by Gita Savitri Devi

5/29/2017

Beragama

Belakangan ini banyak sekali postingan di dunia maya yang bikin gue ngerasa apa, ya? Sendirian mungkin. Merasa makin asing.

Sedih rasanya melihat ternyata banyak muslim yang masih bingung. Bingung caranya untuk tetap berpegang teguh pada aqidahnya, tetapi tetap bisa menjadi muslim yang mengerti toleransi. Banyak muslim yang mencampuradukkan. Mencampuradukkan dan membenarkan semua agama hanya supaya dianggap toleran, bahkan menganggap agama hanyalah warisan. Padahal agama itu adalah pilihan. Kalau gue bilang, agama itu berkah dari Tuhan. Terserah kalau ternyata umat lain beranggapan yang sama. Karena begitulah seharusnya beragama. Yakin kalau agamanya adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa.

Kenapa sulit sekali orang-orang mengerti, menjadi muslim yang taat dan toleran itu sangat mungkin. Mungkin gue beruntung, karena di sekitar gue begitulah Muslimnya. Ilmunya tinggi, tapi ademnya luar biasa. Mungkin yang begitu masih sedikit terdengar suaranya. Karena rata-rata dari mereka memang jarang bersuara. Seakan-akan mereka tidak ada.

Sering kali gue iri ngelihat umat agama lain, kristiani contohnya. Yang beriman betul pada agamanya. Tidak bingung. Tidak mengiyakan semua ajaran agama karena mereka yakin agama mereka lah yang benar. 

Bukannya memang harus begitu, ya, dalam beragama? Beriman dengan keyakinan yang dipeluk. Bertoleransi karena tidak menyalahkan ajaran agama lain. Bertoleransi karena membiarkan orang lain memeluk apapun yang mereka yakini. Tetap sibuk belajar tentang agama sendiri sebelum membanding-bandingkan dan mencari kesalahan dari agama lain.

Tapi tidak pernah mereka dicap intoleran. Tidak pernah seorang kristen yang taat, yang sering berdakwah atau sekadar menyampaikan satu dua patah ayat dari Al-Kitab dianggap radikal.

Hanya muslim. Hanya muslim yang berjenggot, berkerudung panjang, yang sering kali membicarakan agama di akun media sosialnya, yang kuat prinsip agamanya, yang boleh dianggap ekstrim. Walaupun Ia tidak memojokkan agama lain, tapi ayat-ayat Quran tersebut sudah cukup untuk membuatnya dikategorikan demikian. Mungkin karena Islam adalah mayoritas. Kalau mayoritas tidak fleksibel, tandanya mayoritas intoleran.

Lalu di mana salahnya?

Di mana letak kesalahan kita?

Di sisi lain, kesedihan hati ini disebabkan oleh saudara seiman gue yang dengan mudahnya mengkotak-kotakkan orang ke kategori suci dan berdosa. Menjadi muslim yang judgemental itu bahaya.

Mungkin hati kita kurang halus, saudaraku. Mungkin semua keterasingan ini disebabkan karena kita kurang bisa menjadi representasi terbaik agama kita. Mungkin kita kurang tau cara menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam. Kita kurang bisa memberikan nasihat tanpa memojokkan yang diberi nasihat. Kita lihai menyampaikan ayat, tapi kita kurang lihai menyampaikannya.

Mungkin seringkali kita bermaksud berdakwah, tapi salah caranya. Bermaksud ingin menyebarkan ajaran Islam, tapi tidak tahu caranya. Malah membuat orang lain membuang muka.

Mencoba meluruskan sekelompok manusia yang masih abu-abu itu sulitnya luar biasa. Butuh strategi karena ternyata agama sudah hilang pesonanya. Bahkan di Indonesia yang adalah negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia.

Saudara seimanku, sampaikanlah walau satu ayat. Tapi ingatlah untuk selalu melembutkan hatimu. Ayat-ayat Allah itu mulia. Sampaikanlah dengan ikhlas, dengan tulus, tanpa menyertakan egomu, tanpa menyertakan kesombonganmu.

Allah lah yang menjadikanmu seperti sekarang. Allah lah yang menunjukkan kebenaran kepadamu. Janganlah engkau lupa kalau dahulu kau berada di posisi itu, posisi yang sekarang engkau anggap masa kelammu.

Pesan ini berlaku buat kita semua, termasuk gue:

Sebaik-baiknya berdakwah, dakwah yang terbaik adalah dengan perilaku kita.
Share:

76 comments

  1. Sama persis yang saya rasakan. Tapi justru di situ letak keseruannya. Ternyata memang pe-er dakwah kita masih sangat banyak. Dulu saya pernah sangat 'ngeyel' dalam menyampaikan. Tapi alhamdulillah Allah sadarkan, kan kita ini mau mengajak ya, bukan mengejek. Urusan hidayah mah biar menjadi keputusan Allah. Tugas kita hanya menyampaikan dengan mauidzatul hasanah. Yang tentu saja dibungkus dengan kerendahan hati karena memang siapa lah kita ini. Allah bisa saja menghapus hidayah dari kita kalau Allah mau. Ga ada jaminan. Kita hanya bersyukur sudah diberi kadar keimanan seperti yang sekarang ini.

    ReplyDelete
  2. This. Tapi kenapa yang gue temuin dewasa ini malah kebanyakan yang judgemental, ya? Faktor lingkungan dan apa yang diserap dari media sosial ngaruh banget kayaknya, kakgit. Sedih juga sih liat malah jadi semakin banyak yang skeptis sama agama sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena yang judgemental itu yang berisik kali, ya? Jadi cuma mereka aja yang kedengeran. Sebenernya yang adem masih banyak. Tapi mereka diem-diem aja karena nggak mau bikin situasi tambah panas (dari hasil observasi gue sih gitu). Pusing sih tapi emang ๐Ÿ™ƒ

      Delete
  3. Halo kak Git, jujur aku banyak terinspirasi dari tulisan kakak yang ada di blog ini. Mulai dari tentang kisah perjalanan, perempuan, pilkada sampai tentang agama. IMHO, kakak menyampaikan pandangan kakak tentang agama dengan cara yang nggak menggurui dan adem untuk dibaca, intinya kaya ngajak ayo kita belajar bareng. Bukan "gue itu yang bener, lo kudu ikutin gue makanya" emang kak menemukan muslim judgemental, terutama di lingkungan aku sendiri itu gampang banget. Masalah perbedaan aliran aja sampe panjang urusannya, padahal harusnya kalo menurut aku sendiri lebih baik fokus bagaimana caranya supaya yang ibadah yang wajib ini bisa dilaksanakan dengan baik. Lebih fokus pada masalah sekunder dibandingkan yang primer. Terus semangat buat tulis artikel inspiratif gini ya Kak Git, supaya makin banyak anak muda muslim di Indo bisa terinspirasi dan belajar gimana caranya menjadi muslim yang baik tanpa ikut-ikutan prinsip orang lain dan nggak judgemental. Salam dari Sidoarjo ya Kak:)

    ReplyDelete
  4. Ya, seperti Rasul yg menjadi uswatun khasanah: seorang teladan ๐Ÿ™๐Ÿ™

    ReplyDelete
  5. Masha Allah pas baca tulisan ini Git, pas banget sama apa yg gw rasain.
    Baru-baru ini aja makin banyak akun IG yang mengatasnamakan muslim tapi isi postingannya (menurut gue pribadi) sifatnya ngejudge. Dulu gw pas kuliah di Bandung pernah ikut mentoring yang isinya orang-orang yang menurut gw "Islam" beneran. Karena cara dakwah mereka yang adem, dan seakan-akan bikin gw makin nagih buat ikut kajian.

    Menurut gw, image dr islam sendiri yg perlu diubah, karena menurut pandangan gw gara-gara oknum tertentu sehingga membuat islam terkesan "scary" dimana di sekitar gw membuat temen2 gw at least yang mau berhijrah jadi nunggu nanti-nanti.

    Sebenarnya jika kita bisa menyampaikan dakwah dengan yang lebih bersahabat, tanpa perlu seakan mendiskriminasi agama lain dengan kalimat/nada yang menyinggung. Sehingga sebagian saudara islam kita menganggap kalau kita tidak bersahabat.

    Semoga kita semua diberikan hidayah oleh Allah SWT dan diberikan petunjuk ..aamiin

    ReplyDelete
  6. Ka gita pengen ketemu dong. Banget. Aku di berlin cuma 5 hari

    ReplyDelete
  7. Ka gita pengen ketemu dong. Banget. Aku di berlin cuma 5 hari

    ReplyDelete
  8. Ingin nangis. Tenang kak git, kak gita ngga sendirian. Aku juga merasakan hal yang samaT_T.

    ReplyDelete
  9. truly love your thoughts. keep it up, gita

    ReplyDelete
  10. Bingung juga sama orang yang suka bilang orang lain "Islam ekstrim". Islam ya islam aja. Kenapa ada embel-embel di belakangnya. Heran deh kak, hm..

    ReplyDelete
  11. git, menurut km, kita perlu gak sih make something for clarify kalau muslim sejatinya gak seperti itu. dan gak harus dianggap se ekstrim itu. tp clarify nya gak cuma nasional tapi global. walaupun kayaknya udah banyk sih penulis atau jurnalis yang explain dan describe kalau agama kita itu luar biasa ajarannya. So do we ?

    ReplyDelete
  12. bener banget kak gita..
    semuanya harus kita kembalikan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. saya kira kenapa banyak umat muslim yang masih bingung dengan prinsip mereka karena mereka masih jauh dengan pedoman islam yaitu Al-Qur'an.

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. tujuan penyampaianya bagus tapi caranya (berdakwah) yang perlu diperbaiki.Ditambah sekrng media sepertinya terlalu menyudutkan islam seakan-akan islam itu menyeru pada kekerasan padahal tidak demikian dan hanya sedikit org sj yg berpaham "radikal". islam itu lembut dan membenci tindakan kekerasan-radikalisme. Hanya sedikit org yang paham tentang itu.

    ReplyDelete
  16. Akhirnya postingan yang ditunggu muncul juga. Gak sabar pengen tau opini Kak Gita tentang topik "agama" yang lagi trend sekarang. Wkwkwkwk. Dan sesuai dugaan, tulisan Kak Git cukup mengobati kegundahan saya beberapa waktu ini. Thanks Kak. Pengen banyak diskusi sama Kak Gita bisa gak ya. ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  17. Mungkin karena banyaknya orang yang judgemental itu, yang lain jadi skeptis sama agama.

    ReplyDelete
  18. kemarin aku sm temenku baru aja bahas kaya gini kak git. aku sempet mikir "apakah di negara selain indo, arab misal, apa iya cara orang-orang berdakwah itu seperti di Indo ya?" atau hanya org indo yg terlalu berkoar koar soal dakwah tapi cara dan penyampaiannya kurang tepat ? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ sedih kadang liat sesama muslim masih saling menjatuhkan pdahal mereka saudara. sedih jg kenapa muslim harus punya kotak kotak sendiri pdahal kita punya Allah dan Kitab yg sama ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
  19. Setuju banget kak gita.., ini bgt yang saya rasain akhir akhir ini.. Saya bangga ada orang yg kaya kak gita..

    ReplyDelete
  20. Sebaik baik berdakwah, dakwah yang terbaik adalah dengan perilaku kita

    (bisa jadi begitu, namun setau saya tetep gak ada yg sempurna)

    baiknya seseorang dimata orang (itu karna Allah menutupi keburukan2 kita)


    dan Allah menjadikan kita baik, disaat kita merendah dan berdoa

    merendah dihadapan Allah

    (biasanya sifat merendah itu muncul, disaat mengingat dosa dan sering istighfar lalu berdoa dengan perasaan super butuh)

    (Insya Allah ada jalan yang terbaik untuk diri dan orang yang di doakan)

    (dan bahkan dengan berdoanya kita (yang sebelumnya dimulai dengan istighfar), kita mampu mendoakan keadaan sebuah negeri dan terkabul


    (merendah dihadapan Allah itu setau saya juga akan muncul, disaat hati kita sendiri berusaha untuk tidak tebar pesona dihadapan lawan jenis (entah itu karna mengharapkan dapet jodoh atau sekedar memamerkan kegantengan)

    (dan kyknya gak jauh beda dengan cewe)


    (sering2 pula berdoa, agar hati kita gak riya)

    (seandainya muncul perasaan riya, siap2 perasaannya sadar)

    Semoga Allah mempermudah diri kita untuk merubah diri dan orang lain (menjadi lebih baik)

    Aamiin





    ReplyDelete
  21. This is what I feel too... Akhirnya ada yg merepresentasikan :)

    ReplyDelete
  22. Kesel rasanya kalo kita nasihatin orang yg semuanya butuh dalil. Bagus sih tp, ya klo nasihatnya bener2 baik gapake dalil jg gpp ya.. kecuali klo masih samar2/ragu2

    ReplyDelete
  23. Jadi ingat film/novel "99 Cahaya Langit Eropa" gimana Hanum dan Rangga belajar untuk jadi agen muslim yang baik tanpa menggadaikan keimanan mereka.

    Juki juga pernah bilang, "Jadilah yang teratas tapi bukan dengan menginjak kepala orang lain. Jadi yang tertinggi tapi bukan dengan mencuri tangga orang lain"
    Quote ini bikin saya sadar bahwa kita bisa menjadi yang terbaik (dalam konteks pemeluk agama) bahkan tanpa harus menghina atau menyalah-nyalahkan pemeluk agama lain. Dengan mengamalkan seluruh ajaran agama kita dalam setiap aspek kehidupan dunia akan tahu bahwa islam adalah agama terbaik. Sekali lagi tanpa perlu merendahkan agama lain. Apalagi "menjilat" pemeluk agama lain dengan kedok "toleransi", namum menggadaikan agama sendiri.

    Soal judmental, mungkin semua orang harus mulai merasa bodoh. Bodoh bahwa banyak yang belum kita ketahui. Bodoh karena belum tahu dasar dari apa yang orang lain kerjakan. Dan cara untuk menjadi bodoh adalah dengan terus belajar. Bukan berhenti belajar karena merasa sudah paling tahu. Karena semakin kita belajar maka kita akan semakin merasa bodoh.

    Jika sudah merasa bodoh kita tidak berhak lagi menghakimi orang lain. Berganti dengan mencari tahu jika kita merasa ada yang 'aneh' dari yang orang lain kerjakan.

    ReplyDelete
  24. Postingan tumblr ini cocok banget sama keresahan Kak Gita http://choqi-isyraqi.com/post/161325829646/7-ramadhan-1438-h-penyajian

    ReplyDelete
  25. Hai git.. saya baca tulisan2 km terutama yg ttg agama dan keributan pilkada. Yg mau saya tanyain, yg menurut km jugdemental itu yg seperti apa ya? Contoh konkritnya... apakah yg kyk gini? :

    "Wanita sholehah ga akan pacaran"

    "Perintah utk memilih pemimpin muslim hanyalah utk org beriman. Kalo km ga beriman, itu bukan perintah utkmu"

    soalnya kan di medsos kan bisa dibilang tempatnya terbatas ya utk dakwah. Maksud saya gini, kalo kita nulis panjang2 biar halus, dan org2 ga ngerasa di judge, blm tentu org mau baca. Jd cara yg sekiranya efektif itu pke gambar atau meme atau tulisan singkat.

    Kalau tulisan2 diatas yg menurut gita judgmental, sebaiknya dakwah di medsos tu kyk gmn ya?

    Pengen sharing aja.. biar saya bisa introspeksi jg, selama ini yg saya lakukan di medsos bener ga sih? Apa menyinggung org ga sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, izin sharing juga...

      mungkin apabila dikatakan secara langsung seperti "wanita sholehah ga akan pacaran", khawatir secara tidak langsung melebeli wanita yang sedang berpacaran itu tidak sholehah. karena itu banyak teman, sahabat, rekan dan keluarga kita merasa dikotak-kotakan yang pada akhirnya merasa tersinggung dan sakit hati atas apa yang kita sampaikan. memang sungguh apa yang disampaikan adalah kebenaran. namun tidak jarang dalam penyampaiannya tidak benar dan terlalu langsung sehingga bukannya orang yang membaca ikut merasakan keindahan ayat, malah merasa dilabeli dengan kata-kata yang kurang dirangkai dengan cara yang baik. contoh apabila dalam akun medsos kita terdapat beberapa teman muallaf lalu kita memposting "islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi Allah SWT dan hanya umat islam yang akan masuk surga". kira-kira apa yang dirasakan oleh teman2 muallaf kita yang masih memiliki orang tua serta saudara non muslim ? sungguh sedih rasanya apabila membayangkan kalau doa kita tidak akan pernah sampai ke orang tua kita yang non muslim. untuk sebagian orang, islam yang mereka peluk dari lahir karena orang tua adalah anugerah yang tak terhingga. namun untuk yang sebagian lainnya, pasti ada rasa sedih karena kebenaran belum dimiliki oleh orang tua mereka.

      lebih elok rasanya apabila kita berdakwah, sesuai dengan amalan2 kita sehari2 dan sesuai dengan pengalaman kita dijalan.

      seperti contohnya :

      sepulang dari pasar saya melihat seorang kakek dibantu menyebrang oleh seorang anak muda, tak lama setelah itu anak muda tersebut dirampok dan dengan sigap banyak orang yang membantunya. sungguh apabila kita membantu orang lain dalam kesusahan, pasti akan dibantu orang lain. *lalu diselipi ayat*

      Pertolongan Allah kepada seseorang juga tergantung dengan pertolongan yang dilakukannya antar manusia. “Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang lain“. (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)

      ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ูِู‰ ุนَูˆْู†ِ ุงู„ْุนَุจْุฏِ ู…َุง ูƒَุงู†َ ุงู„ْุนَุจْุฏُ ูِู‰ ุนَูˆْู†ِ ุฃَุฎِูŠู‡ِ

      “Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

      ูˆَู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ูِู‰ ุญَุงุฌَุฉِ ุฃَุฎِูŠู‡ِ ูƒَุงู†َ ุงู„ู„َّู‡ُ ูِู‰ ุญَุงุฌَุชِู‡ِ

      “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580)

      sungguh berbuat kebaikan itu selalu indah.

      hal tersebut lebih menyejukan dibaca daripada ditulis dengan cara :

      "tolonglah orang lain jika ingin dimudahkan urusan dunia" yang secara tidak langsung menyindir teman kita yang mungkin memang selama ini dia kurang peduli dengan sekitarnya.

      banyak teman2 saya pribadi yang gemar berdakwah sesuai dengan pengalaman pribadinya serta kapasitas keilmuannya, dikemas dengan kata2 kreatif

      karena menyangkut pengalaman pribadi, tentunya pembaca pun jadi tertarik untuk membaca, yang akhirnya banyak yang senang dan dishare :)

      Islam agama yang benar, kewajibaan kita hanyalah menyampaikan,ataupun memanggil manusia kejalan yang benar, bukan dengan paksaan, tapi dengan kerelaan. Sebab paksaan akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik, dan mengakibatkan hilangnya sifat ikhlas.

      Wallahualam bishawab, semoga kita semua dapat mengambil hikmah yang benar dan membuang yang buruk.mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam hal ini,mohon pengertian dan nasehatnya. Semoga kita dapat mewujudkan kasih sayang dengan berdakwah aamiin.

      Delete
    2. Mmm...bisa jd sih.... terima kasih atas penjelasannya, semoga bisa membuat saya lebih berhati2 dalam nge share kalimat2 dakwah.

      Tp kalo boleh saya menambahkan, sebenernya yg hrs diperbaiki bukan hnya dari "pendakwah"nya saja. Tp dari sisi kita sbg penerima dakwah jg.

      Alangkah baiknya kita kalo denger kata2 org yg bner tp ga ngenakin hati, jgn langsung antipati. Kalo semua yg ga ngenakin hati kita bikin kita antipati, kpn majunya dong?

      Contoh. Waktu kita kecil kita sering denger slogan "rajin pangkal pintar, malas pangkal bodoh".

      Itu harusnya jd pemicu semangat kita buat rajin. Bukannya malah sakit hati sama org yg ngucapin itu.

      Contoh konkritnya nih, ada tmn saya sebutlah namanya Mawar, dia terjerumus ke riba. Beli rumah dg KPR dan beli mobil pke kredit. Trus dia nyesel, dan berniat utk cpt melunasi hutang2nya itu. Kalo ada bonus dr kantor dia pake utk pelunasan sebagian ke bank.

      Disamping itu, Mawar punya temen yg terjerumus ke riba jg, namanya Melati. Dan seperti Mawar, Melati jg berniat cpt melunasi hutang2nya.

      Mawar dan Melati saling mendukung dan mensupport agar masing2 bisa melunasi hutangnya.

      Suatu hari, Melati dpat rezeki sehingga berhasil melunasi seluruh hutangnya.

      Tapi, Melati jd sering menyindir2 Mawar yg belum bisa melunasi seluruh hutangnya. Baik dr status FB, dr WA, jg dari obrolan sehari2.

      Kalo Mawar langsung baper, rusaklah persahabatan mereka.

      Tp alhamdulillah Mawar diberi kelapangan hati. Dia tau dan mengakui bahwa apa yg dikatakan Melati benar. Dan ttp fokus ketujuan semula, melunasi hutang.

      Kejadian diatas adalah nyata ya,apa yg saya lihat sendiri.

      Jd, menurut saya, daripada kita capek2 sakit hati sama perkataan org, lebih baik kita cerna perkataan org itu. Apa yg dia ucapkan bener atau ga. Perkara si "pendakwah" itu dosa apa ga krn lidahnya yg "tajam", itu urusan dia sama Allah.

      Toh kita yg biasa merasa menjadi korban, belum tentu sepenuhnya selalu barkata manis dan tdk menyakiti org lain.

      Ya itu menurut pandangan saya sih. Tp saya jg setuju kalo sebagai "pendakwah" kita harus jg omongan kita. Ya, masing2 hrus saling perbaiki diri lah.

      Ada pepatah yg bilang:

      "Org yg menasehatimu belum tentu sempurna, tp bisa jd dia menyempurnakan dirimu"

      Delete
    3. betul sekali, seringkali orang lain membaca kalimat dakwah orang lain dengan sensitif atau dengan kata lain merasa tersindir. Alangkah baik dan mulusnya dakwah kita apabila seluruh audience medsos kita adalah manusia yang tergolong lapang hatinya dan tidak perlu diluruskan. Yang perlu digaris bawahi dari saran saya sebelumnya adalah "menyebar kebaikan dengan cara yang baik". Betapa ruginya kita sebagai umat muslim apabila ada saudara seiman ataupun belum seiman kita yang makin menjauh dari kebenaran hanya karena salah paham. Sesungguhnya tidak semua orang diberi kelapangan hati oleh Yang Maha Memutar Balikan Hati. Hatinya mereka adalah ujian buat mereka, begitupula kebenaran kita ilmu kita juga ujian untuk kita. Apakah kita mampu mendekatkan mereka ke jalan Allah SWT atau malah sebaliknya ? kalau dibilang tujuan dakwah itu adalah mengajak, maka dengan mengesampingkan perasaan orang lain yang belum tentu diberikan kepadanya kelapangan hati, maka apa yang kita lakukan di medsos khawatir adalah sebaliknya.

      Perkara kalau dibilang "Kapan majunya kalau lihat kritik selalu baper ?", maka memang kalau kita hanya memberikan kritik tanpa solusi, kita tidak akan membuat orang lain itu maju ataupun hijrah. Karena merubah keyakinan orang lain itu tidak sama seperti memberi motivasi atas sesuatu yang merupakan sebuah common sense.

      dari pernyataan kamu "Perkara si pendakwah itu dosa apa ga krn lidahnya yg tajam, itu urusan dia sama Allah. Toh kita yg biasa merasa menjadi korban, belum tentu sepenuhnya selalu berkata manis dan tdk menyakiti orang lain." dapat saya simpulkan bahwa "dosa masing-masing yang tanggung" khawatir bisa dianalogikan kontradiktif oleh orang lain apabila pernyataan tersebut kamu lontarkan dalam sebuah debat atau adu argumentasi ataupun dalam keseharian kita dalam berdakwah.

      lantas, rugi atau dosakah kita apabila dakwah kita malah membuat saudara kita menjauh ? hanya Allah yang tahu. Kita sebagai muslim hanya dapat melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita sebagai umat.

      saya punya teman seorang warga negara inggris yang kebetulan muallaf, dalam satu argumen saya, tanpa sengaja saya menyinggung keluarganya yang non muslim. Hubungan kami sempat renggang namun membaik melalui mediasi. Saya menyesal bahwa pernyataan saya justru malah membuat dia menjauh dari Islam yang sampai pada akhirnya, mungkin ditambah pemberitaan tentang ISIS dan islamophobia, ia lepas keislamannya dan kembali dalam keyakinan terdahulunya. Saya merasa tidak pantas mempertanyakannya. Sungguh, melihat saudara sendiri berpaling itu dan menjauh, sangat sangat merasa sesal.

      seperti riwayat Nabi yang dikisahkan menangis pada saat melihat jenazah seorang non muslim yang hendak dikuburkan. Sahabat Nabi berkata "Wahai Muhammad, kenapa engkau menangis ? padahal dia bukanlah saudara seiman kita." Baginda Nabi menjawab "Saya sedih karena telah membiarkan ia berpulang tanpa memeluk Islam." kembali diriwayatkan pula, ada seorang pendosa yang hendak bertaubat dan diusir oleh penduduk sekitar. Nabi menghampiri dan memeluk sang pendosa tersebut dan mendengarnya bertaubat lalu bertanya kepada penduduk "Apa tujuan setan menggoda manusia ?" penduduk menjawab "agar kita masuk neraka". Nabi kembali bertanya, "kemanakah kiranya pendosa ini pergi jika meninggal dunia ?" penduduk menjawab "ke neraka" lalu Nabi kembali berkata "lantas apa bedanya kita dengan setan yang membiarkan saudara kita terjerumus ke dalam neraka ?".

      kembali ke topik utama, saya setuju masing2 kita harus memperbaiki diri. Namun jangan sampai kita mengabaikan hal lain di dalam prosesnya. Tidak semua orang seberuntung kita yang sudah mendapat hidayah-Nya.

      Amin, semoga baik pendakwah dan pendengarnya masing-masing bisa lebih baik dan membuka diri :)

      Delete
    4. yes, i get the point. thank you :)

      Delete
  26. Hai, Gita. Aku sepakat dengan hampir keseluruhan isi tulisan ini. Yang kurang aku sepakati adalah ketika kamu menyinggung bahwa agama bukan warisan, melainkan pilihan.

    Bagi sebagian orang, mungkin iya, agama adalah pilihannya sendiri. Tapi bagi sebagian besar kita, khususnya kita yang terlahir dan tinggal di Indonesia, bukan kita yang memilih akan beragama apa. Tapi orang tua kita. Inilah yang disebut agama sebagai warisan, mungkin kamu salah tangkap (di sini aku asumsikan kamu merujuk pada tulisan Afi di Facebook, ya).

    Soal memilih agama, sebenarnya apa iya kita dibebaskan memilih untuk memeluk agana apa? Aku rasa di Indonesia, "kebebasan memeluk agama" itu minim sekali praktiknya, apalagi jika kita berada pada lingkungan keluarga yang religius. Tapi kebebasan akan menjadi manusia beragama yang seperti apa, aku yakin sudah banyak yang memraktikkannya.


    Salam kenal, Gita. Jangan anggap komentar ini sebagai counter dari tulisanmu, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita dikasih pilihan kok...emang waktu kecil kita ikut ortu tp sepanjang proses pencarian jati diri kita dikasih pilihan utk tetap pada agama ortu kita ato yg lain. Allah kasih ko sepanjang usia kita buat mencari bahwa Allah lah tempat kita kembali
      Klo pada akhirnya merasa agama masih warisan..
      Mungkin kita nya yg belum (mau) mencari
      *Itu opini saya bisa ditanggapi klo kurang berkenan*

      Delete
    2. Gue malah setuju banget dengan istilah "agama adalah pilihan". Di lingkungan kita, mungkin saja terlihat seolah-olah "agama adalah warisan" padahal tidak begitu. Jangan pahami "agama" sebagai isian KTP, formalitas belaka. Agama adalah "keyakinan" dan kita bebas memilih untuk yakin pada apapun. Meski ortunya Muslim religius, dan anaknya ikut jadi Muslim, kemungkinan pemahaman agamanya tidak sebaik ortunya. Ini yang dimaksud "agama adalah pilihan". Tidak ada paham agama, iman, yang bisa diwariskan. Kitalah yang memilih percaya atau tidak. Dan ini bukan sekadar omong kosong. Kenyataannya, menurut penelitian, hanya 30% pemuda Indonesia yang mengamalkan sholat (yang menurut agama Islam merupakan pembeda antara beriman atau tidak). Padahal itu baru ritual ibadah, belum sampai pada pemahaman iman. Gue kenal banyak teman yg agamanya gak jelas, padahal ortunya ada yang berdakwah kemana-mana. Menurut gue di sini Ka Gita pengen menggarisbawahi bahwa dalam hal keyakinan semua orang bebas memilih. Entah ditunjukkan secara umum atau tidak, dia bisa memilih. Dalam hal ini, sejatinya SEMUA orang beragama secara sadar, dengan pilihan. *just my opinion, karena sudut pandang bisa berbeda*

      Delete
  27. Hai, Gita. Aku sepakat dengan hampir keseluruhan isi tulisan ini. Yang kurang aku sepakati adalah ketika kamu menyinggung bahwa agama bukan warisan, melainkan pilihan.

    Bagi sebagian orang, mungkin iya, agama adalah pilihannya sendiri. Tapi bagi sebagian besar kita, khususnya kita yang terlahir dan tinggal di Indonesia, bukan kita yang memilih akan beragama apa. Tapi orang tua kita. Inilah yang disebut agama sebagai warisan, mungkin kamu salah tangkap (di sini aku asumsikan kamu merujuk pada tulisan Afi di Facebook, ya).

    Soal memilih agama, sebenarnya apa iya kita dibebaskan memilih untuk memeluk agana apa? Aku rasa di Indonesia, "kebebasan memeluk agama" itu minim sekali praktiknya, apalagi jika kita berada pada lingkungan keluarga yang religius. Tapi kebebasan akan menjadi manusia beragama yang seperti apa, aku yakin sudah banyak yang memraktikkannya.


    Salam kenal, Gita. Jangan anggap komentar ini sebagai counter dari tulisanmu, ya.

    ReplyDelete
  28. Kok gue berasa kecubit yaa git sama tulisan lo hahaa. Iyaa gue ngerasa banget kalau gue masih sebagai muslim observer doang, ga bisa ngelakuin apa-apa. Mau coba berdakwah tapi takut salah. Dan itu mungkin ga lepas dari masih minimnya ilmu gue sebagai muslim huft.

    Sekarang ini gue kerja di salah satu klinik HD di Al Qatif, KSA. FYI disini perawat muslim cuma ada 5 orang dari kurang lebih 17 orang perawat disini. Mayoritas mereka berkewarganegaraan Filipin. Disini gue sadar kok gue beruntung banget yaa bisa lahir di Indonesia yang mayoritas muslim dan agama gue muslim. Toleransi mereka sangat tinggi disini, mereka sangat menghargai kami yang muslim.

    Bahkan mereka sering bertanya tentang Islam sama gue. Dan ini yang bikin gue gereget. Karena kadang gue sulit buat ngejelasin ke mereka. Jadi yaa gue ngejelasin sebisanya gue aja heem..

    ReplyDelete
  29. kalo menurut aku ini bener banget. soalnya masih terlalu banyak kaum sumbu pendek yang bakal menyerang habis-habisan begitu agamanya dikritik. aku sendiri Katolik dan gerah melihat intoleransi atas dasar perbedaan agama.

    ReplyDelete
  30. Kenalkanlah Islam dengan Akhlaq, teman.
    ������

    ReplyDelete
  31. apa yang saya garis bawahi adalah bahwa menyampaikan, memberitahu, mengajarkan, menyebarkan segala sesuatu yang baik...harus dengan cara yang baik pula. jangan sampai dengan sedikit terselipnya keangkuhan malah meruntuhkan nilai-nilai kebaikan tersebut. saya pikir sekarang, banyak orang2 indonesia yang punya pemikiran cerdas seperti anda namun tetap tawadhu. sungguh prilaku tersebut adalah seperti apa yang dicontohkan baginda Rasul Muhammad SAW. Islam itu indah, islam itu damai, sedamai saya membaca apa yang saudari tuangkan di blog ini. semoga berkah dan jadi pahala, amin.

    ReplyDelete
  32. Ini yang selalu aku tunggu dari tulisan-tulisan kamu, Git. Bagus, nyentil mereka yang vokal banget berdakwah di dunia kedua, wkwkwk. Aku mau save ini tulisan untuk kemudian hari aku diskusikan dengan teman yang kebetulan suka berdakwah di jalan dunia kedua(media sosial). Tapi kamu cukup cerdas juga Git untuk disable fitur copy di blog kamu, salut. Semoga tulisan ini, dan juga tulisan sejenis seperti ini tidak kamu tarik kembali ya, wkwk. Aku kuliah kebetulan di Universitas yang didirikan dengan nilai Agama minoritas di negara kita. Dan aku juga sadar akan keputusan ku itu. Alasan terbersar nya adalah bukan karena agama, namun karena program yang hendak ku ambil itu hanya ada di Uni tersebut, dan kebetulan untuk jarak juga memungkinkan. Yang aku pelajari adalah, ketika aku memutuskan untuk masuk dan juga menjadi sivitas akademika disana, aku siap untuk menerima segala resikonya. Dan, setelah berjalan 6 semester ini, aku malah lebih bisa dengan leluasa menunjukan bahwa aku adalah seorang muslim. Seperti contoh, dalam sebuah kelas, dimana yang Muslim hanya terdapat 3 orang(termasuk aku), aku mencoba mengetes toleransi di kelas tersebut, kelas dimulai pukul 13-16, dimana itu melewati 2 waktu sholat, yakni Ashar dan Maghrib. Di minggu pertama, aku interupsi kelas untuk ijin melaksanakan sholat ashar sebentar disaat dosen sedang memberikan kuliah, disitu aku sendiri, padahal ada 3 orang muslim disitu. Minggu kedua, kulakukan hal yang sama seperti minggu pertama, dan masih sendiri. Minggu ketiga, ketika aku ingin melaksanakan sholat, Alhamdulillah satu teman ku juga ikut, yang sebelumnya di 2 minggu awal dia tidak ikut. Sampai pada akhirnya pada minggu ke empat, ketiga dari kita yang muslim menuju tempat dibawah tangga kampus untuk melaksanakan sholat bersama. Nah, tadi kan aku mau mentest seberapa toleran kelas tersebut, dan tahukan kamu kalau sejak minggu pertama sampai dengan minggu terakhir kelas tersebut, dosen dengan senang hati memberikan waktu, dan kelas dilanjutkan lagi setelah kita selesai sholat. Dan begitu juga dengan 37 teman yang lain. Disitu, aku sadar, ternyata kadar toleran di kelas ini tidak perlu diragukan. Disitu pula aku sadar, bahwa beragama itu salah satunya harus seperti ini.
    Terima kasih atas tulisanmu, Git.
    Tetap Istiqomah dalam memelihara pikiran kamu ya,
    Salam dari sudut Jawa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ralat, maksud nya dari 15-18, Git jam kelas nya, wkwkwk

      Delete
  33. Yah mungkin begini keadaan umat Indonesia sekarang, mayoritas mengaku beragama, tapi kebanyakan minim pengetahuan agamanya sendiri. Klo sudah keasyikan dengan urusan dunia, ada orang lain coba diingatkan malah dicela yang mengingatkan, dibilang munafiqlah atau apalah. Gak sadar klo dia ini mungkin sudah digelaskan hatinya sama Allah. Nanti klo Allah yang mengingatkan baru kebuka hatinya. Manusia itu makhluk yang pelupa, lupa sama kehidupan akherat. Semoga kita sesama umat muslim bisa saling terus mengingatkan pada kebaikan. Dan semoga kita nanti saling memberikan syafaat. Amin ya Allah

    ReplyDelete
  34. Nice post, Git๐Ÿ˜
    Jujur gue ngerasa malah takut dengan realita "beragama" sekarang ini.
    Banyak ngaca dan mikir ke diri sendiri, "gue udah baik atau belum?"
    Karena gini, mungkin #imho karena makin kesini orang makin susah membedakan mana KEBENARAN dan mana PEMBENARAN.You know, belajar dan mendalami itu sebuah sikap yang langka di era serba cepat menelaah informasi instant. Ngerasa ga puas dengan jawaban relateable teori dan realita, malah dapatnya pembenaran atas opini yang sreg aja dihati n pikirannya. Basic diawal, karena belum pada bisa ngalamin rasa nikmatnya beragama itu sendiri.
    Jadi sebelum sampai pada level bener-bener memilih "beragama" (belum menjalani loh ya), thus watak judgemental masih kentel.

    Dan ga bisa dilawan rasa ngeyel terhadap keyakinan agama diri sendiri ke orang lain. Wajar, karena sensasi yg di dapet perorang ga sama. Tiap orang punya waktu dan cara yang beda2 untuk minimal sampe level sadar. Kalau menurut gue namanya titik nadhir. Dan sadar itu dapetinnya susah amit2, apalagi pertahanin level sadar lebih susah.

    ReplyDelete
  35. Rasulullah S.A.W pernah memohon 3 hal kepada Allah SWT,dari 3 hal itu hanya 2 yang di kabulkan dan 1 yang di tolak.Permohonan Rasulullah S.A.W yang di tolak ialah:
    Aku memohon kepada Allah SWT agar umatku terbebas dari pertikaian sesama mereka (peperangan, percekcokan antara sesama umat Islam). Tetapi permohonanku yang ini tidak dikabulkan (telah ditolak) oleh-Nya."

    ReplyDelete
  36. point yang disampaikan mengena sekali, kebanyakan muslim indonesia sudah berbicara banyak dan mulai mengkotak-kotakan umat muslim lainnya sebelum mempunyai pengetahuan secara komperhensif (berasal dari al quran dan as sunnah). makin berilmu suatu insan semakin bijak dan tak banyak berkata. keep it up. Jazzakullahu khoir

    ReplyDelete
  37. point yang disampaikan tepat sekali. belakangan banyak muslim indonesia yang mengkotak-kotakan saudara muslimnya. kecenderungan ini mungkin timbul karena kurang suatu insan mendalami ilmu agama melalui (al quran, as sunnah dan majelis ilmu). semakin berilmu suatu insan semakin bijak dan lebih sedikit berkata. keep it up. jazzakallahu khoir

    ReplyDelete
  38. Salam kenal Gita, apa yg Gita tulis kurang lebih mencerminkan apa yg saya rasakan 2thn terakhir ini. Sy enggan menuliskannya karena ngeri dihujat bukan oleh pemeluk agama lain, tapi oleh sesama muslim sendiri. Semoga kita bisa belajar jadi muslim yg saling menyejukkan bukan saling memojokkan. Muslim taat yg environmentally friendly alias ramah lingkungan, menjadi berkah & rahmat bagi sekitarnya. Thank you

    ReplyDelete
  39. Hai git, gw masih 50 : 50 aja dengan agama adalah pilihan. Karena selama ini di lingkungan gw, anak-anak mengikuti agama orang tuanya. mungkin ini masih subjektif, tapi inilah faktanya. masalah agaman adalah warisan yang selama ini jadi pembicaraan di facebook, gw masih belum bisa melihat, itu dilihat dari sudut pandang mana dulu.

    ReplyDelete
  40. MasyaAllah.. Panas2 gini baca tulisan kak git lgsg adem aja :) semoga tulisan kak git ini bisa membantu anak muda jaman skrg untuk lebih memahami lagi arti toleransi .. Dr pengalaman saya sndiri, ktika one day saya upload post2 islami tiba2 byk komen "yaelaah gak ush sok2 alim dh" bertebaran.. Sampe bingung, knapa ya jaman skrg org mau share yg baik2 dibilang sok, org doing something bad malah jd tren (tp dibelakangnya tetep dijelek2in. Weird). Awalnya saya jg cuma hahahihi sh merespon komen "sok alim" mrka, tp semoga aja belajar dr post2 kak git ini bisa membantu saya untuk lebih berani "bersuara" di depan mrk..
    Danke ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  41. Aku setuju banget, Kak. Mungkin malah karena menganggap agama adalah warisan, makanya banyak orang muslim yang jadi kurang belajar tentang agamanya. Merasa cukup hanya dengan hanya mengetahui secuil ajaran agamanya, yang penting sholat. Padahal, ada banyak banget yang perlu dibaca, dipelajari, bukan cuma Quran dan hadits, tapi bahkan sirah Nabi aja banyak yang kurang tau. Nabi sendiri di penghujung hidupnya masih merasa bahwa apa yang ia ketahui dari Tuhannya itu masih sangat sedikit. Apalagi kita yang belum banyak belajar agama :(

    ReplyDelete
  42. Kacau memang tuh ka. Bisa-bisanya agama dikatain warisan, dimana2 membangga2kan pulak, parah euy. belum denger lagu raihan tuh 'Iman tak dapat diwarisi, dari seorang ayah yang bertakwa'

    ReplyDelete
  43. Yap, bener banget, Kak Gita. Cara berdakwah yang bakalan ngena tuh emang (imo) kalo kita praktekkin langsung. Aku ngeliatnya biar ga dicap omdo sih hehe. Dan kalo pun emang mau mendakwahi orang lain pun (baik yang muslim ataupun non-muslim), udah banyak cerita kalo kaidah dasar dalam nunjukkin kepada suatu kebaikan itu dengan lemah lembut, ga boleh maksa2, ga langsung memvonis "anda kafir!", and being judgemental. Bahkan nabi-nabi kita terdahulu pun mendakwahi orang sejahat Fir'aun dan kaum Quraisy pun diwanti-wanti untuk selalu lemah lembut sama mereka, lah masa sama saudara sesama muslim sendiri harus pake jontok-jontokan? :)

    ReplyDelete
  44. Setuju sama kak Gita
    "Sebaik-baiknya berdakwah, dakwah terbaik adalah dengan perilaku kita".
    Kadang gue miris, banyak di lingkungan gue yg jadi "anti islam" karena orang-orang yang kurang tepat dalam menyampaikan dakwahnya.

    ReplyDelete
  45. Kalau diikir-pikir hidup ini memang serba salah!

    kita mau menghormati agama orang lain malah banyak yang ngatain murtat lah, tidak religius lah, tidak sayang agamanya sendiri lah.

    begitupula saat kita mau menegakan ajaran agama malah disangka intoleran lah, penebar kebencian lah dan sebagainnya.

    berkaca dari kejadian itu, hati saya yang paling dalam menasehati saya, begini katanya "persetan dengan orng lain nak, lakukan saja apa maumu dan kamu tak perlu menyesalinya serta paling penting yang wajib kamu pahami pada dirimu sendiri yaitu, kamu tak bisa membuat semua orang menyukai dan mencintaimu kan?, pasti diantara 10 orang pasti ada 1 atau 2 diantaranya yang membencimu, jadi nikmati saja hidupmu selagi kau bisa menikmatinya".

