya sendiri, untuk menjadi orang yang bermanfaat, untuk menjadi gravitasi bagi sekitarnya.

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig