by Gita Savitri Devi

3/15/2017

Sindiran Berbulu Dakwah

Selama di FHI kerjaan gue seharian cuma bikin analyte dan nontonin master defense salah satu temen satu institut. Abis bubaran gue baru inget semua bahan makanan di rumah udah habis, bahkan beras pun nggak ada. Terpaksa lah gue belanja dan ngerjain beberapa urusan dulu. Sama aja bohong sih hari ini gue balik lebih awal dari biasanya, ujung-ujungnya nyampe rumah malem juga.

Ngomong-ngomong kali ini gue bukan mau ngobrolin soal keseharian gue. Karena seperti yang lo ketahui, gue nggak terlalu menganggap keseharian gue menarik buat ditulis. Gue, seperti biasa, mau ngeluarin uneg-uneg yang udah agak mengganggu pikiran beberapa hari ini. Beberapa waktu lalu gue sempet posting "Diam itu Tidak Selalu Emas". Di sana gue ngomongin tentang orang yang mengolok-ngolok apapun yang berhubungan dengan Islam. Entah itu ajarannya, orang-orangnya, dan ulamanya. Sekarang biar adil, gue mau ngomongin the other side of the spectrum: orang Islam yang suka nyinyirin orang lain yang mereka pikir nggak lebih alim dari pada dia.

****

Beberapa minggu terakhir ini gue sering banget menemukan orang-orang yang--dengan gampangnya--nyuruh/menyinggung gue untuk cepet nikah. Nope, bukan karena gue udah di umur di mana gue--seharusnya--udah menikah. Melainkan karena gue yang berhijab, tapi malah pacaran. What a contradiction. (btw, sebenernya apa sih definisi "umur yang sebenernya udah harus nikah". Seakan-akan yang mengatur datangnya jodoh dan terjadinya pernikahan itu manusia. Gimana kalau udah umur 40 tapi jodohnya belom dateng? Salah manusianya gitu?)

So basically orang-orang ini pingin memberi tau hal yang obviously obvious; dating is forbidden in Islam. Funny enough, mereka selalu bilang kalau mereka sebegitu pedulinya sama gue, maka terbentuklah urge yang sebesar itu untuk langsung nyampein ke gue. Di sini gue dibikin bingung sebetulnya. Di satu sisi gue berterima kasih karena mereka peduli sama gue. Di lain sisi--dan yang nyatanya lebih mendominasi--adalah perasaan annoyed yang muncul tiap kali gue dinyinyirin soal ini. Apa yang biasanya gue lakuin? It depends. Sering kali gue hapus komennya. Tapi kalau udah nggak tahan, gue langsung balik bertanya. Bro, you wanna make me feel worse about myself or what?

Gue percaya kalau cara menyampaikan nasehat atau berdakwah itu sama pentingnya dengan niat. Seseorang yang berniat baik mengingatkan seorang muslim lain, yang dia lihat sedang melakukan hal yang jauh dari ajaran agama, seharusnya juga memiliki cara penyampaian yang sama baiknya dengan tujuannya tersebut. So, basically kalau ada yang bilang "Git, lo nggak boleh jadi defensive gitu dong kalau ada yang ngingetin lo." is pretty much rubbish. Karena gue yakin 100% kalau Rasulullah se-judgmental orang-orang tersebut, nggak bakal ada yang mau masuk Islam. Agama ini nggak akan pernah ada. 

Setiap kali ada hal aneh yang terjadi, gue selalu mencoba untuk put myself in their shoes. Berusaha untuk memposisikan diri sebagai pendakwah judgemental ini. Hasilnya? Gue sampe sekarang nggak bisa relate. Bertahun-tahun gue pakai internet, nggak pernah sekalipun gue pointing out dosa orang random di sosial media manapun. Nyinyir yang disimpen buat diri sendiri itu lain cerita. Setiap orang berhak punya opini masing-masing. Everyone is judgemental anyway. Tapi sampai men-transform nyinyiran/judgement tersebut menjadi kata-kata dan actually put that much effort untuk ngepost kalimat tersebut di kolom komentar itulah yang ajaib. Buat gue hal tersebut terlalu makan waktu dan energi untuk dilakukan. Apparently banyak orang yang nggak masalah membuang waktu dan energinya untuk ngedakwahin orang di forum terbuka, di dunia maya, dan bisa dilihat sama ratusan orang lainnya.

Terutama ketika hubungan antara si penasehat dan yang dinasehatin ini hanya sebatas follower dan yang difollow (seperti dalam kasus gue). Bukannya gimana-gimana, tapi gue merasa dengan adanya sosial media, yang memang tujuannya adalah sebagai platform untuk membagikan snippet kehidupan kita, banyak orang jadi merasa udah paham dari A sampai Z semua realita yang ada. Penggunanya semacam nggak tau lagi di mana batas yang nggak boleh dilewatin dan nggak tau lagi gimana caranya menghargai privasi orang lain. As a result, pengguna sosmed sangat gampang untuk mencibir orang terang-terangan di foto/akun orang. Tanpa pikir panjang kalau si orang yang diselepetin ini bisa sedih dan tersinggung. 

Dan masih nggak terbayangkan juga oleh gue, betapa susahnya mindset "orang di internet hanyalah orang di internet" untuk bisa terbentuk di otak pengguna sosmed. Those people are just strangers, yang kehidupannya nggak kita ketahui. Kita nggak tau sama sekali masalah apa yang lagi mereka hadapi, kita nggak tau situasi dan kondisi yang sedang mereka alami. Kita hanya tau 0,000001% dari semua kenyataan yang ada, walaupun tiap saat kita ngelihat foto atau vlog mereka di dunia maya. Kita sama sekali nggak berhak untuk menyinggung hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadi mereka, karena setiap manusia berhak untuk dihargai privasinya. And yes, telling someone to get married because dating is haram means you don't respect her private life. It's her life, bro. It's her life.

Gue tanya laki-laki ini, yang "wkwk-in" gue karena gue pacaran, apa tujuan dia menyampaikan hal tersebut. Dia bilang, dia nggak bermaksud apa-apa dan cuma ingin mengingatkan. Balik lagi ke pernyataan di atas, he should've found another way to approach me, kalau dia emang beneran peduli. Setau gue memojokan orang dengan dosa yang dilakukannya itu bukan bentuk kepedulian. Mungkin ada sensasi tersendiri yang dirasakan orang-orang yang suka berdakwah-padahal nyinyir ini. Mungkin ada kepuasan dalam diri mereka, bisa bikin orang lain jadi merasa buruk. Seandainya temen-temen gue yang alim-alim itu, yang gue kenal secara personal itu, nyindir-nyindir dosa gue, nggak bakalan gue kayak sekarang. Nggak bakalan. Tapi hati gue malah terbuka karena despite gue yang penuh dosa ini, mereka nggak pernah sekalipun nyinyirin gue. Nggak pernah sekalipun menyinggung gue yang saat itu pacaran sama Paulus yang masih kristen.

Itu alasan kenapa gue sangat anti dengan dakwah nyinyir di sosial media, especially from strangers. That's not how da'wah works. Islam nggak pernah promote cara berdakwah yang begini, yang malah bikin orang "begajulan" jadi makin menjauh dari kebenaran. Gue bisa ngomong begini karena gue tau betul. Gue hijrah karena saudara seiman di kanan dan kiri gue nggak pernah mencari-cari kesalahan gue, mencari-cari dosa gue, tapi mereka selalu mencari hal positif dari diri gue. Dan malah itu yang ngebikin gue termotivasi untuk jadi muslim yang lebih baik lagi.
Share:

83 comments

  1. Hi kak Git,aku setuju sama tulisan kaka.
    Orang orang yang mereka pikir dakwah padahal jadinya nyinyir itu sebenernya mereka belum memaknai agama islam itu seperti apa. Maksud mereka kan mau menebar kebaikan, mau ingkar mungkar gitu ceritanya. Cuma mereka gak sadar kalo yang namanya hal baik itu akan datang karena cara yang baik juga. Kalau mereka mau belajar lebih dalam sebenernya islam udah ngasih tau cara dakwah yang sesuai tuntunan. Tidak menyakiti tidak menjuge dan terpenting gak maksain apa yang kita yakini ke mereka yang kita dakwahi. Kita gak bisa maksa mereka karena hidayah itu hanya kepunyaan Allah.Baiknya nanti dia berubahpun bukan karena kita tapi karena ALLAH. Memang ingkar mungkar itu wajib, tapi menurut aku sendiri dakwah di media sosial kepada orang orang yang bahkan gak kita kenal dengan cara yang frontal tetep gak bisa di benarkan.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku setuju sama kamu. Berilmu itu penting, tapi diiringi dengan akhlak yang baik juga sama pentingnya. Aku miris ngeliat yang udah jadi imam beneran, e.g Omar Suleiman, Nouman Ali Khan, selalu berdakwah dengan cara yang paling adem, paling sopan, biar orang yang mendengarkan bisa mencerna dakwah mereka dengan hati terbuka. Biar at the end dakwahnya juga ngena.

      Delete
    2. kaka tau gak kejadian beberapa minggu lalu tentang Ustad Khalid Basalamah yang beliau lagi kajian di Jawa Tengah tapi di usir sama sekelompok orang yang ngakunya mereka islam. ya sama gitu Ust Khalid di nyinyirin di fitnah wahabi lah apa lah bla bla bla. Sedih sih liatnya masa gitu ya muslim ngerusakin/ngebubarin kajian sesama muslim.

      Delete
  2. Assalamualaikum gita... tetap semangat berhijrah ya...semangat berdakwah....semua orang berproses...berproses menjadi lebih baik...pelan-pelan yang penting berprogress...seperti kata ustad Bendri,gak inget persis, tp kurang lebih begini karena hadiah nya Surga (aamiin ya rabbal alamiin), jadi mungkin kita kadang merasa berat...kalau gampang mah hadiahnya voucher belanja :))g tau deh nyambung gak ama yg kamu alamin sekarang...hehe...terus nulis yaa..ditunggu terus post terbarunya di blog (di vlog juga :D)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam,

      terima kasih banyak atas supportnya :)

      Delete
  3. Ka gitaaa,
    sekarang lo masuk ke salah satu role model gue.
    Udah nggak tau lagi deh, dengan baca dan nonton cara berfikir elo, gue jadi makin mikir dan itu berakibat positif! Makasih banget, sukses terus dunia akhirat!


    Kali aja kaka mau nongol di blog random gue. Hihi
    http://chikidoityourself.blogspot.co.id/

    ReplyDelete
  4. Sekian lama tau kak Gita di internet(tau ya, bukan kenal) udah banyak fase hidup seorang Gita yang aku lihat dari segala macem sosial media yang kak Gita punya. I never think I understand you, I just know your stuffs you show through internet. Meski sepertinya ada banyak kesamaan karakter, hal ini nggak bikin aku merasa paham atau kenal sehingga membuat aku merasa berhak point out privasi kak Gita atau orang-orang lain di internet. Nggak munafik kenyinyiran di pikiran itu ada. Sering.

    Tapi balik lagi, aku pribadi pasti bakal nyuekin atau malah marah kalau ada orang yang boro-boro kenal pernah ketemu aja nggak sesuka mulutnya ngomentarin privasiku. Lebih sensitif lagi karena yang mereka omongin menyangkut perasaan & agama yang mana orang lain nggak bisa mengubah apa-apa sebanyak apapun tulisan yang mereka ketik di kolom komentar. Juga hidayah itu hanya Allah yang punya. Sesuka Allah mau kasih lewat apa, kapan dan gimana caranya. Kemampuan orang berhijrah juga berbeda-beda, bisa jadi dalam suatu aspek aku lebih dulu berhijrah dari orang lain, tapi orang lain mungkin dia udah jauh banget di depanku berhijrah di aspek lainnya. Jangan hanya karena dia udah berhijrah di suatu hal diburu-buruin buat hijrah di hal yang lain. Hargai prosesnya. Setiap orang berusaha menghadapi kesulitannya yang nggak mungkin diumbar di sosial media. Pun kak Gita, aku yakin kak Gita lebih dari sekedar tau hukum pacaran dalam islam. Tapi setiap orang punya circumstance-nya masing-masing, ada pertimbangan yang orang lain ga tau dan mungkin ga bisa terima. Dengan segala pertimbangan ini keputusan akhir yang aku ambil adalah mendem kenyinyiran itu di kepala, diredam pake doa semoga orang yang aku liat kurang tepat itu diberi hidayah, segera berhijrah dan istiqomah. Ga cuma ke kak Gita, orang-orang lain juga.

    Dan follower+subscriber kak Gita aku yakin udah pada dewasa, udah pada tau baik-buruk, tau kalau es itu dingin dan api itu panas, tau cara memilih. Daripada nyinyir mending liat ke dalam diri sendiri, sudah sebaik apa diri masing-masing. Dan jangan karena Gita Savitri Devi adalah influencer, content creator kalian menuntut dia sempurna. Iya, memang sebaiknya dia memberi contoh yang baik. Tapi Gita juga manusia yang punya keterbatasan. Dan kita nggak paham situasi yang dia hadapi. Belajar filter sendiri aja deh mana yang patut ditiru dan mana yang nggak. Dan kalo beneran peduli, daripada cuma nyinyir, sempetin buat doain dia kalo lagi nonton video/dengerin soundcloud/baca blog/liat post IG punya kak Gita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di atas aku mengomentari orang yang suka mem-point out kesalahan orang (tukang nyinyir berbulu dakwah). Disini mau nambahin dikit dari sisi orang yg dijabarin kesalahnnya oleh penyinyir.

      Anw, kak Git. Kadang kita marah sama komentar-komentar orang macem gitu bukan hanya karena dia terlalu lancang atau sok tau ikut campur urusan pribadi orang. Tapi sebenernya jauh di nurani kita sadar kalau dia ada benarnya dan kita salah(base on pengalamanku sendiri). Cuma memang manusia dasarnya nggak suka aibnya diumbar orang lain, atau di point out kesalahannya. Meski kakak udah nulis ini pun kedepannya orang-orang itu akan selalu ada, komen-komen itu akan terus muncul. Coba diambil positifnya, kalau mereka ada benarnya ya contemplate aja mungkin itu salah satu cara Allah menegur/mengingatkan kita, walaupun itu bukan cara yang benar dalam mendakwahi & menasehati.

      Semoga Allah nggak memutus hidayah untuk kita semua, ya. Semoga hati kita juga selalu dibersihkan dan dilembutkan sehingga setiap hidayah yang mendekat tidak kita abaikan. Karena hati yang keras itu petaka.

      Delete
    2. Makanya aku sangat respect dan apresiasi kamu karena kamu tau gimana caranya respect ke orang. Dan ternyata jaman sekarang sangat jarang ada orang yang punya mindset kayak gini.

      Aku sampe mempertanyakan aja. Orang-orang ini pingin orang yang berdosa jadi sadar, tapi dianya sendiri kok nggak ada akhlaknya. Gampang sekali mereka menganggap rendah orang lain. Karena begini, seorang maling aja, aku yakin seyakin-yakinnya dia tau kalau maling itu dosa. Tapi mungkin buat dia, dia nggak punya pilihan lain. Ada banyak hal yang kita sebenernya nggak tau.

      Sama seperti pacaran ini. Mungkin buat para pendakwah ini pacaran itu sekedar pacaran, hal yang sangat mudah untuk ditinggalkan. Lah, mereka nggak tau gimana casenya di aku. Nggak tau segala macam yang terjadi pada aku, apa yang sekarang aku hadapi, dan apa yang membuatku belom bisa untuk mengambil langkah selanjutnya dan menghalalkan hubunganku. Dan buat apa jugaa aku konfirmasi ke orang-orang tentang decision pribadi aku?? Toh mereka hanyalah strangers. Hanyalah orang yang nasty dan judgemental, yang sembunyi di balik selimut agama.