    Kurang lebih seperti itu.

    Penutupnya saya mau mengucapkan, salam kenal dan sampai jumpa. BYE....!

    ReplyDelete
  46. Gita.. semoga dijaga Allah selalu ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  47. Adem banget.
    Kita ngga perlu membenarkan semua agama, cukup jangan menyalahkan agama lain.
    Agama kita memang yg paling benar. Cukup sampe disitu. Cukup.

    ReplyDelete
  48. Semoga kita selalu terjaga dari perbuatan nahi walmungkar dan semakin meningkatkan ibadah kita.
    Agama kita memang paling benar, mari kita sampaikan hal baik untuk kebaikan kita semua.
    Subhanallah, terimakasih atas inspirasinya gita.

    ReplyDelete
  49. Niat baik, caranya pun harus baik. Seperti ketika mau mencuci piring tetapi mencucinya pakai air comberan. Hasilnya malah lebih kotor. Padahal niatnya membersihkan.

    ReplyDelete
  50. Bagus tulisannya Git...makasih yah ๐Ÿ˜˜. Selalu ada hal yang perlu diimprove ya dari umat muslim. Apalagi cara berdakwah yang mungkin perlu mengikuti perkembangan zaman dan melihat juga siapa yang didakwahi. Kalo ada yang terkesan judgmental, dan saya pernah mengalami sendiri, kemungkinan besar bakal mental dakwahnya hehehe. The way we communicate is as (if not more) important as the content. Sepakat juga dakwah terbaik adalah dari perilaku alias akhlaknya. Kalo bahasa keren sekarang siy, examplary behavior ya Git.

    Saya juga suka sekali dg bagian "toleransi" di sini yang dicontohkan dg "tetap sibuk mempelajari agama sendiri sebelum membanding-bandingkan...".Kita juga ga mungkin mengontrol apa yang orang lain pikirkan dan katakan sih ya...jadi lebih baik usaha sebaik mungkin untuk melakukan kebaikan yang memang bisa kita kontrol aja, macam Gita ini! Berkoar-koar negatif ttg orang/agama lain hanya akan membuat suasana panas, kesombongan diri meningkat, dan apa yang kita sampaikan jadi tidak berarti, boro-boro masuk ke dalam hati. We loose our audiences.

    Terus berkarya ya Gita!

    ReplyDelete
  51. Terima kasih Gita, gw jadi berasa punya temen.. kadang mau nangis sendiri kalo buka mata liat yg terjadi belakangan ini. Membela agama sendiri jd otomatis dianggap ga cinta NKRI. Padahal bisa bgt menjadi muslim yg seutuhnya sekaligus menjadi masyarakat yg cinta negaranya.

    ReplyDelete
  52. pandangan mbak Gita sangat bagus, sangat miris melihat krisis toleransi yang terjadi di sekitar kita, namun yang saya sayangkan dan membuatku gerah melihat islam dijadiakn tumbal kepentingan politik dan individu, yang juga digunakan beberapa negara dikdaya untuk menyembunyikan kepentingannya. contohnya kasus di Irak yng sebenarnya kedatangan AS dan sekutunya untuk mrnguasai emas hitam, dan masih banyak contoh yang lainnya. jujur, saya melihat intoleransi bukan dari teologinya tapi menggunakan analisis history dan pendekatan ekopol(ekonomi politik. thanks pandangan Mbak Gita Menambah penetahuan saya dan mengingatkan sebagai manusia hanya 3 yang harus kita penuhi yaitu status manusia sebagai hamba,peran manusia sebagai khalifah(pengganti Rasul dengan mengikuti sifat dan ketaatannya)dan tujuan manusia untuk beribadah.

    ReplyDelete
  53. Sebelum hijrah, aku selalu nganggep sesuatu yg berbau agama atau orang-orang yg ikut serta didalam nya terlalu rasis. Menganggap cukup lah diri ku dan ibadahku. Sebab dan perkara itu yg ngebuat aku dipertemukan dengan orang-orang yang ngebuat aku seperti sekarang. Bukan dengan dakwah atau sesuatu yang aku takutin, tp mereka ngebuat aku nyaman dan berpikir "kenapa enggak dicoba". Awalnya jujur yah untuk instiqomah itu sulit, tp kembali ke niat sih. Uda sejauh ini, kenapa harus kembali yakan. Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah. Hidayah itu ibarat matahari, klw kita gak ngebuka jendela rumah, gimana cahaya bisa masuk. Gitu sih hehe. Btw keep inspiring unnieee. Salam dari Medan yah ❤

    ReplyDelete
  54. Mantap, gw tadinya bingung mau gimana tapi kayaknya tulisan mbak udah ngejawab pertanyaan gw. Yang kaya gini nih yang harus dipromote!

    ReplyDelete
  55. subhanallah kak gitaaaa semoga dirimu selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. yang selalu support kaka terus. semoga mereka juga diberkahi Allah selalu. terimakasih banyak atas sudut pandang ini. jangan berhenti untuk menginspirasi kak, semangat!

    ReplyDelete
  56. Iya kak, orang sekarang itu lebih mudah lisan nya dalam mengkafir-kafirkan orang lain yg menurutnya berbeda dengan tuntunan nya, padahal seseorang yg mengkafirkan orang lain berarti dirinya sndiri yg kafir. Subhanalloh kalo kita lihat banyak yg disampaikan oleh Allah dalam Al-qur'an,oleh Rasul dalam hadist, dan oleh para ulama dalam ijma dan qiyas, itu sangatlah lengkap bahwa islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Jadi seorang muslim, mukmin itu bukan yg pandai dalam menjudge orang, tapi orang yg pndai menajak orang untuk amar ma'ruf nahi mungkar. Hehhe sekiranya seperti itu kak ๐Ÿ˜‡. Kesimpulannya aku suka dengan tulisan kaka ini ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  57. "Datang dalam keadaan asing, kembali dalam keadaan asing, .."
    Salam kenal...

    ReplyDelete
  58. Paling ga suka kalau ada muslim yang selalu bilang kafir

    ReplyDelete
  59. yuk, kita selalu sediakan waktu untuk ikut taklim , seminggu sekali. nambah pemahaman kita tentang Islam, agama kita. smg Allah selalu mendekatkan kita pada petunjukNya

    ReplyDelete

Show your respect and no rude comment,please.

Blog Design Created by pipdig