      Seringkali aku mikir. Kita umat Islam sibuk mencari-cari dosa saudara kita sendiri. Okelah kalau persoalan umum. Ini yang dicari-cari sampe di ranah pribadi. Orang yang ekstrim atau yang pro dengan jihad ala-ala ISIS sibuk mengkafirkan muslim tengah dan kiri yang mereka pikir terlalu moderat untuk dianggap sebagai muslim. Orang kiri sibuk mengarab-arabkan orang muslim yang mencoba selalu mengislamkan dirinya lebih dan lebih lagi (tanpa ganggu orang lain. they just mind their own business). Sementara orang-orang judgemental ini, sibuk pointing out dosa orang-orang yang dia kenal maupun yang mereka temui di Internet.

      Poinnya adalah kita sibuk mencari keretakan di dalam rumah kita, padahal di luar maling lagi berusaha membobol pintu kita. Musuh-musuh islam itu ada dan nyata. Kayak sekarang pemimpin-pemimpin populist lagi on the rise. Trump, Le Pen, Geert Wilders, dan aku yakin masih banyak lagi. Orang-orang kayak gini yang mestinya kita berantas, bukan malah saudara seiman kita sendiri. Liat gimana sekarang ISIS udah meraja lela. Orang-orang itu yang mestinya kita condemn. Bukan orang-orang yang (on the process of) jadi beriman di jalan yang lurus.

      Lucu aja liatnya. Kalau ada musuh Islam yang emang beneran islamophobic yang mulai macem-macem, kita kebakaran jenggot. Kita tiba-tiba bersatu, berbondong-bondong demo turun ke jalan ngebelain agama kita. Laaahhh tapi di kehidupan sehari-sehari kita saling judge satu sama lain. Itu apaan kayak gitu? -__-

      Delete
    3. Lucu aja liatnya. Kalau ada musuh Islam yang emang beneran islamophobic yang mulai macem-macem, kita kebakaran jenggot. Kita tiba-tiba bersatu, berbondong-bondong demo turun ke jalan ngebelain agama kita. Laaahhh tapi di kehidupan sehari-sehari kita saling judge satu sama lain. Itu apaan kayak gitU ? -_-

      Kalo yg itu menurut gua kak, karena mereka muslim wallaupin gak saminawa'atona tapi sehengganya mereka msih pnya sedikit iman untuk membela agama mereka.

      Delete
    4. This comment has been removed by the author.

      Delete
    5. Iya memang, tapi beragama itu bukan cuma menjalan kewajiban untuk membela agama. Memperlakukan orang lain dengan baik itu juga kewajiban. Sayangnya banyak yang masih gagal memahami esensi dari agama, yang bukan cuma hubungan antara hamba dan Tuhannya tapi juga hubungan antara sesamanya juga. Nggak perlu ketika jadi umat beragama deh, udah seharusnya kita tau caranya behave dengan baik ke orang sekitar kita. Kita itu tinggal berdampingan sama orang lain. Gampang sekai sebenernya untuk paham sama logika ini.

      Buat apa kita kaya ilmu tapi miskin akhlak? Kok bisa agama yang sejatinya bikin umatnya makin bijak, malah jadi bikin dia jadi snob, hateful, rude. Menjaga hati sendiri dan hati orang yang diajak bicara aja nggak bisa. Jadi selama ini belajar agama buat apa? Cuma buat ngasih makan ego aja?

      Setiap kali aku dapet comment yang nggak pantas, aku selalu stalk yang punya akun. Nggak jarang dari mereka adalah orang yang terlihatnya religius. Bahkan ada beberapa orang yang termasuk orang-orang yg ikut aksi 212 kemarin. Imannya tinggi dong berarti? Melihat kitabnya dihina masih ada gejolak di hati nurani. Tapi gimana kelakuan dia ke manusia lain? Gampang banget nyudutin brothers/sistersnya sendiri yang masih dalam proses menuju kebaikan. Miris liatnya. Dia malah jadi merusak citra agamanya dan orang religius beneran yang akhlaknya bagus. Orang-orang yang baru mau belajar islam, kalo ngeliat kanan-kirinya kayak gitu kelakuannya, langsung ilfeel kali. Sama kaya temenku yang cerita ke aku kalau dia malas dateng ke pengajian di lingkungan dia, karena orang-orangnya pada judgemental. Nyatanya memang banyak yang begitu. Saudara seiman sendiri bukannya dirangkul, tapi malah dipojokin.

      Kata temenku orang-orang kayak gitu belajar Islam tapi ngga pake guru. Jadi ngga ada yang selalu ngingetin kalau hati kita harus tetap rendah. Banyak kan sekarang orang-orang yang suka mengkafirkan saudara seimannya sendiri? Meanwhile dia juga nggak pernah berhenti bertakbir dan bershalawat, selalu jadi garis terdepan acap kali Islam sedang diserang. Oh the irony...

      Delete
    6. However, aku juga suka sedih ngeliat umat muslim malah sibuk membuat keretakan intern, aku pun pernah di poin mempertanyakan apa aku ada dipihak yang benar(you know di Indonesia ada 2 golongan besar)? Bagaimana kalau aku ternyata menganut paham yang banyak mengubah ajaran nabi tapi karena orang sekitarku banyak yang melakukan aku merasa itu benar.. Kenapa orang muslim Indonesia yang ada di TV tau ormas tertentu suka menyampaikan aspirasi dengan cara yang kurang baik & nggak efisien? Bukannya muslim kaum yang mulia, tinggi derajadnya? Kenapa dalam berakhlak sering terlihat lebih rendah di banding agama lainnya?
      Bahkan keseringan ngeliatin muslim model beginian aku sempet punya pertanyaan yang bodoh banget.. "Apa Islam itu agama yang benar?" Kalau ternyata agama lain yang benar?

      Untung sih, dulu punya pikiran gini pas masih awal banget masuk SMA belum berani mengambil keputusan ekstrem. Kayaknya kalo terus-terusan ngeliat kelakuan muslim yang amburadul di umur sekarang bisa jadi aku murtad. So, waktu itu pertimbangan utamaku adalah orang tua yang selalu berusaha berislam, Ayah dan Ibukku punya cara berbeda dari mereka yang terlihat kurang berakhlak. Karena aku juga tau kalau murtad itu dosa yang besar jadi aku berusaha berhati-hati sekali mencari jawaban. Walau dulu males dan takut dibilang sok alim aku mulai dateng ke pengajian-pengajian, lebih dengerin kalo guru agama lagi jelasin materi. Karena aku nggak mau berada di barisan yang salah.

      Lambat-laun ini semua jadi kebiasaan, ilmu pelan-pelan nambah, mulai bisa ngelogikain hal-hal dalam islam like..
      Kalau islam itu bukan yang benar, kenapa ya aku merasa aman & nyaman kalau auratku tertutup
      Kalau islam bukan yang benar kenapa ya baca Al-Quran bikin beban di hati agak ringan
      Kalau islam bukan yang benar, kenapa di Al-Quran banyak fakta-fakta menakjubkan dan jawaban dari permasalahanku
      DLL

      Dari situ aku bener-bener yakin aku ini amat beruntung dipilih Allah untuk menjadi muslim sedari lahir. Tinggal gimana jadi muslim yang benar selama sisa hidup aja. Aku juga sadar pada akhirnya belajar islam itu ya dari Al-Quran dan Hadist karena itulah guide-nya bukan dengan ngeliat orang-orang muslim yang 'begono'. Bukan juga cenderung kepada golongan tertentu. Yang sumber Hadist-nya kuat dan ga melenceng dari Al-Quran berarti itu yang diamalkan.

      Menyangkut dakwah, aku sendiri bukan orang yang berani menyampaikan karena ilmu masih cetek banget, takut banyak salahnya. But kalau etika, bisa lah diraba-raba dari kisah Rasulullah dan balik lagi muslim itu umat yang mulia jadi pasti caranya juga harus baik dan benar. Kalau banyak mudzarat berarti itu nggak benar.

      Kenapa ya umat islam begini? Apa memang karena Islam ini agama yang sempurna sehingga penganutnya kesusahan mengikuti? Atau karena muslim Indonesia tau agamanya adalah sempurna membuat dia dengan mudah menuding yang nggak sama dengan golongannya adalah salah? Padahal sejak zaman Rasul pun sering ada perselisihan dan perbedaan yg disikapi santai oleh Rasul, nggak disalahkan.

      Banyak kenapa-kenapa yang lain juga yang aku nggak tau jawabannya sampai sekarang. Terutama dalam berkhlak. Entah kok kayaknya susah gitu buat muslim Indonesia memperlakukan orang lain dengan baik apalagi itu saudara seimannya. Beda rakaat tarawih aja kadang raut mukanya gimana gitu pas diajakin jamaah padahal nolak baik-baik aja kan juga bisa. Diingetin tentang hal yang dia lakukan itu salah(padahal secara personal dan dengan bahasa yg aku usahakan sebaik mungkin) eh responnya malah poin out kesalahanku.. 'halah kamu sendiri juga belum begini, harusnya kalau udah bisa ngomong masalah itu kamu udah nggak begini begitu'
      Kesannya aku harus sempurna dulu gitu baru boleh ngingetin/kasih tau. Padahal analoginya tuh ya aku tuh udah tau rute jalan yang bener yang mau dia lewatin buat ke suatu tempat, tapi dia malah pilih jalan lain yang disitu sering ada ranjau pakunya. Eh pas aku kasih tau malah ngomong "halah, kemaren kamu ke kota A aja kesasar". Ya kan beda kota A sama tempat yang udah aku paham jalanannya -______-

      Delete
    7. aku baru baca-baca tulisan kak Gita yang ini, dan bacain komentar-komentar disini. mengenai pembahsan kak Gita dan kak Awal Laili tentang niat baik yang harusnya disampaikan dg cara yang baik. btw, aku pernah mendapatkan pelajaran entah dari orang tua, pengajian, atau dari guru di sekoah, bahwasanya kewajiban kita bukan menasehati saudara kita, tetapi kewajiban kita hanya mengingatkan. Li ngamali walakum ngamalukum "amalku adalah amalku, amalmu adalah amalmu", dan masih ada kelanjutannya yang artinya "aku tidak bertanggung jawab (di hadapan Allah) atas apa yang kamu kerjakan dan kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang aku kerjakan. dari situ jelas kalau kita hanya wajib mengingatkan. dan cara mengingatkan saudara kita ini harusnya eye to eye, bukan menegur di muka umum yang justru membuat mereka malu, merasa terganggu, merasa paling buruk, atau parahnya jika mereka malah merasa dendam. bukankah kita malah menjerumuskan mereka ke dlam pikiran yang negatif??

      saya punya teman. dimana setiap kalimat-kalimat nya di sosial media dia anggap dakwah yang sedang mengikuti perkembangan zaman. niatnya (mungkin) memang baik, namun saya rasa, dalam kalimat yang dia tulis kebanyakan mengandung sindiran meskipun bukan saya yang disindir dan saya tidak merasa tersindir. atau dengan kata lain "memojokkan". pandangan saya terhadap sesuatu yang sifatnya menyindir, berati orang tersebut merasa lebih baik dari orang lain. di kolom komentar, temanku ini mengatakan "ah sama-sama masih belajar kok", tapi kesan dari kata-kata di setiap tulisannya di sosial media itu seakan "menggurui" sesamanya. suatu ketika aku sedang di Gramedia, aku menemukan buku yang judulnya "Inspirasi Tanpa Menggurui", saya pikir mungkin pengarangnya juga gerah dengan situasi sekarang dengan banyaknya orang yang menggurui dengan berkedok dakwah.

      btw ya kak Git. bukan maksud saya menjelek-jelek kan temanku sendiri, aku kenal baik dengan dia, tapi tidak semua sikap dia aku setuju. ini aku ceritakan hanya sebagai contoh. karena sebagai pengguna internet, aku menemukan banyak orang yang berusaha menjadi seperti kak Gita. memang benar kak Gita ini banyak mengispirasi orang lain. tapi kita sama-sama tau, tidak ada seorangpun yang mengisnpirasi orang lain dalam semua bidang atau sapek kehidupan. adakalanya dalam suatau hal dalam tulisan orang kita merasa cocok dan ada kalanya kita merasa tidak cocok meskipun penulisnya sama. orang-orang mencari tulisan orang lain (misalnya aku, biasa kepoin blognya kak Gita, karna aku merasa tulisan kak gita ini banyak yang membangun khususnya untuk kaum hawa. terlebih aku ini anak rantau baru, kuliah masih semestr 2, belum lama pisah dari orang tua) untuk mencari inspirasi yang baik tentang cara pandang terhadap kehidupan, agama, dan bagaimana menjadi pribadi yang baik di tengah masyarakat dunia. namun tidak semua kebaikan yang terkandung dalam tulisan orang itu mampu kita "adopsi" meskipun itu baik juga. kadang ada juga yang memang kita rasatidak cocok dengan kita. nah seharusnya, kita bisa memilah mana yang kita adopsi mana yg tidak perlu. kalau memang kita merasa apa yang kita dapat setelah membaca itu kurang baik untuk kehidupan kita dan agama kita, kita bisa mempertimbangkan mana yng lebih baik dan meninggalkan yang kurang baik. apparently hal itu kurang disadari oleh para pengguna sosial media, sehingga menimbulkan judgemen-judgement yang sangat mengganggu. mereka tidak mempedulikan pelajaran apa yang mereka bisa dapat, tapi sibuk mengajari orang lain. menjadi seperti kak Gita itu tidak mudah. banyak yang sudah mencoba, tapi hasilnya mereka justru membanggakan diri sendiri dan melenceng dari niat menebar kebaikan. semangat dan terus menulis ya kak, aku selalu nunggu tulisan-tulisan terbarunya kak Gita. semoga justru adanya orang nyinyir ini membuat kak Gita lebih baik dalam berfikir positif dan kritis, dan senantiasa membetengi diri dengan imtaq. semakin tinggi pohon, semakin kencag pula angin yang menerpanya.

      Delete
  5. People know you as public figure that inspires others. It doesn't mean they are over judging you, they just wanna get good influence from their environment especially, you. That's a good perspective of view you can take. Just don't too easily said they are too nyinyir. These are other comments that you can think about it or just let it go.

    ReplyDelete
    Replies
    1. They are indeed nyinyir. Karena menasehati secara sopan itu sebenernya sangat mudah. Sayangnya mereka terlalu ignorant. Justifying kenyinyiran mereka menurutku such a waste of time.

      Delete
  6. Sering banget nemuin orang2 yg memberi teguran sesama muslim pake tameng "sudah tugasnya sesama muslim untuk saling mengingatkan", hal yang paling penting yg sering di lupakan adalah, adab menegurnya ! 1.tidak boleh mengkoreksi seseorang jika kamu dalam keadan marah. 2. Jangan mengkoreksi sesorang di hadapan orang lain 3. Jangan pernah pakai kata "kamu" tapi pake kata "kita", dengan pake kata kamu itu bisa buat seseorang merasa buruk, dan tidak akan mau menerima apa yg kamu katakan even itu bener sekalipun. Jika tidak bisa menyampaikan sesuatu
    Yang paling penting adalah perbaiki diri kita tingkatkan amal shaleh dan berbuat baiklah terhadap sesama.

    ReplyDelete
  7. Kak git pengalamannya sm bgt kayak aku kak.

    ReplyDelete
  8. Setuju kak, mau pacaran atau enggak itu tergantung gimana kita menyikapi hal itu. Menurut saya Allah gak ngelarang kita buat pacaran yang Allah larang itu berbuat zina jadi ya tergantng gimana cara pacarannya. Pacaran itu hanya status. Kan sama aja gak pacaran tapi Zina nya jalan juga

    Kak git mau nnya dng kalo kakak ada dilingkungan yang gak nyaman gimana ? Kakak lebih milih sendirian aja atau bareng-bareng temen ang banyak tapi gak nyaman ? Trus gimana caranya biar bisa nyaman gitu sama banyak orang.

    Sukses ters ya kak
    Doain aku juga hehehe😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. alangkah lebih baik kalo kita ngambil poin 'cara berdakwah yg baik'nya aja tanpa mengambil kesimpulan pacaran boleh dan zina enggak. manusia tempatnya salah dan lupa,cmiiw :)

      Delete
    2. Kakak tergelitik untuk menyampaikan pendapat mengenai tulisan dek Annisa "Allah gak melarang kita buat pacaran yang Allah larang itu berbuat zina jadi tergantung gimana cara pacarannya. pacaran itu hanya status". Kakak juga lagi belajar untuk berhijrah, namun setelah kakak denger ceramah ustad-ustad kata pacaran itu bisa dikatakan pintu mengarah kesana. karena zina itu banyak contohnya ada zina mata, zina telinga, zina tangan..sehingga ada baiknya dijauhi. Tapi itu kembali lagi ke individu tersebut bagaimana dalam kehidupannya. mari kita ulas lagi yaa dan mengingatkan,,, ^_^

      Delete
    3. di postingan Gita di atas dia tidak membenarkan pacaran loh.. yang Gita titik beratkan adalah cara berdakwah yang baik tanpa harus menyinyir, menyindir dan lain sebagainya. Pacaran itu tetap saja hal yang salah dalam Islam. Dengan berpacaran kita lebih dekat ke hal-hal yang medekati zina. :) Semoga kita selalu dalam lindunganNya.

      Delete
  9. Aduh teh gitaaa .. setuju banget ini, saya juga ngerasain.
    Sekarang emang zamannya dakwah rasa nyinyir mungkin yaa?? hehe

    ReplyDelete
  10. I ever felt like this one.
    Sebenarnya sih ini sudah menjadi kebiasaan sebagian masyarakat, soalnya dilingkungan gue juga kayak gini, kadang jugment mereka seringnya dateng dr apa yg dilihat doang bukan dari realita & apa yg kita rasain.
    Seolah-olah mereka paling tau kita, tp sebenarnya mereka sendiri ga paham dengan diri masihg-masing.
    But, this is life. Take it or leave it. :)

    ReplyDelete
  11. Hai kak Gita! Btw, aku udh tau (walau sbg strangers) mungkin yang kaya kak Gita bilang 0,0000000000001% dr kehidupannya ka Gita sejak krg lbh taun 2015 akhiran. Aku juga udh ngeliat step by step kak Gita hijrah. I really appreciate every kind of hijrah πŸ’ž

    Btw, guru gue pernah bilang kalo dasarnya fitrah manusia itu sbg makhluk Tuhan emang ga mau disalahkan (gue pun ngerasa demikian, karena jika gue terus dipojokan dengan kesalahan gue, gue malah jadi ga respect ke orangnya. Mungkin singkat kata, bukan tipe yg dibentak lgsg berubah sesuai kata mereka. Karena hidup adalah proses). Beberapa tipe orang lebih suka (kaya gue pribadi) orang itu nyontohin yg baik tanpa ngebentak atau ngejudge sembarangan. Gue pasti bakal mikir dan yaa bakal ngerasa oh gue harusnya gini. Dan yang paling penting untuk diingat bagi para judges adalah jika kalian mau orang itu berubah jadi lebih baik maka doakanlah orang tersebut dan intropeksi diri kalian juga. Tau kan ceritanya Ummar bin Khattab? Gue emang belum paham betul soal agama, tapi seengaknya gue share apa yg udh gue dapetin. Ummar bin Khattab terkenal punya sifat yg keras kan dan sblm masuk Islam beliau benci bgt bahkan sampe niat mau membunuh Rasulullah? I mean, kalo kalian logika, misalkan banyak orang ngejudge bahwa tindaknya salah, harusnya dia gini gitu, pasti Ummar ga bakal masuk Islam. Kenapa kok Ummar bisa masuk islam? karena kalo ga salah ya, Rasulullah SAW pun dulu mendoakan Ummar agar bisa masuk islam. See? Kekuatan doa lebih kuat broo. *cmiiw

    Intinya, kalian para judges ada kalanya kalian lbh baik diam, introspeksi diri dulu, dan doakan orang tsb agar bisa jadi orang yg lebih baik lagi. Dan dear Ka Gita, semangat ka Gita untuk jadi Ka Gita yg lebih baik lagi (: Semangat di jalan hijrah (karena aku pun juga lagi di jalan itu). Dan semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran rezeki, jodoh. mendapatkan mimpi-mimpi kita, akhirat, dan hijrah ke Kak Gita dan kita semua. Aamiin. Afwan ya kalo banyak salah.


    Ps. Gue juga mau minta doanya gaes, biar gue dan para pejuang kelas 12 taun ini diberi kemudahan dan kelancaran dan juga kesuksesan dalam menempuh ujian-ujian dan mimpi-mimpi kita. Aamiin ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. saling doain yaa, gue anak 2016 yg mengejar fakultas kedokteran di taun ini:) doain SBMPTN lancar sampe dapet in sya Allah..

      Delete
  12. *pukpukpuk*

    dont take it too deep in ur heart, Git. Gita sekarang dah mulai jadi figur idola buat anak bangsa jadi.. be ready untuk jadi tujuan dari semua mata.

    karena sosmed sekarang lebih cepet viral.

    semoga pelakunya baca ya, hehe.

    jangan lelah terus berubah jadi baik ya kak.. sukses terus buat gita :)
    semoga semua yang sudah gita lakukan dibalas sama Allah SWT sama yang lebih baik dan lebih banyak, aaamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobaannya gila euuyy. Masalahnya ini persoalan sensitif hiks T_T

      Delete
    2. ehm.. sedikit banyak paham lah.

      gapapa, tetep fokus terus ke kebaikan2 yang kita lakukan.
      cukup tau aja mana orang yang menghargai proses, mana yang enggak

      kebanyakan mereka yang berkedok "revolusi" tu yang nggak sabaran. Maunya langsung disapu bersih semua, harus berubah cling tiba2 naik kelas. Padahal naik kelas aja ada ujiannya..

      Anyway, tetep semangat yak!

      Delete
  13. bener kak git... sebagai muslim jika melihat saudara seimannya melakukan hal yg salah seharusnya mengingatkan secara baik2/pribadi ato mending diem doain dia biar gk menyakiti hati orng tsb, bukan malah di umbar2 nyinyir di sosmed orng tersebut yg seakan akan pengen dianggap bener tp malah gapunya aturan ngumbar2 kesalahan orng lain. toh banyak hal baik lainnya yg bisa dilihat dan dicari tp orng malah mencari2 kesalahan orng lain tanpa berkaca. semangat kak gita:))

    ReplyDelete
  14. Betul git, dakwah kurang baik dengan cara yang kayak gitu. Kalau yang gua dapat dari guru gua, dakwah itu ada seninya. Menyesuaikan situasi dan kondisi. Dan mungkin yang komen begitu belum paham, tapi semoga lekas paham kalau baca respon langsung dari orang yang dijadikan objek dakwahnya dgn cara yg kayak gitu.

    ReplyDelete
  15. 'You never look good, trying to make someone look bad' ini quote cocok banget untuk postingan lo git. Asli gua setuju bgt sama postingan2 lo, cara berpikir lo. Gua seneng gitu baca postigan lo soal nya, gua kira gak ada yang sependapat sama gua, tp ternyata opini lo hampir sama. Terus mennginspirasi ya git 😊

    ReplyDelete
  16. Kak git serius gue setuju banget sama pendapat lo ini, emang kebanyakan orang yg so tau tentang islam begitu, ngerasa dirinya paling bener jdi bisa seenak jidat menjudge orang. Walaupun dengan alibi bahwa dia mau nasehatin kita karena kita salah, tapi kebanyakan cara mereka itu bukan mengingatkan malah menjatuhkan, so gue paling males sama orang yg begitu, gue sendiri pernah ngalamin jdi gue ngrasa bukannya mau memperbaiki diri gue malah jadi mikir "apaan sih lo ngingetin tapi gitu, serasa gue tuh manusia penuh dosa dan lo yg ngingetin gue manusia paling suci". Dan bener kata lo kak dakwah dengan cara langsung menjudge itu bukannya bikin kita sadar malah bikin kita menjauh dari kebenaran. Karena setiap orang itu punya prosesnya masing". Makanya hargai setiap proses yg mereka lakuin, kita pake hijab bukan brarti kita udh jadi manusia bener kan yg kaga ada dosa, kita juga brusaha buat berubah jadi lebih baik, pasti. Jadi suka sebel aja gitu yak mentang"kita pake hijab jadi orang"sensitif banget nilai kita, gue juga pake hijab ka git, gue juga punya cowo dan gue sering banget digiinin persis sama yg lo alamin. Thanks ka git, sukses teruss !!

    ReplyDelete
  17. Kak gita, i like how you show your thoughts into words. Dgn mengingatkan kesalahan-kesalahan seseorang sebenarnya ngebikin yang di nasehati jadi eneg dan yg menasehati makin merasa puas. Bersyukur teman kanan-kiri kak gita orangnya gak begitu. Kalaupun ada nyinyir-an ya sebaiknya cukup disimpan dalam hati ya kan :)
    Semoga orang-orang seperti itu bisa kebuka ya hati dan pikirannya dan dapat memilah yg mana privasi dan bukan. Jaga kesehatan ya kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank u so much :)

      Yes, I'm very much grateful karena temen-temenku di sini orangnya bijaksana banget. Mereka ngebuktiin ke aku kalau being a religious tapi tidak judgemental itu ternyata sangat mungkin sekali.

      Delete
  18. good share nak gita, dalam adab islam mmg tidak boleh menasehati org lain didepan umum.

    ReplyDelete
  19. Hi Gita,
    Sekian lama cuma jadi silent reader ke blognya, akhirnya aku ngerasa pengen komen juga di postingan ini.
    Fenomena sindiran berbulu dakwah ini udah ramai dimana2 git, dan klo aku malah ngalamin hal kaya gini in real life not on socmed.
    Klo aku sih awalnya sama git, beneran gagal faham sama orang2 strangers atau yg kenal pake modus gini buat ngerubah orang lain.
    Tapi aku pernah nemu di akun ig islam dan di pinterest klo ada quote dari imam syafei (cmiiw) klo menasihati orang itu sembunyi2, dan yg menasihati di depan umum itu bukan nasihat tapi menghina. Kurang lebih gitu kata2nyalah.
    Dan aku sendiri ngerasanya bener, org2 model gitu emg jadinya ngejatohin orang gitu.

    So, seperti komen2 temen2 diatas, tetep sabar ya Git. Emang membuka mindset orang2 impolite yg dikit2 main judge itu sulit.
    And then tetep semangat git, bikin konten yg berkualitasnya 😊
    Aku yg umurnya udah mayan banyak gini merasa konten dan thought nya yg gita buat tetep ngena hehe

    ReplyDelete
  20. Dan akuu mengalami apa yang kamu alami saat ini git πŸ˜‚

    ReplyDelete
  21. I couldn't figure out how some people feel good about being so honest-almost insulting to the others though they have good intention. What do they really care? Like it can suddenly makes us change as they tell us to? So sad, I am having this kind of situation :(

    ReplyDelete
  22. Yap gua setuju ada baiknya tetap menghargai privasi orang lain dan ga mencari kelemahan, kesalahan orang lain. Tetap kewajiban umat muslim untuk saling mengingatkan umat muslim lainnya. Tapi tidak dengan memojokan orang tersebut. Cukup di berikan perlakuan, penyampaian yang baik dan contoh yg baik, pasti mereka semua bisa melihat mana yg baik dan yang buruk.

    ReplyDelete
  23. Kak gita ini jawaban yang aku tunggu-tunggu dari kakak. Iya semua orang punya privasi, "it's her life", hanya dengan kalimat tersebut aku sudah mengerti tentang pertanyaan aku di vlog kk. Mohon maaf juga kalau kemarin di vlognya kak gita ada komentarnya aku dimana aku menanyakan pemikiran kak gita tentang diri kak gita sendiri yang sekarang sudah berhijrah, dan alhamdulillah kak gita sudah membahas itu sekarang dengan tulisan kak gita yang ngena banget di aku, karna gak menutup kemungkinan dengan umur yang nanti sudah kayak kak gita sekarang aku akan menemukan pertanyaan yang sama seperti yang aku tanyakan ke kak gita sebelumnya. :)

    ReplyDelete
  24. Ini jawaban yang aku tunggu-tunggu dari kak gita, iya kak semua orang itu punya privasi, "it's her life", aku setuju sama kalimat kakak.
    Mohon maaf juga kalo kemarin aku sempat mengajukan pertanyaan tentang pandanga kak gita tentang kak gita yang sudah sudah berhijrah comment vlog. Jadi akhirnya aku bisa mendapatkan jawabannya di tulisan ini, jadi aku sepaham kok sama tulisan kak, kedepannya juga gak menutup kumungkinan ada orang yang memberikan pertanyaan ke aku tentang diri aku sendiri yang masih penuh dengan dosa ini, dan "it's her life, it's private life".

    Thanks kak git :)

    ReplyDelete
  25. mungkin yang ngjudge ka Gita belum pahan isi surat An -Nahl 125 jadi gk tau gimana metode dakwah yang tepat untuk diterapkan ke masing-masing sarannya.. πŸ˜…
    tetap semangat kak ... !!!

    ReplyDelete
  26. kejadian yang pernah aku alamanin. tapi bedanya aku real life orang orang yang aku anggep temen malah judge seenak mereka di depan banyak orang. yah i know kalo mereka cuman pengen tau dan ngasih tau. tapi ngingetin kesalahan orang kan juga ada adab nya. dan yang paling parah adalah salah satu dari mereka ngucapin kata yang astaghfirullah aku sampe nangis. seakan mereka orang paling bener dan gapunya dosa sedangkan aku yang paling salah. pesan moralnya adalah : kepo sewajarnya. semangat berhijrah mba git !

    ReplyDelete
  27. may be orang-orang di medsos yg peduli sama kekurangan lo dan coba untuk memperbaiki kesalahan lo itu menurut gue ya, niat mereka udah bener, tapi salahnya dengan cara mereka (komen dengan bahasa kayak mereka ngerasa bener bgt). Menurut gue itu keliru, dan mungkin bisa di bilang kayak maksa org buat bener. yah namanya manusia kalo mau berperilaku bener ya belajar dikit-dikit dan kalo 'langsung' gitu kesannya maksa diri sendiri. Rasulullah nggak pernah sekalipun membenci atau sebel ngeliat org yg berperilaku kurang bener, beliau pasti nasehatin dgn manusiawi. org yg nasehatin dgn cara nyinyir, menurut gw itu gak manusiawi, org2 yg dinasehatin sama org begitu juga nggak akan mau, malah sebel dan risih jadinya

    ReplyDelete
  28. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  29. multi talenta banget sih, nyanyi bisa, pinter iya, nge vlog bagus, ehh tulisannya enak dibaca pula.

    mampir-mampir lah di www.ceritadikit.com

    ReplyDelete
  30. Assalamualaikum kak gita, aku baru beberapa hari ini ngikutin kakak di internet, but i'm so interest with your personality. Yang namanya berhijrah itu step by step, ketika kita merangkak mendekati Tuhan maka Tuhan akan berjalan mendekati kita, ketika kita berjalan mendekati Tuhan maka Tuhan akan berlari mendekati kita. Aku yakin kak gita adalah pribadi yang memiliki fikiran terbuka dan selalu berproses menjadi lebih baik, jd kalo ada yg menyinyir atau men-judge kakak itu artinya dia belum mengenal kakak. Lakukan yg sekiranya kakak anggap benar dan terus belajar, terlebih tentang Islam, dan aku cuma bisa doain semoga kita bisa menjadi muslim yg lebih baik 😊

    ReplyDelete
  31. Assalamu'alaikum kak gita? aku baru mengenal kak gita dari vlog sama blog minggu-minggu ini. Aku setuju banget sama pemikiran kak gita. Dan aku juga baru ngalamin hal yang sama cuma beda konteks aja kak. Malahan ini yang ngomong ke aku temen aku sendiri tapi caranya yang salah yaitu di depan temen-temenku. Jujur aja ya aku lumayan sedih juga kak pas temenku bilang kaya gitu. Tapi semalaman aku berpikir mungkin itu cara Allah menegur aku lewat temenku meskipun dengan cara yang meyakinkan. Seharusnya sesama teman dan saudara seiman, kita saling mendoakan bukan malah mengjudge kalo amalan kita yang paling bagus dan yang lainnya tidak. Karena hijrah juga butuh proses. Pokoknya semangat ya kak gita . Semoga tetap istiqomah dan jadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  32. jreng jreng jreng jreng.
    Kacangin aja teh git yang gitu mah.

    https://www.youtube.com/watch?v=tlnTKzHKMNA

    ReplyDelete
  33. Perilaku orang-orang di socmed sekarang memang aneh-aneh sih 😏. Ambil sisi positifnya aja setiap kritikan yang mereka berikan 😊. Resiko seorang public figure memang harus siap terima kritikan apapun itu. Semangat Git. Aku subscriber baru kamu di youtube *info ga penting*

    ReplyDelete
  34. hi Gita... salam kenal, gw Ica

    setujuuuu..! gw juga abis ngalamin yg kayak gini nih.

    dy baca blog gw, lalu email ke gw gambar screenshoot kalau gw melalukan dosa besar karna gw berKPR. udah gitu doang, gak kasih tau dalilnya apa.. gimana implementasinya ke fiqh muamalah kontemporer.. dsb. asik banget maen ngejudge tanpa melihat perspektive lain.

    terkadang orang tuh suka gak nyadar, kalo smua orang di dunia ini sebenernya fakir ilmu. yg berlebih itu cuma Allah yang Maha Tahu.

    nyahahaa, jadi curhat. btw, tetep semangat ya Gita!!

    ReplyDelete
  35. kak git, i'm so glad untuk membaca dan menonton semua tentang cara berfikir kamu,selalu buat aku haus akan wawasan dan ilmu juga jadinya, terus sharing ke media social hal-hal seperti ini yaa kak ! sangat amat bermanfaat. terima kasih sudah membuat aku termotivasi untuk selalu berfikir terbuka dan positif tentunya. sukses selalu.

    ReplyDelete
  36. Aku setuju sama kak gita. Emang seharusnya orang-orang yang diluar sana harus ngebersihin kacamata yang mereka pakek, biar bisa dengan jelas lihat siapa sih yang dinyinyirin. Udah kenal banget apa cuma sekedar tau. Aku yakin, setiap kita memilih pilihan dalam hidup kita pasti ada alasannya dan alasan itu nggak perlu kita tunjukin ke mereka-mereka yang emang seharusnya nggak tau. Dan aku yakin ketika kita cerita ke mereka alasan kita, mereka malah menjudge kita bahkan mulai deh dengan omongan-omongan yang bikin kita tersinggung ataupun sakit hati. Padahal kan mereka nggak ngerasain gimananya kita harus melakukan hal yang sama dengan pilihan kita.
    Buat kak gita tetep semangat ya kak, i know you're strong woman and i believe you can fix any problem in your life :)

    ReplyDelete
  37. Hai Kak git salam kenal. aku baru ngefollow ni, baru kemaren banget ngesubcribed channel yt, ngikutin IG dan baca blognya~ aselinyaaah kau luar biasa kak :D intinya gini si tak ada kebaikan tanpa kesabaran, kali aja ye tu org pengen menyampaikan kebaikan tapi belum sabar aja jadi ada sesuatu yg ngebuat kurang ngeunah di hati kita "objek" da'wahnya. tetep semangat ya kak! I know what youre feeling kak~ semoga bro yg tadi dapat sentilan dari Allah ya supaya bisa perbaikj dikit tu gaya da'wahnya~ barakallahu fiik kak git :D so proud of you, pengen banget bisa ngobrol langsung euy heuheu~

    ReplyDelete
  38. Ka gitaaa, tetep menginspirasi! barakallaah. doain pengen ke jerman juga:")))

    ReplyDelete
  39. Bagaimana pendapat kk tentang gol. Islam yang dengan mudahnya membid'ahkan sesuatu dari gol. Islam yang lain... Yang mana gol. Tersebut sedari dulu melakukan "tradisi" tersebut.. dan Ulama dari gol. Tersebut pun Gak melarang adanya "tradisi" tersebut... Terima kasih sebelumnya.. ditunggu jawabannya..

    ReplyDelete
  40. hai kak gita, aku baru tau video-video mu hampir setahun yang lalu, cari informasi ternyata punya blog yang udah lama banget.. dan banyak tulisan-tulisan yang aku suka apalagi dengan openminded nya kak gita, semangat terus ya!!! aku siap menjadi saksi pernikahan kak gita kelak walau hanya tahu lewat sosmed ehehe. salam kenal btw kayaknya ini first buat aku nongol di kolom komentar blog mu ha

    ReplyDelete
  41. thank you for posting this, wow you speak my mind perfectly

    ReplyDelete
  42. Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakatuh
    Halo gita, banyak sebenarnya yang mau gue sampaikan but I don't know how to put it into words. and I'm not good in writing. Jadi biar gampang, I highly recommend you to read salah satu tulisan ustadz salim a fillah (beliau orang indonesia) di instagram atau facebook yang judulnya 'permata'. Entah kenapa gue merasa topik yang lo bahas di tulisan ini pas banget sama tulisan beliau itu.
    May Allah always keep us steadfast on the deen, may we become better muslims time to time. Aamiin :)

    ReplyDelete
  43. Yang kita tau, mereka belum menikah sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum menikah?
    Yang kia tidak tau, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
    Yang kita lupa, jodoh adalah misteri yang ditulis sendiri oleh Alloh.

    Udah gitu aja.

    ReplyDelete
  44. Udah lama gue engga baca postingan di blog lo Git. Baca postingan ini, gue jadi ingat balasan komenan lo ke gue,, yg gue pernah komen di salah satu postingan blog lo beberapa bulan lalu. Intinya lo bilang "respect the other is the key" menurut gue kalimat ini cangkupannya luas. Bukan hanya menghargai perbedaan pendapat dan perspektif org lain, tapi privasi orang juga "wajib" dihargain. Terlepas pacaran itu emang diharamkan dalam islam dan gue pun mengiyakan. Tapi bukan berarti oranglain bisa seenaknya judgmental tentang kehidupan orang lain. Karena pada akhirnya ada hal-hal yang engga perlu kita dipublikasikan yang menurut kita privasi. Because, every human still need privacy. Mungkin karena lo aktif di sosmed dan aktif nulis di blog, oranglain ngerasa tahu banyak tentang lo. Padahalkan engga semuanya lo publikasikan di sosmed.
    Gue pribadi pun engga pernah terlintas mau komentar tentang kehidupan pribadi lo. Gue malah lebih melihat sisi positif yg lo lakuin daripada pengen tahu banget kehidupan pribadi lo. Karena gue tahu, posisi gue bukan sebagai orang terdekat lo, yang enggak berhak ngomentarin kehidupan pribadi seseorang yg kita kenal cuma dr dunia maya dan enggak kenal secara personal.

    Yang ada di otak gue ketika baca postingan ini "I know exactly who I am. Don't be a person who knows a lot about me". The last, semangat skripsinya Git, semoga lancar sukses dan lulus. Amin.

    ReplyDelete
  45. Assalamu'alaikum Gita.
    Kenalin, saya nadiyah. Kemarin ga sengaja ketemu akun kamu pas searching malem2. And I loved how you think and transform those thoughts of yours to a writing.

    Semangat terus ya Gita. Jangan terlalu dipeduliin yang kayak gitu. Karena kalau ada yang nasehatin kamu di depan umum, itu dia bukan niat mau nasehatin. Tapi mempermalukan.

    Semangat kuliahnya! Terus berjuang jadi lebih baik lagi dari hari ke hari :)

    Salam hangat, Git.

    ReplyDelete
  46. Oh my god, i love this post very much. Kak git, tulisan diatas kejadian diposisi aku sekarang.

    ReplyDelete
  47. Iya ka setuju, bahkan gua pun begitu entah dr bahasa gua pakaian gua dan status gua yg sekarang berpacaran namun berhijab, itu sering bgt di comment dan dicibir tp di sisi lain mereka ada benernya, tp di sisi lain juga mereka gatau apa yang kita rasakan dan apa yang kita hadapi dan apa yang sedang kita mencoba untuk- berubah. Step by step, spt dr pakaian gua yg dulu ngetat skrg coba buat longgar2, bahasa yg dulu kasar skrng mulai diubah, pacaran pun sama namanya ada hawa nafsu tp ttp dikurang2in dijaga dan ttp usaha dan ada niatan untuk jd lebih baik,, namanya manusia gaada yg langsung perfect sempurna dimana kita butuh proses, indahnya sih kalo sesama itu menghargai sebuah proses apalagi menghargi org yg proses menjadi lebih baik dan lebih lebih kedepannya. Kita ttp lakuin yg terbaik aja ka intinya, toh Allah yg lebih tau isi hati dan pikiran kita. InsyaAllah...:-)

    ReplyDelete
  48. assalamu'alaikum git, aku setuju banget sama cara kamu berpikir..

    ReplyDelete
  49. Yang paling nyebelin adalah dia nyinyirin orang tapi dirinya sendiri ngelakuin hal itu.

    ReplyDelete
  50. Sabar ya ka gita ^^ , memang terkadang banyak orang yang gak tau banyak tentang kita asal komentar dan menyalahkan sesuatu yang ada pada diri kita ya toh .....
    itu pasti bikin annoying banget , apalgi karena dia itu strangers -,-
    aku juga pernah punya pengalaman yang bener-bener bikin aku sedih ka git , karena sesuatu hal dan aku jadi agak berbeda dari sebelumnya ehh ada sebagian orang yang komentar aneh-aneh tentang aku , padahal mereka gak pernah deket sama aku .
    Setelah aku pikir-pikir lagi , gak ada untungnya memang terus-terusan dengerin komentar orang yang gak seneng sama kita malah bikin aku makin minder soo aku berusaha untuk gak ambil pusing deh omongan itu .(apalagi omongan yang gak bener dan cuman bikin down ) .
    Toh , masih banyak orang yang baik sama aku dan selalu kasih support .
    Soo aku yakin ka gita juga pasti sering ngalamin hal-hal gini , apalagi ka gita termasuk dalam "Famous person" ^^ jadi tetep semangat aja ya ka gita !!!!
    fighting di tunngu blog-blog nya dan vlognya ...
    oh iya bikin vlog riview makanan unik di jerman dong kaa hahahaha ^^

    ReplyDelete
  51. Asli ngena banget ni tulisannya, setuju sama kak git, menurut aku orang sekarang kebanyakan nyinyirnya harusnya mereka belajar dulu cara berdakwah yg bener tuh kaya gimana jangan kesannya menasihati tapi bikin orang yg denger tuh jadi sakit hati gara² nyinyirannya, nah itukan jadinya salah yg ada malah makin males orang yg denger, terus yg aku perhatiin sekarang tuh banyak yg berpikir klo kita harus sefaham dan sepemikiran sama mereka kan tiap orang tuh beda ngga bisa di paksa, lagian tiap manusia jg tau yg baik tuh kaya gimana walaupun sekarang dia belum dikatakan baik so dia akan berusaha dengan caranya sendiri.

    ReplyDelete
  52. menurut gw, itu namanya bukan berdakwah. basically, berdakwah itu emang membawa kita pada kebaikan, hijrah, memberikan hal positif. tapi inti dari berdakwah itu adalah niat. niat untuk menyebar kebaikan.udah pasti niat karna allah, menyebar kebaikan. dalam hal nyinyir di koment ini, menurut gw itu bukan berdakwah, tapi ada rasa iri, tidak suka, dan lain sebagainya. sehingga dy mengatas namakan agama, untuk merealisasikan ketidak sukaan dy itu.
    menurut hadist yg gw kaji, nabi sendiri menasehati, untuk person tdk pernah diketahui oleh siapapun karna itu bithonah, menyangkut dosa seseorang.
    git, elu bisa tanyakan langsung pada ustadz, apa itu berdakwah.
    karna menurut gw itu bukan berdakwah, tapi rasa ketidaksukaan seseorang, yg berkoment mengatas manakan agama.

    ReplyDelete
  53. mau koment kok jadi takut duluan ya...ntr mbknya tersinggung

    ReplyDelete
  54. Aku merasa related banget sama tulisan ini:')

    Aku setuju! Aku pribadi, engga mempermasalahkan mereka yang punya niat baik untuk menasehati dan mengingatkan ke jalan yang lebih baik. Sama kayak kak Gita, aku bahkan merasa berterima kasih karna masih ada yang peduli, sayangnya mereka yang menasehati seringkali lupa batasannya, jadinya bukan lagi menasehati tapi malah menjatuhkan. Tujuannya agar orang lain bisa memperbaiki diri, tapi diri sendiri malah lupa untuk dikritisi, mungkin karena merasa sudah lebih baik daripada orang yang dinasehati, ntahlah:/

    ReplyDelete
  55. Gue setuju sama pemikiran lo kak, ya karena dakwah atau mengingatkan, paling baik dilakukan secara diam-diam, dalam keadaan sepi which is kita lebih baik mengingatkan orang secara 4 mata, bahkan kalau bisa di usahakan di tempat tertutup dimana gada orang yang tau atau bakal kepo sama apa yang kita berdua omongin. Dan itu akan lebih ngena dan lasting.
    Kalo kita ngingetin orang secara terang'an di depan umum apalagi. itu sama aja kita secara gak langsung membuka aib mereka, kesalahan mereka, dan mendzolimi mereka karena membuat mereka seakan-akan hina, di depan umum.
    But it'd be wiser if kita juga tetep coba refleksi diri dan ambil yang benar dari apa yang disampaikan. Supaya kita juga gak 100 % kalah sama ego kita. Masalah orang yang menyampaikan dengan cara yang membuat luka di hati atau perasaan kita, itu ada nilainya sendiri, itu urusan dia dan yang Maha Tahu. Kita harus stay positive. Take the truth, jangan sampe baperan.
    Karena nyinyirin orang yang suka nyiyir itu, sama aja solving problem with more problem. So what diverse us with 'em? That's where "silence is gold" is totally has meaning.
    Semangat Kak, u're loved already. World sees u, that's why ppl care 'bout u.

    ReplyDelete
  56. Assalamualaikum mbak Gita.
    Blognya mbak Gita itu inspirasi banget . Aku suka sekali bacanya. Mba Gita cantik . Aku suka semua video dan tulisan mba gita. Terus berkarya dan menginspirasi semua orang ya mba. 😊

    ReplyDelete
  57. Assalamualaikum mbak Gita.
    Blognya mbak Gita itu inspirasi banget . Aku suka sekali bacanya. Mba Gita cantik . Aku suka semua video dan tulisan mba gita. Terus berkarya dan menginspirasi semua orang ya mba. 😊

    ReplyDelete
  58. Assalamualaikum mbak Gita.
    Blognya mbak Gita itu inspirasi banget . Aku suka sekali bacanya. Mba Gita cantik . Aku suka semua video dan tulisan mba gita. Terus berkarya dan menginspirasi semua orang ya mba. 😊

    ReplyDelete
  59. Assalamualaikum mbak Gita.
    Blognya mbak Gita itu inspirasi banget . Aku suka sekali bacanya. Mba Gita cantik . Aku suka semua video dan tulisan mba gita. Terus berkarya dan menginspirasi semua orang ya mba. 😊

    ReplyDelete
  60. Aku setuju sama loe kak git,, menasehati sesama muslim itu baik, tapi ironisnya aku malah merasa banyak nasehat yang meluncur itu gak semurni niat menasehati,mlah terkesan menunjukkan dia yg paling alim gituu, ya walaupun aku belum pernah disindir gitu sih (soalnya gak pernah pacaran wkwk),,

    ReplyDelete
  61. itulah mengapa ada seni berilmu cara berdakwah gmn. aku join rohis di SMA aku dan disitu aku dapet bahwa BAHKAN dakwahin org yg satu sm yg lain itu beda banget. beda. banget. bahkan utk menegur seseorang pun kita tdk boleh di publik (yg dpt dilihat sm org lain) seyogyanya, menegurlah secara face-to-face and no one will know it. hence, seni berdakwah itu perlu ditanemin di diri muslim pribadi. dakwah itu harus dengan cara yang tepat, waktu yang tepat, dan orang yang tepat. bahkan di alquran kita disuruh dakwah dgn cara yg terbaik mgkin. so, are you sure guys sure sudah berdakwah dengan sebaik mungkin? think again.

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig